06.pendekar kapak maut naga geni 212 wiro sableng-pendekar terkutuk pemetik bunga

WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya: BASTIAN TITO
PENDEKAR TERKUTUK PEMETIK BUNGA
SATU
SAMPAI menjelang tengah malam pesta perkawinan puteri Ki Lurah Rantas Madan dengan putera Ki Lurah Jambar Wulung masih kelihatan meriah. Tamu-tamu duduk di kursi masing-masing sambil menikmati hidangan dan minuman yang diantar para pelayan serta sambil menikmati permainan gamelan dan suara pesinden Nit Upit Warda yang lembut mengalun membawakan tembang “Kembang Kacang.”
Kedua mempelai yang berbahagia yaitu Ning Leswani dan Rana Wulung kelihatan duduk diantara para tamu dibarisan kursi paling depan, tepat dimuka panggung. Ki Lurah Rantas Madan duduk di samping Rana
Wulung bersama istrinya sedang Ki Lurah Jambar Wulung di sebelah Ning Leswani juga bersama istrinya.
Karena masing-masing mempelai yang kawin adalah anak-anak lurah dari dua desa yang berdekatan maka dengan sendirinya suasana perkawinan meriah dan besar-besaran. Malam itu adalah malam pesta perkawinan yang pertama dan besok lusa akan dilanjutkan dengan pesta perkawinan yang kedua dan ketiga.
Pada menjelang dinihari di mana udara dinginnya mencucuk tulangtulang sampai ke sungsum, tamu-tamu sudah banyak yang pulang. Beberapa orang yang masih disana sudah mengantuk bahkan banyak yang tertidur seenaknya di kursi. Para pemain gamelan di bawah pimpinan Ageng Comal tak ketinggalan ketularan kantuk sehingga Ageng Comal
menghentikan permainan sampai di situ.
Ki Lurah Rantas Madan dan Ki Lurah Jambar Wulung bersama istri masing-masing berdiri dari kursi mereka dan disertai beberapa orang lainnya kemudian melangkah mengiringi kedua penganten masuk ke dalam rumah besar yang tentunya terus ke dalam kamar!
Namun, belum lagi rombongan ini mencapai tangga langkan rumah, dari atas atap mendadak berkelebat satu sosok tubuh manusia, melompat
ke atas panggung! Kedua kakinya menjejak taron (salah satu alat bunyibunyian dalam permainan gamelan) sedang kedua tangan berkacak
pinggang.
Jarak atap rumah dan lantai panggung demikian tingginya tapi manusia tadi melompat ke atas taron tanpa menimbulkan suara
sedikitpun. Bahkan taron itu sama sekali tidak bergerak ataupun bergeser!
Orang ini masih muda belia, berbadan agak kurus dan tinggi. Rambutnya gondrong sampai ke bahu. Pada parasnya yang gagah itu terbayang sifat buas, apalagi jika diperhatikan sepasang bola matanya hal
itu akan lebih kentara lagi.
Pemuda ini mengenakan jubah hitam yang sangat panjang sehingga menjela-jela di atas taron dan lantai panggung. Jubah hitam ini disulam dengan bunga besar-besar berwarna kuning. Pada belakang kain penutup kepalanya tertancap sebuah bunga kertas yang juga berwarna kuning.
Melihat alat bunyi-bunyian diinjak seenaknya demikian rupa oleh seorang pemuda tak dikenal, tentu saja Ageng Comal menjadi marah sekali. Pemimpin kesenian gamelan ini maju melangkah sambil membentak.
“Pemuda kurang ajar! Turun dari taron itu sebelum kupatahkan batang lehermu!”
Seringai menggurat di wajah si pemuda. Dari mulutnya meledak suara tertawa yang menggetarkan dan menggidikkan serta membuat liang telinga seperti ditusuk-tusuk!
Suara tertawa itu, yang didahului oleh suara bentakan Ageng Comal tadi dengan serta merta membuat semua orang berpaling. Tamu-tamu yang duduk terhenyak tidur di kursi terbangun oleh kedahsyatan tertawa si
jubah hitam dan semua mata ditujukan adanya.
Beberapa orang yang mengenali ciri-ciri pemuda di atas taron itu berseru kaget. “Pendekar Pemetik Bunga!”
Maka suasana itupun mendadak sontak menjadi gempar penuh ketegangan. Yang memiliki senjata segera menggerakkan tangan bersiap sedia menjaga segala kemungkinan.
Ki Rantas Madan berbisik pada menantunya, “Rana, bawa istrimu ke
dalam, cepat!”
Sedang Ki Lurah Jambar Wulung berbisik pula pada istrinya, “Wiri,
cepat masuk ke dalam. Bawa besanmu serta…”
Rana Wulung yang memang pernah mendengar dan mengetahui
siapa adanya manusia bergelar “Pendekar Pemetik Bunga” itu segera memegang lengan istrinya lalu membimbing Ning Leswani. Istri Ki Lurah Jambar Wulung serta besannya mengikuti di belakang mereka.
Namun baru saja mereka bergerak satu langkah, pemuda jubah
hitam di atas taron membentak garang.
“Siapa berani meninggalkan tempat ini berarti mampus!” Semua yang melangkah jadi berhenti.
Ki Lurah Jambar Wulung hendak melangkah kea rah panggung, besannya – Rantas Madan – memegang lengannya dan berbisik, “Jangan tempuh jalan kekerasan, Ki Lurah Jambar. Manusia ini tinggi ilmunya dan
berbahaya. Biar aku yang bicara…”
Habis berkata demikian Ki Lurah Rantas Madan maju ke depan
panggung. Dia menegur dengan nada seramah mungkin.
“Pendekar Pemetik Bunga, kedatanganmu sungguh tak kami duga. Kalau kau ke sini hendak memberikan restu ucapan selamat keada puteri
dan menantuku, sebelumnya aku haturkan terima kasih.”
“Ah..,” Pendekar Pemetik Bunga rangkapkan tangan di muka dada kemudian tertawa bergelak-gelak. Matanya yang menyipit hampir terpejam karena tertawa itu. Dan dalam tertawa itu sesungguhnya kedua matanya memandang tajam kepada Ning Leswani yang cantik jelita. Disekanya ujung bibirnya dengan telapak tangan.
“Orang tua, kau sedikit lebih ramah dari besanmu,” kata Pendekar Pemetik Bunga pula.”Tapi ketahuilah, aku datang ke sini bukan buat kasih ucapan selamat tapi sebaliknya.”
Pendekar Pemetik Bunga untuk kesekian kalinya tertawa lagi gelakgelak. “Aku datang untuk menjemput puterimu, Ki Lurah,” katanya. “Dia sudah ditakdirkan menjadi milikku!”
Berubahlah air muka orang banyak terutama Rantas Madan, Jambar
Wulung, Rana Wulung dan Ning Leswani. Suasana sehening dipekuburan.
Tegang mencekam.
Ki Lurah Jambar Wulung tak dapat lagi menahan hati dan luapan
amarahnya.
“Setan alas! Lekas angkat kaki dari sini kalau tidak ingin kupecahkan
batok kepala sintingmu itu!”
Pendekar Pemetik Bunga mendengus.
“Mulutmu keliwat besar, Ki Lurah. Kau andalkan ilmu apakah?!”
bentak Pendekar Pemetik Bunga.
Sebagai jawaban, Jambar Wulung melompat ke atas panggung. Lakilaki ini tidak memiliki ilmu kesaktian dan tak pernah menuntut ilmu kebathinan. Namun dalam ilmu silat luar dia sudah menjajakinya sampai tingkat teratas. Karenanya tidak mengherankan gerakannya melompat ke atas panggung tadi gesit dan enteng. Namun Pendekar Pemetik Bunga menyaksikan gerakan itu dengan sikap sinis dan air muka mengejek. Matanya yang tajam dan pengalamannya yang dalam sekilas saja sudah melihat dan mengetahui bahwa Ki Lurah Jambar Wulung hanya memiliki
ilmu silat luar, tak mempunyai isi apa-apa!
Di lain pihak, begitu kedua kakinya menginjak lantai panggung, begitu Jambar Wulung berkelebat mengirimkan serangan. Meski ilmu silatnya ilmu silat yang tak memiliki tenaga dalam, namun serangan yang dilancarkannya menimbulkan angin deras.
“Huh, segala silat picisan. hendak diandalkan!” ejek Pendekar Pemetik Bunga. “Makan sikutku ini, Ki Lurah!” Manusia ini kelihatan menggeserkan kaki kirinya sedikit dan tahu-tahu terdengar suara, “ngek!” Suara itu keluar dari mulut Jambar Wulung. Tubuh Ki Lurah ini terpelanting menabrak gong besar di sudut panggung sebelah kanan, terus jatuh ke bawah panggung bersama alat bunyi-bunyian itu dengan menimbulkan suara hiruk pikuk.
Begitu terhampar di tanah Jambar Wulung tak bangun lagi alias pingsan. Dua tulang iganya telah hancur remuk di makan sikut Pendekar Pemetik Bunga!
Melihat ayahnya dibuat demikian rupa, naiklah darah Rana Wulung. Tapi sebelum dia bergerak, mertuanya – Ki Lurah Tantas Madan – cepat memegang bahunya. Orang tua ini segera mendahului hendak melompat ke panggung tapi di atas panggung dilihatnya Ageng Comal sudah berhadap-
hadapan dengan Pendekar Pemetik Bunga!
“Pemuda keparat! Biang racun pengacau! Jaga kepalamu!”
Ageng Comal dengan mempergunakan pukulan gong menyerbu ke muka. Pemuda yang diserang rundukkan kepala. Begitu pukulan gong berdesing di atasnya, cepat sekali tangan kirinya meluncur ke muka. Ageng Comal yang juga pernah mendalami ilmu silat melihat serangannya lewat serta menyaksikan serangan balasan lawan dengan sigap memiringkan tubuh ke kiri. Serentak dengan itu lutut kanannya dilipat menyongsong pukulan lawan!
Secara ilmu luar, memang walau bagaimanapun kepalan tak akan menang melawan lutut. Dan adalah sangat berbahaya bagi seorang yang menyerang dengan tinju bila dia meneruskan niatnya menyerang lutut yang keras dengan tinjunya! Namun Pendekar Pemetik Bunga sama sekali tidak menarik pulang serangannya!
“Ageng Comal!! Lekas tarik tanganmu!” teriak seorang dibawah
panggung berteriak memberi peringatan. Tapi, “Braak!” Kasip sudah!
Pemimpin kesenian gamelan itu menjerit. Tubuhnya terguling pingsan di lantai panggung. Tulang tempurung lututnya hancur, kakinya
sendiri teruntai-untai hampir putus!
Semua mata melotot. Semua muka pucat den semua mulut melongo! Bagaimanakah tidak! Pemuda jubah hitam di atas panggung itu merobohkan lawannya tanpa bergeser satu langkahpun!
Di lain kejap seorang lain telah melompat pula ke atas panggung. Orang itu adalah Rantas Madan yang sudah sejak tadi tak dapat lagi menahan hati panasnya.
Pendekar Pemetik Bunga lontarkan pandangan mengejek pada orang
tua itu.
“Kau juga mau cari penyakit hah?!” hardiknya.
“Selagi masih ada waktu berlututlah minta ampun! Hukumanmu pasti kuperingan!,” kata Rantas Madan. Pendekar Pemetik Bunga tertawa mengekeh.
“Jangan ngaco, orang tua! Kalau mau konyol marilah!” Tentu saja ditantang demikian rupa membuat Ki Lurah Rantas Madan semakin berkobar kemarahannya. Tanpa menunggu lebih lama laki-laki ini yang pernah menuntut ilmu kesaktian di Gunung Simping menerkam ke muka. Dalam jarak satu meter saja serangannya sudah menimbulkan angin bersiuran yang tajam dan menerpa ke arah Pendekar Pemetik Bunga.
Yang diserang maklum bahwa lawannya yang seorang ini berbeda dengan dua orang yang terdahulu. Tanpa menghentikan tertawanya tadi, Pendekar Pemetik Bunga lantas mengangkat dan melambaikan tangan kirinya ke muka. Setiup angin keras yang menggetarkan panggung bersuit memapas tubuh Ki Lurah Rantas Madan. Serangannya dengan serta merta buyar dan tubuhnya sendiri kemudian terangkat ke udara setinggi lima
tombak, hampir menyundul atap panggung!
Dengan cekatan Ki I.urah Rantas Madan jungkir balik di udara kemudian dengan gerakan kilat menukik dan menghantamkan tangan
kanannya ke arah lawan! inilah jurus “Walet Menukik Lembah!”
Pemuda bertempang gagah tapi buas garang itu terkejut sekali sewaktu merasakan angin panas menyerang kepalanya! Cepat-cepat dia rundukkan tubuh sebatas pinggang dan balas mengirimkan pukulan jarak jauh dengan tangan kanan.
Ki Lurah Rantas Madan terdengar menjerit. Tubuhnya mental ke atas, melabrak dan membobolkan atap panggung, lenyap dari pemandangan untuk kemudian terdengar gedebuk tubuhnya sembilan tombak di tanah di belakang panggung! Waktu jatuh kepalanya lebih dahulu, tulang lehernya patah! Nyawanya lepas. Ning Leswani dan beberapa perempuan yang ada di sana menjerit! Bersama ibunya temanten perempuan itu hendak lari memburu ayahnya namun Rana Wulung den
seorang lainnya, menahan mereka.
Rana Wulung seorang pemuda terpelajar yang tak kenal satu jurus ilmu silatpun! Namun menyaksikan kematian ayah serta mertuanya itu gelaplah pemandangannya! Keris perhiasan penganten yang tersisip di pinggang segera dicabut. Ketika melompat ke atas panggung kaki kanannya
hampir terserandung!
“Ho-ho! Temanten juga mau ikut-ikutan minta digebuk?!” teriak Pendekar Pemetik Bunga.
“Kubunuh kau keparat!” bentak Rana Wulung menggeledek. Keris di tangan kanannya ditusukkan sekeras-keras dan secepat-cepatnya ke dada Pendekar Pemetik Bunga.
“Budak tolol!” maki Pendekar Pemetik Bunga.
Sekali pemuda jubah hitam itu gerakkan tangannya maka keris yang dipegang Rana Wulung sudah kena dirampas, dijepit di antara jari tengah
dan jari telunjuk tangan kanannya!
Suata tertawa Pendekar Pemetik Bunga kernudian terdengar mengumandang diseantero panggung. Kemarahan dan sakit hati Rana Wulung tiada terperikan. Dengan kedua tinju terpentang dia menyerbu ke muka.
“Edan betul!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. “Masih tak melihat tingginya gunung dalamnya lautan!” Dan manusia ini segera menyongsong serangan Rana Wulung dengan tendangan maut yang mengarah lambung!
Kalau saja Rana Wulung seorang yang mengetahui sedikit ilmu silat, dalam posisinya seperti saat itu sebenarnya dia masih sanggup dan punya kesempatan untuk mengelak atau berkelit atau sekaligus melompat cepat ke samping. Tapi sayang, pemuda ini tidak tahu apa-apa tentang persilatan dan kaki maut Pendekar Pemetik Bunga sementara itu semakin dekat menyambarnya ke perut si pemuda.
Setengah kejapan lagi pasti robeklah perut Rana Wulung. Ning Leswani menjerit. Ibu Rana Wulung juga menjerit untuk kemudian jatuh pingsan sebelum sanggup menyaksikan apa yang bakal dialami anaknya!
Beberapa orang mengeluarkan seruan tertahan. Agaknya tak satupun yang bisa berbuat apa-apa! Agaknya sudah nasib Rana Wulung bakal menemui kematiannya pada hari pernilahannya itu!
Tapi….
— == 0O0 == —
DUA
DI SAAT ajal sudah di depan mata, disaat maut hendak merenggut maka tiada terduga, disaat itu pula dari bawah panggung sebelah barat melesat sebuah benda yang mengeluarkan cahaya berkilau. Benda ini melesat ke arah kaki kanan Pendekar Pemetik Bunga yang mencari maut di perut Rana Wulung!
Tentu saja Pendekar Pemetik Bunga menjadi terkejut dan terpaksa menarik pulang serangannya. Benda yang berkilau itu lewat dan menghantam taron sehingga alat bunyi-bunyian ini terbalik dan hancur berantakan! Benda apakah yang sehebat itu dan siapa gerangan yang melemparkannya? Siapa yang telah menolong Rana Wulung dari kematian?!
“Pembokong licik! Cepat unjukkan diri,” teriak Pendekar Pemetik
Bunga marah sekali. Sepasang matanya yang buas menyapu ke arah barang panggung.
Di bagian barat panggung berdiri beberapa orang. Mata Pendekar
Pemetik Bunga yang tajam tidak berhasil kali ini menduga siapa gerangan manuasia yang telah melemparkan senjata rahasia tadi.
Dengan marah Pendekar Pemetik Bunga mengangkat tangan kanannya ke udara dan berteriak, “Kalau tidak ada yang mengunjuk diri, semua yang ada di panggung barat pasti kubikin mampus!”
Seorang laki-laki tua yang berdiri di belakang sebuah kursi di bagian barat panggung berbatuk-batuk beberapa kali. Laki-laki ini berpakaian bagus dan bertopi tinggi yang dihiasi manik-manik. Jelas ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang bangsawan atau hartawan. Dia mengangkat kursi yang di depannya ke samping dan melangkah ke muka panggung, berhenti sejarak dua tombak dari panggung.
“Cepat beri tahu siapa kau!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Tangan kanannya masih belum diturunkan dan kini telapaknya yang terbuka diarahkan pada orang tua berpakaian bogus.
“Aku hanya seorang tamu yang mengunjungi pesta perkawinan ini, orang muda….”
“Hem… cuma seorang tamu saja berani campur tangan! ilmu melemparkan senjata rahasia pengecut tadikah yang kau andalkan?!” Orang tua itu berbatuk-batuk lagi.
“Meski cuma tamu buruk begini,” katanya, “Aku juga adalah sahabat baik dari tuan rumah dan besannya. Sungguh tidak enak sekali melihat nasib sahabat-sahabat yang nahas tanpa bersedia turun
tangan!”
“Oo begitu? Bagus!” ujar Pendekar Pemetik Bunga pula. “Sanggupkah kau menerima pukulan tangan kananku?!” Orang tua
berpakaian bagus itu tertawa dingin.
“Orang muda, nyalimu memang besar sekali. Sayang kejahatanmu dan kebuasanmu jauh lebih besar lagi sehingga aku yang
tua ini terpaksa tak bisa berpangku tangan…”
“Orang gendeng yang tak tahu gunung Semeru di depan hidung!
Terima pukulan Tapak Jagat ini!”
Si orang tua cepat menyingkir ke samping waktu Pendekar
Pemetik Bunga menghantamkan telapak tangan kanannya kedepan. Semua orang terkejutnya bukan olah-olah sewaktu melihat bagaimana tanah bekas tempat si orang tua berpakaian bogus tadi menjadi berlubang besar di landa ilmu pukulan ‘Tapak Jagat’ si pemuda jubah hitam. Pasir berterbangan, kursi-kursi jungkir balik berpatahan sedang bumi bergetar! Kalau saja si orang tua tidak cepat menyingkir tak dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan dirinya! Namun disaat itu semua orang dan Pendekar Pemetik Bunga sendiri sama memaklumi bahwa si orang tua bukanlah orang tua sembarangan! Tidak sembarang orang yang sanggup mengelak dari pukulan ‘Tapak Jagat” itu!
“Orang tua, apakah kau masih tetap berlaku pengecut tak mau kasih tahu nama?!”
“Ah, namaku atau siapa aku kau tak perlu tahu. Aku tanya,
apakah kau sudi angkat kaki dari sini atau tidak?!”
“Sombong betul” tukas Pendekar Pemetik Bunga. “Jangan kira aku jerih terhariapmu. Silahkan naik ke atas panggung!”
Si orang tua menghela nafas panjang dan menggosok-gosok kedua tangannya. “Rupanya memang aku harus turun tangan tidak tanggung-tanggung,” katanya pelahan tapi cukup terdengar oleh semua orang.
“Betul! Memang dalam dunia persilatan tidak boleh tanggungtanggung!” menimpali Pendekar Pemetik Bunga. “Kalau kau berani cari perkara, kau tak boleh tanggung-tanggung untuk pasrahkan jiwa!”
Dan sekejap kemudian kedua orang itupun sudah berhariaphariapan di atas panggung, disaksikan puluhan pasang mata, disaksikan oleh Rana Wulung yang saat itu menyingkir ke sudut panggung. Rana tiada kenal siapa si orang tua. Namun dia maklum kalau orang tua ini berilmu tinggi dan Rana Wulung berharap mogamoga si orang tua benar-benar bisa meniadi tuan penolongnya.
“Apakah kau masih punya simpanan senjata rahasia tadi, orang
tua?” tanya Pendekar Pemetik Bunga.
Si orang tua tertawa dan balas mengejek. “Kalau kau punya
senjata keluarkalah, biar kuhariapi dengan tangan kosong!”
“Sombong betul!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Tanpa beranjak dari tempatnya dia lepaskan dua pukulan tangan kosong yang dahsyat. Panggung itu tergetar keras. Si orang tua bersuit nyaring dan melompat tiga tombak. Dari atas cepat berkelebat mencari posisi baru dan balas mengirimkan dua jotosan yang tak kalah hebatnya. Dalam sekejapan saja kedua orang itu sudah terlibat dalam pertempuran seru. Lima jurus berlalu cepat!
Pendekar Pemetik Bunga penasaran sekali melihat ketangguhan
lawan. Diriahului dengan bentakan nyaring dia mempercepat permainan silatnya. Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini dan dua jurus di
muka dia sudah berhasil mendesak lawannya.
“Terima jurus kematianmu, orang tua!” seru Pendekar Pemetik Bunga. Dan kejapan itu pula pukulannya yang menyilang aneh membabat
ke pinggang si orang tua. Yang diserang cepat menyingkir sewaktu melihat serangan ganas itu dan menusukkan dua jarinya ke muka, ke arah mata Pendekar Pemetik Bunga! Inilah jurus “Mencungkil Mata” yang ganas.
Pendekar Pemetik Bunga tentu saja tak mau kedua biji matanya dimakan dua jari lawan. Di lain pihak dia juga tak mau tarik pulang pukulannya yang ganas. Karenanya dengan cepat pemuda itu miringkan tubuh ke kiri. Sekaligus gerakannya Itu mempercepat perbawa serangan
tengannya ke arah pinggang lawan.
Si orang tua sadar kalau tusukan jari tangannya tak bakal mancelakai lawan sebaliknya dirinya terancam bahaya besar besar, lekaslekas menjejak panggung dan melompat ke atas. Begitu lolos dari gebukan lengan maut, si orang tua laksana alap-alap menukik ke bawah dan
lepaskan satu tendangan dua pukulan.
Jurus “Menembus Kabut Mengintip Rembulan” yang dilancarkan si orang tua dikenal baik oleh Pendekar Pemetik Bunga. Sambil tertawa mengejek dan menyebut jurus itu, si pemuda berkelit lincah lantas kirimkan pukulan tangan kiri kanan yang mengarah empat jalan darah berbahaya dari si orang tua!
Meski masih dalam terkejut karena lawan mengetahui jurus yang dimainkannya namun si orang tua tiada ayal untuk lekas-lekas
menghindar dari serangan lawan!
“Orang tua, melihat jurus Menembus Kabut Mengintip Rembulanmu tadi, ada hubungan apakah kau dengna Rah Kuntarbelong? Lekas jawab!
Apa kau muridnya, hah?!”
Si orang tua menindih rasa terkejutnya. Tak sangka kalau lawan bisa menduga nama gurunya!
Dan Pendekar Pemetik Bunga sesaat kemudian tertawa bergelak. “Tidak menyahut berarti betul!” katanya. “Bagus sekali kalau begitu. Aku memang punya urusan yang belum diselesaikan dengan Rah Kuntarbelong! Sebagai permulaan kurasa ada gunanya lebih dahulu bikin penyelesaian dengan muridnya!”
“Jangan banyak mulut Pendekar terkutuk!” bentak si orang tua. ”Tahu pukulan apa yang bakal kulepaskan ini?!” Pendekar Pemetik Bunga kerenyitkan kening dan memandang tajam ke muka. Si orang tua dilihatnya berdiri dengan kaki merenggang. Lengan kiri lurus ke bawah, tinju mengepal sedang tangan kanan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.
Lengan kanan itu kelihatan berwarna biru.
“Ah cuma pukulan Kelabang Biru…” ejek Pendekar Pemetik Bunga tapi diam-diam dia kerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya ke tangan kanan karena dia sudah pernah tahu kehebatan pukulan Kelabang Biru yang mengandung racun jahat itu yakni sewaktu berhariapan di selatan tempo hari melawan Rah Kuntarbelong. “Lekaslah keluarkan supaya kau sendiri melihat bahwa ilmu pukulanmu itu tak lebih dari
kentut belaka!”
Geraham si orang tua bergemeletakan diejek demikian rupa. Seluruh tenaga dalamnya sudah terpusat di lengan dan lengan sampai ke ujung-
ujung jari sudah berwarna sangat biru.
Tiba-tiba terdengarlah teriakan yang seperti mau merobek gendanggendang telinga. Si orang tua kelihatan menghantamkan lengan kanannya ke depan. Selarik sinar biru dengan ganas menggebu ke arah Pendekar Pentetik Bunga. Di saat itu puia Pendekar Pemetik Bunga sudah menggerakkan tangan kanan melepaskan pukulan “Tapak Jagat” yang
diandalkan dengan tiga perempat tenaga dalamnya!
Begitu dua angin pukulan bertemu terdengarlah suara berdentum laksana gunung meletus! Tiang-tiang panggung patah, lantai dan keseluruhan panggung ambruk! Alat bunyi-bunyian yarig ada di atas panggung berhamburan, Rana Wulung mental ke luar panggung dan roboh tak sadarkan diri sewaktu panggungnya menghantam batang
sebuah pohon!
Kedua orang yang bertempur, sewaktu panggung roboh cepat mencelat meninggalkan panggung. Dan ketika mereka berdiri kembali berhariap-hariapan kelihatanlah bagaimana pucatnya paras si orang tua. Satu pertanda bahwa saat itu dia menderita luka di dalam yang parah sekali. Sebaliknya Pendekar Pemetik Bunga berdiri sambil melontarkan senyum mengejek pada lawannya.
.
“Jika kau masih gila untuk menempuh jalan kekerasan, jangan harap nyawamu akan tertolong!”
Si orang tua tahu, jika dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk meneruskan pertempuran, pastilah akan mencelakai dirinya sendiri yang saat itu sudah terluka parah dibagian dalam. Tapi untuk menyerah atau meninggalkan tempat itu adalah bertentangan sekali dengan hati dan jiwa satrianya! Dicobanya mempertenang diri dan mengatur jalan nafas serta aliran darah. Tapi dia tak berhasil. Nafas dan aliran darahnya sudah tak karuan lagi!
“Budak, keluarkan kau punya senjata!” bentak si orang tua.
“Ah, kalau kau mau keluarkan senjata silahkan, tak usah memancing segala!” sahut si pemuda dengan tertawa bergelak. Mendengar ini si orang tua tak sungkan-sungkan lagi untuk
menanggalkan sabuk hitam yang ditaburi mutiara dari Pinggangnya.
“Lusinan tokoh-tokoh jahat sudah mampus dimakan sabuk mutiana ini, budak terkutuk! Kini kau adalah korban selanjutnya!”
”Tak usah bicara panjang lebar! Lekas majuiah!” bentak si pemuda dan dalam hati dia berpikir-pikir sampai di mana, kehebatan sabuk mutiara itu.
Si orang tua menggeru. Dia maju dua langkah. Sabuk itu dipegangnya di tangan kiri. Nyatalah dia seorang kidal. Dia menggeru lagi untuk kedua kalinya. Dan pada kali yang ketiga sambil melompat ke muka si orang iua sapukan sabuk mutiaranya.
Kedahsyatan sabuk mutiara itu sangat mengejutkan Pendekar Pemetik Bunga! Tubuhnya laksana dilanda bertubi-tubi oleh ombak sebesar gunung. Dengan kerahkan tenaga dalam dan andalkan ilmu mengentengi tubuhnya yang tinggi dia berhasil mengelak sebat.
Namun tak urung akhimya dia kena di desak.
“Setan alas!” maki pemuda itu. Untung saja lawannya sudah terluka di dakam yang teramat parah sehingga gerakan-gerakannya agak lamban.
Melihat bahwa lawannya agak jerih dan terdesak, si orang tua mempercepat gerakannya. Tiba-tiba Pendekar Pemetik Bunga membungkuk dan kemudian berdiri lagi dengan memegang tepi jubah hitamnya. Sekali dia mengebutkan tepi jubah hitam itu, hawa yang sangat pengap menyambar dahsyat memapaki angin pukulan yang keluar dari sabuk mutiara si orang tua! Si orang tua merasa
kepengapan menyambar hidungnya. Nafasnya yang memang sudah tidak normal kini menjadi tambah tak teratur. Ternyata sabuk mutiara yang sangat diandalkannya tiada sanggup menghariapi kehebatan jubah hitam lawan! Semakin lama tubuhnya semakin lemah, dadanya
sesak dan pemandangannya mengabur!
“Pemuda keparat, lihat ini!” seru si orang tua. Tangan kananya lenyap ke dalam saku baju dan ketika ke luar lagi maka selusin
senjata rahasia yang menyilaukan menyambar ke arah si pemuda.
Pendekar Pemetik Bunga tarik jubahnya ke atas tinggi-tinggi lalu mengebutkannya ke bawah dengan cepat. Angin pengap yang dahsyat menyambar. Lima senjata rahasia lawan berpelantingan. Tujuh lainnya di sapu dan membalik menyerang pemiliknya sendiri! Malangnya si orang tua tak menyangka dan tak sempat mengelak, Tubuhnya tak ampun lagi ditembusi ke tujuh senjata rahasia miliknya sendiri! Orang tua itu mengeluarkan pekikan yang menyayat hati! Tubuhnya tergelimpang di tanah. Dia mati dengan mata membeliak! Mati dengan sabuk mutiara masih di tangannya.
Pendekar Pemetik Bunga tertawa mengekeh. Betapa menjijikkan dan mengerikan. Dia melangkah ke hariapan mayat si orang tua dan membungkuk, Sabuk mutiara direnggutkannya dari tangan kiri mayat
lalu dipakainya di pinggang.
Dibalikkannya badannya. Matanya memandang sekilas pada Ning
Leswani yang berdiri dengan tubuh gemeter dan muka pucat pasi. Kemudian dia memandang berkeliling. Dan serunya . “Siapa lagi yang inginkan mampus silahkan maju dengan cepat.”
Tak satu orangpun yang bergerak dari tempatnya.
Sambil tertawa panjang Pendekar Pemetik Bunga melangkah mendekat Ning Leswani. Si gadis cepat menyurut mundur. “Gadis manis, kau tak perlu takut padaku! Kau harus tahu, kunyuk yang bernama Rana
Wulung itu tidak pantas jadi suamimu. Lebih pantas jika kau ikut aku…”
“Manusia biadab! Pergi…!” teriak Ning Leswani. Pendekar Pemetik Bunga menyeringai. Dia maju melangkah. Ibu Ning Leswani yang coba menghalanginya sambil berteriak-teriak dengan sekali tepis saja
tersungkur ke tanah.
“Pergi!” teriak Ning Leswani lagi.
“Ya, kita pergi sama-sama manisku!” sahut Pendekar Pemetik Bunga dengan mata yang memancarkan nafsu menggelora. Diulurkannya tangannya untuk meraih pinggang gadis itu. Justru pada saat itulah
terdengar bentakan yang sangat nyaring.
“Pendekar terkutuk! Tarik tanganmu…!”
— == 0O0 == —
TIGA
PENDEKAR Terkutuk Pemetik Bunga hentikan gerakan tangannya yang hendak menjamah tubuh Ning Leswani. Kepalanya di putar. Sepasang matanya membentur sosok tubuh seorang laki-laki tua berbadan bungkuk, berambut dan berjanggut putih. Orang tua yang berselempang kain putih ini berdiri dengan sebatang tongkat bambu kuning di tangan kanan.
“Siapa kau?” bentak Pendekar Pemetik Bunga.
Yang ditanya menyeringai dan ketuk-ketukkan tongkat bambu kuningnya ke tanah. Ketukan ini membuat semua orang merasa bagaimana tanah yang mereka pijak menjadi bergetar. Bambu kuning di tangan si orang tua pastiiah satu senjata yang sangat hebat. Dan orangorang yang masih ada di situ, yang membenci terhariap Pendekar Pemetik Bunga merasa punya harapan kembali atas kemunculan si orang tua
berselempangan kain putih ini.
“Lekas jawab!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. “Kalau tidak kau akan mati percuma!”
Si janggut putih ketuk-ketukkan lagi tongkat bambu kuningnya ke arah tanah. Matanya yang kecil memandang tajam pada si pemuda jubah hitam.
“Ratusan hari turun gunung, puluhan minggu mengarungi lembah dan bukit, berbulan-bulan menyeberangi sungai memasuki hutan belantara akhimya kau kutemui juga. Heh… he… he… he… he …!”
“Kau masih belum mau beri tahu siapa namamu, orang tua? Jangan
menyesal!”
“Namaku tidak penting, manusia bejat. Yang penting ialah apa kau masih ingat kebiadaban yang kau lakukan di desa Srintil beberapa bulan yang silam…?”
Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga kerutkan kening. Sepasang alis
matanya menaik.
“Sembilan laki-laki tak berdosa kau bunuh. Dua diantaranya adalah muridku. Empat orang perempuan di desa itu kau bawa kabur, kau perkosa lalu kau bunuh! Kau lupa itu semua…?!”
“Hem….” Pendekar Pemetik Bunga manggut-manggut beberapa
kali. “Tidak, aku tidak lupa,” katanya dengan terus terang.
“Bagus sekali kalau kau tidak lupa!” ujar si orang tua. Dan
bambu di tangan kanannya di ketuk-ketukkannya lagi. Tanah kembali bergetar. “Orang-orang desa telah datang kepadaku mengadukan kebiadabanmu itu….”
“Berapa uang suap yang diberikan orang-orang desa padamu
untuk mencariku orang tua?!” ejek Pendekar Pemetik Bunga.
Wajah si orang tua kelihatan menjadi merah. Dia tertawa dingin. “Sekalipun mereka tidak datang ke puncak gunung Bromo, memang sudah sejak lama aku berniat turun tangan membekuk batang lehermu…!”
Pendekar Pemetik Bunga tertawa gelak-gelak, “Oh jadi kau
adalah Datuk Bambu Kuning dari gunung Bromo?!”
Si orang tua kini balas tertawa panjang-panjang sambil tangan kirinya mengusap-usap janggut putihnya yang panjang menjela sampai
ke dada.
“Kalau sudah tahu siapa aku, mengapa tidak lekas-lekas bertobat dan bunuh diri? Atau masih perlu aku memecahkan kepalamu dengan bambu kuning ini?!”
“Kentut!” maki Pendekar Pemetik Bunga dengan muka membesi
penuh marah.
“Kalau aku kentut, kau tahinya!” kata Datuk Bambu Kuning pula
dan tertawa lagi panjang-panjang seperti tadi.
Naiklah darah Pendekar Pemetik Bunga.
“Manusia tolol yang tidak tahu gunung Semeru berdiri di muka hidung, terima kematianmu dalam tiga jurus!” teriak Pendekar Pemetik
Bunga sambil menyerbu dengan sabuk mutiara milik korbannya tadi.
Datuk Bambu Kuning terkejut melihat sabuk itu. “Eh, itu adalah senjata Kidal Boga, murid Rah Kuntarbelong. Dari mana kau dapat, manusia bejat?!”
“Tanya pada setan di neraka nanti!” sahut Pendekar Pemetik
Bunga seraya sabetkan sabuk mutiara ke arah lawan. Angin laksana gunung gelombang menerpa Datuk Bambu Kuning.
Datuk Bambu Kuning cepat menghindar. “Rupanya kau bukan saja manusia bejat tukang bunuh dan tukang perkosa tapi juga pencuri kesiangan huh!” Datuk Bambu Kuning kiblatkan tongkat bambu kuningnya. Serangkum angin yang bukan main dahsyatnya menyambar dan menahan serangan angin sabuk. Debu dan pasir beterbangan akibat angin kedua senjata sakti itu!
Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga tak kurang kejutnya ketika merasakan serangan sabuknya menjadi tak berarti sewaktu tongkat bambu kuning di tangan lawan menyambuti gempurannya itu! Dengan serta merta pemuda ini percepat gerakannya. Dalam sekejap Datuk Bambu Kuning terbungkus oleh serangan sabuk mutiara.
Namun sekali si orang tua memekik keras dan sekali dia putar tongkat bambunya dalam jurus yang aneh maka keluarlah dia dari kurungan serangan senjata lawan! Kini gempuran tongkat bambu
itulah yang membungkus tubuh Pendekar Pemetik Bunga!
Si pemuda tiada habisnya menggerutu dan memaki dalam hati sewaktu mendapatkan dirinya terdesak hebat oleh gempuran lawan. Apalagi sewaktu jurus kedua berakhir dan sewaktu Datuk Bambu Kuning tertawa mengejek dan berkata. “Jurus ketiga ini adalah jurus kematianmu, manusia bejat! Bukan jurus kematianku!” Dan permainan tongkat bambu kuningnya semakin dipercepat dan semakin
dahsyat. Sinar kuning bergulung-gulung menyelimuti tubuh si pemuda!
“Setan alas keparat!” maki Pendekar Pemetik Bunga. Dengan gerakan yang sulit sekali dia membungkuk. Sabuk mutiara diputar sebat melindungi tubuh sedang tangan kiri diulurkan untuk menjangkau tepi jubah hitamnya. Dengan dua senjata di tangan yaitu tepi jubah di tangan kiri dan sabuk mutiara di tangan kanan, Pendekar Pemetik Bunga berdiri kembali menghadapi lawannya. Sabuk mutiara mengeluarkan gelombang angin yang laksana gunung besarnya sedang tepi jubah hitam menghamburkan angin pengap yang sanggup menyesakkan jalan
pernafasan yang menyendat tenggorokan serta liang hidung!
Dalam jurus ketiga itu kelihatanlah bagaimana gempuran Datuk Bambu Kuning menjadi lamban. Orang tua itu berteriak keras dan kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Namun sia-sia saja. Dirasakannya dadanya menjadi sesak, lobang-lobang hidungnya laksana tersumbat.
Sukar baginya untuk bernafas! Menanggapi hal ini si orang tua segera atur jalan darah dan tutup pemafasannya. Tubuhnya lenyap sewaktu din mempercepat gerakannya!
Namun kedahsyatan angin pengap yang menderu dari tepi jubah memang tidak kepalang tanggung. Sebentar saja serangan-serangan bambu kuning lawan sudah dibendungnya. Gerakan Datuk Bambu Kuning kembali menjadi lamban sewaktu orang tua itu tidak bisa mempertahankan lagi menutup jalan nafasnya terus-terusan sedang sementara itu pertempuran sudah berjalan lima jurus!
Pendekar Pemetik Bunga kembali keluarkan suara tertawa sewaktu dia tahu bahwa dirinya telah berada di atas angin. “Ha…ha…! Kau disuruh turun gunung oleh penduduk desa hanya untuk mencari
kematian saja Datuk Bambu Kuning!”
“Pendekar terkutuk jangan terlalu besar harapan!” kertak Datuk Bambu Kuning. Diam-diam tiga perempat dari tenaga dalamnya
dikerahkan ke dada.
Tiba-tiba, “Bluuss!”
Selarik asap kuning menyembur dari mulut si orang tua! Pendekar
Pemetik Bunga terkejut bukan main dan cepat tutup jalan nafasnya. Keterkejutan dan saat menutup jalan nafas tadi membuat gerakannya mengendur. Sewaktu din menghindar ke samping sambil babatkan sabuk mutiaranya memapasi semburan asap kuning, bambu di tangan kanan lawan datang menderu!
Si pemuda kebutkan tepi jubahnya. Celaka! Asap kuning itu tak sanggup dibikin buyar oleh angin pengap tepi jubah hitamnya!
Pendekar Pemetik Bunga menjerit setinggi langit. Tubuhnya lenyap dan sesaat kemudian dia berhasil ke luar dari serangan lawan yang bukan kepalang dahsyatnya tadi. Sewaktu berdiri mengatur jalan darah dan nafasnya kembali, diam-diam pemuda ini keluarkan keringat dingin juga!
“Kau kira kau bisa lari dari sini, manusia bejat?!” hardik Datuk Bambu Kuning. Mulutnya membuka dan asap kuning rnenyembur lagi kemuka lawan. Pendekar Pemetik Bunga kembali tutup jalan nafasnya dan melompat ke samping. Serangan kebutan tepi jubah dan sambaran sabuk mutiara dilakukannya berbarengan sekaligus ke arah lawan. Si orang tua melompat tiga tombak ke atas dan sewaktu turun kembali menyemburkan asap kunign dari mulutnya! Pendekar Pemetik Bunga menjadi kewalahan kini. Kewalahan dan merutuk! Di samping itu tak habis heran kesaktian apakah yang dikandung oleh asap kuning yang keluar dari mulut lawannya sehingga angin pengap jubah hitam dan angin
sabuk mutiara tiada sanggup membuyarkannya!
Tiba-tiba pemuda itu menggereng macam harimau. Tubuhnya melesat kemuka. Angin pengap menyerang ketenggorokan Datuk Bambu Kuning sedang sabuk mutiara menerpa dari atas ke bawah!
Si orang tua ganda tertawa menghardapi serangan ini Bambu
kuningnya diputar-putar, tiba-tiba dikiblatkan demikian rupa
“Sreet!”
Sabuk mutiara di tangan kanan Pendekar Pemetik Bunga kena disambar den terlepas mental dari tangan pemuda itu! Si pemuda sendiri dengan jungkir balik susah payah baru berhasil ke luar dari sambaran tongkat bambu serta semburan asap kuning yang dilepaskan lawan! Matanya membeliak, mulutnya kornat kamit. Mukanya mengelam sewaktu si orang tua melangkah perlahan mendekatinya dengan tertawa sedingin
salju!
“Nyawa anjingmu hanya tinggal beberapa detik saja, pemuda terkutuk!” kata Datuk Bambu Kuning. “Sejak hari ini dunia persilatan akan bersih dari noda kekotoran manusia macam kau!”
“Aku masih belum menyerah keparat!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Mulutnya masih komat-kamit. Matanya dengan waspada memperhatikan setiap gerak yang dibuat Datuk Bambu Kuning.
“Aku memang tak suruh kau menyerah, “ sahut Datuk Bambu Kuning
dengan tertawa sedingin tadi. “Aku cuma perlu nyawa anjingmu!”
“Soal nyawa soal mudah,” tukas Pendekar Terkutuk Pemetik Btmga.
Diam-diam dia salurkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung jari telunjuknya. Sesaat kemudian ujung jari itu menjadi hitam legam dan mengeluarkan sinar menggidikkan. “Orang tua edan, kau lihat jari ini?! “
Datuk Bambu Kuning memandang dengan kerenyit kulit kening pada
jari telunjuk tangan kanan Pendekar Pemetik Bunga. Darahnya tersirap, mukanya berubah.
Pendekar Pemetik Bunga tertawa mengekeh. “Kenapa mukamu
menjadi pucat, kunyuk tua?!”
Datuk Bambu Kuning tidak menyahut. Mukanya bertambah pucat dan matanya melotot memandang tajam-tajam pada jari telunjuk si pemuda.
Ketika jari telunjuk itu dan ibu jari si pemuda membuat lingkaran. Datuk Bambu Kuning berseru kaget. “Ilmu Jari Penghancur Sukma!” Dengan serta merta Datuk Bambu Kuning bagi dua aliran tenaga dalamnya. Sebagian ke ujung tongkat bambu den sebagian lagi ke dada!
“Makan jariku ini, Datuk keparat!” seru Pendekar Pemetik Bunga. Dikejap itu juga dia menjentikkan jari telunjuknya. Satu gelombang angin hitam menderu laksana topan prahara, menyereng ke arah Datuk Bambu Kuning. Di saat yang sama Datuk Bambu Kuning sapukan tongkat di tangan
kanan dan semburkan asap kuning!
Datuk Bambu Kuning berteriak kaget ketika melihat angin pukulan bambu kuning dan sambaran asap kuningnya buyar berantakan dilanda angin hitam lawan. Dan angin hitam yang menggidikkan ini terus melesat ke arahnya. Datuk Bambu Kuning cepat menyingkir tapi kasip!
Orang tua itu mencelat beberapa tombak jauhnya ketika angina hitam menyambar tubuhnya. Dan terdengarlah jeritnya melengking langit! Datuk Bambu Kuning terguling-guling di tanah. Sekujur tubuhnya hitam
hangus! Nyawanya tidak ketolongan lagi, putus kejap itu juga!
Pendeker Pemetik Bunga mengatur jalan nafas dan aliran darahnya kembali. Sewaktu dia menggerakkan kakinya baru disadariya bahwa kedua kakinya itu telah tenggelam ke dalam tanah sedalam lima senti! Bila pemuda ini melangkah mendekati Ning Leswani, kembali terdengar makian gadis itu. Makian yang kemudian disusul dengan jeritan. Tak ada satu orangpun yang berani menghalangi dan berbuat suatu apa ketika Ning Leswani dipanggul
oleh Pendekar Pemetik Bunga dan dilarikan!
Sampai pagi, sampai ketika matahari muncul di utuk timur desa
masih diselimuti oleh kehebohan atas apa yang telah terjadi!
Ki Lurah Rantas Madan den Rana Wulung bersama kira-kira selusin penduduk, dengan membawa berbagai senjata dan menunggangi kuda coba mencari jejak Pendekar Pemetik Bunga. Namun ke mana manusia durjana itu hendak dicari?! Menjelang tengah hari, mereka sudah berbisik-bisik sesama mereka bahwa tak mungkin mereka akan menemui
Ning Leswani. Kalaupun bertemu, tentu gadis itu sudah rusak kehormatannya! Dan seandainya pula mereka berhasil menyergap Pendekar Pemetik Bunga, belum tentu mereka sebanyak itu bisa membekuk batang
lehernya!
Rantas Madan tahu suasana yang dirasakan anggota-anggota rombongannya. Dia berunding dengan Rana Wulung dan akhirnya diambil
keputusan untuk pulang saja.
Terik matahari membakar kulit di siang itu. Rana Wulung dengan muka pucat menunggangi kudanya di samping Rantas Madan. Hati pemuda ini hancur sudah! Dendam kesumatnya terhadap Pendekar Pemetik Bunga tak akan pupus selama hidupnya!
Ketika rombongan melalui lereng sebuah bukit dalam perjalanan pulang itu, ada sesuatu yang menarik perhatian Rana Wulung. Dia berpaling pada Rantas Madan.
“Bapak, kau lihat burung-burung gagak yang beterbangan di puncak bukit itu.”
Ki Lurah Rantas Madan terkejut lalu memandang ke puncak bukit di atasnya. Beberapa burung gagak hitam dilihatnya terbang berputarputar naik turun di atas puncak sana. Berdebar hati laki-laki ini. Lalu dihentikannya rombongan.
“Kita ke sana!” mengambil keputusan Rantas Madan. Masingmasing kemudian memacu kuda mereka ke puncak bukit. Rana Wulung di depan sekali. Di puncak bukit pemuda ini menghentikan kudanya dan meneliti ke mana turunnya burung-burung gagak tadi. Diikuti oleh anggota-anggota rombongan yang lain Rana Wulung bergerak ke arah serumpunan semak belukar lebat. Waktu dia mencapai semak itu, empat
ekor burung gagak terbang ke udara.
Rana Wulung melompat dari kudanya dan lari ke balik semak belukar lebat.
“Tuhanku!” seru pemuda itu. Lututnya goyah. Matanya membeliak. Tiba-tiba laksana orang kalap dia melompat ke muka sambil berseru nyaring . “Nining! Nining!”
Ning Leswani terhampar di atas rerumputan. Tak selembar benangpun yang menutupi auratnya. Tubuh yang telanjang ini sudah tiada nafas lagi dan sebagian sudah berlubang-lubang dipatuk gagakgagak hitam pemakan bangkai! Tubuh yang malang itulah yang dipeluk Rana Wulung. Namun cuma sebentar saja. Sewaktu Rantas Madan dan
rombongan lainnya sampai ke situ, Rana Wulung sudah jatuh pingsan!
Rantas Madan sendiri hampir-hampir tak kuat pula menyaksikan pemandangan itu! Hampir tak sanggup melihat anak kandung yang dikasihinya menemui kematian dalam cara yang mengenaskan begitu rupa. Mulutnya komat kamit. Tenggorokannya turun naik.
“Anakku….” desis laki-laki itu. Dia berlutut. Beberapa orang
menarik Rana Wulung dari atas tubuh Ning Leswani. Rantas Madan cepat membuka bajunya dan menutupi aurat anaknya dengan baju itu. Air matanya berlinang. Dendam kesumat seperti mau memecahkan dadanya saat itu!
— == 0O0 == —
EMPAT
MUNCULNYA Pendekar Pemetik Bunga menyebar maut, darah dan noda benar-benar menggemparkan dunia persilatan. Kekejaman dan kebejatan terkutuk yang dilakukannya selama malang melintang beberapa bulan belakangan ini benar-benar merupakan satu tantangan bagi dunia persilatan, terutama mereka dari golongan putih. Hal ini tak dapat dibiarkan lama, dan berlarut-larut. Beberapa tokoh silat utama dari golongan putih kabarnya telah turun tangan membuat perhitungan dengan Pendekar Pemetik Bunga. Tapi apa yang terjadi kemudian benarbenar membuat dunia persilatan tambah geger!
Bagaimanakah tidak! Semua tokoh-tokoh silat yang berani bikin perhitungan itu disikat mentah-mentah oleh Pendekar Pemetik Bunga. “Ilmu Jari Penghancur Sukma” yang dimiliki pemuda terkutuk itu menjadi biang momok mengerikan bagi dunia persilatan, apalagi bagi orang-orang yang tidak mengerti silat sama sekali! Tiap kota dan desa, tiap kampung dan pelosok diselimuti rasa ketakutan dan cemas. Takut dan cemas kalau Pendekar Pemetik Bunga akan muncul mendadak di daerah mereka, menyebar maut dan menebar noda di kalangan penduduk yang tak berdosa!
Kejahatan, kebejatan dan seribu satu macam perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh Pendekar Pemetik Bunga itu telah sampai pula ke puncak gunung Merbabu.
Saat itu tengah hari tepat. Matahari berada dititik tertingginya. Keterikan sinar matahari tiada terasa di atas puncak gunung yang ditutupi halimun sejuk itu. Asap belerang dari kawah gunung bergulung-gulung ke atas, bercampur jadi satu dengan halimun dan menutupi pemandangan.
Di satu bagian dari puncak gunung Merbabu, di dalam sebuah
ruangan batu, diterangi oleh sebuah pelita kecil kelihatan duduk seorang laki-laki tubuhnya kurus sekali, hampir tinggal kulit pembalut tulang. Tubuh yang kurus ini ditutupi dengan sehelai selempang kain putih. Melihat kepada air mukanya yang penuh dengan keriputan itu nyatalah bahwa manusia ini umurnya sudah lanjut sekali. Tapi anehnya, rambut dan janggutnya yang panjang sampai ke pinggang itu masih berwarna hitam legam dan berkilat-kilat ditimpa sinar pelita.
Orang tua ini adalah Begawan Citrakarsa. Saat itu dia tengah bersemedi mengheningkan cipta rasa dan menutup semua inderanya. Ketika matahari menggelincir ke titik tenggelamnya, ketika sinar kuning emas berpalun dengan sinar kemerahan menyaputi langit di ufuk barat barulah Begawan itu menyelesaikan semedinya. Dibukanya kedua matanya, dibukanya segenap inderanya. Kemudian perlahan-lahan Begawan ini berdiri dari duduknya dan melangkah ke pintu.
Dari pintu batu tempat dia berdiri itu dapat dilihatnya keseluruhan
puncak Gunung Merbabu. Sebagian dari puncak Gunung Merbabu itu telah diselimuti lagi oleh kabut belerang dan halimun. Di kaki gunung menghampar sawah ladang. Jauh di sebelah selatan mengalir sebatang anak sungai. Begawan Citrakarsa menghela nafas dalam. Betapa indahnya bumi buatan Tuhan. Tapi betapa sayangnya, bumi yang indah dan suci itu telah dikotori oleh segala macam kemaksiatan, segala macam kemesuman,
kejahatan, kebejatan!
Begawan Citrakarsa masuk kembali ke dalam ruangan batu. Dari dinding ruangan batu diambilnya sebilah keris lalu disisipkannya ke balik selempangan kain putih di pinggangnya. Dengan sedikit lambaian tangan Begawan Citrakarsa memadamkan pelita dalam ruangan batu itu. Dia melangkah ke pintu kembali. Di luar puntu terdapat sebuah batu besar. Dengan mempergunakan tangan kirinya Begawan ini menggeser batu itu hingga menutupi pintu ruangan batu. Batu besar itu beratnya ratusan kati, tapi sang Begawan hanya menggesernya dengan mempergunakan tangan kiri! Sampai dimana kehebatan tenaga dalam Begawan bertubuh kurus yang
hanya tinggal kulit pembalut tulang itu sungguh tak dapat dijajaki!
Bila angin dari timur bertiup sejuk. Bila bola penerang jagat hanya seperenam bagiannya saja lagi yang kelihatan di ufuk barat sana dan bila puncak gunung Merbabu hampir keseluruhannya terselimut halimun maka Begawan itupun menggerakkan kakinya. Sepasang kaki yang kurus kering itu dengan lincah dan dengan kecepatan yang luar biasa berlari di tepi kawah dengan seenaknya. Sekali-sekali melompati jurang batu yang lebarnya sampai tiga – empat tombak. Bersamaan dengan lenyapnya sang surya ke tempat peraduannya maka bayangan Begawan Citrakarsa pun
tak kelihatan lagi di puncak gunung Merbabu itu.
* * *
Tikungan jalan itu terletak di tempat yang ketinggian. Sinar matahari panasnya seperti mau memanggang kulit. Burung-burung kecil yang berlindung di balik daun-daun pepohonan berkicau tiada hentinya
seakan-akan turut gelisah oleh panasnya hari sehari itu.
Pemuda berambut gondrong di atas cabang pohon duduk dengan sepasang mata yang terus menatap ke liku-liku jalan di kaki bukit. Sudah satu jam hampir dia berada di cabang pohon itu dan apa yang ditunggunya masih juga belum muncul. Kekesalan hatinya dicobanya melenyapkan dengan bersiul-siul. Ada satu keluarbiasaan, cabang pohon yang diduduki pemuda itu kecil sekali. Jangankan manusia, seekor kucingpun bila duduk di situ pastilah cabang itu akan menjulai ke bawah. Tapi anehnya, diberati oleh tubuh pemuda berambut gondrong itu, jangankan menjulai, bergerak sedikitpun cabang pohon itu tidak! Kalau si pemuda bukannya seorang sakti mandraguna yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat,
pastilah hal itu tak bisa kejadian.
Sepeminuman tah berlalu. Si pemuda memandang lagi ke kaki bukit,
ke arah liku-liku jalan.
“Sialan, apa kunyuk-kunyuk itu tidak jadi melewati jalan ini?! Sialan
be…”
Tiba-tiba pemuda itu hentikan makiannya. Bola matanya membesar dan dibibirnya menggurat seringai tajam. Jauh di bawah bukit, diantara pohon-pohon di liku-liku jalan dilihatnya sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda putih, dikawal oleh selusin penunggang kuda. Debu menggebu ke udara. Pemuda itu kini tertawa-tawa sendirian. Hatinya gembira. Yang ditunggunya telah kelihatan di bawah sana, dan pasti akan melewati tikungan jalan dimana dia menunggu saat itu.
Kira-kira dua kali peminuman teh maka terdengarlah derap kakikaki kuda dan gemerataknya suara roda kereta mendekati tikungan jalan.
Karena tikungan itu mendaki, maka pengemudi kereta dan penunggangpenunggang kuda agak memperlambat lari kuda masing-masing.
Pada saat itulah pemuda rambut gondrong yang duduk di cabang
pohon mengeluarkan suara memerintah yang menggeledek!
“Berhenti!”
Beberapa ekor kuda yang di muka sekali meringkik terkejut. Pengemudi dan pengawal kereta kagetnya bukan main. Semua anggota rombongan menghentikan kuda masing-masing. Dan melihat gelagat yang
tidak baik, setiap anggota rombongan bersikap waspada.
“Semua laki-laki yang ada di sini, termasuk pengemudi kereta kuharap segera angkat kaki tinggalkan tempat ini. Berlalu dengan cepat!” Begitu si pemuda memerintah. Dan dia masih juga duduk di cabang pohon
seenaknya.
Penunggangn kuda yang paling muka yang bertindak sebagai pimpinan rombongan mendongak ke atas dan bertanya dengan
membentak.
“Orang asing! Kau siapa?!”
“Buset! Kau punya nyali membentak aku hah? Apa kau punya jiwa rangkap!”
Si penunggang kuda mendengus. “Caramu memerintah nyatalah
bahwa kau mempunyai niat jahat!”
“Betut sekali sobat! Karenanya lekaslah tinggalkan tempat ini kalau
kalian semua tidak mau cilaka!”
Penunggang kuda yang bertindak sebagai pemimpin rombongan melihat sikap dan tempat di mana pemuda rambut gondrong itu duduk sesungguhnya sudah sejak tadi mengetahui bahwa manusia asing itu seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun dengan mengandalkan jumlah yang banyak, mengandalkan kawan-kawannya yang rata-rata memiliki ilmu silat, nyalinya tidaklah menjadi kendor merghadapi si pemuda rambut gondrong!
“Kalau kau seorang perampok, cari saja orang lain untuk dirampok!
Salah-salah riwayatmu bisa tamat sampai di sini, sobat”
Pemuda di atas cabang pohon tertawa gelak-gelak. Suara tertawaaya menggetarkan tikungan jalan itu, juga menggetarkan hati dua belas penunggang kuda! Bahkan suara tertawa itu telah membuat satu tangan halus menyibakkan tirai kereta den memunculkan sebuah kepala perempuan muda belia berwajah cantik berkulit halus mulus.
“Manusia-manusia tolol! Orang sudah kasih ampun den kasih selamat kalian punya jiwa tapi malah berlagak jago!” bentak orang di atas cabang pohon! “Silahkan cabut senjata kalian agar kalian semua tidak mampus
percuma!”
Habis berkata begitu si pemuda laksana seekor alap-alap melompat turun. Tubuhnya berkelebat cepat dan terdengadah jeritan yang menggidikkan! Tiga penunggang kuda terpelanting dari punggung kuda masing-masing. Kepala ketiganya hancur remuk dimakan tendangan kaki kanan pemuda tadi!
Yang sembilan orang lainnya, tambah satu dengan pengemudi kereta dengan serentak segera mencabut golok masing-masing. Tanpa menunggu
lebih lama yang sembilan
orang segera menyerbu sedang pengemudi kereta dengan golok
melintang di muka dada tetap berada di atas kereta.
Sebentar saja hujan golok menyelubungi si pemuda. Pemuda itu berdiri di tengah-tengah siuran golok dengari bertolak pinggang dan sambil tertawa-tawa. Sekali-sekali dia membuat sedikit gerakan. Meskipun sedikit gerakan itu sekaligus berhasil mengelakkan sembilan serangan golok yang
menderu-deru.
Tiba-tiba pemuda itu membentak nyaring. Tubuhnya merunduk di antara bacokan dan tebasan golok. Pekik lolong terdengar susul menyusul.
Empat pengeroyoknya berpelantingan dan bergeletakan tanpa nyawa di tengah jalan. Yang lima orang lainnya kejut serta kaget mereka bukan olaholah.
‘Tegal Ireng!” teriak pemimpin rombongan. “Larikan kereta dari sini
cepat! Aku dan yang lain-lainnya menahan bangsat ini!”
Kusir kereta tak ayal lagi segera sentakkan tali kekang. Dua ekor kuda melonjak dan melompat ke muka. Sementara itu lima golok menyerbu pemuda rambut gondrong dengan ganasnya. Tapi yang diserbu ganda tertawa. Dia membuat lompatan setinggi tiga tombak. Dua orang pengeroyoknya jungkir balik di makan tendangan. Bersamaan dengan Itu tangan kanannya dihantamksn ke arah dua ekor kuda penarik kereta yang segera hendak lari meninggalkan tempat itu. Gelombang angin yang sangat dahsyat Menghantam hancur delapan kaki binatang itu sehingga kuda dan kereta angsrok kejalanan. Ringkik kuda terdengar tiada hentinya sedang dari dalam kereta melengking jeritan perempuan!
Pemimpin rombongan, dengan sangat penasaran cabut lagi sebatang golok dari pinggangnya. Dengan sepassng golok, bersama dua orang
kawannya dia menyerbu kembali!
“Kunyuk-kunyuk tolol! Nyali kalian memang patut kupuji! Tapi kalian
adalah manusia-manusia tidak berguna! Karenanya pergilah ke neraka!”
Pemuda rambut gondrong kebutkan tepi jubah hitamnya. Serangkum angin pengap menyerang ke arah tenggorokan ketiga lawannya. Manusiamanusia itu mengelusrkan suara seperti tercekik sewaktu tubuh mereka mental dilanda angin dahsyat. Dari mulut masing-masing menyembur darah segar. Nyawa ketiganya lepas bersamaan dengan rubuhnya tubuh
mereka ke tanah!
Pemuda berambut gondrong yang mengenakan jubah hitam berbunga-bunga kuning tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba dirasakannya sambaran angin di belakangnya. Dibalikkannya tubuhnya dengan cepat.
Sebatang golok laksana anak panah melesat ke arah batok kepalanya!
— == 0O0 == —
LIMA
Kurang ajar betul!” teriak pemuda berjubah hitam. Dia gerakkan tangan kanannya. Lihai sekali golok maut itu berhasil ditangkapnya lalu
dilemparkannya ke arah kereta.
Laki-laki yang menjadi kusir kereta, yang tadi melemparkan golok itu kepada si pemuda dengan serta merta melompat dari kereta yang sudah angsrok itu dan bergulingan di tanah. Golok menancap di bangku kayu pada bagian depan kereta!
Kusir kereta yang menyadari bahwa dirinya kini tinggal sendirian, melihat serangannya tidak mengenai sasaran jadi lumer nyalinya. Tanpa banyak cerita kusir ini segera ambil langkah seribu seraya berteriak. “Den
Ayu Galuh Warsih lekas lari selamatkan dirimu!”
“Kunyuk tengik!” teriak pemuda berjubah hitam sambil keluarkan dengusan. “Kalau mau lari, larilah sendiri ke neraka!”
Sekali pemuda ini lambaikan tangan kanannya, kusir kereta itu mental menghantam pohon dilanda angin dahsyat yang ke luar dari telapak tangan si pemuda!
Di saat itu pintu kereta sebelah kanan terbuka lebar-lebar dan
seorang gadis bertubuh ramping, berkulit hitam manis yang memiliki wajah mempesona ke luar dengan paras pucat. Lututnya gemetar. Bulu kuduknya merinding melihat sosok-sosok mayat pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, mati dalam keadaan mengerikan!
Gadis itu menyurut beberapa langkah sewaktu pemuda berjubah hitam melangkah mendekatinya.
“Ah, dewiku, kenapa takut padaku?” ujar si pemuda dengan mengulum senyum. “Namamu Galuh Warsih bukan? Dan kau anaknya
Sentot Sastra dari Kaliurang, betuL?”
Galuh Warsih menyurut lagi beberapa langkah. Pada tampang yang gagah dari si pemuda, pada sunggingan senyumnya nyata kelihatan sifat kebuasan, sifat kejalangan!
Gadis ini terpekik sewaktu sekali lompat saja si pemuda sudah berada dihadapannya.
“Saudara, kau siapa? Mengapa membunuh pengawal-pengawalku?!” Meski takutnya bukan main namun Galuh Warsih masih bernyali
mengajukan pertanyaan itu.
Yang ditanya tertawa.
“Ah.., itu satu pertanyaan yang pantas dijawab,” katanya. Tangan kirinya ditopangkannya ke sanding belakang kereta. “Namaku tak seberapa perlu dewiku sayang. Aku cukup dikenal dengan gelar Pendekar
Pemetik Bunga.”
Paras Galuh Warsih laksana kain kafan, putih seperti tiada berdarah. Sebaliknya pemuda yang mengaku bergelar Pendekar Pemetik Bunga tertawa gelak-gelak.
“Dan kalau dewiku bertanyakan mengapa aku membunuh pengawal-pengawalmu itu adalah karena mereka sedeng semua! Disuruh
angkat kaki dari sini agar selamat malah minta mati!”
“Ayahku Bupati Kaliurang pasti akan menyuruh pancung kepalamu atas semua kejahatan inil”
Pendekar Pemetik Bungs tertawa mengekeh. “Sudahlah,” katanya,
“di tempat bangkai-bangkai berserakan ini kita tak usah banyak bicara.
Kau ikut aku, Galuh Warsih. Kita pergi ke bukit sebelah sana…”
‘Tidak!”
“Di bukit sana ada sebuah pondok!”
‘Tidak, aku tidak mau! Aku tidak sudi ikut sama kau manusia
biadab!” teriak Galuh Warsih.
“Di situ, di pondok itu nanti kau akan merasakan sorga dunia yang tiada taranya dewiku manis….” Dengan tertawa gelak-gelak Pendekar Pemetik Bunga maju mendekati Galuh Warsih. Si gadis cepat menyambar kayu patahan papan kereta dan dengan kedua tangannya menghantamkan kayu itu ke kepala Pendekar Pemetik Bunga, Pemuda berhati bejat itu ganda tertawa. Dia merunduk dan begitu maju, sekaligus dia sudah merangkul pinggang Galuh Warsih.
Galuh Warsih menjerit melolong-lolong. Kedua tangannya tiada henti mendambuni punggung dan menjambaki rambut gondrong Pendekar Pemetik Bunga. Tapi pemuda itu tiada perduli. Malah dengan tertawa dan bersiul-siul gembira laksana angin cepatnya tubuh Galuh Warsih
dilarikan ke puncak sebuah bukit di sebelah timur!
Hampir sepeminum teh kemudian maka pondok kayu itu sudah kelihatan dari jauh. Nafsu yang menghempas-hempas pembuluh darah dan menegangkan sekujur tubuh Pendekar Pemetik Bungs membuat manusia terkutuk itu tancap gas tambah percepat larinya agar lekas-lekas sampai ke pondok itu dan agar lekas pula melampiaskan nafsu bejat
terkutuknya!
Tapi betapa terkejutnya Pendekar Pemetik Bunga sewaktu makin dekat ke pondok itu sepasang telinganya menangkap suara nyanyian. Yang lebih mengejutkan ialah karena suara nyanyian itu keluarnya dari dalam pondok kayu dihadapannya itu!
Dua tahun dilepas pergi, Dua tahun turun gunung, Dua tahun berbuat keji, Dua tahun tak tahu untung.
Lima tahun belajar percuma
Lima tahun dididik tiada guna
Kehancuran dimana-mana
Pembunuhan di mana-mana
Semua karena buta hati dan buta mata Semua karena buta rasa
Percuma bagusnya gunung
Percuma tingginya gunung
Kalau meletus bencana di mana-mana
Anak manusia lupa daratan Anak manusia membuat kebejatan Apakah selusin nyawa di badan? Apakah ilmu setinggi awan?
Pendekar Pemetik Bunga hentikan larinya. Galuh Warsih yang masih mendambun-dambun punggungnya, yang masih berteriak-teriak meskipun suaranya parau segera ditotoknya. Dipasangnya telinganya sedang kedua matanya memandang tajam-tajam ke arah pintu pondok yang terbuka. Tak
satu sosok manusiapun yang dapat dilihatnya dari tempat dia berdiri. Namun suara nyanyian tadi kembali terdengar. Terdengar dan keluar dari
pondok itu!
Dua tahun dilepas pergi,
Dua tahun turun gunung….
Ada suatu rasa aneh menyelinapi hati Pendekar Pemetik Bunga. Rasa aneh ini bukan saja hanya sekedar menyelinap, tapi juga membuat hatinya menciut-ciut dan dadanya berdebar. Dia melangkah kembali, pelahan kini. Mata memandang tajam, ke pintu pondok yang terbuka, sikap penuh waspada.
Lima tombak dari hadapan pondok, untuk kedua kalinya Pendekar Pemetik Bunga hentikan langkah. Bayangan seseorang dapat dilihatnya melangkah ke pintu. Dalam kejapan mata kemudiannya maka terbenturlah pandangannya pada tubuh seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering berselempang kain putlh. Janggut dan rambutnya yang hitam menjelang panjang sampai ke pinggang.
“Guru!” seru Pendekar Pemetik Bunga.
Tubuh Galuh Warsih segera diturunkannya dari pundak, didudukkannya di bawah sebatang pohon lalu dia sendiri berlari dan
berlutut dihadapan orang tua yang berdiri di ambang pintu pondok.
Si orang tua, yang bukan lain dari Begawan Citrakarsa adanya menyapu paras muridnya dengan pandangan mata sedingin salju setajam
pisau!
“Betulkah kau ini si Wirapati?”
Masih berlutut, Pendekar Pemetik Bunga angkat kepalanya. “Betul guru. Masakan guru lupa sama murid sendiri!” Diam-diam Pendekar Pemetik Bunga atau Wirapati merasa bergidik jugs melihat cara memandang gurunya.
“Guru…!”
Begawan Citrakarsa tidak perdulikan seruan kaget muridnya melainkan meneruskan, “Mataku masih belum kabur, telingaku masih belum tuli. Otakku masih belum tumpul! Wirapati yang pernah kegembleng
lima tahun di puncak Gunung Merbabu sudah tidak ada di atas bumi ini…”
“Guru!” seru si murid sekali lagi.
Begawan Citrakarsa tetap tak ambil perduli seorang pemuda terkutuk yang didelapan penjuru angin dikenal sebagai Pendekar Pemetik Bunga!
Berubahlah paras Pendekar Pemetik Bunga alias Wirapati. Dia membathin, rupanya apa yang telah dilakukannya sejak turun gunung dua tahun yang silam sudah diketahui oleh gurunya. Dia berpikir-pikir mencari akal, apakah yang bakal dikatakannya pada Begawan itu.
“Selama ini aku dikenal sebagai tokoh silat golongan putih yang mengutamakan ilmu untuk kebaikan, dan welas asih. Dunia persilatan menyegani dan menghormatiku! Tapi kini dari delapan penjuru angin umpat dan kutuk serapah dilontarkan kepadaku! Keningku dicoreng cemoreng oleh rasa malu yang tiada terkira! Semua itu adalah akibat
perbuatan bejatmu, Wirapati! Perbuatan terkutukmu!”
“Guru,” kata Pendekar Pemetik Bunga dengan cepat. Akal busuk sudah didapatnya saat itu “Rupanya guru telah tertiup oleh segata fitnah yang dilontarkan manusia-manusia biang racun! Lima tahun murid dididik dan digembleng oleh guru masakan sesudahnya turun gunung murid mau membuat kekotoran yang mencemarkan nama guru itu?! Semua fitnah belaka, guru! Percayalah! Justru murid malang melintang di dunia
persilatan untuk membasmi kaum penjahat dan golongan hitam…!”
Begawan Citrakarsa tertawa tawar. “Kaukah yang difitnah atau engkau yang memfitnah, Wirapati? Gadis yang kau sandarkan di pohon itu cukup menjadi bukti! Kalau kau mau menipu aku, tunggulah sampai mataku buta!”
Pendekar Pemetik Bunga tidak kehabisan akal. Dia segera buka mulut pula, “Guru salah duga. Gadis itu adalah anak Bupati Sentot Sastra dari Kaliurang yang barusan murid tolong dan lepaskan dari
tangan penculik-penculik dan perampok-perampok!”
Lagi-lagi Begawan Citrakarsa tertawa tawar.
“Lidah tidak bertulang memang biaa diputar balik!” katanya. “Tapi mataku tidak bisa diputar baiik, Wirapati! Aku saksikan sendiri apa yang terjadi di tikungan jalan tadi! Masihkah kau mau berdusta di dalam kebejatanmu?!”
Kini Wirapati alias Pendekar Pemetik Bunga tak bisa berkata apa-
apa lagi. Mulutnya terkatup rapat-rapat
“Tak perlu kau berlutut dihadapanku Wirapati! Sejak arang cemar kau corengkan ke mukaku, sejak itu pula aku tak mengakuimu lagi
sebagai murid!”
Rahang Pendekar Pemetik Bunga menonjol bergemeletak.
“Kejahatanmu laksana laut tidak bertepi! Dosamu sudah tak sanggup ditakar lagi! Sekarang berdirilah! Dan katakan cepat, cara mati bagaimana yang kau inginkan?!”
Kaget Pendekar Pemetik Bunga bukan alang kepalang! Dipandangnya paras Begawan Citrakarsa. Mimik dan sorotan mata si orang tua jelas menyatakan bahwa apa yang diucapkannya itu bukan
main-main!
“Guru….”
“Aku bukan gurumu!” bentak Begawan Citrakarsa.
Perlahan-lahan Pendekar Pemetik Bunga berdiri.
“Guru, kau betul-betul hendak membunuhku?” tanya pemuda itu,
“atau cuma main-main saja … ?”
“Bicara soal kematian bukan bicara main-main budak terkutuk!” hardik Begawan Citrakarsa.
“Bersiaplah untuk mampus!”
Begawan itu angkat tangan kanannya. Kemudian laksana kilat dipukulkan ke muka!
“Wuss!”
Asap putih mengepul dahsyat melanda ke arah Pendekar Pemetik Bunga. Melihat gurunya mengeluarkan ilmu dahsyat yang tak pemah dikenalnya atau diajarkan kepadanya sebelumnya, yakinlah Pendekar Pemetik Bunga bahwa si orang tua betul-betul bertekat hendak menghabisi nyawanya! Tak ayal, sebelum tubuhnya diserempet asap putih yang mengandung hawa sangat panas itu, si pemuda segera melompat ke samping sampai dua tombak!
“Bagus! Kau masih bisa mengelak! Tapi nyawamu tetap harus
minggat ke neraka murid laknat!” gertak Begawan Cirakarsa. Tubuhnya berkelebat. Kini kedua tangannya yang kurus memukul bersama-sama.
Sinar putih berbuntal-buntal menyambar Pendekar Pemetik Bunga!
— == 0O0 == —
ENAM
Serangan ganas ini membuat Pendekar Pemetik Bunga melompat sampai tiga tombak ke atas dan berseru nyaring, “Orang tua aku masih menaruh hormat pada kau! Hentikan seranganmu!”
“Hormat nenek moyangmu!” maki Begawan Citrakarsa beringas.
Kedua tangannya kembali melesatkan buntalan sinar putih. Pendekar Pemetik Bunga cepat-cepat menukik menyelamatkan diri.
Wirapati atau Pendekar Pemetik Bunga jadi beringas pula kini.
“Begawan!” serunya lantang, “jika kau tak hentikan senuigan, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau! Harap jangan menyesal!”
Begawan Citrakarsa tidak perdulikan ucapan bekas muridnya. Tubuhnya berkelebat cepat. Angin bersiuran, debu beterbangan dan atap rumbia pondok di atas bukit itu terbang bertaburan akibat keras dahsyatnya angin serangan sang Begawan!
Pendekar Pemetik Bunga penasarannya bukan main. Kutuk serapah tiada henti-hentinya dikeluarkan dalam hati. Kalau saja dia tidak memiliki tenaga datam dan ilmu mengentengi tubuh yang tinggi sempurna, pastilah dalam dua jurus saja dirinya sudah konyol mati kena digebuk salah satu lengan sang Begawan atau tersambar asap putih yang panas beracun itu!
Dalam tempo yang singkat, murid dan guru itu sudah bertempur delapan jurus. Keduanya kelihatan sama-sama gesit dan sama-sama lihai.
Namun memasuki jurus kedua belas walau bagaimanapun Pendekar Pemetik Bunga tiada sanggup lagi bertahan. Sekali tubuhnya kena dilanda jotosan Begawan Citrakarsa, tubuhnya mencelat mental membobolkan dinding kajang dan melingkar di tantai tanah dalam pondok!
Begawan Citrakarsa tidak menunggu sampai di situ saja. Mulutnya berkomat kamit. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Tangan itu berwarna merah kini.
Dan sewaktu tangan itu dipukulkan ke muka, lidah api yang dahsyat menyambar laksana topan prahara! Dalam sekejapan mata saja pondok itu tenggelam dalam kobaran api! ‘Tamatlah riwayatmu murid
terkutuk!,’ Begitu Begawan Citrakarsa membatin. Tapi si orang tua menjadi kaget bukan main sewaktu matanya melihat sosok tubuh bekas muridnya itu berdiri tak jauh dari pondok yang tengah terbakar. Muka Pendekar Pemetik Bunga kelihatan agak pucat tanda jotosan Begawan Citrakarsa tadi telah menyebabkan luka yang cukup parah dibagian dalam tubuhnya!
Begawan Citrakarsa sendiri diam-diam merasa heran melihat pemuda itu masih sanggup berdiri meski dengan muka pucat pasi. Jotosan yang dilancarkan tadi mempergunakan hampir setengah bagian tenaga dalamnya, namun pemuda itu tidak menemui ajalnya! Apakah selama turun gunung malang melintang berbuat kejahatan bekas muridnya itu juga telah memperdalam ilmu silat dan ilmu kesaktiannya?!
Begawan Citrakarsa tidak mau menunggu lebih lama. Tidak mau memberi kesempatan. Makin lekas dia berhasil membunuh muridnya itu, berarti makin cepat dia mencuci tangan dan membersihkan diri dari rasa malu yang melekat selama ini! Karenanya sang Begawan segera melompat ke muka kembali, menyerbu laksana seekor singa jalang yang kelaparan! Dari jarak beberapa meter sebelum tubuhnya sampai kehadapan si pemuda, Begawan Citrakarsa sudah lancarkan dua pukulan dan dua
tendangan jarak jauh yang hebat!
Pendekar Pemetik Bunga saat itu tengah alirkan tenaga dalam kebagian dada yang terluka dan atur jalan darah serta nafas. Melihat datangnya serangan ini dia terpaksa menghindar cepat sambil melepaskan
pukulan “Tapak Jagat”.
Begawan Citrakarsa tertawa mengejek. Ilmu pukulan ‘Tapak Jagat’ itu dialah yang menciptakan dan mewariskan kepada Wirapati, masakan kini mempan dipakai untuk melawan penciptanya sendiri. Namun tawa
mengejek si orang tua berubah dengan keterkejutan!
Begawan Citrakarsa sampai mengeluarkan seruan tertahan. Angin pukulan yang ditimbulkan oleh pukulan ‘Tapak Jagat” itu dahsyatnya bukan main, lebih dahsyat daripada jika dia sendiri yang melepaskannya! Padahal
Wirapati saat itu diketahuinya sedang terluka akibat jotosannya tadi! Jelaslah si pemuda benar-benar telah menuntut ilmu kesaktian pada seorang tokoh utama dunia persilatan selama dia malang melintang dua tahun belakangan ini!
Si orang tua kini tidak mau memberi ampun lagi dan tak mau memperpanjang waktu! Lengking yang menggidikkan ke luar dari tenggorokannya. Bumi laksana dilanda lindu. Telinga Pendekar Pemetik Bunga laksana ditusuk dan kepalanya berdenyut pusing! Lengkingan yang ke luar dari mulut Begawan Citrakarsa tiada kunjung henti sedang tubuh orang tua ini boleh dikatakan sama sekali tidak kelihatan lagi ujudnya, hanya bayangannya saja yang laksana angin bergulung-gulung menyelimuti tubuh Pendekar Pemetik Bunga. Dan di antara angin serangan yang bergulung-gulung itu serangan kaki tangan datang laksana hujan membadai! Inilah ilmu ciptaan Begawan Citrakarsa yang dinamakan “Seribu Angin Seribu Badai” Hebatnya memang bukan alang kepalang!
Tapi sang Begawan jadi komat kamit beringas sewaktu dua jurus berlalu dan tak satu jotosan atau hantaman lengan ataupun tendangan kakinya yang berhasil mengenai tubuh lawan. Malah tiba-tiba dirasakannya dia laksana menyerang gunung batu yang menjungkir balikkan kembali setiap serangannya sedang sambaran angin aneh terasa memengapkan liang hidung serta tenggorokannya! Orang tua ini terpaksa tutup jalan nafas dan
melompat ke luar dari kalangan pertempuran.
Dilihatnya bekas muridnya itu berlutut di tanah sedang tangannya kiri kanan tiada hentinya mengebut-ngebutkan tepi jubah hitamnya. Dari tepi jubah hitam itulah ke luar angin pengap yang ganas, membuat sang
Begawan tidak berani kembali menyerang atau mendekat!
Tiba-tiba Begawan ini ingat pada ilmu “Asap Putih Pencari Raga” yang dimilikinya serta diyakininya selama tujuh tahun! Cepat-cepat dia
melentingkan kedua telapak tangan ke muka.
Didahului oleh teriakan menggeledek maka dua larik asap putih yarg menyilaukan melesat ke muka. Setengah jalan dua larikan asap itu berpencar menjadi dua lusin dan kedua lusinnya menyerang ke arah dua puluh empat jalan darah kematian di tubuh Pendekar Pemetik Bunga!
Pendekar Pemetik Bunga kebutkan tepi jubahnya sekencangkencangnya dan cepat bergulingan di tanah. Untung sekali dia telah berguling menjauh begitu rupa karena angin pengap yang dilepaskannya tadi kali ini tiada sanggup menahan serangan “Asap Putih Pencari Raga” yang dilepaskan Begawan Citrakarsa. Dan ketika pemuda itu berdiri lalu menoleh cepat ke tanah bekas tempat dia berada waktu diserang tadi, mau tak mau keringat dingin memercik dikuduknya! Betapakah tidak! Di tanah mata kepalanya sendiri menyaksikan 24 buah lobang sedalam setengah jengkal akibat serangan bekas gurunya tadi! Sang Begawan mengeluarkan tertawa mengekeh.
“Kematianmu sudah hampir dekat murid terkutuk!,” katanya. “Setan neraka mungkin sudah tak sabar menunggumu. Cacing-cacing kuburan
tentu ingin lekas-lekas menggerogoti dagingmu…!”
“Orang tua gendeng! Jangan bermulut besar bicara ngaco! Sekali aku bilang mengadu nyawa padamu, jangan harap kau bisa membunuhku tanpa kau punya nyawa anjing juga turut minggat ke neraka jahanam!” Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga cabut bunga kuning yang terbuat dari kertas dari balik ikatan rambut di kepalanya!
“Ooo… bunga kertas buruk itukah yang kau andalkan untuk
membunuhku?!” ejek Begawan Citrakarsa dengan memencongkan hidung.
“Kau boleh mengejek kunyuk keriput!” serapah Wirapati alias Pendekar Pemetik Bunga. “Sebentar lagi roh busukmu akan terbang dibawa bunga maut ini!”
“Cuma bunga kertas mainan bocah-bocah siapa takutkan?!” ejek Begawan Citrakarsa dan dengan serta merta dia kiblatkan kedua tangannya, kembali memancarkan serangan “Asap Putih Pencari Raga.”
Kali ini Pendekar Pemetik Bunga tidak menghindar. Dia berdiri menunggu. Pada saat asap putih hendak memancar seperti tadi, dengan cepat pemuda itu menekan tangkai bunga kertas yang dipegangnya. Serta merta bertaburanlah gulungan sinar kuning. Bila asap putih dan sinar kuning itu bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang amat dahsyat. Jagat laksana goncang. Asap putih dan sinar kuning berpalun-palun, gelung menggelung laksana beberapa ekor ular raksasa yang tengah berkelahi gigit menggigit! Asap putih lambat laun lenyap dirambas dan ditelan sinar kuning untuk kemudian terus menyerang Begawan Citrakarsa. Kejut orang tua sakti ini bukan alang kepalang. Dia melompat ke samping tapi agak terlambat karena sebagian lengan kirinya kena tersambar sinar kuning itu! Dengan serta merta lengan sang Begawan menjadi kuning pekat!
Pendekar Pemetik Bunga tertawa terbahak-bahak.
“Sinar kuning itu mengandung racun dahsyat! Dalam tempo satu
jam nyawamu pasti konyol!”
Begawan Citrakarsa mengambil sebutir pil dan menelannya dengan cepat.
“Ha… ha, jangankan pil tahi kambing itu! Obat dari kayanganpun
tak bakal sanggup memunah racun dilenganmu itu. Begawan goblok!”
Naik darah si orang tua meluap sampai ke kepala. Mukanya kelam membesi. Racun kuning ditangan kirinya dirasakannya mulai merambas mendekati pangkal bahu. Tak ayal lagi Begawan Citrakarsa pergunakan tangan kanannya memutar dan membetot lengan kirinya itu!
“Kraak!”
Sungguh menggidikkan sewaktu persendian bahu itu lepas dan daging berserabutan, urat-urat berbusaian menyemburkan darah! Pendekar Pemetik Bunga sendiri meremang bulu kuduknya melihat perbuatan sang Begawan!
“Jangan kira meski aku cuma dengan satu tangan kini kau bisa
lepas dari kematian, Wirapati keparat!” kata Begawan Citrakarsa.
“Otakmu memang sudah miring, Begawan!” kata Wirapati pula. “Tak
satu kekuatanpun yang sanggup menandingi bunga kertas kuning ini!”
Begawan Citrakarsa tidak menjawab apa-apa melainkan tangan kanannya menyelinap ke balik selempang kain putih di pinggangnya. Sebilah keris bereluk dua belas yang memancarkan sinar sangat merah kini tergenggam di tangan Begawan itu. lnilah keris “Pancasoka” yang mempunyai keampuhan luar biasa! Jangankan daging manusia, batu karang pun jika ditusuk pasti akan hancur lebur!
Sebagai bekas murid Begawan Citrakarsa dengan sendirinya Wirapati tahu betul kehebatan senjata ini. Dia meragu apakah kini bunga kertas kuningnya akan sanggup menghadapi keris Pancasoka itu. Karenanya untuk menjaga segala kemungkinan Pendekar Pemetik Bunga segera membuka ikatan sabuk mutiara milik Kidal Boga yang tempo hari
dibunuhnya. “Kau lihat keris ini Wirapati?!”
“Ah… tak usah banyak omong! Majulah biar kau juga dapat
kehebatan sabuk mutiara ini!” tukas Wirapati!
Menggelegaklah kemarahan sang Begawan. Dia melompat ke muka. Keris Pancasoka berkiblat kian kemari. Sinar merah laksana lidah api menyerang ganas. Setiap serangan merupakan rangkaian yang sekaligus menjurus ke arah dua belas bagian tubuh lawan! Inilah kehebatan senjata itu!
Wirapati tidak pula tinggal diam. Sabuk mutiara diputar laksana kitiran. Gelombang angin menderu-deru sedang bunga kertas ditangan kanan tiada hentinya mengeluarkan sinar kuning yang mengandung racun jahat! Namun dua senjata ditangan Wirapati hampir tiada daya menghadapi keris bereluk dua belas di tangan kanan Begawan Citrakarsa. Ditambah lagi dengan amukan si orang tua yang dahsyatnya bukan olaholah. Kalau saja satu tangannya tidak cedera buntung pastilah amukannya itu tak akan tertahan-tahan oleh Wirapati.
Dengan keris ditangan kanan orang tua itu, pertempuran sudah berkecamuk selama enam puluh jurus! Daya tahan dan kegesitan Begawan Citrakarsa meski dirinya sudah terlalu parah memang patut dikagumi! Dalam pada itu dia sudah berhasil pula mendesak dan
memepet lawannya sampai kedekat reruntuhan pondok yang terbakar!
Dengan kertakkan geraham kemudian membentak keras, Wirapati percepat gerakannya dan keluarkan jurus-jurus dahsyat ysng mengandung tipu-tipu ganas licik mematikan! Tapi Begawan Citrakarsa yang sudah makan asam garam pertempuran yang sudah puluhan tahun punya pengalaman dalam dunia persilatan mana bisa kena ditipu!
“Setan alas!” maki Pendekar Pemetik Bunga. “Kunyuk tua haram jadah,” makinya lagi dalam hati. Dengan mempergunakan jurus “Menyapu Awan Menerjang Mega,” pemuda ini akhirnya melompat ke luar dari kalangan pertempuran!
“Pemuda terkutuk!” teriak Begawan Citrakarsa, “Kau mau lari ke
mana?!”
“Aku tidak lari iblis tua!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Dia cepat-cepat tusukkan kembali bunga kertasnya ke sela rambut di kepala, sabuk mutiara tetap dipegang di tangan kiri menjaga segala kemungkinan.
Saat itu jarak antara mereka terpisah sejauh lima meter.
“Begawan keparat! Mari kita buat perjanjian!” Tiba-tiba Pendekar
Pemetik Bunga ajukan usul.
“Heh, sudah mau hampir mampus bikin segala macam usul! Apakah
itu bukan cuma ulur waktu mencari kesempatan lari…?!” ejek Citrakarsa.
“Sompret tua, aku berjanji! Jika kau sanggup terima pukulanku, aku akan bunuh diri dihadapanmu!”
Begawan Citrakarsa tertawa mengekeh-ngekeh. “Bunuh diri terlalu
enak buatmu, Pendekar terkutuk!”
Si pemuda penasaran bukan main. Tapi dia berkata lagi, “Kalau begitu kau terpaksa mampus percuma orang tua! Dunia persilatan akan gempar bila mengetahui, seorang tokoh silat bernama Citrakarsa dibunuh oleh muridnya sendiri…!”
Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga tertawa panjang dan menggidikkan. Tangan kanannya diacungkan ke muka, mulut berkomat kamit sedang ibu jari dan telunjuk mendadak dengan cepat berobah
menjadi hitam!
Teganglah paras Begawan Citrakarsa. Selama di puncak Gunung Merbabu dia telah mendengar bahwa bekas muridnya yang murtad itu telah memiliki sejenis ilmu yang sangat sakti dan berbahaya! Apakah ini agaknya ilmu kesaktian yang hendak dilancarkannya, hendak dipakai menyerang?!
Jari tetunjuk dan ibu jari Pendekar Pemetik Bunga atau Wirapati semakin hitam legam dan mengeluarkan sinar mengerikan sedang paras sang Begawan semakin tegang, sebaliknya Pendekar Pemetik Bunga tertawa terus tiada hentinya!
“Ilmu Jari Penghancur Sukma ini sudah menelan puluhan tokohtokoh silat!” kata si pemuda yang tiba-tiba hentikan tertawanya, “tokohtokoh silat yang tolol geblek sengaja mencari mampus!”
“Hah!” kejut Begawan Citrakarsa. “Murid murtad, dari mana kau
dapat ilmu bejat itu?!”
Wirapati alias Pendekar Pemetik Bunga tertawa lagi panjangpanjang. Jari telunjuk dan ibu jarinya mulai bergerak membentuk lingkaran siap untuk dijentikkan ke muka. Begawan Citrakarsa cepatcepat alirkan seluruh tenaga dalamnya ke keris yang ditangan kanan sehingga senjata itu menyinarkan cahaya merah yang sepuluh kali
menyilaukan dari semula!
Pendekar Pemetik Bunga memperlahan tertawanya. “Selusin keris Pancasoka ditanganmu, tiada nanti kau sanggup menahan serangan
jariku ini, Begawan keriput!”
“Laknat terkutuk! Jiwamu atau nyawaku!” teriak Begawan
Citrakarsa. Laksana anak panah tubuhnya melesat ke muka. Keris Pancasoka mengiblatkan sinar merah yang dahsyat! Pohon-pohon dan daun-daun di kiri kanan hangus berkepulan. Lidah api yang laksana naga raksasa menyambar dalam kecepatan luar biasa ke arah Pendekar Pemetik Bunga!
Yang diserang mendengus mengejek. Tubuhnya tidak sedikitpun bergerak! Kakinya tak satupun yang bergeser membuat langkah mengelak!
Sebaliknya hanya jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya saja yang tiba-tiba menjentik ke muka. Maka pada detik itu juga didahului oleh angin keras laksana topan prahara, menderulah gelombang sinar hitam, menyapu dan menerjang lidah api keris Pancasoka!
Begawan Citrakarsa yang melihat gelombang apinya membalik menyerang dirinya sendiri berteriak kaget dan melompat ke samping sejauh dua tombak. Tapi dari samping sinar hitam melanda dengan dahsyatnya! Orang tua ini terguling-guling di tanah. Tubuhnya hangus hitam dan mengepulkan bau daging yang terpanggang! Bahkan keris Pancasoka yang saat itu masih tergenggam ditangan kanannya juga
hangus menjadi hitam!
Pendekar Pemetik Bunga meringkik macam kuda menjadi jalang melihat dedemit! Kemudian dia tertawa gelak-gelak menyaksikan mayat gurunya yang menggeletak tanpa nyawa beberapa tombak di hadapannya
itu! Benar-benar si Wirapati ini murid murtad yang tiada tara kekejamannya!
Tiba-tiba dia memutar tubuh dan tertawa lagi gelak-gelak sewaktu melihat tubuh Galuh Warsih yang masih duduk bersandar di batang pohon, tiada bergerak karena tadi telah ditotoknya. Dia melangkah
mendekati gadis itu.
“Dewiku,” katanya seraya berlutut dihadapan Galuh Warsih, “kau sudah lihat bagaimana kehebatanku bukan?”
“Pemuda keparat, pergi! Jangan dekati aku!” teriak Galuh Warsih. Meski dia ditotok dan tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun namun
pendengarannya tetap terbuka dan mulutnya masih bisa bicara.
Pendekar Pemetik Bunga menyeringai. Hidungnya kembang kempis.
Nafasnya panas memburu, diburu oleh nafsu yag menggejolak! Diulurkannya tangannya membelai pipi gadis itu dan Galuh Warsih
memaki lagi, menjerit-jerit!
“Kulitmu halus sekali, Galuh.”
“Pemuda setan! Pergi, jangan sentuh tubuhku!” teriak Galuh
Warsih.
“Ah… apakah tampangku betul-betul seperti setan?” tanya si pemuda dengan cengar-cengir. Dan dialusnya lagi pipi gadis itu. Galuh Warsih yang karena tidak bisa menggerakkan tangan atau kakinya, penuh kegemasan diludahinya muka pemuda itu. Pendekar Pemetik Bunga malah tertawa. Diambilnya ujung angkin Galuh Warsih, dengan angkin itu disekanya ludah yang membasahi mukanya.
“Ludahmu seharum bunga semanis madu, kenapa musti disembur ke mukaku? Bukankah lebih baik disemburkan ke dalam mulutku? Ha…
ha… ha…!”
“Kulit pipimu demikian halusnya, Galuh,” kata si pemuda dan
dicuilnya dagu si gadis. “Tentu kulit tubuhmu lebih mulus lagi…”
Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga segera elus bahu Galuh Warsih. Berdiri bulu kuduk si gadis sebaliknya semakin menggejolak darah muda Pendekar Pemetik Bunga. Tangan yang mengelus
bahu itu kini turun ke dada. Air mata berlelehan di pipi Galuh Warsih. Dia tahu, tak satupun yang bisa dilakukannya menghadapi perlakuan bejat itu. Dia sadar apa yang bakal terjadi dengan dirinya. Tak sanggup lagi dia menjerit, tak kuasa lagi dia berteriak karena suaranya sudah habis ditelah keparauan!
“Gadis manis, kenapa musti menangis?” tanya Pendekar Pemetik
Bunga.
“Pemuda terkutuk…,” suara Galuh Warsih antara terdengar dan tiada,
“aku rela dibunuh daripada diperlakukan begini rupa…”
“Heh…?!” Pendekar Pemetik Bunga hela nafas dan kerutkan kening tanda heran. “Kau tahu manis, perempuan-perempuan yang mati gadis kalau dia bisa bicara di liang kubur, pastilah dia minta dihidupkan kembali! Hidup kembali untuk merasakan kenikmatan hidup antara laki-iaki dan perempuan! Kau yang hidup kepingin mati…? Lucu…. Mari dewiku, kini ke balik semak-semak sana! Di situ ada rumput, biar kita bisa tidur bergulung lebih nikmat…!”
“Pergi! Jangan sentuh aku!” suara Galuh Warsih mengandung
keputusasaan.
“Oh, kau tak mau ke balik semak-semak itu, Galuh? Tak apa… tak apa… di sinipun aku tak keberatan!” Pendekar Pemetik Bunga ulurkan
tangan kanannya kembali dan “breet!”
Kain penutup dada Galuh Warsih robek besar. Dadanya tersingkap lebar. Sepuluh jari tangan Pendekar Pemetik Bunga dengan terkutuknya laksana gila menggerayang menjamahi dada itu. meremas seakan-akan
hendak menghancur luluhkannya!
— == 0O0 == —
TUJUH
Sejak kemarin senja sampai siang hari itu Kadipaten Kaliurang tampak sibuk sekali. Senja kemarin lima orang pembantu Bupati Sentot
Sastra telah dikirim ke Kaliprogo wetan untuk menyelidiki kenapa Galuh Warsih sampai sesenja itu tidak kunjung muncul di Kaliurang. Pada tengah malam kelima pembantu Bupati yang menunggangi kuda itu berhenti di satu tikungan di lamping bukit. Di bawah penerangan bintang-bintang dan bulan sabit mereka menyaksikan tebaran mayat pengawal-pengawal Bupati yang adalah juga kawan-kawan mereka. Semuanya mati dalam cara yang mengenaskan dan menggidikkan. Sebagian besar hancur kepalanya atau bobol dada serta perutnya. Kereta yang menjadi tumpangan anak gadis Bupati Sentot Sastra angsrok di tengah jalan sedang dua ekor kuda penarik kereta hancur keempat kaki masing-masing! Ketika seorang diantara yang lima itu meloncat turun dan memeriksa kereta, ternyata kereta itu kosong.
“Aku tidak melihat Tegal Ireng!” kata salah seorang dari mereka.
“Aku juga! Di mana kusir kereta itu?”
“Mungkin dia satu-satunya yang selamat… “
Tapi ketika menyelidik ke tikungan yang menurun di sebelah sana mereka kemudian menemui mayat kusir kereta itu menggeletak menelungkup di tanah tanpa nyawa!
“Aku tak dapat menduga apa yang sesungguhnya terjadi di sini! Kalau rombongan Den Ayu Galuh Warsih dihadang perampok, mengapa kawankawan kita mati dalam keadaan demikian rupa? Dan kaki-kaki kuda yang hancur itu?!”
“Aku sendiri tak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan Den
Ayu Galuh Warsih,” menyahuti pembantu Bupati Kaliurang yarg lain,
“Dia diculik, itu pasti sudah!”
“Diculik dan dirusak kehormatannya?!” menambahkan yang lain.
“Kalau begitu kita harus cari jejak-jejak si penculik!”
“Di malam buta begini bukan pekerjaan mudah mencari jejak-jejak manusia! Lagi pula siapapun manusia-manusianya yang melakukan perbuatan biadab ini pastilah dia berilmu Tinggi! Orang berilmu tinggi tidak terlalu bodoh untuk mau tinggalkan jejak!”
“Lantas kita bikin apa kalau sudah begini?!”
“Kembali saja ke Kaliurang dan beri keterangan pada Bupati Sentot?”
“Kalau kau mau disemprot, kembalilah sendiri!”
Sepi beberapa lamanya. Kesepian yang membuat bulu kuduk kelima
orang itu menggerinding, ditambah lagi dengan tiupan angin bukit di
malam buta yang dingin itu.
“Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan ke Kaliprogo wetan,”
mengusulkan seseorang.
Tapi tak ada seorangpun yang menerima dan menyetujui usul itu. Kelimanya kemudian mencari tempat yang baik, agak jauh dari tikungan
jalan, menyalakan api unggun, berkemah di situ menunggu sampai pagi.
Esok paginya, dengan sedapat-dapatnya kelima orang itu memperbaiki kereta yang rusak. Mayat kawan-kawan mereka yang berjumlah dua belas ditumpuk sebisa-bisanya di dalam dan di atas atap kereta. Dua diantara lima pembantu Bupati itu duduk di depan kereta, satu memegang kendali. Kuda keduanya dipakai sebagai kuda-kuda penarik kereta karena kuda-kuda milik kawan-kawan mereka yang
menemui ajal itu tak seekorpun yang hidup dan ada sekitar situ!
Kedatangan kelima orang itu dengan membawa kereta yang ditumpuki dua belas mayat yang mengerikan tentu saja menggemparkan seisi Kadipaten, bahkan menggemparkan seluruh Kaliurang!
Wajah Bupati Sentot Sastra membeku mengelam. Kedua tangannya mengepal. Dia melangkah mundar mandir. Kepanikan yaan amat sangat membuat dia tak sanggup membuka mulut! Sebaliknya di dalam kamar
istrinya terdengar menangis meraung-raung.
“Mana anakku! Mana anakku!” pekik ratap perempuan itu. “Galuh!
Galuh Warsih, di mana kau anak? Oh Galuh! Tuhan! Di mana anakku
Tuhan”
Tenggorokan Bupati Sentot Sastra turun naik. Dadanya menggelora.
Kematian kedua belas pengawal Kadipaten itu membuat kepalanya serasa mau pecah oleh luapan darah! Di samping itu yang membuat dia tak bisa diam dan seperti mau gila ialah karena tidak mengetahui di mana anak gadisnya saat itu atau apa yang telah terjadi dengan Galuh Warsih! Melihat kepada kenyataan yang terjadi, pasti nasib Galuh Warsih tidak lebih baik dari kedua belas anak buahnya itu! Kepada siapakah kemarahan yang meluap itu hendak dilepaskannya? Hendak dilampiaskannya?!
Laki-laki ini melangkah terus mundar mandir! Setahunya sekitar perjalanan antara Kaliurang dan Kaliprogo wetan tak ada gerombolan rampok jahat! Lantas siapakah yang telah me lakukan kebiadaban terkutuk itu?! Siapa yang menculik anak gadisnya? Anak tunggal satusatunya yang menjadi kesayangan tambatan hati?! Dan sementara itu telinganya tiada henti mendengar ratap tangis istrinya yang bukan saja menyayat hati tapi juga membuat darah di dalam tubuhnya semakin
bergejolak mendidih!
Di langkan kadipaten itu, pada sisi-sisi tangga sebelah atas terdapat masing-masing sebuah arca Batara Wisnu yang duduk di atas seekor burung rajawali yang tengah mengembangkan sayapnya. Mungkin karena luapan amarah yang tak terkendalikan dan tak tentu kepada siapa dilampiaskan, ditambah pula mendengar ratap tangis istrinya di dalam, maka sewaktu melawati arca itu untuk kesekian kalinya, tiba-tiba Bupati
Sentot Sastra menghantamkan tinju kanannya!
“Braak!”
Arca Batara Wisnu hancur berkeping-keping! Itulah ilmu pukulan “Genta Kematian.” Kalau arca batu yang keras itu sekali pukul saja sanggup dibikin hancur berkeping-keping, maka jika dipukulkan kepada manusia tentulah tak dapat dibayangkan bagaimana akibatnya!
Sementara itu, para pembantu Sentot Sastra yang berdiri dilangkan Kadipaten itu masing-masing sama merasa takut dan cemas. Khawatir mereka kalau-kalau dalam amarah gelap mata seperti itu, diri mereka
pula yang bakal ketiban pulung dihantam sang Bupati!
Tiba-tiba laksana halilintar di siang hari layaknya berteriaklah Sentot Sastra. Semua pembantu-pembantunya yang berjumlah lima belas orang diperintahkannya untuk bersiapsiap.
“Kita akan ulangi lagi penyelidikan!” teriaknya.
“Kau Darjakumara, bersama enam orang lainnya menyelidik kejurusan Kaliprogo wetan den sekitarnya. Aku dan yang lain-lain ke timur! Kalian harus berhasil mencari jejak manusia yang telah melakukan kebiadaban ini! Harus berhasil membekuk batang lehernya! Siapa yang kembali sebelum dapatkan itu manusia durjana akan kubunuh! Sekarang
siapkan kudaku!”
Seorang pernbantu Sentot Sastra segera berlalu untuk menyiapkan kuda sang Bupati sedang yang lain-lainnya segera pula meninggalkan langkan Kadipaten guna mengambil kuda masing-masing dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan mencari manusia biang penimbul malapetaka itu. Mereka masing-masing menyadari bahwa pencarian itu tidak akan berhasil dalam tempo yang
singkat, tapi memakan waktu berhari-hari.
Selang beberapa ketika lima belas penunggang kuda ditambah dengan Sentot Sastra sendiri sudah berkumpul di halaman Kadipaten. Mereka siap menunggu perintah dan langkah-langkah terakhir yang harus
mereka lakukan.
Bupati Sentot Sastra menyapu paras kelima belas orang anak buahnya itu lalu berkata, “Sekali lagi kalian ingat baik-baik. Kalian musti temukan bangsat itu dan seret dia hidup-hidup ke sini! Jika tak berhasil
menemuinya, lebih baik tidak usah kembali! Kalian menger….”
Bupati Sentot Sastra tidak teruskan ucapannya. Sepasang matanya kini tidak lagi menyaputi paras pembantu-pembantunya satu demi satu melainkan dialihkan ke lereng bukit di sebelah selatan. Sentot Sastra seorang yang berilmu cukup tinggi sehingga meskipun jarak bukit dengan tempatnya berada saat itu terpisah hampir dua ratus tombak namun sepasang telinganya lapat-lapat mendengar suara siulan aneh yang menggelombang tiada nada dalam lagu tak menentu!
Lima belas pasang mata pembantu-pembantu Sentot Sastta sama dialihkan pula ke lereng bukit di sebelah selatan itu. Dan dikejauhan kelihatanlah sesosok tubuh laki-laki berlari sangat cepatnya laksana angin! Yang anehnya ialah pada pundak kiri laki-laki ini terpanggul
sebuah peti yang melihat kepada besarnya pasti puluhan kati beratnya!
Sewaktu semua orang itu pertama kali melihat manusia yang berlari cepat tersebut, jarak mereka demikian jauhnya namun dalam beberapa kejapan mata kemudian tahu-tahu si manusia pemanggul peti sudah berada di halaman Kadipaten dihadapan Bupati Sentot Sastra dan
pembantu-pembantunya!
Ternyata manusia pemanggul peti kayu itu seorang pemuda berambut gondrong, bertampang keren dan punya pandangan mata yang tajam menyorot. Peti yang dipundaknya beratnya puluhan kati tapi dia berdiri seakan-akan peti itu sama sekali tidak ada di pundaknya! Pemuda tak dikenal ini kemudian hentikan siulannya. Begitu siulan berhenti maka dari celah-celah papan peti yang tidak begitu rapat menyebarkan bau busuk yang seperti mau meranggas bulu hidung, membuat nafas sesak dan mau muntah. Lima belas pembantu Sentot Sastra yang tak tahan segera menutup hidung sedang Sentot Sastra sendiri dengan ilmunya
yang sudah tinggi tutup jalan pernafasannya.
Si pemuda rambut gondrong yang tak dikenal menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali. Sikapnya ini membuat Bupati Sentot Sastra kehilangan kesabarannya dan hendak mendamprat. Namun sebelum
mulutnya terbuka si pemuda asing sudah buka suara bertanya.
“Apakah aku berhadapan dengan Bupati Kaliurang yang bernama
Sentot Sastra?”
“Jawab dulu kau siapa?!” sentak sentot Sastra.
“Siapa aku tidak penting, “ katanya. “Aku datang membawa peti ini untukmu.”
“Peti apa?! Apa isi peti itu!”
Si pemuda menghela nafas dalam dan rawan. “Peti ini membawa berita buruk bagimu, Bupati.”
“Jangan bicara berbelit-belit! Turunkan peti itu, aku mau lihat isinya!”
Si pemuda garuk lagi kepalanya yang berambut gondrong lalu dengan sikap acuh tak acuh turunkan peti kayu yang berat dari
pundaknya.
Bersamaan dengan itu Sentot Sastra melompat dari punggung kuda. Dia maju mendekati peti. Sebelum melangkah lebih dekat dia tiba-tiba ajukan satu pertenyaan, “Apakah seseorang menyuruhmu mengirimkan peti ini padaku?!”
Si pemuda tertawa aneh dan angkat bahunya.
Sentot Sastra penasaran dan gusar sekali melihat sikap pemuda tak dikenal ini. Dia berpaling pada anak buahnya den memerintah, “Buka peti
itu!”
Yang diperintah turun dari kudanya. Dengan masih menutup hidung karena tak tahan dilanda bau busuk yang amat sangat itu dia melangkah mendekati peti kayu lalu dengan tangan kiri yang gemetaran dibukanya kayu penutup peti! Begitu peti terbuka bau busuk yang lebih dahsyat menyambar hidung. Ketika merhandang ke dalam peti kayu itu semua orang mengeluarkan seruan tertahan dan mata masing-masing me-
lotot besar laksana mau berlompatan dari rongganya!
Di dalam peti itu terbujur sesosok tubuh manusia bertelanjang bulat. Kulitnya sudah membiru dan memar. Di beberapa bagian kelihatan bekas penganiayaan. Dan manusia yang sudah menjadi mayat busuk ini tiada lain adalah Galuh Warsih, anak kandung Bupati Sentot Sastra
sendiri! Maka menggunturlah bentakan Sentot Sastra!
“Kurung dan cincang sampai lumat manusia ini!”
Begitu perintah terdengar begitu lima belas golok panjang yang berkilauan ditimpa sinar matahari dicabut dari sarungnyai Sentot Sastra sendiri audah lebih dahulu melompat ke muka dengan senjatanya yaitu
sepasang pedang ungu!
Melihat dirinya diserang mendadak begitu rupa, pemuda rambut gondrong segera berseru.
“Tunggu! Tahan dulu! Aku belum kasih keterangan!”
“Iblis bermuka manusia biadab terkutuk! Kasihlah keterangan pada hantu kuburmu nanti!” teriak Sentot Sastra! Dan sesudah itu tujuh belas senjatapun berkiblatlah menyerang kesatu sasaran yaitu tubuh pemuda
berambut gondrong!
— == 0O0 == —
D E L A P A N
Pemuda berambut gondrong membentak gusar.
“Manusia tolol! Geblek sedeng! Orang datang baik-baik. Malah
disambut dengan ujung senjata! Gila betul!”
Makian ini tentu saja membuat Sentot Sastra dan kelima belas anak buahnya menjadi semakin ganas dan kalap. Bagi mereka tidak bisa tidak pemuda asing itulah yang telah membunuh dan merusak kehormatan Galuh Warsih!
Tujuh belas senjata berlomba-lomba, menderu dahsyat menggempur
si pemuda. Pemuda itu dalam setengah jurus saja sudah terkurung rapat!
“Manusia-manusia tolol! Apakah kalian tidak mau hentikan serangan dan beri kesempatan aku kasih keterangan?!”
“Anjing kurap, mampuslah!” damprat Sentot Sastra dan sepasang pedangnya membacok dari dua jurus yang berlawanan sedang lima belas
golok anak buahnya saling berlomba mencari sasaran di tubuh si pemuda!
“Manusia-manusia tak tahu diri! Jika kalian tidak mau hentikan kegilaan ini, jangan menyesal!”
Si pemuda membentak laksana geledek, keluarkan satu siulan aneh
yang menusuk dan menyakitkan liang telinga. Dalam kejap itu pula tubuhnyapun lenyap dari pemandangan. Sepasang pedang Sentot Sastra dan lima belas golok anak buahnya membabat angin kosong, saling bentrokan satu sama lain dan menimbulkan suara nyaring, bunga-bunga api bergemerlapan!
Mendengar suara ributnya bentakan-bentakan, mendengar suara berkecamuknya senjata di halaman rumah, Karsih Wardah, istri Bupati Sentot Sastra terkesiap, dia hentikan tangisnya dan dengan senggaksengguk lari ke langkan. Betapa terkejutnya sewaktu menyaksikan suaminya dan lima belas orang pembantu Kadipaten tengah mengeroyok seorang pemuda berambut gondrong tak dikenal yang hahya bertangan kosong dan terpaksa berkelebat kian kemari guna mengelakkan seranganserangan yang sangat ganas itu!
Belum habis herannya Karsih Wardah melihat pertempuran yang berkecamuk itu, maka dua matanya yang telah sembab karena menangis membentur pada sebuah peti besar yang terletak di tanah. Sementara itu lobang hidungnya dirambas oleh bau busuk yang tak dapat dipastikan
dari mana asalnya!
Sentot Sastra dan anak-anak buahnya mana mau ambil perduli peringatan si rambut gondrong malah dia memerintahkan agar
menggempur pemuda rambut gondrong itu lebih hebat lagi!
“Dasar bodoh, dasar geblek buta mata!” maki si pemuda. Sambil berguling di tanah disambarnya papan besar penutup peti. “Ayo manusiamanusia keblinger, majulah!” Dan ketika Sentot Saatra bersama pembantu-pembantunya masih juga kalap menyerang maka si pemuda lemparkan penutup peti itu ke arah mereka. Sentot Sastra cepat melompat ke samping tapi tiga orang pembantunya yang tak sempat mengelak terjerongkang di tanah sewaktu dada mereka dilabrak penutup
peti.
Dengan bertolak pinggang dan sambil tertawa-tawa si pemuda rambut gondrong berkata mengejek.
“Masih buta mata gelap pikiran, silahkan maju lagi!” Rahang Sentot
Sastra bergemeletakan. Mulutnya mengeluarkan suara menggeram.
Bupati Kaliurang ini berteriak keras, “Bentuk barisan roda maut!”
Maka kedua belas orang anak buahnya segera bergerak cepat membentuk lingkaran. Sekali Bupati itu berteriak memberi isyarat maka kedua belas orang itupun bergeraklah berlari lari cepat dalam lingkaran yang makin lama makin menciut sedang senjata masing-masing membabat dari dua beias jurus, diseling dengan tikaman atau tusukan dan diperhebat oleh kiblatan sepasang pedang Bupati Sentot Sastra. Pakaian putih dan rambut gondrong si pemuda berkibar-kibar oleh sambaran senjata. Debu dan pasir beterbangan ke udara sedang barisan
roda maut semakin menciut juga!
“Orang tolol memang susah dikasih pelajaran kalau tidak digebuk!”
“Berbacotlah sepuasmu manusia laknat! Sebentar lagi tubuhmu akan berkeping cerai berai!” teriak Sentot Sastra.
Baru saja ia habis berkata begitu si pemuda bersiut nyaring. Tubuhnya berkelebat dua kali. Suara seperti orang tercekik terdengar susul menyusul! Dan sewaktu Sentot Sastra merasa bahwa cuma dirinya saja kini yang sendirian mencak-mencak mengirimkan serangan maka laki-laki ini segera melompat ke luar dari kalangan pertempuran! Kemudian bila dilayangkannya pandangannya berkeliling maka tiada terkirakan kagetnya!
Kedua belas pembantunya berdiri laksana patung tak bergerakgerak karena masing-masing mereka sudah kena ditotok oleh pemuda yang sangat lihai itu!
Nyatalah bagi Sentot Sastra bahwa pemuda itu tinggi sekali ilmunya dan bukan tandingannya. Kalau saja dia ingin mencelakai diri dan orangorangnya pastilah tidak sukar bagi pemuda itu untuk melaksanakannya!
Namun gelap mata karena menyangka keras bahwa pemuda itulah yang menjadi pembunuh anak kandungnya serta menamatkan pembantupembantunya di tikungan jalan antara Kaliurang dan Kaliprogo wetan, ditambah lagi saat itu istrinya Karsih Wardah dilihatnya lari menghambur den menubruk peti di mana mayat Galuh Warsih terbujur dan berteriakteriak macam orang hilang ingatan, maka meski dua belas anak buahnya ditotok tak bergerak, meski tiga lainnya menggeletak pingsan, namun Sentot Sastra tetap membara dadanya, tetap berkobar nyalinya untuk dapat membunuh menamatkan riwayat si pemuda! Karenanya disaat pemuda itu berdiri tolak pinggang, dan tertawa-tawa, Sentot Sastra segera menyerbu kembali dengan sepasang pedang ungunya.
Permainan sepasang pedang Bupati Kaliurang itu memang patut dipuji. Apalagi kini dia mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang sangat diandalkannya. Dua gulung sinar ungu yang laksana sepasang naga membungkus sekujur tubuh pemuda rambut gondrong dari atas ke
bawah!
Namun agaknya, walau bagaimanapun kehebatan ilmu pedang sang Bupati, walau bagaimanapun lihai dan sukar diduga tipu-tipu ilmu silatnya tetap saja dia tak dapat menghajar si pemuda! Jangankan menebas atau membacok tubuh lawannya, menggores atau merobek
bajunya sajapun Sentot Sastra tidak sanggup!
“Bupati Sentot Sastra!” seru si pemuda. “Apakah kau masih gelap
mata mau meneruskan pertempuran ini?!”
“Iblis neraka tutup mulut! Sebelum kutebas kau punya batang leher, sebelum kucungkil kau punya jantung dan hati, pertempuran ini
sampai kiamatpun tak akan kuhentikan!”
“Hebat sekali nyalimu!” memuji si pemuda sejujurnya namun mimiknya melontarkan senyum sinis! “Tapi aku dan kau tiada
permusuhan, mengapa musti bertempur begini rupa?!”
“Tidak ada permusuhan bapak moyang setanmu!” bentak Sentot Sastra penuh beringas!
“Anakku kau rusak kehormatannya, kau bunuh!”
“Tobat… tobat!”
Si pemuda pukul-pukul keningnya dengan telapak tangan kiri. “Justru aku datang ke sini untuk mengantar mayat anakmu yang kutemui di bukit! Eh, malah-malah aku yang dituduh jadi pembunuh! Dituduh
tukang perkosa! tobat!”
“Tak usah membual atau jual mulut!”
“Siapa membual, siapa jual mulut?!”
“Sesudah melakukan perbuatan terkutuk, kau pura-pura berbuat
baik dan cuci tangan huh?!”
“Buset!” Si pemuda garuk-garuk kepata dan mengomel. “Kalau tahu bakal ketiban pulung begini, tidak nanti aku mau susah-susah bawa
mayat kau punya anak ke mari, Bupati!”
“Sudah! tak perlu banyak rewel! Pokoknya kau harus serahkan batang lehermu!” teriak Sentot Sastra dan serentak dengan itu kembali dia
menyerbu si pemuda.
Yang diserang geleng-gelengkan kepala.
Sewaktu pedang ungu itu dengan segala kehebatannya memapas dari kiri kanan, siap membabat putus tubuh si pemuda menjadi tiga kutungan maka si pemuda geser kakinya satu langkah. Serentak dengan itu kedua tangannya bergerak cepat hampir tak kelihatan, memukul badan kedua pedang Sentot Sastra berseru keras, ia merasa terkejut sewaktu menyaksikan bagaimana sepasang pedangnya lepas dan mental dari
tangannya!
Sebaliknya si pemuda tertawa gelak-gelak.
“Kalau masih punya niat main amuk-amukan, silahkan ambil
kembali pedangmu, Bupati!”
Mengelam muka Sentot Sastra mendengar ejekan yang sekaligus merupakan tantangan itu. Karena malu dia tidak ambil kedua senjata itu melainkan kerahkan tenaga dalamnya ke tangan kiri kanan terus ke ujung-
ujung jari!
“Heemm… pukulan apakah yang kau hendak lancarkan?”
mencemooh si pemuda!
Sentot Sastra merutuk dalam hatinya.
“Meski kesaktianmu setinggi langit, jangan harap kau sanggup menerima pukulan Genta Kematian-ku ini!” kata Bupati Kaliurang itu pula. Dengan menyebutkan nama ilmu pukulan yang diyakininya selama tujuh
tahun itu dia berharap si pemuda akan kaget dan menciut nyalinya.
Tapi apa lacur! Malah si pemuda tertawa bekakakan ketika mendengar nama ilmu pukulannya itu!
“Setahuku genta adalah semacam klenengan yang dikalungkan di leher sapi atau kerbau! Itukah nama ilmu pukulanmu? Tentunya kau berguru pada seekor sapi? Ha… ha… ha…!”
Kekalapan Sentot Sastra bukan alang kepalang. Bentakannya mengguntur. Kedua lengannya bergetar dan terpentang. Sekejapan mata kemudian tubuhnya lenyap dalam lompatan kilat setinggi tiga tombak. Sewaktu melewati si pemuda dia kirimkan dua tendangan sekaligus! Si pemuda merunduk dan pada waktu itulah gerakan lihai yang mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sempurna, Sentot Sastra balikkan tubuh dan hantamkan kedua kepalannya ke kepala lawan!
Si pemuda yang merasakan angin pukulan sangat keras menerpa belakang kepalanya bersuit nyaring, rundukkan kepala dan secepat kilat
putar tubuh!
Muka Bupati Sentot Sastra dari Kaliurang itu mendadak sontak menjadi pucat pasi sewaktu lima jari tangan kanan pemuda lawannya laksana japitan baja, sekaligus mencekal kedua lengannya sehingga tak sedikitpun dia bisa berkutik! Dan bukan itu saja, dari jari-jari tangan itu dirasakannya aliran aneh yang sejuk dingin menjalar ke lengannya, terus ke bahu dan sekujur tubuhnya! Luapan amarah yang membakar dan menggelorai darahnya kini menggendur. Pikiran jemih kini muncul dibenaknya. Tubuhnya lemah lunglai, keringat dingin memercik dikeningnya. Akhirnya Sentot Sastra jatuh duduk menjelepok di tanah sewaktu pemuda itu lepaskan cekalan pada kedua lengannya!
“Orang muda, siapakah kau sebetulnya?” tanya Sentot Sastra. Nada
suaranya kini tidak keras dan tidak bernada marah lagi seperti tadi-tadi.
Si pemuda tertawa.
“Aku datang ke sini bukan untuk mengobral nama atau kasih
keterangan siapa aku, tapi untuk menolong mengantarkan mayat anakmu.”
Sentot Sastra memutar kepalanya ke arah peti. Istrinya dilihatnya terkulai pingsan di tepi peti itu, sedang dua belas pembantu-pembantunya sampai itu saat masih berdiri mematung dalam keadaan tertotok!
Sang Bupati kembali palingkan kepala pada si pemuda. Lama dia menatap paras pemuda itu. Dan pada paras yang masih muda belia itu kini dapat dilihatnya sifat kesatria gagah perkasa dan kejujuran.
“Orang muda, kau betul-betul tidak melakukan perbuatan
terkutuk terhadap anakku?”
Si pemuda gelengkan kepata.
“Lantas siapa yang melakukannya?”
Si pemuda angkat bahu. “Akupun tengah mencarinya! Dunia persilatan kini dihebohkan oleh munculnya seorang pendekar terkutuk berjubah hitam dengan bunga-bunga kuning. Nama aslinya aku tidak tahu tapi dia digelari sebagai Pendekar Pemetik Bunga!”
“Pendekar Pemetik Bunga!” mengulang Sentot Sastra. “Yaaa… aku pernah dengar tentang manusia durjana itui Tapi dulu dia cuma
malang melintang di barat, kini tahu-tahu muncul di sekitar sini…!”
“Kunyuk lapar perempuan begitu, di mana ada perempuan cantik pasli di situ dia muncul unjuk tampang bikin kejahatan!” menyahuti si
pemuda.
Perlahan-lahan Sentot Sastra berdiri kembali. Kedua tangannya
mengepal.
“Aku akan cari bangsat itu sampai dapat dan habiskan
nyawanya!”
Pemuda rambut gondrong naikkan kedua alis matanya. “Jangankan kau, gurunya sendiri yang jauh lebih sakti sanggup dibunuhnya!”
“Lantas apakah aku akan berpangku tangan melihat anakku dibunuh dan dirusak begini rupa?!” tanya Sentot Sastra hampir berteriak.
“Aku hargai keberanianmu, Bupati,” memuji si pemuda. “Tapi keberanian yang hanya mengendalikan nafsu besar kekuatan nihil,
adalah keberanian buta. Kau akan mati sia-sia ditangannya!”
“Kematian bukan apa-apa bagiku! Semua manusia nantinya akan mati juga…”
“Terserah padamu, Bupati. Aku cuma kasih nasihat! Mungkin nasihatku tidak ada harganya.” Sentot Sastra termangu-mangu beberapa lamanya.
Tiba-tiba dia berseru sewaktu dilihatnya pemuda di hadapannya
putar tubuh hendak berlalu.
“Orang muda, tunggu! kau mau ke mana?”
“Aku masih ada urusan lain. Sampai jumpa Bupati.”
“Kau masih belum terangkan namamu.”
Pemuda itu tertawa lagi. Begitu murah tertawa baginya. “Aku sudah bilang namaku tidak penting.”
“Tenting atau tidak penting itu bukan urusan. Tapi padaku kau tetap harus kasih tahu. Dan pembantu-pembantuku ini kau harus
lepaskan totokannya kembali!”
“Pijit saja tengkuknya satu-satu, pasti totokannya lepas,”
memberi tahu si pemuda.
“Sudahlah, kalau kau penasaran lihat saja bagian kepala dari peti kayu itu. Di situ tertulis namaku!” kata si pemuda pula. Cepatcepat Sentot Sastra melangkah ke bagian kepala peti di dalam mana mayat anaknya terbujur. Yang ditemui Bupati ita di sana bukan tulisan atau huruf yang membentuk nama, melainkan pada kayu di
kepala peti itu tertera tiga buah angka yaitu 212.
“Dua satu dua!” seru Sentot Sastra kaget. “Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.” Dipalingkannya kepalanya.
Kejutnya ttertambah-tambah. Pemuda tadi sudah tak ada lagi di tempat itu! Sentot Sastra geleng-gelengkan kepalanya tiada henti. Tidak sangka dia akan berhadapan dengan pendekar bersifat kocak yang kadangkala seperti orang sinting, tapi bertampang keren dan berhati jujur, penolong manusia-manusia yang tertindas, penghancur
kejahatan, momok tokoh-tokoh silat golongan hitam!
“Pantas, pantas… kiranya dia. Pantas mana aku sanggup menghadapinya!” kata Sentot Sastra pula dan dia melangkah
mendapatkan istrinya yang pingsan di tepi peti.
— == 0O0 == —
SEMBILAN
Dua puluh tahun yang silam….
Tak berapa jauh dari kaki Welangmanuk terdapat sebuah pedataran tinggi yang subur. Kebun sayur mayur terbentang menghijau di manamana. Bila seseorang berdiri di atas pedataran tinggi ini dan memandang ke bawah maka tampaklah pemandangan yang sangat indah dari lembah Manukwilis. Di atas pedataran tinggi itu terletaklah sebuah bangunan dari tembok yang selain besar juga sangat bagus bentuknya. Keseluruhan bangunan ini dicat putih dan dipagari dengan tembok setinggi lima tombak. Untuk masuk ke halaman dalam bangunan cuma ada sebuah pintu. Pintu ini juga terbuat dari batu yang hanya bisa dibuka secara rahasia. Kalau bukan orang yang berilmu sangat tinggi jangan harap bisa masuk ke dalam halaman bangunan karena di atas tombak yang tingginya lima tombak itu masih ditancapi lagi dengan besi-besi runcing berduriduri panjang setinggi tiga tombak!
Bangunan atau gedung apakah sesungguhnya yang terdapat di belakang tembok itu dan siapakah pemiliknya? Konon kabarnya gedung itu adalah sebuah biara. Biara itu kini diketuai oleh seorang Biarawati bernama Wilarani. Biarawati ini sudah lanjut usianya, hampir mencapai enam puluh tahun. Dulunya semasa muda dia merupakan seorang gadis cantik yang tersiar harum ke mana-mana kecantikannya itu. Kebahagiaan hidup muda remajanya hancur luluh sewaktu kekasih yang dicintainya lari meninggalkannya dan kawin dengan seorang anak bangsawan kaya raya sedangkan Wilarani sendiri adalah anak petani miskin.
Keputus-asaan karena patah hati itu membawa akibat yang mendalam bagi Wilarani. Orang tuanya berusaha mencarikan jodoh lain untuknya, namun kegetiran percintaan yang telah dialami oleh Wilarani, yang membawa dirinya masuk kedalam lembah makan hati dan kesengsaraan bathin tak dapat lagi ditawar-tawar dengan obat apapun, sekalipun dengan pemuda-pemuda gagah lainnya, sekalipun puluhan pemuda-pemuda sekitar tempat kediamannya dan dari jauh-jauh datang melamar serta tergila-gila kepadanya!
Bagi Wilarani dunia ini sudah bukan apa-apa lagi. Di matanya cinta mumi itu, cinta suci sejati hanya ada dalam mulut, tidak dalam kenyataan! Dalam keputus-asaan karena patah hati, dalam kehancuran bathin dan kegelapan pemandangan, apalagi sewaktu kedua orang tuanya meninggal dunia, maka Wilarani yang saat itu sudah berumur hampir tiga puluh dan pemuda-pemuda yang dulu menggilainya tapi tak kesampaian memetik bunga harum sekuntum itu telah mulai menyiarkan ejekanejekan bahwa dia kini sudah menjadi “perawan tua”, akhirnya Wilarani
mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah dan kampung halaman tempat kelahirannya.
Dia pergi tanpa tujuan. Hampir satu tahun dia malang melintang tiada karuan. Keadaannya sudah demikian menyedihkan, pakaian compang camping dan tubuh kurus sakit-sakitan. Hanya satu bukti kehidupan masa mudanya yang sampai saat itu masih dimilikinya, yaitu parasnya yang cantik. Paras itu masih belum pupus kejelitaannya meski pada tepi-tepi matanya telah timbul garis-garis ketuaan dan pada pipi
yang agak cekung mulai membayang kerenyut-kerenyut.
Dan kecantikan yang masih belum pupus inilah yang membuatnya suatu ketika dihadang oleh segerombolan rampok-rampok buas di tengah rimba belantara. Dia diseret kesarang rampok. Pimpinan rampok memerintahkan pembantu-pembantunya yaitu beberapa orang perempuan untuk memandikan dan membersihkan tubuh Wllarani, memberinya pakaian yang bagus dan harum-haruman. Wilarani tahu apa arti itu semua, namun daya apa yang akan dibuatnya untuk mempertahankan diri serta kehormatannya?! Dia dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang sangat bagus dan tak lama kemudian pemimpin rampok bertampang buruk buas bercambang bawuk menjijikkan masuk ke dalam kamar itu!
Si kepala rampok bersinar-sinar sepasang bola matanya.
Dibasahinya bibimya dengan ujung lidah dan berkata disertai seringai buruk dan hidung kembang kempis.
“Ternyata kau seorang perempuan jelita! Ahh… kecantikanmu tidak kalah dengan gundik-gundikku yang paling cantik disini!”
Kepala rampok itu melangkah mendekati Wilarani yang berdiri
dengan lutut gemetar serta muka pucat pasi di sudut kamar.
“He… he… kenapa menyudut ketakutan? Aku bukan macan yang mau menelanmu bulat-bulat! Tap! laki-laki kuat yang akan merangkulmu
penuh nikmat! Ha… ha… ha…!”
Kemudian peluk dan ciumanpun datang bertubi-tubi atas diri Wilarani. Perempuan itu menjeri-jerit tiada hentinya dan mendorong si
kepala rampok hingga terjerongkang ke tepi tempat tidur!
Kepala rampok itu duduk di tepi tempat tidur dan tertawa cengar cengir. Wilarani lari ke pintu tapi pintu itu dikunci!
“Perempuan,” kata si kepala rampok. “Parasmu cantik, tubuhmu halus mulus. Aku tak mau gunakan kekerasan padamu. Karenanya turut saja apa mauku! Ayo buka pakaianmu biar aku bisa lekas-lekas lihat
keindahan tubuhmu!”
“Laki-laki durjana! Lepaskan aku! Keluarkan aku dad sini!” Si kepala rampok tertawa gelak-gelak.
Dia bangkit dari tempat tidur.
“Kalau tak mau buka baju sendiri berarti terpaksa aku yang
telanjangi kau!” katanya.
Diterkamnya Wilarani. Jari-jari tangannya yang besar-besar bergerak kian kemari merobeki seluruh pakaian yang melekat ditubuh Wilarani! Perempuan itu menjerit! Menjerit dan menjerit!
Mendadak di luar terdengar pula suara jeritan. Terdengar lagi susul menyusul tiada henti dan dibarengi dengan suara beradunya senjata! Belum habis kejut si kepala rampok tahu-tahu pintu kamar di dalam mana dia berada bersama Wilarani untuk melampiaskan nafsu terkutuknya ditendang bobol dari luar dan sesaat kemudian sesosok
tubuh menerobos masuk ke dalam!
Yang masuk ternyata seorang nenek-nenek tua berkepala botak berjubah putih. Di tangannya sebelah kanan tergenggam seikat sapu lidi!
“Iblis tua dari manakah yang berani membuat kekacauan di sini?!” bentak si kepala rampok dengan beringas!
Si nenek tertawa melengking-lengking.
“Iblis tua dari neraka, kunyuk berewok!” balasnya membentak. “Aku
diutus oleh setan-setan neraka untuk minta kau punya jiwa!”
Dan habis berkata begini si nenek sapukan sapu lidi di tengan kanannya! Kepala rampok terkejut sekatil Dia tak menyangka kalau sapu lidi itu adalah satu senjata ampuh yang dapaot melepaskan angin pukulan laksana badai hebatnya!
Sambil membentak garang laki-laki itu segera cabut goloknya yang
mempunyai panjang satu setengah meter dan lebar hampir satu jengkal!
Si nenek ganda tertawa melihat senjata lawannya. Dan sewaktu kepala rampok itu menerjang dengan satu tebasan lihai mematikan, si nenek kepala botak melengking-lengking lagl, berkelebat cepat dan tebasan golok kepala rampok hanya melanda angin kosong!
Kejut si kepala rampok bukan olah-olah. Jurus yang dilancarkannya tadi adalah jurus “Ekor Naga Menabas Gunung!” Selama ini tak satupun manusia yang selamat dad serangaonya yang dahsyat itu. Tapi si nenek kepala botak mengelakkannya dengan mudah dan sambil tertawa meleng-
king-lengking!
Belum lagi habis kejut kepala rampok ini tahu-tahu ujung sapu lidi si nenek menusuk laksana kilat ke mukanya. Kepala rampok berseru kaget dan mundur cepat ke belakang. Tapi punggungnya tertahan tembok
kamar! Dan sementara itu ujung sapu lawan memburu terus ke mukanya!
Terdengar jeritan laki-laki itu!
Seluruh mukanya hancur berlubang-lubang laksana dipantek ratusan paku. Matanya telah buta dan darah membanjir membasahi mukanya yang mengerikan itu! Dia melolong laksana srigala haus darah. Kedua telapak tangan menekap muka. Tubuhnya kemudian jatuh terjerembab ke lantai, menggelepar-gelepar beberapa kali lalu menggeletak
tiada nyawa lagi!
“Perempuan kau lekas ikut!” berseru si nenek kepala botak pada Wilarani.
Wilarani yang masih dikungkung rasa terkejut dan ngeri tidak segera bergerak mengikuti kata-kata si nenek! Sementara itu di luar
terdengar suara puluhan kaki datang berlari mendekati kamar itu!
“Ayo lekas!” teriak si nenek. “Nenek, kau siapakah? A… aaaku….”
“Perempuan geblek! Sekarang bukan saatnya bertanya!” Si nenek kepala botak segera sambar tubuh Wilarani, memondangnya dibahu kiri lalu lari ke pintu dengan cepat.
Tapi begitu dia sampai di ambang pintu, kira-kira dua puluh orang
anak buah rampok sudah menghadang dengan berbagai senjata di tangan!
“Ini dia kunyuk tua berkepala botak yang telah membunuh sebelas
orang kawan-kawan kita!” teriak rampok yang terdepan!
Beberapa orang dibarisan terdepan itu yang telah memandang ke dalam kamar sama berteriak kaget! “Anjing tua ini juga telah bunuh
pemimpin kita!” “Serbu!”
“Kalau mau mampus cepatlah maju!” teriak si nenek. Dibarengi dengan suara tertawanya yang melengking-lengking maka sapu lidi di tangan kanannya disapukan ke muka! Lima rampok dibarisan terdepan terpekik! Tubuhnya rebah dengan muka berlumuran darah! Kawankawannya yang lain menjadi tambah kalap dan laksana air bah menyerbu menerobos ambang pintu, dengan serentak kiblatkan senjata masingmasing ke arah si nenek yang sampai saat itu masih memondong tubuh Wilarani di atas pundak kirinya. Wilarani sendiri saat itu sudah tidak sadarkan diri alias pingsan!
“Rampok-rampok bejat! Kalian memang tak perlu dikasih hidup!” seru si nenek! Didahului dengan tendangan kaki kanan yang mengeluarkan angin dahsyat si nenek putar sapunya sekeliling tubuh! Maka susul menyusullah suara pekik kematian belasan rampokl Yang masih hidup tidak punya nyali lagi meneruskan mengeroyok si nenek yang mereka anggap bukannya manusia tapi benar-benar iblis! Mereka yang masih hidup ini segera ambil langkah seribu. Tapi si nenek mana mau kasih ampun! Meski rampok-rampok itu sudah lari beberapa jauhnya, dengan kebutan sapu lidinya yang sakti itu semua perampok
yang larikan diri jungkir balik berpelantingan den menemui kematiannya!
Sewaktu Wilarani siuman didapatinya dirinya berada dalam sebuah kamar yang bagus dan si nenek kepala botak berjubah putih dilihatnya duduk di sebuah kursi goyang, duduk asyik menggoyang-goyangkan
tubuhnya sambil tertawa-tawa dan makan sepotong roti.
Wilarani bangkit dari pembaringan di mana dia ditidurkan. Sewaktu dia meneliti dirinya ternyata dia telah mengenakan baju jubah putih yang
bagus berenda-renda setiap tepinya.
Si nenek terus juga bergoyang-goyang di kursi itu terus juga
memakan rotinya. “Nenek…”
“Akh… kau sudah siuman Wilarani? Bagus-bagus!”
Wilarani terkejut sewaktu si nenek menyebut namanya. Darimana perempuan tua ini tahu dirinya. Sedangkan dia sendiri baru kali ini bertemu muka.
“Kau tidak perlu heran bila aku mengenal namamu,” bicara lagi si nenek. Lalu dicampakkannya tepi roti yang keras lewat jendela kamar. Wilarani memandang sekilas lewat jendela itu. Di luar dilihatnya tembok putih yang sangat tinggi menghalangi pemandangan. Pada bagian atas tembok terdapat besi-besi berduri setinggi beberapa tombak. Kemudian perempuan ini alihkan kembali pandangannya pada si nenek yang duduk di kursi goyang, lalu berdiri dan melangkah kehadapan si nenek.
Dihadapan nenek kepala botak ini Wilarani menjura hormat dan berkata.
“Nenek, meski aku tidak kenal kau tapi kau telah selamatkan aku dari perbuatan terkutuk dan kebejatan! Aku yang buruk ini haturkan terima kasih sedalam-dalamnya…”
Si nenek tertawa gelak-gelak. Dari atas meja disampingnya diambil lagi sepotong roti yang terletak di dalam piring. Wilarani menyadari betapa perutnya sangat lapar sewaktu dilihatnya roti yang di atas meja itu. Tapi si nenek tidak menawarkan kepadanya.
“Kau duduk saja kembali ke pembaringan itu,” memerintah si
nenek.
Wilarani menurut dan duduk di tepi tempat tidur.
Karena si nenek tidak berkata-kata dan asyik terus menggerogoti rotinya maka bertanyalah Wilarani. “Nenek, apakah aku yang rendah ini
boleh tahu siapa kau adanya dan di mana aku berada saat ini?!” Si nenek habiskan dulu rotinya baru menjawab.
“Siapa aku?! He, itulah yang aku sendiri tidak tahu!” Lalu nenek itu
tertawa terlengking-lengking.
Wilarani tak habis heran. Nenek kepala botak ini agaknya seorang
sakti yang aneh misterius.
Dalam pada itu si nenek membuka lagi mulutnya, berkata. “Orangorang juga sering bertanya seperti kau. Siapa aku?! siapa aku?! Dan aku selalu bilang pada mereka aku sendiri tidak tahul Kadang-kadang ada yang keliwatan mendesak, tanya terus, tanya terus! Lalu aku jawab aku adalah seorang nenek-nenek buruk berkepala botak!” Kembali si nenek
tertawa melengking-lengking!
Mau tak mau Wilarani ikut pula tertawal
“Ha…,” si nenek hela nafas. “Kau bisa juga tertawa ya? Kata orang kalau banyak tertawa bisa awet muda! tapi aku yang sudah tua semakin banyak tertawa semakin keriputan! Semakin jelek!”
Wilarani tertawa cekikikan. Tapi tertawanya itu ditahan-tahan karena khawatir si nenek akan marah! Terhadap orang bersifat aneh musti berlaku hati-hati, demikian membathin Wilarani.
“Wilarani!” berkata si nenek sesudah roti kedua dihabiskannya. “Di mana kau berada saat ini pun, kau tak perlu tahu! Yang penting yang musti kau ketahui ialah bahwa kau harus diam di sini bersamaku selama
dua puluh tahun!”
Kagetlah Wilarani.
“Nenek, apa maksudmu…?!” tanya Wilarani.
Lama si nenek berdiam diri, memandang lurus-lurus ke tembok kamar dihadapannya seakan-akan pandangannya itu hendak menembus ketebalan tembok itu.
“Selama dua puluh tahun itu kau sama sekali tidak boleh meninggalkan tembok ini, tidak boleh keluar dari tembok yang membatasi gedung ini! Jika kau melanggar pantangan itu, hukuman yang berat akan jatuh atas dirimu dan kau akan disekap selama empat puluh tahun
dipenjara di bawah tanah yang gelap gulita!”
Berubahlah paras Wilarani mendengar ucapan si nenek. Dia membathin. jika si nenek membawanya ke sini dengan maksud jahat mengapa dia telah ditolong dari tangen perampok-peramok itu? Tapi kini sesudah ditolong kenapa pula dia musti tinggal selama dua puluh tahun dalam gedung itu tak boleh keluar dan jika melanggar pantangan akan disekap dipenjara bawah tanah selama empat puluh tahun?! Sungguh aneh! Aneh tapi diam-diam juga menggidikkan Wilarani! Kalau dia mengikuti kehendak si nenek, berarti dua puluh tahun kemudian dia sudah menjadi nenek-nenek pula dan dalam keadaan masih perawan, perawan tua! Sebaliknya bila dia membantah, dia akan disekap empat puluh tahun dalam penjara bawah tanah, ini berarti pada saat dia
dibebaskan nanti usianya sudah mencapai tujuh puluh tahun!
“Aku tahu apa yang kau pikirkan dalam benakmu!” berkata tiba-tiba
si nenek. “Dan kau juga musti tahu banyak hal tentang dunia luar, tentang dunia persilatan! Apa yang kau ketahui tentang dunia luar,
tentang dunia persilatan?!”
“Banyak nenek….”
“Coba sebutkan!”
Wilarani bungkam. Dia memang banyak mengetahui seluk beluk dunia luar semenjak pengembaraannya meninggalkan kampung halaman dan tahu pula bahwa dunia luaran itu penuh dengan tokoh-tokoh persiiatan kalangan hitam serta putih meskipun dia bukanlah seorang
yang telah mencemplungkan diri dalam dunia persilatan.
Si nenek menyeringai.
“Kau bilang tahu banyak! Tapi kau tidak dapat menuturkannya!” kata si nenek kepala botak yang sampai saat ini masth belum diketahui namanya oleh Wilarani.
“Kau tahu Wilarani, dunia yang sekarang ini tidak sama dengan sewaktu mula-mula Gusti Allah menjadikannya! Dulu dunia ini begitu suci! Tapi kini keindahan itu telah lenyap tak digubris manusia-manusia bertangan kotor berhati jahat! Kekotoran terjadi dimana-mana, kejahatan terjadi di mana-mana, kemesuman, ketidak adilan, penindasan, pembunuhan. Dunia kacau! Apalagi dalam kalangan persilatan. Dunia persilatan telah terpecah dua menjadi dua golongan. Golongan putih atau golongan yang mengutamakan kebaikan serta membantu sesama manusia, golongan yang bercita-cita luhur demi menenteramkan bumi Tuhan ini! Sebaliknya golongan hitam mempunyai tindakan dan cita-cita yang berlawanan dengan golongan putih! Mereka membuat kejahatan, kemaksiatan, kemesuman, penindasan sampai kepada pembunuhan. Semakin hari semakin banyak juga jumlah golongan hitam ini balk yang menjadi perampok, maupun yang menjadi bergundal-bergundal kaum bangsawan atau kerajaan, atau yang bertindak malang melintang seenaknya sendiri saja melakukan kejahatan tanpa pertanggungan jawab! Demikian banyaknya penganut golongan hitam hingga golongan putih menjadi terdesak dan kewalahan bahkan boleh dikatakan kini menjadi banyak yang tidak berdaya menghadapi bergajul-bergajul golongan hitam itu. Dan hampir keseluruhan tokoh-tokoh silat golongan hitam atau putih itu adalah laki-laki! Kaum laki-laki telah mencoba untuk menentramkan dunia ini tapi tidak berhasil. Golongan hitam telah ntembuat keonaran di mana-mana. Membuat ribusan manusia rakyat jelata hidup dalam kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi hari besok dan besoknya lagi! Kaum laki-laki telah tidak berhasil menciptakan apapun di dunia ini demi keselamabn hidup bersama. Ketidak adilan, kekacauan, segala macam kejahatan, pokoknya seribu satu macam kegagalan telah dibuat
kaum laki-laki!
Melihat kepada kenyataan itu semua maka aku yang sudah pikun ini yang sudah tak selembar rambutpun tumbuh di batok kepalaku ini, merasa bahwa kini sudahlah saatnya bagi kaum perempuan untuk bangun, untuk bangkit menggantikan kedudukan kaum laki-laki yang telah menemui kegagalan itu! Kaum perempuan harus bangun sebagai penegak kaadilan, pembasmi kejahatan dan musti bisa menciptakan satu
dunia yang aman tenteram dan damai!”
Lama si nenek terdiam, lama pula Wilarani termangu merenungkan ucapan-ucapan si nenek.
“Tapi nenek,” berkata Wilarani, “apakah cita-cita luhur itu mungkin
berhasil..?”
Si nenek tertawa gelak-gelak dan menggoyang-goyangkan kursi yang
didudukinya.
“Kenapa tidak mungkin katamu?! Apa selama ini cuma kaum lakilaki yang bisa menjagoi dunia persilatan? Apa cuma orang laki-laki yang bisa main silat dan memiliki iimu kesaktian?! Apa cuma orang laki-laki yang becus mainkan pedang atau keris atau golok?! Kentut semua kalau orang berpikir begitu! Justru orang Iaki-laki kalau tidak dibrojotkan sama perempuan pasti tidak ada di dunia ini. Bukan begitu…?!” Si nenek
tertawa melengking-lengking.
Wilarani tak dapat pula menahan rasa gelinya lalu tertawa
cekikikan.
“Memang… memang untuk melaksanakan dan mewujudkan citacita itu tidak mudah, memakan waktu lama dan penuh pengorbanan! Kita haruslah menghubungi tokoh-tokoh silat wanita golongan putih yang masih hidup saat ini. Mereka pasti mau diajak bersama. Seperti si Sinto Weni yang diam di puncak Gunung Gede. Dulu dia menjagoi dunia persilatan selama puluhan tahun, ilmunya tinggi, dihormati kawan dan ditakuti lawan! Kabarnya kini dia sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan membersihkan diri di puncak gunung itu. Namun jika aku menyambanginya dan tuturkan cita-citaku, pasti dia mau bergabung.
Sifatnya sangat aneh, macam orang gila! Karena itu di dunia persilatan dia dikasih gelar si Sinto Gendeng! Nah, kalau kita punya tokoh-tokoh wanita macam Sinto Gendeng itu, masakan aku tak sanggup mewujudkan cita-citaku?!”
Si nenek kepala botak memalingkan kepalanya pada Wilarani. “Bagaimana? Kau pilih dua puluh tahun tinggal di sini dan ikut bersamaku atau di sekap empat puluh tahun di bawah tanah?!” Wilarani merenung lama sekali.
Hidupnya di dunia luar sana sejak ditinggal kekasihnya memang sudah tak punya arti apa-apa. Di dunia ini dia hanya sebatang kara. Orang tua sudah meninggal, sanak saudara tidak punya. Dunia penuh dengan kekalutan dan keiahatan yang selalu memburu manusia-manusia tak berdosa! Lagi pula sejak kekasihnya lari kawin itu keputus-asaan yang mendalam membuat Wilarani kehilangan kepercayaan pada laki-laki! Baginya laki-laki tiada lain seorang penipu yang bercinta dengan mulut dan kemudian melarikan diri bila menemui perempuan lain yang lebih cantik! Yang keturunan orang baik-baik, bangsawan kaya raya! Diingatnya pula pertolongan serta jasa besar yang telah diberikan si nenek kepadanya! Setelah merenung lagi beberapa lama maka akhirnya Wilarani
membuka mulut bersuara.
“Baiklah nenek tua, aku akan tinggal bersamamu di sini selama dua
puluh tahun!”
“Bagus!” Si nenek kepala botak tertawa dengan gembiranya. Dia bergoyang-goyang beberapa lamanya di atas kursi goyangnya kemudian berkata. “Besok pagi kau akan kumandikan dengan air kembang dua puluh rupa! Dan mulai besok kau ku angkat menjadi muridku! Ku akan didik kau selama dua puluh tahun! Bila otakmu cerdas dan rajin, punya kemauan, kau kelak kuangkat jadi murid kepala, mengepalai lima puluh
janda-janda dan gadis-gadis yang sudah kukumpulkan di sini.”
Wilarani berdiri dari pembaringan dan menjura dihadapan si nenek
kepala botak.
“Nenek, aku haturkan terima kasih karena menaruh kepercayaan padaku dan telah sudi mengambil aku jadi muridmu.” Nenek itu manggut-manggut di kursi goyangnya.
Dia bertepuk tiga kali.
Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan muda berparas ayu,
berjubah dan bertutup (berkerudung) kain putih masuk ke dalam kamar
itu, menjura di hadapan si orarg tua.
“Biarawati Sembilan belas siap menunggu perintah,” kata perempuan ini.
“Umumkan pada seisi Biara Pensuci Jagat bahwa besok akan ada upacara pemandian biarawati baru yang akan kuangkat menjadi muridku
secara resmi!”
“Baik Eyang,” menjura perempuan berjubah dan berkerudung kepala kain putih kemudian berlalu.
Si nenek yang dipanggil Eyang oleh Biarawati Sembilanbelas tadi menepuk tangannya dua kali. Pintu terbuka lagi. Seorang perempuan muda yang berparas cantik dan juga mengenakan jubah serta kerudung
kepala kain putih memasuki ruangan.
Seperti Biarawati Sembilanbelas dia menjura dan berkata,
“Biarawati Tigapuluhdua siap menunggu perintah.”
Dan si nenek berkata, “Perintahkan biarawati-biarawati di bagian
dapur menyediakan makanan untuk kawanmu yang baru ini!”
Biarawati Tigapuluhdua mengerling pada Wilarani sebentar kemudian mengangguk. Setelah menjura dia segera pula meninggalkan kamar itu.
— == 0O0 == —
SEPULUH
Dua puluh tahun sesudah Wilarani dating pertama kali di Biara
Pensuci Jagat…
Kamar itu diselimuti kesunyian. Hampir tak ada perbedaan dengan masa-masa di duapuluh tahun yang silam. Hanya dua manusia yang ada di dalam kamar itulah yangkelihatan banyak berubah.
Nenek kepala botak kelihatan semakin tua. Kedua mata serta pipinya mencekung, keriput-keriput ketuaan sukar untuk dihitung berapa banyak menggores di mukanya. Umurnya sudah lebih dari sembilan puluh tahun. Namun suara dan tutur katanya tetap keras dan tegas dan pandangan matanya setajam ujung pedang! Dihadapan nenek tua kepala botak ini duduk seorang permpuan berusia setengah abad. Rambutnya hampir putih semuanya. Pada parasnya juga jelas keliahatan gurat-gurat ketuaan. Namun gurat-gurat ketuaan ini tiada sanggup memupus
kecantikan yang dimilikinya sejak masa mudanya.
“Muridku Wilarani,” berkata si nenek. “Dua puluh tahun sudah berlalu, dua puluh tahun sudah lewat. Rasanya cepat sekali. Kalau tidak melihat kepada tampang-tampang dan perubahan yang terjadi di diri kita rasanya masa dua puluh tahun itu seperti hari kemarin saja. Dua puluh tahun mendidikmu dan memberi banyak tugas padamu tidak mengecewakanku! Sebagian besar dari cita-cita yang kita rintis sudah kelihatan buahnya. Telah banyak tokoh-tokoh golongan hitam dan rampok-rampok rimba hijau yang kita musnahkan. Cuma sayang beberapa tokoh silat perempuan golongan putih yang kita harapkan bantuannya hilang lenyap tiada kuketahui. Entah mati, entah sembunyi atau bertapa mempersuci diri! Eyang Sinto Gendeng, itu jago perempuan yang memiliki kesaktian luar biasa ketika kusambangi ke Gunung Gede, tak ada di pertapaannya! Tapi kita jangan kecewa. Cita-cita kita untuk meneteramkan dunia ini, untuk mensucikan jagat milik Tuhan ini agar kembali pada keadaan sewaktu semulanya dulu, harus kita laksanakan!
Beberapa tokoh silat perempuan sudah sepakat dengan kita untuk mengambil alih penenteram dunia ini dari tangan laki-laki. Mereka diantaranya Dewi Kerudung Biru dan Dewi Lembah Bulan Sabit.
Sekalipun aku tak ada nanti usaha dan cita-cita kita musti terus dijalankan karena selama dunia ini berputar, selama itu pula kejahatan dan kekacaubalauan berlangsung! Sekarang jumlah biarawati yang ada di dalam Biara Pensuci jagat ini sudah berjumlah seratus orang. Seratus satu dengan kau dan seratus dua dengan aku. Lima puluh dari biarawatibiarawati itu adalah angkatan tua yang seangkatan dengan kau tapi dibandingkan dengan kau, ilmumu jauh lebi tinggi. Kau sudah mewariskan seluruh ilmuku, Wilarani. Yang lima puluh lainnya adalah biarawati dari golongan baru, yang masih muda-muda. Kau dan kawankawanmu harus ajarkan ilmu kesaktian aku pernah ajarkan pada mereka. Bila tiba saatnya mereka harus disebar di seluruh pelosok guna
menjalankan tugas yang dibebankan oleh cita-cita kita bersama!”
Si nenek kepala botak memandang ke langit-langit kamar. Ketika kepalanya diturnkan kembali dia bicara lagi maka suaranya bernada
rawan.
“Wilarani, hari ini sudah tiba saatnya bagiku untuk menerangkan siapa namaku.”
Wilarani memandang serius pada gurunya.
“Selama ini kau memanggil aku dengan sebutan nenek. Biarawatibiarawati lainnya memanggilku dengan sebutan Eyang, namun siapa aku tetap tak satupun dari kalian yang tahu!” nenek ini terbatuk-batuk
beberapa kali baru meneruskan.
“Namaku Supit Jagat. Nama Supit Jagat ini bukan ibu atau bapakku yang memberikannya tapi guruku sendiri jadi, nenek guru bagimu! Guruku itu sendiri namanya adalah Supit Jagat pula! Ketika dia mau meninggal dunia dia memberi pesan agar namanya itu kuambil sebagai nama..! sebelumnya aku tiada bernama dan beliau cuma memanggilku dengan sebutan “upik.” Dan beliau juga berpesan agar jika aku mempunyai murid nanti, maka murid itu harus menukar namanya dengan Supit Jagat! Di samping aku, Biara Pensuci Jagat ini ada seratus orang muridku. Aku tidak membedakan mereka dengan kau! Tapi dari kenyataan kau adalah murid yang paling cerdas, rajin, patuh serta yang paling tinggi ilmunya! Karena itulah nama Supit Jagat kuwariskan
kepadamu dan musti kau pakai mulai detik ini juga. Kau mengerti?”
Wilarani mengangguk.
Supit jagat atau nenek berkepala botak itu berdiri dan melangkah ke dinding di mana tergantung sapu lidi yang merupakan senjatanya yang sangat sakti. Diambilnya sapu itu lalu dia melangkah ke hadapan Wilarani.
“Muridku, seikat sapu lidi ini bernama Sapu Jagat. Ini merupakan senjata sakti yang merupakan salah satu senjata utama diantara senjata yang termashyur di dunia persilatan! Senjata ini kuwarisi dari guruku dan
hari ini kuwariskan kepadamu!”
Tentu saja Wilarani hampir tak percaya mendengar ucapan gurunya itu.
“Ayo, terimalah!,” kata Supit Jagat yang berkepala botak.
Dan Supit Jagat yang berambut putih (Wilarani) ulurkan kedua tangannya menerima seikat sapu lidi itu.
Sewaktu telapak tangannya menyentuh sapu lidi itu Wilarani merasakan adanya satu keanehan. Pada kedua telapak tangannya menjalar hawa yang sangat sejuk, terus ke lengan, terus menjalar ke seluruh kakinya. Dan pada detik itu pula tubuhnya terasa ringan laksana mengapung di awan! Sapu Jagat ternyata telah memberikan satu kekuatan baru yang hebat pada Wilarani sewaktu kedua tangannya
menyentuh senjata itu!
“Terima kasih, guru,” kata Wilarani dengan penuh khidmat dan
menjura sampai beberapa kali.
Si nenek tertawa perlahan. Ada kelainan pada tertawanya kali ini. Paras yang tua keriput dimakan umur sembilan puluh tahun itu kelihatan rawan, sepasang mata yang biasanya menyorot tajam kini kelihatan
sedikit redup.
Tiba-tiba Eyang Supit Jagat membentak.
“Sekarang tutup kedua matamu rapat-rapat, Supit!”
Supit Jagat atau Wilarani segera menutup kedua matanya sebagaimana yang diperintahkan. Dalam dia berpikir-pikir apa yang hendak dilakukan gurunya tiba-tiba laksana petir menyambar, satu tamparan keras melanda pipinya sebelah kiri! Tak ampun lagi Wilarani rebah ke lantai tiada sadarkan diri!
Sewaktu dia sadarkan diri dan mengucek-ngucek kedua matanya, Wilarani terkejut bikan main. Eyang Supit Jagat dilihatnya menggeletak di lantai. Kedua matanya terpejam dan nafasnya tiada lagi!
“Guru!” pekik Wilarani.
Tapi mana sang guru bisa mendengar karena memang nyawanya sudah putus. Dan membuat Wilarani atau Supit Jagat baru ini lebih heran ialah ketika merasakan tubuhnya enteng luar biasa dan tenaga dalamnya berlipat ganda sampai beberapa kali! Urat-urat di dalam tubuhnya laksana kawat dan pemandangan serta pendengarannya
menjadi tajam sekali!
Ingatlah Wilarani kejadian sewaktu gurunya menyuruh dia memejamkan mata! Sang guru diam-diam melakukan satu tamparan
dahsyat dan disertai dengan tamparan itu sekaligus dia telah menyalurkan seluruh tenaga dalam ke tubuhnya untuk kemudian dia
sendiri menghembuskan nafas penghabisan, meninggal dunia!
Supit Jagat mendukung tubuh Eyang Supit Jagat ke atas pembaringan. Pada waktu itulah di lantai dilihatnya segulung kertas. Supit Jagat mengambil gulungan kertas itu. Di situ ada sebarisan kalimat
yang berbunyi, “Surat ini baru boleh dibuka besok siang tengah hari tepat.”
Esok harinya tepat di tengah hari ketika sang surya bersinar terik di titik kulminasinya maka di dalam Biara Pensuci Jagat seratus satu biarawati berkumpul di ruangan besar.
Sebelumnya pada pagi hari jenazah guru mereka telah dikuburkan di
taman di bagian muka gedung Biara.
Suasana sunyi sepi dalam ruangan besar itu. Sunyi sepi serta masih diselimuti rasa duka cita karena berpulangnya guru mereka yang juga merupakan Ketua Biarawati.
Wilarani yang kini sudah mewariskan nama Supit Jagat tapi belum
diketahui oleh biarawati-biarawati di situ berdiri dari kursinya.
“Biarawati Satu,” katanya, “Harap datang ke sini dan bacakan surat
yang ditinggalkan oleh Ketua kita.”
Biarawati Satu, seorang yang sudah lanjut usianya berdiri. Dari Wilarani diterima segulung kertas. Dia melangkah ke mimbar dan membuka gulungan kertas itu. Kemudian terdengarlah suaranya membacakan isi surat
yang dibuat Eyang Supit Jagat sebelum matinya.
Muridku sekalian,
Jika kalian membaca suratku ini maka aku sudah tidak ada, sudah dikubur di dalam tanah, kembali pada Tuhan yang menciptakanku dan kalian semua!
Meski kini cuma kuburku yang kalian lihat, meskipun aku tidak berada lagi diantara kalian namun cita-cita kita yang luhur untuk menenteramkan dunia ini dari segala malapetaka dan kegagalan yang dibuat oleh kaum lakl-laki, harus tetap kalian lanjutkan!
Selama aku hidup diantara kalian, kita semua berada dalam keadaan rukun tenteram penuh persatuan. Bila kini aku sudah tidak ada, kerukunan dan ketenteraman serta persatuan itu harus kalian pupuk terus. Jika kalian pecah dan berselisih, berarti hancurnya cita-cita yang hendak kita laksanakan dan dalam kuburku aku akan mengutuk kalian sebagai murid-murid murtad!
Suratku ini juga kutulis untuk menerangkan sedikit tentang diriku. Selama ini kalian memanggilku dengan sebutan Eyang atau guru atau nenek. Puluhan tahun hidup bersamaku kalian tidak tahu siapa namaku.
Namaku adalah Supit Jagat.
Pada hari ini namaku itu kuwariskan kepada Biarawati Wilarani. Untuk selanjutnya dia berhak memakai nama itu dan di hari ini pula kuresmikan dia sebagai Ketua kalian yang baru!
Kepadanya telah kuwariskan senjata sakti bernama Sapu Jagat!
Siapa-siapa diantara kalian yang kecewa dengan keputusanku ini, siapa-siapa diantara kalian yang tidak senang, sebelum kalian menjadi pengkhianat pengkhianat, lebih baik kalian angkat kaki tinggalkan Biara Pensuci Jagat ini atau rohku akan ke luar dari liang kubur untuk mencekik kalian semua!
Surat itu selesai dibaca oleh Biarawati Satu kemudian diserahkan kembali kepada Wilarani atau yang kini bernama Supit Jagat dan menjadi Ketua Biara Pensuci Jagat!
Supit Jagat menggulung surat itu baik-baik. Dia berdiri di mimbar, memandang berkeliling kemudian berkata, “Mungkin ada diantara saudarasaudaraku yang ingin bicara atau mengeluarkan pendapatnya?”
Tak ada satu orangpun yang menjawab. Tapi diantara para biarawatibiarawati itu terdengar suara saling berbisik-bisik. Supit Jagat bertanya sekali lagi. “Tidak ada yang mau bicara dan keluarkan pendapat? Terutama
mengenai pengangkatanku oleh mendiang guru kita sebagai Ketua Biara?”
“Boleh aku bicara?”
Tiba-tiba terdengar suara dari balik gang besar yang menjadi salah satu ruangan luas itu. Semua biarawati termasuk Supit Jagat terkejutnya bukan main, karena suara itu adalah suara Iaki-laki! Dan seperti diketahui dalam Biara Pensuci Jagat itu, tak ada satu orang laki-lakipun yang ada atau diam di sana! Semua mata dengan serta merta merta diarahkan ke belakang tiang besar. Dan seorang laki-laki melangkah seenaknya menuju ke mimbar!
— == 0O0 == —
SEBELAS
LAKI-LAKI ini masih muda belia. Rambutnya gondrong menjela-jela sampai ke bahu. Parasnya gagah, sikapnya waktu melangkah meski acuh tak acuh dan seenaknya namun mengandung kewibawaan dan keperkasaan. Enam langkah dari mimbar dia berhenti dan menjura pada
Supit Jagat kemudian melayangkan senyuman pada puluhan biarawatibiarawati yang duduk di ruangan itu.
Semua orang membathin siapakah adanya pemuda ini dan cara bagaimanakah dia bisa masuk ke dalam gedung Biara Pensuci Jagat? Pintu gerbang dikunci, seseorang yang tak tahu rahasia membuka pintu itu, meski bagaimanapun hebat serta tinggi ilmunya niscaya dia tak sanggup membukanya! Melompati tembok juga mustahil. Tembok halaman saja tingginya lima tombak dan ditambah besi-besi panjang berduri setinggi tiga tombak! Di samping itu apakah kedatangan pemuda asing tak dikenal ini membawa maksud baik atau niat jahat?!
Akan tetapi Supit Jagat meski keterkejutannya serta rasa tidak enak menyelinapi hatinya, namun melihat si pemuda menjura hormat
kepadanya dia balas menganggukkan kepala, tapi tetap tutup mulut menunggu sampai si pemuda bicara duluan.
“Apakah saat ini aku berhadapan dengan Ketua Biara Pensuci Jagat?!” tanya pemuda itu.
Melihat pada pertanyaan yang diajukan ini Supit Jagat segera mengetahui bahwa pemuda itu belum berada lama di ruangan tersebut. Paling lama sejak ketika Biarawati Satu membaca bagian terakhir dari
surat mendiang Ketua Biara yang lama.
“Betul orang muda, kau memang berhadapan dengan Ketua Biara Pensuci Jagat,” menjawab Supit Jagat.
“Ah… syukur. Syukur kalau begitu….’ Si pemuda garuk kepalanya dua kali.
“Orang muda harap terangkan siapa kau. Bagaimana caramu bisa masuk ke gedung ini dan apakah membawa niat baik atau buruk?” tanya Supit Jagat.
Pemuda itu tertawa malu macam anak kecil. “Namaku buruk,” katanya, “jadi tak usahlah aku beri tahu pada Ketua Biara Pensuci Jagat. Mohon maaf. Apalagi aku orang tolol dan banyak mencap aku ini berotak
miring…. “
Biarawati Lima, seorang nenek-nenek berbadan sangat gemuk yang punya penyakit darah tinggi lekas naik darah, berdiri dari kursinya dan
membentak.
“Pemuda sedeng! Di sini bukan tempat melawak! Lekas katakan apa maksudmu menyelinap ke sini. Jika kau membawa niat jahat kupatahkan
batang lehermu dan kulemparkan mayatmu ke luar tembok!”
Si pemuda naikkan kedua alis matanya.
“Galak betul! Galak betul!” katanya. “Aku datang ke sini bukan untuk melawak. Kau lihat sendiri ibu tua, tak ada satu hal lucupun yang aku buat. Tak ada satu orang disini yang tertawa! Bagaimana kau bisa bilang aku melawak?!”
Beberapa arang Biarawati tertawa sembunyi-sembunyi. Biarawati Lima merah mukanya lalu berseru pada Supit Jagat, “ketua, harap izinkan aku menghajar pemuda edan ini!” Ketua Biara Pensuci Jagat lambaikan tangan memberi isyarat agar mempersabar diri. Dia maklum kalau si pemuda bisa menyelinap masuk ke dalam gedung, pastilah dia bukan sembarang orang!
“Orang muda, kuharap kau bisa bicara seperlunya mengingat di mana kau berada saat ini dan mengingat pula kau adalah tamu yang
tidak diundang,” berkata Supit Jagat.
“Sekarang harap terangkan apa maksud kedatanganmu ke sini.”
“Aku datang membawa maksud baik dan persahabatan,” kata si
pemuda.
“Hem, begitu? maksud baik dan persahabatan macam manakah kiranya?” tanya Ketua Biara Pensuci Jagat pula.
Si pemuda memandang dulu berkeliling lalu kembali palingkan kepala pada Supit Jagat. “Ketua”, katanya, “kau saksikan sendiri, sebagian besar dari biarawati-biarawati di sini adalah perempuan-
perempuan muda dan cantik-cantik….”
“Pemuda kurang ajar! Mulutmu pantas untuk disumpal dengan ujung pedangku!” bentak seorang biarawati. Tapi Ketua Biara Pensuci Jagat kembali lambaikan tangan memberi isyarat agar anak buahnya itu
tidak bertindak kesusu dan duduk kembali ke kursinya.
Kepada si pemuda sang Ketua berkata, “Teruskan ucapanmu!”
Setelah terbatuk-batuk beberapa kali baru si pemuda membuka mulutnya kembali. “Kerbau sekandang bisa dikurung! Harimau berlusinlusin bisa disekap! Tapi kecantikan perempuan tak bisa dikurung, tak
bisa disembunyikan, tak bisa disekap! Betul atau tidak…?!”
Diam-diam Ketua Biara yang baru ini menjadi gemas juga dalam hatinya. “Orang muda, ucapanmu terlalu berbelit-belit! Bicara saja secara
singkat tapi jelas!”
Si pemuda hela nafas dan garuk kepala beberapa kali. Beberapa orang biarawati dari golongan tua berdiri dari kursi dan berseru, “Ketua, kehadiran pemuda ini lebih lama tidak menyenangkan kami! Narap beri
izin kami untuk mengusimya!”
Pemuda itu memandang pada beberapa orang biarawati itu. “Kalian punya hak untuk mengusirku! Tapi alangkah memalukan bila nanti kalian tahu kedatanganku secara baik-baik ini disambut dengan pengusiran!”
“Baik atau jahat maksud kedatanganmu, kami tidak suka kau hadir
di sini.”
“Eh, apakah kau yang menjadi Ketua di sini?” ejek si pemuda.
Merahlah muka si biarawati.
Dia segera hunus pedangnya dan melompat mengirimkan satu
serangan ganas. Si pemuda sedikit pun tidak bergerak! Malahan dengan sikap acuh tak acuh dia berpaling pada Ketua Biara Pensuci Jagat.
Sementara tebasan pedang datang menyerangnya dia berseru, “Ketua! Sungguh penyambutan yang memalukan. Bukannya aku disuguhi minuman malah dikasih tebasan pedang!”
Angin pedang menyambar tanda senjata maut sudah berkelebat dekat sekali! Tapi si pemuda masih juga memandang pada Ketua Biara Pensuci Jagat seakan-akan tak perduli atau tak tahu apa-apa kalau dirinya diserang!
Namun!
Seruan tertahan bahkan kaget memenuhi ruangan itu. Seratus pasang mata melotot. Biarawati yang menyerang si pemuda kelihatan berdiri terhuyung-huyung sedang pedang yang tadi dipakainya untuk menyerang kini kelihatan berada dalam tangan si pemuda! Jurus yang dimainkan Biarawati Tujuhbelas tadi adalah jurus yang cukup lihai dalam ilmu pedang Biara Pensuci Jagat. Tapi si pemuda menghancur leburkannya dalam satu gebrakan saja dan dengan sikap acuh tak acuh, sambil bicara dengan Ketua mereka! Betul-betul hebat!
Biarawati golongan muda yang sejak tadi tertarik akan kecakapan tampang si pemuda kin! semakin tertarik melihat ketinggian ilmu pemuda itu. Dan dalam hati masing-masing mereka membathin siapakah gerangan
pemuda ini?!
“Ketua Biara Pensuci Jagat,” kata si pemuda, “kedatanganku ke sini dengan maksud baik dan bersahabat, tapi orangmu telah menyerangku! Orang lain mungkin sudah kalap dan tak terima perlakuan ini! Tapi aku orang tolol dan rendah, tak apa-apa. Ini soal biasa! Perempuan kalau
sudah beringas memang suka menyerang duluan!”
Dengan tertawa-tawa pemuda itu memutar tubuhnya dan melangkah kehadapan biarawati yang tadi menyerangnya. Dia membungkuk sedikit lalu mengangsurkan senjata itu seraya berkata . “Harap kau suka terima pedangmu kembali dan maaf kalau aku bikin kau jadi kalap. “
Biarawati itu tak berkata apa-apa. Diambilnya pedangnya kemudian
berlalu dengan cepat.
“Orang muda, jika kau betul-betul datang dengan niat baik dan bersahabat, bicaralah seringkas mungkin!” Pemuda itu mengangguk.
‘Tadi aku sudah bilang bahwa kecantikan itu tak bisa disembunyisembunyikan, tak bisa dibendung dengan tembok setinggi apapun! Kecantikan sebagian besar biarawati biarawati di sini telah diketahui oleh dunia luar dan tokoh-tokoh persilatan! Telah sampai ke telinga seorang
tokoh golongan hitam bergelar Pendekar Pemetik Bunga…. “
Si pemuda tak bisa teruskan keterangannya karena sampai di situ suasana di ruangan tersebut menjadi ribut! Terpaksa Ketua Biara
memberi tanda untuk menenangkan suasana.
Dan si pemuda meneruskan keterangannya pula.
“Jika kalian di sini pada gaduh mendengar nama Pendekar Pemetik Bunga berarti kalian sudah tahu manusia macam apa dia adanya!” Pemuda itu palingkan kepalanya pada Supit Jagat. “Ketua Biara,” dia berkata lagi, “aku mendapat kabar bahwa manusia terkutuk itu berada di sekitar sini akhir-akhir ini. Dan kabarnya lagi, dia akan mendatangi Biara ini untuk melaksanakan perbuatan-perubatan mesumnya selama ini!”
Suasana tegang dan sunyi laksana dipekuburan mencekam ruangan
besar itu.
Di dalam kesunyian yang tegang itu, diam-diam Biarawati Satu berkata kepada Ketua Biara Biara Pensuci Jagat dengan ilmu menyusupkan suara.
“Ketua, hatiku tetap bercuriga pada pemuda ini. Aku yakin dia
datang bukan dengan maksud baik. Apa yang diucapkannya cuma omong kosong belaka.”
“Yang aku herankan ialah bagaimana dia bisa masuk kesini,” menyahuti Supit Jagat. “Meski ilmu tinggi tapi selama puluhan tahun tak ada satu tokoh silatpun yang sanggup masuk ke Biara ini, apalagi tanpa
setahu kita!”
Biarawati satu bertanya, “Apa perlu aku suruh beberapa orang-orang kita untuk menyelidik sekeliling tembok dan pintu gerbang?!” “Lakukanlah!” kata Supit Jagat pula.
Maka sepuluh orang biarawati angkatan muda segera keluar meninggalkan ruangan itu. Pemuda rambut gondrong tersenyum. Matanya tidak buta. Dia telah melihat tadi mulut Biarawati Satu dan Ketua Biara
Pensuci Jagat bergerak-gerak. Pasti ada yang dibicarakan kedua orang itu, dan pasti menyangkut dirinya.
“Ketua Biara Pensuci Jagat,” kata sipemuda seraya rangkapkan
kedua tangan di muka dada. “Rupanya kau dan biarawati-biarawati di sini sangat bercuriga padaku.”
“Tentu saja,” sahut Supit Jagat. “Kau datang tanpa diundang, masuk dan bicara seenaknya, tidak mau terangkan diri!”
“Apakah kau tidak percaya kalau Pendekar Pemetik Bunga akan mendatangi tempatmu ini…?”
“Dia boleh datang dengan maksud jahat. Tapi dia musti tinggalkan kepala di sini!”
Sipemuda tertawa bergelak.
“Nama Biara Pensuci Jagat memang sudah lama dikenal dalam dunia persilatan. Ketuanya Supit Jagat memang sakti luar biasa. Tapi jangankan kau, gurumu sendiripun tiada sanggup menghadapi Pendekar Pemetik
Bunga!”
“Kau menghina guru dan Ketua kami!” teriak beberapa Biarawati.
Mereka menyerbu si pemuda. “
Supit Jagat tidak berusaha menahan. Dia ingin lihat sampai dimana kehebatan pemuda berambut gondrong itu. Sepuluh pedang menyambar dengan mengeluarkan suara angin bersiuran. Karena yang menyerang itu adalah biarawati-biarawati dari golongan tua yang ilmunya sudah sempurna maka kehebatan serangan itu tidak terkirakan dahsyatnya.
Dalam sekejapan mata tidak bisa tidak tubuh si pemuda akan tersatai!
Atau akan terputus berkeping-keping!
“Sungguh memalukan!” seru si pemuda. “Di sarang sendiri biarawatibiarawati yang katanya mau mensucikan dunia ini dari segala kekotoran, menyerang main keroyok!”
“Bagi manusia-manusia edan tak tahu peradatan dan kurang ajar, tak perlu merasa malu!” sentak salah seorang dari biarawati yang menyerang.
Sekejap kemudian ruangan besar itu bergemuruh oleh suara beradunya sepuluh badan pedang yang menimbulkan bunga api yang terang sekali!
Semua orang berseru kaget. Ketua Biara Pensuci Jagat membuka matanya lebar-lebar. Tapi si pemuda yang tadi hendak dikermus lenyap dari pemandangan, entah kemana!
Tiba-tiba terdengar suara salah seorang biarawati. “Hei! Lihat!
Manusia itu sudah bergantung pada kawat lampu!”
Semua kepalapun mendongak ke langit-langit di atas ruangan! Ternyata betul. Pemuda berambut gondrong itu bergantung di langit-langit ruangan dengan tangan kirinya memegangi kawat kecil lampu yang menerangi ruangan besar itu! Kalau dia tidak memiliki ilmu mengentengi
tubuh yang tinggi luar biasa, pastilah kawat itu akan putus!
“Pemuda edan!” pekik seorang biarawati, “jangan kira aku dan kawan-kawan tidak sanggup mengejar kau ke atas sana!”
Sepuluh tubuh berjubah putih laksana anak-anak panah melesat ke atas dan serentak itu pula kirimkan serangan pedang yang lebih ganas
yaitu jurus “Menabas Gunung Menusuk Rembulan”
Terdengar suara bersiut-siut dan sedetik kemudian disusul oleh suara jatuhnya lampu minyak besar yang tergantung di langit-langit ruangan! Kacanya dan semprongnya pecah bertebaran, minyak tumpah membasahi lantai! Sepuluh pedang biarawati-biarawati tadi nyatanya telah menabas putus kawat lampu hingga jatuh pecah berantakan ke lantai.
Dan hebatnya lagi saat itu si pemuda sudah berdiri lagi di tempatnya semula sebelum diserang pertama kali tadi. Berdiri diantara pecahan kaca dan minyak lampu sambil tertawa-tawa rangkapkan tangan
di muka dada!
Penasaran sekali sepuluh biarawati segera menukik dan hendak lancarkan serangan untuk ketiga kalinya!
Tapi kali ini Ketua Biara Pensuci Jagat cepat berseru. “Tahan!”
Meski hati gusar tapi sepuluh biarawati hentikan serangan namun ketika turun kelantai kembali tetap membentuk posisi mengurung si
pemuda!
“Para biarawati harap kembali ke tempat,” perintah Ketua Biara Pensuci Jagat. Sepuluh biarawati turun perintah itu. Mereka sarungkan
pedang masing-masing dan duduk kembali ke tempat semula.
Disaat itu pula sepuluh biarawati yang tadi disuruh menyelidik keluar gedung kembali memasuki ruangan.
Dengan ilmu menyusupkan suara Ketua Biara Pensuci Jagat hendak bertanya pada biarawati-biarawati itu, tapi mendadak si pemuda sudah mendahului!
“Bagaimana?” tanyanya. “Apa kalian menemui tembok pagar yang
bobol atau pintu gerbang yang rusak?!”
Sepuluh biarawati itu tiada perdulikan pertanyaan si pemuda
melainkan melangkah ke hadapan Ketua mereka dan melaporkan bahwa tidak ada satu tanda yang mencurigakanpun di luar sana. Semuanya beres dan rapi! Ketua Biara Pensuci Jagat anggukkan kepala dan suruh
sepuluh biarawati itu kembali ke tempat masing-masing.
“Pemuda,” berkata sang Ketua. “Ilmu yang barusan kau
pamerkan…”
“Ah…!” memotong pemuda itu. “Siapa yang pamerkan ilmu!” tanyanya. “Orang diserang toh musti mengelak? Siapa sih orangnya yang mau ditusuk-tusuk dengan pedang? Yang mau dicincang? Kucing
budukpun pasti larikan diri atau mengelak!”
Tenggorokan Supit Jagat turun naik beberapa kali. Kemudian dia berkata lagi. “Meski ilmumu setinggi gunung sedalam lautan, meski pengalamanmu saluas bumi, tapi jika kau datang ke sini dengan membawa niat jahat, jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini!” Si pemuda menghela nafas.
“Apakah kalian di sini tuli semua? Apa aku sejak tadi cuma bicara dengan tonggak-tonggak mati?!” katanya. Lalu dia meneruskan. “Pertama datang aku sudah bilang bahwa maksudku ke sini adalah membawa niat baik dan bersahabat! Bahkan aku kasih keterangan pada kalian di sini bahwa Biara ini dan kalian semua sedang terancam bahaya! Bahaya itu datangnya belum tentu tapi pasti datang! Bahaya Pendekar Pemetik Bunga! Tapi kalian bukannya percaya, malah bercuriga padaku! Malah menyerang aku! Aku yang edan apa kalian yang keblinger!”
“Kalau kau datang betul membawa niat baik dan bersahabat, mengapa datang tidak memberi tahu lebih dulu? Mengapa lancang masuk dengan diam-diam ke tempat orang?!” Si pemuda tertawa.
“Kalian sedang rapat! Sedang adakan pertemuan! Kalau aku datang dengan mengetuk pintu gerbang sana atau berteriak-teriak memberi salam, pastilah akan mengganggu rapat kalian.”
“Kau memang sudah mengganggu kami!” semprot Biarawati Lima
yang memang sejak tadi belum habis rasa penasarannya.
Si pemuda angkat bahu.
Dipalingkannya tubuhnya pada Ketua Biara Pensuci Jagat, dan
berkata.
“Ketua, jika kau dan semua orang di sini menganggap aku telah mengganggu kalian dan mengacaukan suasana pertemuan ini mohon dimaafkan. Aku tak akan mengganggu lebih lama.”
Pemuda itu menjura dua kali di hadapan Supit Jagat. “Cuma jangan
menyesal kalau keteranganku nanti terbukti benar!”
Pemuda ini menjura satu kali pada barisan biarawati-biarawati yang duduk berjejer-jejer di kursi lalu segera hendak putar badan tinggalkan
ruangan itu!
Mendadak biarawati gemuk tadi berteriak.
“Ketua! Bukan mustahil pemuda ini sendiri Pendekar Pemetik Bunga itu!”
Supit Jagat tercekat hatinya. “Ya, bukan tak mungkin,” katanya membathin. Cepat-cepat dia bertepuk tiga kali dan keseluruhan biarawati yang duduk di kursi berdiri cepat, menyebar di seluruh tepi ruangan, menjaga jendela-jendela dan menjaga pintu-pintu! Tak mungkinlah bagi si pemuda untuk meninggalkan tempat itu kini!
Lebih-lebih ketika terdengar suara. “Sret… sret…, sret…!” Suara pedang yang dicabut dari sarungnya! Seratus pedang kini melintang di
tangan!
— == 0O0 == —
DUABELAS
Si pemuda memandang berkeliling ruangan dengan kerenyitkan kulit kening.
“Apa-apaan ini?!” tanyanya membentak.
“Jika kau tidak mengaku bahwa kau adalah Pendekar Pemetik Bunga sendiri, jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini!” hardik Ketua Biara Pensuci Jagat.
“Eeeeee… kenapa memaksa aku yang bukan-bukan?!”
“Jangan banyak bacot! Mengaku atau mampus?!” Yang membentak kali ini adalah Biarawati Lima.
Si pemuda geleng-geleng kepala. “Tidak sangka biarawati-biarawati yang berhati suci jujur bisa bicara membentak dan galak, serta agak kotor!”
Biarawati Lima melompat ke muka. Pedangnya diacungkan tepattepat ke arah hidung si pemuda. Dia berpaling pada Supit Jagat. “Ketua, tunggu apa lagi?!”
“Pemuda, kau sungguh tidak mau mengaku diri?!” bertanya Ketua
Biara Pensuci Jagat.
“Kalau aku tidak mengaku, aku mau dibikin mampus! Kalau aku mengaku bahwa aku Pendekar Pemetik Bunga, seribu kali lebih mampus!
Kuharap kalian semua suka berpikir pakai otak dan jangan galak-galakan!
Tak ada perlunya! Kalau aku Pendekar Pemetik Bunga sudah sejak tadi terjadi kemesuman di ruangan ini!”
Ketua Biara Pensuci Jagat menimbang ucapan si pemuda. Memang betul juga, kalau pemuda ini adalah Pendekar Pemetik Bunga tentu sudah sejak tadi terjadi hal-hal yang mengerikan!
“Sekarang, apakah kalian mau memberi jalan padaku untuk keluar dari sini?!” terdengar si pemuda bertanya.
“Sebelum kau terangkan siapa kau punya nama, berasal dari mana dan juga terangkan gelarmu, baru kami akan izinkan kau berlalu dari sini!” kata Supit Jagat pula.
Pemuda itu garuk-garuk kepalanya. Tiba-tiba meledaklah tertawanya! Lantai, dinding, langit-langit den tiang ruangan bergetar oleh kumandang tertawanya yang panjang ini. Setiap hati manusia yang ada di situ, termasuk Ketua Biara Pensuci Jagat sendiri ikut tergetar oleh
kehebatan suara tertawa si pemudal
“Kenapa kau tertawa?!” bentak Ketua Biara Pensuci Jagat.
“Siapa yang tidak bakal geli dan ketawa!” menyahut si pemuda. “Mula-mula kalian tanya siapa aku? Siapa namaku. Siapa gelarku den sekarang tanya aku berasal dari mana atau tinggal di mana?! Persis pertanyaan-pertanyaan begitu macam muda mudi yang sedang pacar-
pacaran!”
Merahlah pares Ketua Biara Pensuci Jagat.
“Tak dapat dihindarkan lagi bahwa lantai ruangan ini akan basah oleh darahmu, pemuda bermulut kurang ajar!” teriak sang Ketua. Dia gerakkan tangan memberi isyarat. Dan selangkah demi setangkah, seratus biarawati dari angkatan tua dan muda, dengan pedang ditangan masing-
masing, maju mendekati si pemuda!
Gilanya pemuda itu masih juga berdiri tertawa-tawa di tengah ruangan, memandang berkeliling dan garuk-garuk rambutnya yang
gondrong!
Tiba-tiba seratus pekikkan laksana guntur yang hendak meruntuhkan gedung biara itu berkumandang! Seratus pedang berkiblat! “Buset!” Si pemuda membentak tak kalah nyaring. Diiringi dengan suitan yang memekakkan telinga dia melompat tinggi-tinggi ke atas, kepalanya hampir menyundul langit-langit. Dalam tubuh mengapung begitu rupa pemuda ini berseru, “Ketua, harap kau sudi hentikan
serangan ini dulu!”
“Serang terus!” sebaliknya Ketua Biara Pensuci Jagat berteriak.
“Aku tak mau kesalahan. tangan dan cari permusuhan dengan
kalian! Kita adalah sama-sama satu golongan!”
“Jangan ngaco!” tukas Biarawati Lima.
“Ketua Biara, aku betul-betul tidak mau bikin cilaka orang-orangmu!” berseru lagi si pemuda.
Tapi sang Ketua Biara tak mau ambil perduli malah membentak lebih keras agar orang-orangnya menggempur pemuda itu. Puluhan
biarawati melesat ke atas, puluhan pedang berkelebat!
Pemuda itu menggerendeng dalam hatinya. Kedua telapak tangannya dikembangkan dengan cepat kemudian dipukulkan ke bawah! Maka angin dahsyat laksana topan menderu ke bawah memapasi serangan-serangan lawan. Betapapun puluhan biarawati-biarawati itu bersikeras menyerbu ke atas dan kerahkan tenaga dalam serta ilmu meringankan tubuh mereka namun tiada berhasil. Mereka laksana tertahan oleh satu dinding baja yang tak kelihatan. setiap mereka melesat ke atas, tubuh mereka kembali mental ke bawah berpelantingan, banyak
yang mendeprok jatuh duduk!
Heranlah sang Ketua Biara Pensuci Jagat menyaksikan hal ini. Ilmu
apakah gerangan yang dimiliki pemuda itu, demikian dia membathin.
Melihat betapa orang-orangnya mengalarni kesia-siaan, tiada hasil melakukan serangan mereka maka Supit Jagat sendiri segera turun dari
mimbar dan berseru, “Pemuda, turunlah! Hadapi aku!”
“Ah… Ketua Biara, sungguh satu kehormatan yang kau sendiri juga mau turun tangan pada budak hina ini,” dan sementara itu sepasang mata si pemuda melirik ke pintu di ujung kanan yang kini tiada terjaga lagi karena keseluruhan biara di ruangan itu ambil bagian menyerangnya.
“Tapi,” melanjutkan si pemuda sementara kedua telapak tangannya masih terus juga dipukulkan berkali-kali ke bawah memapasi seranganserangan lawan, “harap maaf, saat ini aku tidak punya kesempatan untuk main-main dengan kau! Lagi pula aku anggap kita semua ini adalah orang satu golongan! Sampai jumpa Ketua Biara!”
Pemuda itu melompat ke samping lalu menukik ke arah pintu. Penasaran sekali Ketua Biara Pensuci Jagat lepaskan satu pukulan jarak
jauh yang dahsyat!
“Braak!”
Sebagian tiang pintu yang besarnya lebih dari sepemeluk tangan hancur lebur.
Tapi si pemuda sudah lenyap!
“Kejar!” teriak Supit Jagat. “Kita musti tangkap manusia itu hidup
atau mati!”
Maka ruangan besar itupun kosong melomponglah kini. Semua biarawati termasuk Supit Jagat rnenghambur ke luar. Seluruh halaman diperiksa. Pintu gerbang dibuka dan belasan biarawati mengejar keluar dan belasan iainnya melompat ke atas atap, namun si pemuda lenyap tiada
bekas!
Supit Jagat memerintahkan orang-orangnya untuk kembali masuk ke dalam Biara. Dan waktu mereka memasuki ruangan pertemuan tadi,
semuanyapun terkejutlah!
Di lantai ruangan, dikursi-kursi dan di beberapa bagian dinding ruangan sebelah bawah bertebaran puluhan deretan angka 212.
“Dua satu. Dua!” desis Supit Jagat. Ketua Biara Pensuci Jagat ini memandang biarawati-biarawati angkatan tua. Ya, hanya mereka yang seumur dengan dialah yang mengerti apa arti angka 212 itu sedang
biarawati-biarawati angkatan muda hanya melongo tak mengerti!
Ketua Biara Pensuci Jagat memberi isyarat pada kira-kira sepuluh orang biarawati angkatan tua agar mengikutinya masuk ke dalam sebuah
kamar.
Ketua Biara ini duduk di kursi goyang yang dulu menjadi kursi kesayangan Ketua mereka yang telah meninggal dunia. “Sekarang kita sudah tahu siapa adanya pemuda itu,” berkata Supit Jagat. “Dia bukan lain dari Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, murid Eyang Sinto Gendeng dipuncak gunung Gede yang menurut guru kita tempo hari
merupakan kawan baiknya!”
“Kalau begitu,” menyela Biarawati Lima yang bertubuh gemuk pendek dan yang tadi paling gemas terhadap pemuda itu, “keterangan yang diberikannya bukan omong kosong belaka!”
“Betul!” Supit Jagat anggukkan kepala.
“Kalau dia memang golongan kita sendiri, sama-sama golongan putih,” kata Biarawati Sembilan. “Kenapa tidak siang-siang dia terangkan diri…?!”
“Pemuda itu memang aneh,” menyahut Ketua Biara Pensuci Jagat.
“Kadang-kadang orang menganggapnya pemuda gila, edan kurang ingatan! Kalau kalian kenal pada gurunya, gurunya Eyang Sinto Gendeng itu lebih gila lagi! Gila dan edan, bicara seenaknya! Bahkan dalam bertempur menyabung nyawapun dia tertawa-tawa atau bersiul-siul seperti yang kalian lihat tadi! Sinto Gendeng ataupun muridnya yang tadi memang bukan orang-orang yang suka agul-agulkan nama atau obral gelar di manamana. Kurasa itulah sebabnya pemuda tadi tidak mau kasih keterangan siapa dia sebenarnya!”
Sunyi beberapa lamanya.
“Ketua, bagusnya kita segera bersiap-siap menjaga segala kemungkinan atas datangnya Pendekar Pemetik Bunga itu!”
“Ya. Biarawati Satu, kau atur semuanya. Perketat penjagaan! Tambah
alat-alat rahasia di sekitar tembok dan pintu gerbang!”
“Perintah akan kami jalankan, Ketua,” sahut Biarawati Satu, lalu bersama kawan-kawannya yang lain segera meninggalkan tempat itu
setelah terlebih dahulu menjura memberi hormat.
Sementara itu dua orang biarawati muda yang kelelahan mencari-cari Wiro Sableng di luar tembok halaman dan yang bekerjadi bagian dapur biara segera langsung menuju ke bagian dapur itu. Sesudah minum melepaskan dahaga mereka bermaksud akan meneruskan pekerjaan mereka sehari-hari di dapur. Namun betapa terkejutnya kedua biarawati sewaktu masuk ke dalam dapur, mereka mendapatkan seorang pemuda yang bukan lain Wiro Sableng Pendekar Maut Naga Geni 212 tengah duduk di sebuah kursi dengan angkat kaki dan melahap nasi! Asyik makan dan menggeragoti paha ayam goreng sisa
malam tadi!
Segera keduanya hendak berteriak. “Ssst…” .
Wiro Sableng letakkan jari telunjuknya di atas kedua bibirnya sedang mulutnya saat itu menggembung penuh nasi. Tapi mana dua biarawati tak mau berdiam diri. Keduanya sama hendak berteriak lagi dan menghambur dari dapur. Wiro tak dapat berbuat lain. Dia hantamkan dua jari tangan kanannya ke muka! Dengan serta merta tubuh kedua biarawati itu berhenti mematung, mulut mereka yang tadi hendak berteriak terbuka lebar-lebar tapi tak satu suarapun yang
keluar!
Itulah ilmu totokan jarak jauh yang lihay sekali telah dilepaskan oleh murid Eyang Sinto Gendeng! Dan selanjutnya seperti tak ada kejadian apa-apa, seperti dirumahnya sendiri Wiro Sableng meneruskan melahap makanannya! Selesai makan dan meneguk air, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini segera tinggalkan dapur itu.
Sewaktu empat orang biarawati yang juga bekerja di dapur memasuki dapur, keempatnya terkejut mendapatkan dua kawan mereka berdiri tak bergerak sedang mulut menganga. Nyatalah mereka
telah ditotok. Segera totokan itu dilepaskan.
“Siapa yang menotok kalian?!”
“Pemuda itu!”
“Maksudmu Wiro Sableng?! Pendekar 212?!”
“Ya!” sahut yang seorang.
Yang seorang lagi memberi keterangan, “Kami haus dan mau minum lalu melanjutkan tugas sehari-hari. Tahu-tahu pemuda itu sudah nongkrong di kursi sana, melahap nasi dan makan daging
ayam!”
“Pantas dicari-cari di luar gedung tidak ada! tak tahunya
nongkrong di dapur! Pemuda lapar!”
Ketika hal itu dilaporkan kepada Ketua Biara Pensuci Jagat mula-mula dalam terkejutnya Supit Jagat setengah tak percaya. Namun kemudian tiba-tiba meledaklah suara tertawanya. Biarawatibiarawati yang datang melapor itupun akhirnya ikut-ikutan pula tertawa!
— == 0O0 == —
TIGABELAS
Gadis berbaju kuning ringkas itu menghentikan larinya di tepi kali berair jernih dengan batu-batu besar di tengah-tengahnya bertebaran laksana pulau-pulau kecil. Disibakkannya rambutnya yang mengurai di kening dan disekanya keringat yang membasahi kuduknya. Dihelanya nafas dalam, nafas yang ditarik dengan disertai rasa keputusasaan dan kegemasan!
Dua hari yang lalu dia sudah berhasil menemui jejak manusia yang dicarinya. Kemarin dia bahkan telah menguntit manusia itu tapi hari ini, sesampainya di tepi kali itu, bayangan manusia yang dikejarnya kembali lenyap laksana ditelan bumi, laksana amblas masuk ke dalam kali!
Penuh letih akhirnya gadis ini dudukkan diri di tepi kali, di atas sebuah batu hitam. Dia memandang ke hulu sungai. Satu pemandangan yang indah untuk disaksikan. Sementara itu angin bertiup pula sepoi-sepoi basah. Di luar sepengetahuan gadis berbaju kuning ini, menyelam antara kelihatan dan tidak, berenang seekor ular kali sebesar lengan. Kaki-kaki si gadis yang berkulit putih mulus dan bagus, yang sebagiannya masuk ke dalam air, itulah yang telah menarik perhatian sang ular dan membuatnya segera berenang ke arah mangsanya ini!
Setengah langkah ular itu berada dari kedua kakinya, barulah si gadis sadar. Cepat dia tarik kedua kaki dari dalam air. Sang ular dengan ganas terus mengejar naik ke atas batu. Tapi nasibnya malang. Kali ini gadis baju kuning pergunakan kaki kirinya untuk menendang!
Binatang itu mencelat mental. Kepalanya hancur. Tubuhnya menggelepar-gelepar seketika lalu mati dan dihanyutkan arus sungai.
Gadis baju kuning itu berumur sekitar 19 tahun. Sepasang matanya bening dan jeli. Parasnya bujur telur dan ayu, tak membosankan untuk dipandang. Di atas sepasang matanya yang bening jeli itu berpeta dua buah alis laksana bulan sabit bagusnya!
Namun di balik keayunan paras itu, di belakang kejelitaan wajah itu samar-samar kelihatan satu rasa duka derita yang berpaut dengan rasa dendam kesumat!
Lima hari yang lalu dia masih berada di Goa Blabakan. Dan hari itu dia berhadap-hadapan dengan gurunya. “Empu, murid minta diizinkan untuk meninggalkan pertapaan untuk beberapa waktu…”
Empu Tumapel memandangi paras muridnya beberapa lama. “Pelajaran yang kuberikan padamu masih belum selesai, Sekar,” berkata sang guru, “Kau ingat bahwa lima tahun lagi baru kau boleh meninggalkan
Goa Blabakan ini?”
“Murid ingat, guru. Murid tidak lupa,” sahut Sekar. “Tapi kabar yang murid terima dari orang desa yang datang kemarin siang…. Guru tentu
dapat memakluminya.”
Dan gadis itu menyeka air mata yang meleleh dipipinya. “Aku tidak mengajarkan kau menangis, Sekar! Aku mengajarkan kau ilmu silat, Ilmu kesaktian, ilmu bathin, Ilmu menguatkan jiwa, lahir dan bathin! Bukan Ilmu menangis!” Sekar seka lagi sisa-sisa air matanya dan hentikan tangis. “Murid tahu, guru. Tapi guru juga musti maklum. Ayahku dibunuh. Ibuku dan adik perempuanku diperkosa lalu dibunuh! Dapatkah hati seorang perempuan menghadapi semua ini tanpa air mata? Dan karena peristiwa itulah murid minta izin kepada guru untuk meninggalkan pertapaan ini
beberapa lamanya guna mencari manusia terkutuk itu!”
Empu Tumapel merenung dan setelah menghela nafas dalam diapun berkata, “Sekalipun kuizinkan padamu pergi, sekalipun kau bertemu dengan manusia itu, belum tentu kau berhasil menghadapinya Sekar.
Belum tentu kau dapat membalaskan sakit hati dan dendam kesumatmu!”
‘°Murid tahu, manusia itu sakti luar biasa! Tapi demi menuntut kebenaran, demi arwah orang tua dan adikku, dengan doa restu guru serta pertolongan Tuhan, murid yakin murid akan sanggup menghadapinya! Tapi guru, apakah ilmu meskipun sakti luar biasa jika dipergunakan untuk kejahatan akan sanggup menghadapi kebenaran dan kekuatannya Tuhan?!”
Empu Tumapel yang berumur enam puluh tahun terdiam oleh ucapan muridnya itu.
“Kau akan mati percuma di tangan manusia itu, Sekar,” katanya
setelah berdiam diri beberapa lama.
“Tidak, guru. Sekalipun aku mati, aku akan mati dengan puas.
Puas karena aku telah membela keadilan, menghancurkan kejahatan.
Aku akan mati syahid guru!”
“Baik… baiklah muridku,” kata Empu Tumapel. Dibelainya kepala muridnya itu. Dan dalam jubahnya dikeluarkan seuntai rantai baja yang panjangnya dua meter. Pada ujung rantai baja ini terdapat sebuah bola baja berduri. Keseluruhan senjata ini memancarkan sinar putih dan hawa dingin tanda senjata itu bukan senjata sembarangan.
“Kuizinkan kua pergi, Sekar. Dan bawalah senjata Rantai Petaka
Bumi ini. Mudah-mudahan kau berhasil…” Sekar berlutut di hadapan gurunya.
“Terima kasih guru… Terima kasih guru juga mempercayakan
dan meminjamkan senjata ini padaku….”
Lamunan tentang saat lima hari itu serta merta buyar sewaktu
dari hulu sungai Sekar, si gadis berbaju kuning, melihat sesosok bayangan putih berlari cepat di atas kali, hanya sekali-sekali kakinya
menjejak batu-batu yang banyak bertebaran di atas kali.
Cepat Sekar berdiri dan menunggu penuh waspada. Orang yang berlari hentikan larinya dan berdiri di atas sebuah batu besar sejarak
satu-dua meter di hadapan gadis itu.
“Eh, saudari, kau berada sendiri di tepi kali ini, ada apakah?!” Sekar menatap paras pemuda yang tampan itu. Sewaktu dia memperhatikan rambut gondrong yang menjela sampai ke bahu si pemuda, berdetak hatinya! Bukan tidak mustahil manusia ini adalah Pendekar Pemetik Bunga yang tengah dicarinya dan kini telah bertukar pakaian. Dia sendiri memang tidak pernah melihat jelas tampang
Pendekar Terkutuk itu!
Menimbang begini. Sekar segera keluarkan “Rantai Petaka Bum!” dari balik pakaiannya, terus menyerang dengan ganas! Si pemuda terkejut!
“Gila betul! Ditanya baik-baik dijawab dengan serangan!” Cepatcepat dia menghindar. Angin dingin menyambar tubuhnya sewaktu Rantai Petaka Bumi lewat di depan dadanya!
“Saudari, itu senjata sakti! Jangan dibuat main-main!”
“Tutup mulut! Justru dengan senjata inilah akan kuhancurkan kepalamu pemuda bejat!”
Si pemuda keluarkan siulan dan tertawa gelak-gelak. Inilah ciriciri khas dari pendekar yang tak asing lagi yaitu Wiro Sableng si Pendekar 212!
“Kenal belum, ketemupun baru kali ini sudah bisa me-
nyumpahiku pemuda bejat! Kau mimpi atau apa?!”
“Keparat, terima kematianmu dalam tiga jurus!”
Sekar menyerang dengan dahsyat. Rantai Petaka Bumi menyapu dengan mengeluarkan suara dahsyat laksana halilintar, menebarkan angin laksana topan hingga air kali bermuncratan dan batu-batu kali
yang tersambar bola baja berduri itu hancur berantakan!
“Saudari!” seru Wiro Sableng. “Kau ini main-main atau bagaimana?” Pemuda ini terpaksa jungkir balik di atas kali menghindari serangan senjata lawan yang dahsyat. Dan sebelum kedua kakinya menjejak disalah satu batu kali. Rantai Petaka Bumi itu sudah menyapu lagi ke arah kakinya!
“Hebat!” seru Wiro Sableng benar-benar kagum.
“Ya, hebat! Memang hebat! Sebentar lagi kepalamu akan dibikin
hebat oleh bola baja berduri ini!” tukas Sekar.
Wiro Sableng terpaksa jungkir balik sekali lagi. Seorang yang memiliki ilmu mengentengi tubuh sempurna biasa saja pasti tak akan sanggup melakukan dua kali jungkir balik itu. Tapi Pendekar 212 ilmu
mengentengi tubuhnya sudah lebih tinggi dari kesempurnaan!
Si gadis melihat serangannya melanda angin kosong jadi penasaran sekali. Saat itu jurus kedua. Tanpa tedeng aling-aling dia melompat ke muka lebih dekat pada si pemuda dan putar Rantai Petaka Bumi dengan
jurus “Bumi Dilanda Lindu!”
Jurus ini memang hebat luar biasa, padahal si gadis baru mewarisi setengahnya saja dari gurunya! Karena tak ingin melawan dan karena tak mau membuat si gadis cilaka, lagi pula merasa tidak ada permusuhan apaapa, maka Wiro Sableng sejak tadi hanya mengelak, sekalipun tak balas menyerang. Gesit sekali Pendekar dari Gunung Gede ini melompat ke tepi
kali.
“Saudari harap tahan dulu seranganmu!”
“Jangan banyak rewel Pendekar Terkutuk Pemetik Bungai Kau tetap musti kubunuh! Arwah orang tua dan adikku tak akan tenang di alam baka sebelum nyawa anjingmu kurenggut dari tubuh keparatmu!” Lantas si gadis melompat pula ke tepi kali.
“Hai! Kalau begitu kau salah duga, gadis baju kuning!” kata Wiro
Sableng pula. “Aku bukannya Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga!”
“Tak perlu dusta! Kau kira bisa selamat dengan jual mutut begitu
rupa?!”
“Aku tidak dusta! Apa kau pernah lihat aku memetik bunga dan
bunga apa? Bunga matahari atau bunga mawar atau….”
“Bunga bola baja kematianmu ini, laknat!” sentak Sekar. Dan kembali dia menyerang secara ganas.
Pendekar kita terpaksa mengelak lagi dan lompat ke cabang sebatang
pohon.
“Kalau keliwat kesusu bisa tidak beres saudari. Aku masih belum habis bicara! Kuharap kau suka simpan itu senjata dan mari kita bicara baik-baik…”
Bukannya si gadis baju kuning simpan senjata meiainkan bola baja berduri itu diluncurkannya ke batang pohon di atas mana Wiro Sableng
berada.
“Kraak!”
Batang pohon hancur dan tumbang. Pendekar 212 sendiri sudah lompat ke pohon yang lain!
Gemas sekali Sekar segera melompat ke pohon itu! Dan di atas cabang pohon yang tak seberapa besar itu maka kini terjadilah pertempuran yang seru! Namun Wiro Sableng tetap tidak mengadakan perlawanan atau balas menyerang. Ini membuat si gadis jadi penasaran.
“Ayo, pemuda keparat! Kenapa diam saja?! Apa nyalimu sudah
lumer?! Keluarkan senjatamu!”
Lama-lama diserang gencar demikian rupa Wiro Sableng kewalahan juga. Dia Iompat ke bawah. Sekar sebatkan rantai baja ke pinggang si pemuda. Dengan gesit Wiro Sabieng mengelak kesamping lalu gerakkan tangan kanannya!
Sekar terpelanting dari cabang pohon akibat betotan Wiro Sableng pada rantai bajanya. Ketika dia turun ke tanah dengan jungkir balik, Rantai Petaka Bumi sudah berada di tangan Wiro Sableng!
“Kembalikan senjataku!” teriak Sekar.
Wiro Sableng tertawa dan bersiul-siul. Rantai baja yang panjangnya dua meter itu dililitkannya di pinggangnya. Lalu dengan bertolak pinggang
dia berkata. “Silahkan ambil sendiri, nona manis!”
Tiada terkirakan geramnya murid Empu Tumapel itu. Tapi dasar bernyali besar, dengan tangan kosong dis menerkam ke muka dan
lancarkan satu jurus aneh bernama “Kabut Pagi Menelan Embun.”
Jurus ini dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat hingga waktu menyerang itu tubuh Sekar lenyap laksana kabut tipis! Tapi mata Pendekar Sakti 212 tak dapat ditipu. Betapapun cepatnya gerakan lawan namun dalam kelebatan itu masih sanggup dilihatnya bagaimana kedua tangan lawan terkembang hendak mencengkeram muka sedang sepasang kaki
menendang ke dada dan ke selangkangan!
Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu dengan gerakan kilat miringkan tubuhnya ke samping. Sewaktu tumit lawan masih akan menyerempet pinggulnya dengan cepat di tangkapnya ujung kaki si gadis dan dibantingkan ke atas! Sekar jungkir balik di udara! tapi jatuhnya tetap berdiri! Hidung gadis ini kembang kempis. Mukanya merah kelam karena marah! Hatinya geram karena sadar tiada akan sanggup menghadapi pemuda yang sangat tinggi ilmu silatnya itu!
“Kau letih eh?!”
“Diam!” lengking Sekar.
“Saudari, dalam hidup ini, dalam segala hal manusia itu tidak boleh
serba kesusu….”
“Jangan jual kentut!”
“Juga jangan suka lekas marah penasaran….”
“Diam!” teriak Sekar hingga suaranya menggema diseantero kali.
Si pemuda tertawa dan geleng-gelengkan kepala. Dia berpikir bagaimana caranya menghadapi gadis galak macam yang satu ini.
Tiba-tiba dia dapat akal.
“Saudari, kalau kau tetap keras kepala tak bisa bicara baik-baik aku akan pergi dari sini dan larikan senjatamu!” “Ke ujung bumipun kau lari aku akan kejar!”
Wiro Sableng angkat bahu dan garuk-garuk kepala!
“Tak pernah aku ketemu gadis yang keras kepala dan tak mau
mengerti macammu ini, saudari!”
“Kembalikan senjataku”
“Aku akan kembalikan. Tapi kalau kau pergunakan lagi untuk
menyerangku…?”
“Kau tahu itu senjata milik, siapa?”
“Aku tidak tanya!”
Sekar memaki-maki!
“Kalau guruku Empu Tumapel tahu senjatanya dibuat main dan
dihina, pasti nyawamu yang cuma selembar tak akan aman’“
“Heh… jadi kau muridnya Empu Tumapel?! Akh… orang tua itu adalah kawan main kelerengku sewaktu masih kecil. Dan kau tahu, dia suka main
curang. He…. He… he…!”
Marahlah Sekar. Dia menyerbu dengan kerahkan seluruh bagian tenaga dalamnya ke lengan. Tapi kali ini Wiro Sableng tidak tinggal diam. Lebih cepat dari serangan si gadis baju kuning, lebih cepat pula sepasang jari telunjuknya menotok jalan darah di tubuh si gadis! Maka mematunglah Sekar, tapi telinga masih bisa mendengar dan mulut masih bisa bicara! Wiro Sablang tertawa cengar cengir.
“Sebetulnya aku tidak punya waktu banyak, tapi kau bikin
perjalananku terhalang! Menyerang membabi buta tanpa alasan….”
“Diam! Lekas lepaskan totokan ini!”
“Sabar gadis manis! Kalau kau marah dan membentak begitu parasmu makin cantik, tahu…?!”
Wajah Sekar bersemu merah.
“Kau menyangka bahkan menuduh aku tetah membunuh orang tua serta adikmu! Apakah kau punya alasan? Punya bukti!” Sekar diam.
“Kau bilang aku Pendekar Pemetik Bunga! Kau yakin betul?!” Sekar tetap diam Wiro Sableng tertawa.
“Dengar saudari, semua tuduhanmu salah belaka! Justru aku tengah dalam perjalanan mencari manusia yang bergelar Pendekar Pemetik Bunga itu.”
“Kau dusta!” tukas Sekar.
“Terserah. Tapi aku tak punya waktu lama melayanimu! Pertumpahan
darah akan segera terjadi di Biara Pensuci Jagat! Aku tak boleh terlambat!”
“Kembalikan dulu senjataku dan lepaskan totokan ini!” Wiro
Sableng buka lilitan Rentai Petaka Bumi dari pinggangnya. Dilepaskannya
totokan di tubuh Sekar lalu diserahkan rantai baja itu kepada si gadis
kemudian segera balikkan tubuh.
“Tunggu!” seru Sekar.
Wiro Sableng hentikan langkah.
“Tadi kau bilang bahwa kau dalam perjalanan mencari Pendekar
Terkutuk Pemetik Bunga. Apa kau tahu di mana manusia itu berada…?”
“Tahu atau tidak tahu memangnya kenapa?!”
“Aku juga punya urusan yang harus diselesaikan dengan manusia
bejat itu….”
“Ya, kau sudah bilang tadi. Jadi maksudmu mau sama-sama seperjalanan dengan aku heh?!”
Untuk kesekian kalinya paras si gadis jadi bersemu merah.
“Kuharap kau jangan bicara keliwat kurang ajar, saudara!” bentak Sekar.
“Sudahlah, kita tak banyak waktu! Kalau mau sama-sama memburu itu manusia biang racun penimbul bahala, lekaslah!”
“Kau jalan duluan,” kata Sekar yang hatinya masih bimbang dan bercuriga terhadap si pemuda. Dia khawatir kalau Wiro Sableng adalah benar-benar Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga yang hendak menipunya. “Tak perlu tanya! Jalanlah!”
Pendekar 212 bersiul dan pencongkan hidungnya. Sekali dia berkelebat maka tubuhnya sudah melompat lima tombak ke muka. Sekar tidak tinggal diam, segera pula dia kerahkan ilmu larinya untuk mengikuti Wiro Sabkng.
— == 0O0 == —
EMPAT BELAS
Ketua Biara Pensuci Jagat terkejut ketika melihat jarum alat rahasia di dalam kamarnya bergerak-gerak! Segera ditekankannya sebuah tombol di tepi tempat tidur. Dua buah pintu rahasia terbuka dan delapan orang biarawati muncul. Kedelapannya menjura lalu berpaling ke arah alat rahasia yang dituding oleh Ketua mereka.
“Atur pengurungan!” kata Ketua Biara itu pula. “Lima puluh di dalam, lima puluh di luar! Yang datang ini mungkin orang yang kita
tunggu-tunggu!”
Delapan biarawati menjura lagi lalu meninggalkan kamar Ketua mereka. Supit Jagat, Ketua Biara memandang lagi ke jarum alat rahasia. Jarum itu kini kelihatan diam tak bergerak-gerak, tapi sesaat kemudian
kelihatan bergerak lagi.
Kali ini ketua Biara itu segera membentak, “Tamu di atas atap, silahkan turun unjukkan diri!”
Baru saja Supit Jagat berkata begini maka terdengarlah suara menggemuruh! Atap dan langit-langit kamar amblas roboh! Diiringi oleh suara tertawa bekakakan sesosok tubuh berjubah hitam melompat turun dalam gerakan yang sangat enteng! Yang datang ternyata betul Pendekar Pemetik Bunga!
“Ha… he… sungguh satu kehormatan dapat berkunjung ke Biaramu
ini, Supit Jagat!” .
Baru saja Pendekar Pemetik Bunga berkata demikian empat dinding kamar amblas ke dalam lantai dan kini terbukalah satu ruangan besar.
Disetiap tepi ruangan berbaris dua lapis biarawati-biarawati angkatan tua dan angkatan muda berseling-seling! Kesemuanya dengan pedang di tangan!
“Hem…” Pendekar Pemetik Bunga memandang berkeliling. Tidak ada bayangan rasa terkejut pada parasnya. “Rupanya sudah ada persiapan untuk menyambut kedatanganku!” katanya.
Ketua Biara Pensuci Jagat tertawa mengekeh.
“Nama kotormu sudah lama kami dengar. Noda busuk yang kau tebar di mana-mana sudah sejak lama hendak kami putus! Nyawa bejatmu sudah sejak lama ingin kami kirim ke neraka jahanam! Tapi hari ini agaknya kami tak perlu susah-susah turun tangan ke luar Biara! Malaekat
maut rupanya telah membawamu ke sin!!”
Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga rangkapkan tangan di muka
dada.
“Betapa indahnya susunan kata-katamu. Supit Jagat!” berkata Pendekar Pemetik Bunga. “Tapi ketahuilah, aku datang ke sini bukan dibawa oleh malaekat maut, sebaliknya justru mengantarkan malaekat maut yang ingin cepat-cepat naerenggut nyawa kalian! Dan….” Pendekar bertampang buas ini batuk-batuk beberapa kali. “Dan menyedihkan sekali, rupanya hanya kroco-kroco tua macammu yang ditakdirkan mampus!
Biarawati-biarawati muda belia musti dihadiahkan untukku!”
“Kurasa matamu belum buta Pendekar Terkutuk!” sahut Supit Jagat. “Belum buta untuk melihat orang-orangku yang berdiri, dalam satu barisan
maut, belum buta untuk melihat pedang-pedang yang melintang!”
“Aku memang tidak buta!” Pendekar Pemetik Bunga memandang lagi
berkeliling. “Tapi sebaiknya biarawati-biarawati muda itu tak usahlah ikutikutan bertempur! Mereka akan mati percuma sebelum merasakan betapa nikmatnya hidup di dunia ini! Betapa nikmatnya berada dalam pelukanku!
Betapa nikmatnya tidur bersa….”
Sebilah pedang meluncur tepat di depan hidung Pendekar Pemetik Bunga, membuat pemuda ini tersurut satu langkah dan terputus kata-
katanya!
“Apakah lidahmu kelu hingga tak bisa teruskan buka mulut?” ejek Supit Jagat.
“Ketua Biara Pensuci Jagat! Kau adalah manusia yang musti mati pertama kali di dalam gedung ini! Darahmu akan mensucikan lantai biara
ini!”
Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga buka gulungan sabuk mutiara di pinggangnya sedang tenaga dalam dialirkan tiga perempat bagiannya ke tangan kanan! Dua tangaa itupun kemudian bergerak dengan serentak!
Pukulan”Tapak Jagat” menggebu dahsyat di barengi oleh gelombang angin yang keluar dari sabuk mutiara! Gedung bergoncang, bumi laksana dilanda lindu! Tapi disaat itu Ketua Biara Pensuci Jagat sudah berpindah tempat dan dengan satu lengkingan keras dia memberi isyarat agar lima
puluh biarawati yang ada di ruangan itu segera menyerang!
Maka berkecamuklah pertempuran yang bukan olah-olah dahsyatnya! Lima puluh pedang menderu! Satu-satunya lawan yang diserang berkelebat ganas balas menyerang! Dan dalam setiap kelebatan musti ada jatuh korban di pihak biarawati. Yang menemui ajalnya ini justru biarawati-biarawati angkatan tua yang sudah berumur! Rupanya Pendekar Pemetik Bunga benar-benar hanya akan menumpas biarawatibiarawati tua sebaliknya membiarkan hidup biarawati-biarawati muda belia untuk kemudian akan dilalap dirusak kehormatannya!
Ketika hampir separoh dari biarawati angkatan tua menemui ajalnya, ketika lantai diruangan terbuka itu sudah licin dan amis oleh baunya darah maka Supit Jagat segera membentak. Dia tak mau lebih banyak
jatuh korban dipihaknya! “Semuanya mundur!”
Perintah yang laksana geledek ini dipatuhi oleh setiap biarawati. Semuanya mundur ke tepi dan di tengah ruangan besar itu kini hanya Ketua Biara serta Pendekar Pemetik Bunga saja yang berdiri berhadaphadapan dalam jarak delapan tombak. Di lantai bertebaran belasan tubuh
biarawati-biarawati tua yang telah menemui ajalnya!
“Kebinatanganmu sudah lebih dari binatang! Kebejatanmu sudah melewati batas! Kebiadabanmu seluas luatan! Dosamu setinggi gunung!
Segera keluarkan senjatamu, manusia terkutuk!”
Pendekar Pemetik Bunga menyeringai.
“Rupanya Ketua Biara sendiri yang hendak turun tangan?! Bagus!” ujar Pendekar Pemetik Bunga. “Tapi kalau tadi aku dikeroyok puluhan bergundal-bergundalmu aku hanya bertangan kosong, masakan menghadapi kau seorang diri musti pakai senjata segala?!”
“Kau akan binasa bersama kecongkakanmu manusia dajal!” Marah sekali Ketua Biara Pensuci Jagat itu. Maka pada saat itu juga dikeluarkannya senjatanya yaitu seikat sapu lidi yang bernama Sapu Jagat,
warisan dari Ketua Biara yang terdahulu!
Melihat senjata yang dikeluarkan lawannya adalah seikat sapu lidi
maka Pendekar pemetik Bunga tertawa memingkal!
“Nenek Ketua, kau mau menyapu atau bertempur? Sapu lidi buruk itukah senjatamu?! Lucu sekali… betul-betul lucu!” Supit Jagat maju tiga langkah.
Tiba-tiba dia sapukan sapu lidinya ke arah lawan! Pendekar Pemetik Bunga berseru kaget. Berubahlah parasnya! Angin yang ke luar dari sapu lidi itu dahsyatnya laksana badai prahara, seperti menghancur leburkan sekujur tubuhnya! Secepat kitat dia segera melompat ke samping sampai empat tombak! Tapi Ketua Biara tidak kasih kesempatan, segera pula dia memapas dengan senjatanya!
Ketika lima belas jurus dia terkurung rapat oleh sambaran Sapu Jagat yang dahsyat itu, menggeramlah Pendekar Pemetik Bunga. Pukulanpukulan “Tapak Jagat” dan kebutan “Angin Pengap” tepi jubahnya sama
sekali tidak mempan menerobos gulungan angin sapu lidi lawan!
Pada jurus kedua puluh satu Pendekar Pemetik Bunga memekik tertahan sewaktu ujung sapu menyerempet dadanya dan membuat jubah
hitamnya robek besar!
Tidak tunggu lebih lama Pendekar Pemetik Bunga segera cabut kembang kertas kuning yang menancap di kepalanya. “Semua tutup jalan nafas atau ke luar dari sini!” teriak Supit Jagat karena dia maklum bahwa kembang kertas itu mengandung racun yang sangat dahsyat! Biarawatibiarawati angkatan muda segera tinggalkan ruangan sedang biarawati-
biarawati angkatan tua tetap di tempat.
Pertempuran kini telah berjalan tiga puluh empat jurus dan yang memengkalkan Pendekar Pemetik Bunga ialah racun kuning yang setiap detik menggebu ke luar dari bunga kertasnya sama sekali tidak sanggup menerobos angin sapu lidi sang ketua Biara malahan kalau dia tidak berhati-hati, racun bunga kertas itu sering kali dihantam membalik ke dirinya sendiri!
Di saat pertempuran berjalan semakin dahsyat, di saat tubuh kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang yang dibungkus oleh sinar kuning serta lingkaran-lingkaran angin Sapu Jagat maka tiba-tiba terdengarlah suara siulan siulan nyaring yang tak menentu yang kemudian
disusul oleh suara nyanyian seseorang!
Hanya biarawati-biarawati di tepi kalangan pertempuran yang berani mendongak ke atas, ke arah datangnya suara nyanyian itu sedang mereka yang bertempur meskipun hati masing-masing tercekat mendengar
nyanyian ini namun tiada berani palingkan muka!
Anak laki-laki hamil dalam perut perempuan
Itu namanya anugerah Tuhan
Anak laki-laki lahir dari rahim perempuan
Itu namanya kuasa Tuhan
Anak laki-laki dibesarkan perempuan Itu namanya kasih sayang
Laki membunuh perempuan
Itu namanya dosa besar
Laki-laki memperkosa perempuan Itu namanya terkutuk
Menuntut ilmu buat kebaikan
Itu namanya bijaksana
Menuntut ilmu buat kejahatan Itu namanya kesetanan
Dua tahun turun gunung
Malang melintang kelantang keluntung
Di timur membunuh
Di barat memperkosa
Di selatan membunuh dan memperkosa Di utara memperkosa dan membunuh
Dosa setinggi gunung
Dosa di mana-mana
Kejahatan sedalam lautan
Kejahatan dimana-mana
Guru sendiri turun gunung
Dibunuh dengan kepala dingin
Itu namanya laknat kualat
Pendekar Pemetik Bunga yang merasa bahwa nyanyian itu ditujukan kepadanya mengerling sekilas dan di atas loteng yang bobol dari mana dia menerobos masuk tadi dilihatnya dua orang duduk berjuntai di atas tiang palang. Yang seorang laki-laki berpakaian putih, dialah yang menyanyi tadi.
Yang seorang lagi gadis cantik berpakaian kuning!
Biarawati-biarawati yang ada di tepi ruangan yang juga melihat ke atas loteng segera mengenali pemuda yang bernyanyi itu yakni bukan lain daripada Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Karenanya mereka tidak ambil perduli. Sementara itu dari kalangan pertempuran terdengar lagi pekik Pendekar Pemetik Bunga. Ujung Sapu Jagat telah melanda untuk kedua kalinya bagian dada, sehingga jubah yang sudah robek kini robek tambah besar. Kulit dada pemuda itu sendiri kelihatan
tergurat merah, sakitnya bukan main!
Di atas loteng Sekar yanp sudah sejak tadi tak dapat menahan melompat turun, tapi lengannya dicekal erat-erat oleh Wiro Sableng.
“Jangan bodoh! Jika kau mengetengahi pertempuran itu salah-salah kau bisa kena gebuk sapu Ketua Biara atau kena tersambar racun jahat bunga kertas Pendekar Pemetik Bunga!”
“Aku tidak takut mati! Biar mati asalkan pemuda terkutuk itu
mampus ditanganku!”
Sekar hendak melompat lagi tapi lengannya tetap dicekal Pendekar 212 dan Wiro tak perdulikan rutukan yang dikeluarkan gadis itu.
“Lihat saja dulu, Sekar! Sekarang belum saatnya kita turun tangan!”
‘Tapi kalau bangsat itu mampus di tangan Ketua Biara. Aku akan menyesal percuma seumur hidup!”
Wiro tertawa.
“Pendekar Terkutuk itu belum keluarkan ilmu simpanannya, jangankan si Ketua, guru Ketua Biara itupun tak bakal sanggup
menghadapinya!”
Sekar ingat akan ucapan Empu Tumapel yaitu tentang ilmu “Jari
Penghancur Sukma” yang dimiliki Pendekar Pemetik Bunga! Karenanya dia terpaksa ikuti nasihat Wiro dan tetap duduk di samping pemuda itu di atas loteng.
Pertempuran di bawah sana sudah berkecamuk enam puluh empat
jurus!
“Crass!”
Pendekar Pemetik Bunga lompat ke luar dari kalangan pertempuran sewaktu sapu lidi senjata lawan membabat putus tangkai bunga kertas
sedang bunganya sendiri robek-robek bertaburan!
“He… he… he… bersiaplah untuk menghadap setan kuburan pemuda terkutuk!” kata Ketua Biara Pensuci Jagat pula. Pendekar Pemetik Bunga, yang biasanya menyahuti setiap ejekan lawannya dengan beringas kini bungkam seribu bahasa. Bola matanya bersinar tapi kelopak matanya kelihatan menyipit dan mencekung sedang tampangnya buas dan mulutnya berkemik! Dia berdiri di tengah ruangan dengan sepasang kaki merenggang.
Tiba-tiba kelihatanlah ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya memancarkan sinar hitam! Pendekar 212 yang berada di atas loteng tersentak kaget dan berseru keras.
“Ketua Biara Pensuci Jagat! Lekas menghindar! Kau tak bakal sanggup menghadapi ilmu Jari Penghancur Sukma itu!” Tapi Supit Jagat tidak ambil peduli. Malah dengan tubuh laksana gunung karang dia tetap berdiri di tempat dan kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke sapu lidi di tangan kanan!
Ibu jari dan jari telunjuk Pendekar Pemetik Bunga mulai membentuk
lingkaran. Sinar hitam jari-jari itu menggidikkan.
“Ketua Biara, lekas menghindar!” seru Wiro sekali lagi. Namun tetap Supit Jagat tidak bergerak dan hadapi lawannya dengan penuh ketabahan!
“Edan betul!” teriak Wiro Sableng!
Pendekar 212 bersuit nyaring. Tak seorangpun yang melihat kalau tangannya sebelah kanan saat itu sudah berubah menjadi putih laksana
perak menyilaukan!
Di lain kejap Pendekar Pcmetik Bunga jentikkan jari telunjuknya. Dihadapannya Supit Jagat hantamkan pula sapu lidinya dalam satu jurus tusukan yang dahsyat!
Larikan sinar hitam yang dahsyat menggidikkan menggebu ke arah Supit Jagat. Sinar hitam ini dipapasi oleh angin membadai yang berwarna putih agak kelabu dari sapu sang Ketua Biara! Hebatnya, sebelum dua sinar maut itu sama-sama berbenturan, dari atas loteng satu sinar putih yang panas dan sangat menyilaukan memapak di tengah-tengah kedua sinar tadi!
Itulah Pukulan Sinar Matahari yang telah dilancarkan oleh pendekar
212 dari atas loteng!
Tiga dentuman yang berkumandang secara serentak menggetarkan bumi. Dunia laksana mau kiamat! Dinding-dinding ruangan pecah-pecah, banyak yang ambruk! Tiang-tiang gedung biara beberapa diantaranya runtuh bergemuruh! Loteng amblas! Biarawati-biarawati yang ada di dalam gedung segera berlompatan ke luar termasuk Pendekar Pemetik Bunga dan Supit Jagat, Wiro Sableng sendiri sabelumnya telah melesat meninggalkan loteng bersama Sekar. Sewaktu kedua orang ini sampai di halaman muka, keduanya mendapatkan Ketua Biara dan Pendekar Pemetik Bungs telah
berhadap-hadapan kembali!
Diam-diam Pendekar 212 berunding dengan Sekar. Kemudian Wiro berseru, “Ketua Biara, harap kau suka memberi kesempatan padaku untuk
turun tangan menjajal pemuda yang katanya berilmu setinggi gunung
sedalam lautan dan congkak ini!”
Supit Jagat setelah melihat kehebatan ilmu Jari Penghancur Sukma lawannya menyadari bahwa dia tak akan sanggup menghadapi Pendekar Pemetik Bunga! Seruan Pendekar 212 tadi adalah kesempatan yang paling
baik baginya untuk mengundurkan diri tanpa kehilangan muka.
“Pendekar 212, jika kau memang punya urusan tertentu dengan
manusia keparat ini silahkan maju!”
“Licik!” teriak Pendekar Pemetik Bunga. Matanya beringas memandangi Wiro Sabhng.
Pendekar 212 sebaliknya tertawa mengejek!
“Dalam kamus kehidupanmu, rupanya kau masih kenal arti kata licik heh? Apakah kau juga tahu apa artinya kebejatan? Apa arti terkutuk
dan apa arti kualat serta dosa?!”
Merah padam paras Pendekar Pemetik Bunga!
“Kunyuk bermuka manusia, kau siapa? Apa kepentinganmu
mencampuri urusan orang lain?!”
“Apa kepentinganku? Banyak… banyak sekali sobat! Kau bisa tanya nanti pada iblis-iblis penjaga kubur atau setan-setan di neraka…” Habis
berkata begini Wiro Sableng tertawa bekekekan.
“Anjing kurap yang tak tahu diri, makan jariku ini!” Sinar hitam berkiblat melanda Wiro Sableng!
Pendekar 212 yang sudah punya rencana tersendiri tidak memapasi serangan lawan dengan seluruh tenaga dalamnya. Dia tak ingin manusia terkutuk itu mati dalam tempo singkat!
Sambil lancarkan pukulan sinar matahari dia melompat setinggi enam tombak. Dari bawah Pendekar Pemetik Bunga kebutkan lengan jubahnya! Dua lusin bola-bola hitam menderu ke arah Wiro Sableng. Yang diserang menyambut dengan pukulan “Benteng Topan Melanda Samudera.” Dua
puluh empat bola-bola hitam itu meledak dan udara tertutup kabut hitam!
Pendekar 212 yang tahu maksud licik lawannya, begitu kabut hitam menutupi pemandangan segera jungkir balik dua kali berturut-turut. Bila dalam sekejapan mata kemudian dia sudah ke luar dari kabut hitam itu maka kelihatanlah Pendekar Pemetik Bunga melarikan diri ke arah pintu gerbang biara. Lima orang biarawati yang menjaga pintu itu sekali jentikan jari saja segera dibikin meregang nyawa oleh Pendekar Pemetik Bunga.
Pemuda ini kemudian bergerak cepat menekan tombol rahasia pembuka
pintu. Tapi Pendekar 212 tahu-tahu menghadang dihadapannya!
“Mau lari ke mana sobat?!” bentak Wiro Sableng.
Sebenarnya Pendekar Pemetik Bunga bukanlah seorang pengecut. Namun melihat ilmu “Jari Penghancur Sukma” yang dilancarkan terhadap
Wiro Sableng tiada mempan sama sekali maka lumerlah nyalinya!
Kegusaran membuat Pendekar Pemetik Bunga menjadi kalap, apalagi dalam keadaan kepepet begitu rupa. Dia menyerbu membabi buta! Tangan kiri mengebutkan sabuk mutiara sedang tangan kanan kembali lancarkan
ilmu “Jari Penghancur Sukma”
Wiro tetap tak mau sambuti serangan dahsyat itu dengan kekerasan. Dia jatuhkan diri ke tanah, bergulingling cepat mendekati lawan sebelum larikan sinar hitam menyerempet tubuhnya untuk kemudian tahu-tahu dia
sudah berada di belakang Pendekar Pemetik Bunga!
Pendekar Pemetik Burga membalikkan badan secepat kilat. Tapi begitu tubuhnya berbalik, begitu dua ujung jari melanda urat besar dipangkal lehernya! Tak ampun lagi pemuda terkutuk ini menjadi kaku tegang tubuhnya!
“He… he…. Apakah kini kau bisa jual tampang pamerkan segala ilmu
silat dan kesaktianmu, manusia terkutuk?!” ejek Wiro Sableng.
“Bangsat rendah! Kelak kau akan rasakan pembalasanku…!”
Sementara itu Sekar yang melihat musuh besarnya berada dalam
keadaan tertotok segera datang berlari dan keluarkan Rantai Petaka Bumi.
“Manusia bermuka iblis! Hari ini lunaslah hutang jiwa orang tua dan
adikku!”
“Wuut!”
Rantai baja dengan bola baja berduri menderu ke arah kepala Pendekar Pemetik Bunga! Pendekar ini membeliak besar kedua matanya, keringat dingin berbutir-butir di keningnya! Dari mulutnya ke luar jerit
ketakutan setinggi langit!
Sesaat lagi bola berduri itu akan menghantam hancur remukan kepala Pendekar Pemetik Bunga, satu tangan memukul ke depan dan bola berduri lewat setengah jengkal di alas kepala si pemuda yang sudah
ketakutan setengah mati.
“Wiro! Apa-apan kau?!” sentak Sekar karena Wiro-lah yang membuat
serangan mautnya tak mengenai sasaran!
“Jangan bodoh, Sekar! Mati dalam tempo yang singkat terlalu enak
buat manusia macam dia!” Wiro berpaling pada Ketua Biara Pensuci Jagat dan beberapa biarawati yang ada di situ. “Bukankah demikian?” ujarnya. Supit Jagat tertawa mengekeh.
“Kita jebloskan saja dia ke dalam sumur binatang berbisa!”, mengusulkan Supit Jagat.
Wiro tertawa dan gelengkan kepala.
Dipegangnya dagu Pendekar Pemetik Bunga lalu tanyanya, “Sobat, apakah kau pernah memikirkan bagaimana sakitnya sekujur
tubuhmu bila jalan darahmu menyungsang terbalik?!”
Pucat pasilah muka Pendekar Pemetik Bunga.
“Demi Tuhan, aku minta agar dibebaskan! Aku bertobat. Betulbetul tobat…! Aku betul-betul tobat…! Aku mohon keadilan!” kata Pendekar Pemetik Bunga. Kepalanya dipalingkan pada Supit Jagat, mohon belas kasihan. Dan saat itu dia mulai menangis merengek-
rengek macam anak kecil!
“Kau mohon keadilan dan mohon pengampunan?” tanya Supit Jagat dengan tertawa-tawa.
“Ya, dan aku akan bertobat,” sahut Pendekar Pemetik Bunga.
“Baik, kami akan ampuni kau punya jiwa. Tapi ada syaratnya!”
“Apapun syaratnya akan aku terima,” kata Pendekar Pemetik
Bunga tanpa ragu-ragu.
Ketua Biara Pensuci Jagat tertawa, “Syaratnya mudah saja.
Cungkil sendiri kau punya jantung dan serahkan padaku!” Pendekar Pemetik Bunga menangis meraung-raung minta diampuni. Matanya menjadi bengkak dan merah.
“Pendekar 212, sebaiknya lekas saja dimulai penjatuhan
hukuman atas dirinya!” kata Supit Jagat.
“Betul, makin cepat makin baik!”
Wiro membelai-belai rambut Pendekar Pemetik Bunga dengan senyum-senyum. “Kasihan.., kasihan….” katanya. Kemudian dua jari tangannya bergerak melakukan totokan di beberapa bagian tubuh Pendekar Pemetik Bunga.
Semua orang menunggu apa yang bakal terjadi. Pendekar Pemetik Bunga sudah seputih kain kafan tampangnya, keringat mengucur mulai dari kulit kepala sampai ke kaki! Mula-mula dia tak merasakan apa-apa. Tapi kemudian kepalanya terasa sampai sakit.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh! Peredaran darah dalam tubuhnya tidak normal lagi. Berdenyut membalik! Dan lolonganlolongan yang mengerikan ke luar tiada hentinya dari mulut laki-laki itu. Beberapa saat kemudian Wiro lepaskan totokan di tubuh pemuda terkutuk itu. Kini rasa sakit semakin menjadi-jadi. Dunia ini seperti menyungsang di mata Pendekar Pemetik Bunga. Dia lari sana lari sini, berteriak tak karuan, mencak-mencak, berguling di tanah! Beberapa menit berlalu darah mulai mengucur dari kedua lobang hidung, mata serta telinganya!
Wiro berpaling pada gadis baju kuning di sebelahnya “Sekar, jika kau mau turun tangan inilah saatnya. Tapi jangan bunuh dia sekaligus!”
Rahang-rahang Sekar bergemeletakkan. Dia maju satu langkah. Rantai Petaka Bumi diputar-putar. Melihat ini Pendekar Pemetik
Bunga lari jauhkan diri.
Tapi “wuutt!”
Bola baja berduri menderu.
Pendekar Pemetik Bunga berteriak. Kupingnya yang sebelah kanan putus! Darah mengucur lebih banyak. Sekali lagi bola baja itu berdesing dan kali yang kedua ini sasarannya adalah telinga sebelah kiri Pendekar Pemetik Bunga! Keganasan dendam Sekar tidak sampai di situ saja, bola bajanya menderu lagi menghantam hidung si pemuda hingga hidung itu hancur melesak dan tampang Pendekar Pemetik Bunga sungguh mengerikan untuk dipandang!
“Sudah cukup, Sekar?!” tanya Wiro Sableng.
“Belum!” jawab gadis itu pendek dan beringas. Sementara itu Pendekar Pemetik Bunga sudah terhampar di tanah dekat tembok, megap-megap dan masih menjerit-jerit! Di antara jeritan itu terdengar lagi deru bola baja berduri dua kali berturut-turut! Yang pertama menghantam tangan kanan Pendekar Pemetik Bunga, tangan yang telah puluhan kali melakukan kejahatan membunuh manusia-manusia tak berdosa! Hantaman yang kedua melanda tepat pada anggota rahasia di antara selangkangan Pendekar Pemetik Bunga yang selama dua tahun telah puluhan kali merusak kehormatan perempuan
terutama gadis-gadis berparas cantik!
Tubuh Pendekar Pemetik Bunga mengegelepar-gelepar. Nyawanya
masih belum putus, hampir diambang sekarat!
“Ketua Biara Pensuci Jagat, bagaimana dengan kau?,” tanya
Wiro.
Supit Jagat tertawa sedingin salju. Ingat dia pada orangorangnya yang telah menemui ajal di tangan pemuda itu. Dia maju
selangkah.
“Pendekar terkutuk! Apakah kau masih bias mendengar suaraku?!”
“Uh…uh..”
“Hem bagus… Meski matamu tak dapat melihat karena genangan
darah tapi dengarlah aku akan lukis parasmu seindah mungkin dengan sapu lidiku ini!”
Habis berkata demikian, Supit Jagat tusukkan ujung sapu lidinya ke muka Pendekar Pemetik Bunga! Jeritan pemuda itu terdengar lagi, tapi tidak sekeras tadi. Suaranya sudah sember dan mukanya mengerikan lebih kini! Tusukan Sapu Jagat membuat
mukanya itu laksana dipanteki dengan ratusan paku!
Pendekar Pemetik Bunga menggelepar-gelepar. Berguling ke kiri dan ke kanan, bergelimang darah serta debu. Kematiannya sungguh mengerikan. Namun mungkin itu belum seimbang dengan kejahatankejahatan yang paling terkutuk yang pernah dilakukannya selama dua tahun.
T A M A T

07.pendekar kapak maut naga geni 212 wiro sableng-tiga setan darah cambuk api angin

WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya: BASTIAN TITO
TIGA SETAN DARAH DAN CAMBUK API ANGIN
SATU
PEMUDA baju biru itu berdiri dengan gagahnya di puncak bukit. Angin dari timur bertiup melambai-lambaikan rambutnya yang gondrong menjela bahu. Sepasang matanya sejak tadi hampir tiada berkesip memandang lekat-lekat ke arah utara di mana berdiri dengan megahnya pintu gerbang Kotaraja.
Sudah hampir setengah hari dia berada di puncak bukit itu. Sudah jemu dan letih matanya memandang terus-terusan ke arah pintu gerbang. Namun manusia-manusia yang ditunggunya belum juga kelihatan muncul.
Sebetulnya dia bisa menuruni bukit itu dan langsung memasuki Kotaraja. Tapi dia ingat pesan gurunya, di Kotaraja penuh dengan hulubalang-hulubalang Baginda, bahkan tokoh-tokoh silat kelas satu pentolan-pentolan Istana, banyak orang sakti berilmu tinggi sehingga menyelesaikan perhitungan di dalam Kotaraja sama saja mencemplungkan diri ke dalam jebakan dimana dia tak mungkin lagi akan keluar. Kalaupun ada jalan ke luar maka itu ialah jalan kepada kematian!
Dia menunggu lagi.
Sekali-sekali dia memandang ke jurusan lain untuk menghilangkan kejemuan dan kelesuan matanya. Kemudian bila dia memandang pada dirinya sendiri, memperhatikan tangan kirinya yang buntung sebatas siku maka disaat itu ingatlah dia akan ucapan gurunya sewaktu dia hendak meninggalkan pertapaan.
“Hari ini kuperbolehkan kau meninggalkan tempat ini, Pranajaya. Tapi kelak dikemudian hari kau musti kembali kemari untuk menuntut satu ilmu baru yang sekarang ini kugodok. Kau pergi dari sini dan musti berhasil mencari ketiga manusia yang telah membunuh kau punya bapak…. Tempo hari aku sudah pernah terangkan. Kau masih ingat siapa nama julukan ketiga manusia itu?” “Mereka adalah Tiga Setan Darah, guru,” jawab Pranajaya. “Betul,” kata sang guru. “Ketiganya berada di Kotaraja. Sudah sejak lama kuketahui hidup di sana sabagai bergundal-bergundalnya Baginda. Tapi ingat Prana! Sekali-kali jangan selesaikan perhitunganmu dengan mereka di dalam Kotaraja. Itu barbahaya besar karena Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu yang menjadi kaki tangan
Baginda…“
“Dengan bekal ilmu yang guru, wariskan serta pedang Ekasakti yang guru berikan tak satu lawanpun yang saya takutkan di atas bumi ini. Apalagi saya tahu bahwa saya berada di atas kebenaran!” Empu Blorok tersenyum dan rangkapken kedua tangannya dimuka dada.
“Aku sedang mendengar ucapan jantanmu,” kata Empu Blorok pula. “Tapi walau bagaimanapun membuat kegaduhan di dalam Kotaraja sangat berbahaya bagi keselamatan jiwamu. Di samping itu aku mengingat pula akan tugas yang hendak kuberikan padamu. Jadi Prana, ringkas kata kau musti membereskan Tiga Setan Darah di luar Kotaraja, bagaimana caranya terserah kau.”
Sang murid manggut-manggutkan kepalanya. “Tadi guru menyebutkan satu tugas untukku… Mohon penjelasan lebih lanjut,” kata Pranajaya. “Bila perhitunganmu dengan Tiga Setan Darah telah selesai maka kau harus pergi ke Pulau Seribu Maut.”
Pranajaya tak pernah mendengar tentang pulau itu dan tidak pula tahu di mana letaknya. Maka diapun menanyakannya. “Pulau itu,” menjawab Empu Blorok, “terletak diujung timur pulau Jawa. Di situ bercokol seorang manusia bernama Bagaspati. Dulunya dia adalah kawan baikku. Tapi kemudian mencuri sebuah senjata mustikaku dan melarikan diri. Dengan senjata mustika itu dia membuat keonaran di mana-mana dan berbuat kejahatan! Kau harus mengambil senjata muutika itu kembali dari tangannya Pranajaya. KaIau dia banyak rewel, kau tahu apa, yang musti dilakukan!”
“Baik guru,” kata Pranajaya lalu tanyanya. “Senjata apakah yang telah dicuri oleh Bagaspati itu?”
“Sebuah cambuk, Prana. Cambuk Api Angin namanya!”
“Tugas dari guru akan aku jalankan. Mohon doa restu,” kata Pranajaya.
Ketika dia hendak pamitan Empu Blorok berkata, “Tunggu sebentar Prana. Masih ada yang hendak kuterangkan padamu.”
”Soal apa guru?.”
“Soal dirimu. Kau lihat tangan kirimu yang buntung itu…?” Prana memperhatikan tangan kirinya lalu mengangguk. Aneh terasa baginya kalau saat itu gurunya bicara soal tangan itu, padahal sudah sejak belasan tahun dia berada bersama Empu Blorok dan sang guru tak pernah bicara apa-apa soal tangannya yang buntung itu. “Waktu bapakmu dibunuh,” berkata Empu Blorok. “Dia sedang tidur di atas balai-balai di sampingmu. Tiga Setan Darah menyerbu masuk dan salah seorang diantara mereka segera membacokkan sebilah pedang! Bapakmu seorang yang berilmu tinggi. Begitu dia merasakan sambaran angin senjata maut itu dia segera melompat. Dia berhasil mengelakkan bacokan pedang namun akibatnya ujung pedang terus menyambar lenganmu dan membabat putus sikumu. Kau saat itu masih orok, Prana…
Bapakmu kemudian dikeroyok bertiga dan menemui ajalnya.
Sebelum Tiga Setan Darah mencincangmu, kakakku Empu Krapel berhasil menyelamatkanmu dan menyerahkanmu kepadaku. Sayang kakakku itu sudah menutup mata, kalau tidak tentu dia gembira melihat kau sudah dewasa dan gagah begini!”
Pranajaya terdiam seketika. Dendam membara di lubuk hatinya. Lalu tanyanya. “Yang manakah diantara Tiga Setan Darah yang telah membacok bapakku sewaktu beliau sedang tidur itu. Empu…?”
“Aku kurang tahu, Prana” sahut Empu Blorok.
“Keterangan kakakkku waktu membawa kau ke sini kurang jelas.”
Karena tak ada lagi yang akan dibicarakan maka Pranajaya berkata, ”Murid minta diri, guru. Muhon, doa restumu….”
Empu Blorok mengangguk. Dipandanginya muridnya itu sambil akhirnya Pranajaya hilang dikejauhan.
Pranajaya memandang lagi untuk kesekian kalinya ke arah pintu gerbang Kotaraja. Suasana tidak berubah seperti tadi-tadi. Dua pengawal berdiri di sisi-sisi pintu gerbang, masing-masing memegang sebatang tombak. Tak ada yang lalu lalang. Pintu gerbang itu diselimuti kesunyian.
“Sampai berapa lama lagi aku musti menunggu?” tanya Pranajaya pada dirinya sendiri. Hatinya kesal. Sebenarnya dia tidak takut memasuki Kotaraja untuk lekas-lekas membuat perhitungan dengan Tiga Setan Darah. Malah ini adalah satu permulaaan baginya untuk menjajaki sampai di mana ketinggian ilmu silat dan kesaktiannya ysng dimilikinya serta sampai di mana pula kehebatan tokoh-tokoh silat di Kotaraja itu! Namun dia musti patuh pada pesan gurunya dan tidak boleh bertindak gegabah. Empu Blorok lebih berpemandangan luas. Dan dia musti menunggu terus. Manunggu sampai Tiga Setan Darah keluar dari pintu gerbang Kotaraja.
Menurut keterangan yang didapat Pranajaya dari seorang pengawal istana yang disogoknya dengan sekeping emas, hari itu Tiga Setan Darah akan meninggalkan Kotaraja, pergi ke satu tempat di selatan untuk satu keperluan penting. Atau mungkin pengawal istana itu telah menjual keterangan dusta kepadanya? Letih berdiri akhirnya Pranajaya duduk di tanah, bersandar ke sebatang pohon. Sepasang matanya senantiasa ditujukan ke pintu gerbang Kotaraja itu.
SEMENTARA itu di Kotaraja ……….
Orang itu berdiri di halaman belakang istana. Dia telah menyelidik ke kandang kuda dan tiga ekor kuda yang kulit serta bulu tengkuk dan ekornya dicelup merah telah dilihatnya di dalam kandang kuda istana yang besar itu. Hatinya lega. Ini satu pertanda bahwa Tiga Setan Darah masih berada di dalam istana. Orang ini menunggu siambil membayangkan hadiah apa yang kira-kira bakal diberikan Tiga Setan darah kepadanya kelak.
Dua pengawal di pintu belakang Istana menjura hormat sewaktu tiga orang berjubah merah, berambut dan bermuka yang dicat merah melewati pintu itu, melangkah cepat menuju kandang kuda.
Orang laki-laki tadi segera mendekati Tiga Setan Darah. Setelah menjura dia berkata, “Bolehkah aku bicara dengan kalian…?”
Tiga Setan Darah yang paling tua menghentikan langkahnya dan hendak mendamprat. Saat itu bersama dua orang kawannya dia hendak berangkat untuk satu urusan panting tapi kini ada seseorang yang mengganggu. Ini sangat menggusarkannya. Sewaktu melihat bahwa laki-laki yang berkata tadi itu adalah seorang pengawal Istana yang dikenalnya, Tiga Setan Darah tertua ini surut jugs sedikit amarahnya.
“Ada perlu apa kau?!” tanyanya kasar.
“Ada keterangan panting yang bakal kusampaiken Tiga
Setan Darah.”
“Hemm… Coba katakan cepat,” kata Setan Darah tertua sambil mengerling pada dua orang kawannya. “Seorang asing hendak berbuat jahat tarhadap kalian bertiga….”
“Hah… apa?!”
“Malam tadi aku tengah makan di kedai,” menuturkan pegawai Istana itu. Namanya Camar Pawang. “Lalu ada seorang asing mendekatiku dan berkata jika aku bisa kasih keterangan tentang Tiga Setan Darah dia akan memberikan hadiah sekeping emas. Aku segera maklum bahwa orang asing itu bukan bermaksud baik-baik terhadap kalian bertiga. Kuambil emas itu dan kuberikan sedikit keterangan kepadanya. Keterangan palsu!”
“Apa yang itu orang asing tanya dan apa yang kau terangkan padanya?” tanya Tiga Setan Darah kedua. “Dia tanya kalau-kalau aku tahu bila kalian bertiga meninggalkan Istana dan keluar dari Kotaraja.” “Apa, jawabmu?” tanya Setan Darah Ketiga. “Kuberikan keterangan dusta. Kukatakan bahwa Tiga Setan Darah hari ini akan pergi ke satu tempat di selatan untuk satu urusan penting…“
Setan Darah pertama melototkan mata. Saat itu dia dan kawan-kawannya memang hendak berangkat ke satu tempat untuk menjalankan tugas Baginda, tapi bukan ke selatan melainkan ke daerah barat Kotaraja.
“Aku tidak percaya!” kata Setan Darah pertama, “Coba, mana emas itu, aku mau Iihat!”
Camar Pawang mengeruk sakunya dan mengeluarkan sekeping kecil emas yang diterimanya dari orang asing itu. Setan Darah pertama mengambil kepingan emas itu, memperhatikannya lalu sambil menimang-nimang emas itu dia bertanya, “Bagaimana ciri-ciri orang asing itu?!” “Dia masih muda, Tampangnya cakap, berbaju biru dan tangan kirinya buntung. Di balik baju birunya, di sebelah punggung menyembul ujung gagang pedang….”
“Hem…” Setan Darah pertama menggumam. Dia anggukanggukkan kepala beberapa kali. “Ada lagi yang hendak kau katakana?”
Camar Pawang menggeleng.
“Kalau begitu kau tunggu apa lagi?! Cepat berlalu dari hadapan kami!” bentak Setan Darah pertama.
Camar Pawang mundur satu langkah dan memandang pada kepingan emas yang masih ditimang-timang Setan Darah Pertama.
“Emas itu..,” kata Camar Pawang.
“Emas bapak moyangmu!” semprot Setan Darah Kedua, “Sudah untung kau tidak kami gebuk, masih mau minta emas! Pergi!” Camar Pawang memandang pada Setan Darah Pertama. Manusia bermuka merah ini tertawa mengekeh daw membalikkan badannya sambil memasukkan kepingan emas ke dalam saku jubahnya.
Camar Pawang menelan ludah. Sudah dibayangkannya dia bakal mendapat hadiah dari Tiga Setan Darah, tapi malah emas yang diterimanya dari si orang asing kini diambil oleh manusia bermuka merah itu! Camar Pawang menyumpah habis-habisan dalam hatinya dan meninggalkan tempat itu.
Di depan pintu kandang kuda, Setan Darah Pertama hentikan langkah dan bertanya pada kedua orang kawannya.
“Apa pendapat kalian?” tanyanya.
Setan Darah kedua mengusap dagunya lalu berkata, “Jika keterangan kunyuk kepala dua itu betul pastilah orang asing itu menunggu kita di satu tempat di daerah selatan…”
“Aku merasa heran juga,” membuka mulut Setan Darah Ketiga, “seingatku kita tak pernah bikin urusan dengan seorang pemuda bertangan buntung. Apa maksud manusia itu mencari keterangan tentang kita sebenarnya?”
Setan Darah Pertama merenung sejenak. “Kalau mau, kita masih ada waktu untuk menyelidik ke selatan.” Dua orang kawannya menyetujui hal itu. Ketiganya segera mengambit kudanya masingmasing.
— == 0O0 == —
DUA
ANGIN dari timur bertiup lagi melambai-lambaikan rambut dan lengan kiri baju biru yang dikenakan Pranajaya. Bila untuk kesekian kalinya pemuda ini memandang lagi ke arah utara maka membesilah parasnya. Air muka dan hatinya menjadi tegang. Tiga penunggang kuda kelihatan ke luar dari pintu gerbang Kotaraja. Kuda-kuda dan penunggangnya berwarna merah. Meski jauh sekali, namun melihat kepada jumlah penunggang-penunggang kuda itu dan melihat kepada warna pakaian mereka, Prana segera maklum bahwa mereka bukan lain daripada Tiga Setan Darah yang memang sedang dittunggutunggunya sejak tadi! Tiga manusia yang telah membunuh ayahnya!
Waktu penantian berakhir sudah! Saat pembalasan kini tiba!
Tanpa menunggu lebih lama Pranajaya segera berdiri. Kemudian sekali dia gerakkan kedua kakinya, maka pemnda ini sudah lenyap dari puncak bukit. Tubuhnya laksana angin topan berlari kencang menuruni lereng bukit ke arah liku jalan yang kelak bakal dilalui Tiga Setan Darah. Demikian cepat larinya hingga kedua kakinya laksana tak pernah menginjak bumi! ltu adalah berkat ilmu lari dan ilmu mengentengi tubuh hebat yang telah dikuasainya!
Pranajaya sampai diliku jalan lebih dahulu dari Tiga Setan
Darah. Pemuda ini menunggu dengan hati tegang tapi tetap tenang.
Dia maklum Tiga Setan Darah manusia-manusia berilmu tinggi
karenanya dia tidak boleh bertindak ceroboh. Suara derap kaki kuda terdengar semakin dekat akhirnya muncullah penunggangpenunggang kuda itu satu derni satu di tikungan jalan.
“Berhenti!”teriak Pranajaya sambil angkat tangan kanannya. Tiga Setan Darah sama-sama hentikan kuda masingmasing dan memandang menyorot pada pemuda yang berdiri di tengah jalan dihadapan mereka. Keterangan Camar Pawang tidak dusta. Benar pemuda yang diterangkan ciri-cirinya itulah yang saat ini menghadang mereka. Parasnya cakap, rambut gondrong, berpakaian biru dan tangan kirinya buntung sebatas siku sedang dibalik punggurig kelihatan menyembul gagang pedang.
“Pemuda tangan bunting!,” kata Setan Darah pertama dengan suara keras. “Apa-apaan ini?!”
Pranajaya menyapu tampang-tampang ketiga manusia itu. Lalu tanyanya dengan membentak, “Kalian Tiga Setan Darah?!” Prana bertanya untuk meyakinkan.
“Sompret!” maki Setan Darah Kedua. “Sipa kau yang berani menghalangi perjalanan kami! Apa sudah bosan hidup?!” “Aku Pranajaya!” memberitahu si pemuda. Setan Darah tertua menyeringai dan mengeluarkan suara mengekeh. “Orang muda, kami memang Tiga Setan Darah yang terkenal itu. Ada maksud apa kau menghadang kami! Dari pegawai Istana yang kau sogok dengan sekeping emas itu kami mendapat keterangan yang kau mau cari urusan! Apa betul!”
Sebelum Pranajaya menjawab, Setan Darah Ketiga sudah membuka mulut, “Orang hina! Lekas angkat kaki dari sini sebelum kupuntir kepalamu!”
“Rupanya dia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa..!” kata Setan Darah Kedua.
Pranajaya berdiri dengan sepasang kaki terkembang. Sinar di matanya semakin menyorot sedang di air mukanya membayangkan kebencian dan dendam yang meluap! “Tiga Setan Darah! Kalian tentunya betum melupakan peristiwa beberapa belas tahun yang silam. Ingat waktu kalian mengeroyok dan membunuh secara pengecut seorang bernama
Wijaya?! ”
Tentu saja Tiga Setan Darah terkejut. Ketiganya saling mengerling kemudian Setan Darah Ketiga menjawab, “Manusia buntung, kami masih ingat. Apa sangkut pautmu dengan peristiwa itu?!”
“Aku adalah anak orang yang kau bunuh itu!” jawab Pranajaya tanpa tedeng aling-aling.
“Oh… begitu?!,” desis Setan Darah Pertama. “Kawan-kawan!” seru Setan Darah Kedua, “tentunya pemuda buruk ini adalah bayi yang kita bacok buntung tangannya dulu itu!”
“Betul!” sahut Prana. Dia maju satu langkah. “Yang mana diantara kalian yang membacokku?!”
Setan Darah Pertama tertawa bekakakan.
“Pemuda ingusan, apakah kemunculanmu kali ini hendak menuntut balas atas kematian kau punya bapak dan karena kehilangan lengan kirimu itu?!!” Pranajaya menggeleng perlahan.
“Lahtas?!” tanya Setan Darah tertua dengan heran.
“Aku datang bukan buat menuntut balas,” kata Pranajaya,
“tapi untuk, meminta jiwa busuk kalian!”
Tiga Setan Darah sama-sama tertawa membahak. “Pemuda buntung,” ejek Setan Darah kedua, “kau mimpi di siang bolong!”
Setan Darah Pertama menimpali, “Bapakmu Yang punya dua tangan kami bikin mampus! Kau yang punya satu mau jual tampang!”
Setan Darah Ketiga tidak tinggal diam “Mungkin kau kepingin cepat-cepat ketemu bapakmu di neraka?” tanyanya.
Dan ketiga manusia bermuka merah itu tertawa lagi terbahakbahak.
“Manusia-manusia muka kepiting rebus,” sentak Pranajaya dengan geram, ”silahkan turun dari kuda kalian. Atau mungkin kalian mau mampus di atas kuda masing masing”?
Merahlah Tiga Setan Darah mendengar ucapan Pranajaya itu Setan Darah Pertama kebutkan lengan jarbah sebelah kanan. Serangkum sinar merah menyarnbar dahsyat ke arah Pranajaya. Pasir dan debu jalanan beterbangan saking hebatnya serangan ini.
Pranajaya cepat menghindar ke samping dan begitu sinar merah lewat di sebelahnya segera pula pemuda ini hantamkan tinju kanannya ke arah Setan Darah Pertama. Satu gelombang angin yang padat dan keras menggumpal menyerang ke arah tenggorokan Setan
Darah pertama. Ini adalah pukulan “angin sewu”
Setan Darah pertama tidak mengelak sebaliknya tetap berdiri di tempat dan lambaikan tepi jubah sebelah kiri. Sekali pukul saja maka buyarlah angin pukulan jarak jauh Pranajaya! Tapi betapa kagetnya si muka merah ini karena begitu buyar, buyaran angin pukulan itu kembali menyerangnya. Malah kini lebih dahsyat lagi dari yang pertama tadi karena kali ini pecahan angin pukulan itu sekaligus menyerang ke arah dua belas jalan darah yang mematikan ditubuhnya!
Setan Darah Pertama berseru nyaring lalu melompat tiga tombak ke udara. Laksana seekor alap-alap tubuhpya menukik ke arah Pranajaya dan sedetik kemudian kedua orang itu sudah berhadapan dalam jarak tiga langkah.
“Setan Darah Pertama, biar aku yang kermus pemuda keparat itu!,” teriak Setan Darah Ketiga. Setan Darah Pertama tidak ambil perduli. Dengan ganasnya dia menyerang. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menusuk ke muka.
“Makan jariku ini, laknat!” teriaknya.
Serangan ilmujari “pencungkil karang” memang hebat dan ganas. Jangankan tulang atau daging manusia, batu karang yang atos sekalipun akan berlobang dan hancur kalau ditusuk oleh sepasang jari itu! Dan kini sepasang jari itu menyerang ke mata kiri kanan Pranajaya!
Pranajaya hanya melihat lawan menggerakkan tangan kanannya sedikit dan tahu-tahu sepasang jari lawan sudah di depan hidungnya!
Pemuda ini cepat rundukkan kepala. Dia berhasii melewatkan tusukan dua jari yang berbahaya itu dan di saat yang bersamaan sekaligus pukulkan tinju kanannya ke muka!
Setan Darah Pertama melihat serangannya yang mematikan tadi dapat dilewati segera pergunakan tepi telapak tangan kanannya uatuk menghantam bahu Pranajaya!
Kedua orang itu sama-sama mempunyai kesempatan untuk
mengelak. Namun keduanya lebih menginginkan untuk meneruskan serangan masing-masing dan menghindar secara ambilan saja. Maka dalam kejap yang bersamaan tinju kanan Pranajaya melanda dada lawan sedang tepi telapak tangan kanan Setan Darah Pertama mendarat dengan kerasnya di bahu kiri Pranajaya! Kedua orang ini sama-sama mengeluh sakit. Pranajaya terguling di tanah. Setan Darah Pertama terjajar beberapa langkah ke belakang den jatuh duduk! Mukanya pucat pasi. Dadanya sakit dan serasa melesak ke dalam membuat sesak nafasnya. Cepat-cepat manusia muka merah ini bersila di tanah dan kerahkan tenaga dalamnya serta atur jalan nafas. Diam-diam dia terkejut melihat Pranajaya dapat berdiri kembali meskipun dengan tubuh termiring-miring! Pukulan telapak tangan kanannya tadi mengandalkan lebih dari separo tenaga dalamnya, tapi si pemuda masih sanggup berdiri dan masih hidup Di lain pihak Pranajaya merasakan tuang bahunya laksana patah! Badannya miring ke kiri sewaktu berdiri. Kalau saja dia tidak memiliki kekuatan tenaga dalam yang sempurna pastilah jiwanya sudah melayang! Prana memperhatikan Setan Darah Pertama yang saat itu tegak kembali dengan pandangan mata menyorotkan maut! Manusia ini ternyata memiliki ilmu yang tinggi sekali! Pukulan jotos sewu yang disangkakannya akan merenggut nyawa lawan kiranya cuma membuat manusia muka merah itu terhampar jatuh duduk di tanah!
Dua orang Setan Darah lainnya yang sudah gatal-gatal tangan mereka untuk segera turun tangan mengurung Pranajaya dari kiri kanan.
“Biar aku yang pecahkan kepala bangsat ini sendirian!” teriak Setan Darah Pertama beringas. “Ah! Kunyuk buntung ini terlalu bagus untuk mampus ditanganmu sendirian,” jawab Setan Darah
Kedua. “Biar kami bantu!”
Maka tanpa menunggu lebih lama kedua orang itu segera menyerbu. Setan Darah Pertama tidak berkata apa-apa. Meski hatinya beringas tapi dia memaklumi dan melihat kenyataan sendiri bahwa pemuda rambut gondrong berbaju biru itu tidak berilmu rendah. Karenanya sewaktu dua kawannya itu menyerbu Setan Darah Pertama diam saja.
Menghadapi tiga lawan tangguh begitu rupa membuat
Pranajaya harus bergerak dengan cepat dan berlaku lebih hati-hati. Tubuhnya hampir lenyap dalam telikungan bayangan jubah merah ketiga lawannya. Tiada terasa lima belas jurus telah berlalu. Setan Darah Pertama mengkal bukan main.
“Kawan-kawan ternyata tikus buntung ini punya ilmu yang diandalkan juga!” dia berseru. “Bagaimana kalau kita bentuk barisan tiga bayangan siluman?!”
Setan Darah yang dua orang lainnya menyetujui. Dan pada jurus yang keenam belas itu maka ketiganya segera melancarkan serangan hebat yang dinamakan barisan tiga bayangan siluman. Setan Darah Pertama setengah merunduk. Seranganserangannya selalu mengarah bagian kedua kaki lawan sedang Setan Darah Kedua menyerang bagian tengah tubuh Prana dan Setan Darah Ketiga seperti seekor burung elang melompat ke atas, menukik ke bawah dan selalu melancarkan serangan ke bagian kepala Pranajaya. Dalam setiap saat ketiganya bisa berganti tempat dan mengambil alih kedudukan masing-masing, terutama bila salah seorang dari mereka diserang oleh lawan! Begitulah, setiap Pranajaya mengelak atau menyerang salah seorang dari mereka, maka yang dua lainnya dengan cepat sekali datang memburu mengirimkan seranganserangan maut! Lima jurus pertama setelah bertempur dengan segala kehebatan yang ada maka sedikit demi sedikit mulai kendurlah perlawanan Pranajaya. Pemuda bertangan satu itu kini bertahan mati-matian, namun tetap dia terkurung rapat dan terdesak hebat! Tiba-tiba Prana ingat pedang dipunggungnya. Dia adalah seorang pemuda berhati jantan kesatria, yang akan menghadapi lawan bertangan kosong dengan tangan kosong pula. Namun menghadapi pengeroyokan tiga musuh besar itu, di dalam keadaan yang kepepet pula, dia merasa bahwa mencabut pedangnya saat itu bukanlah suatu tindakan yang pengecut.
Sambil berteriak, “Lihat pedang!” maka Pranajaya cabut pedangnya. Sedetik kemudian satu sinar putih menggebu membabat ketiga jurusan, membuat dengan serta merta buyarnya barisan tiga bayangan siluman!
Sambil bersurut mundur Tiga Setan Darah memperhatikan pedang Ekasakti yang memancarkan sinar putih di tangan Pranajaya. Setan Darah Kedua berbisik pada kawan-kawannya, “Heh, pedang itu pasti senjata mustika! Kita musti dapat merampasnya !” “Jangan pikir soal senjata itu dulu” jawab Setan Darah Pertama. “Yang penting tangkap bangsat ini hidup-hidup. Aku ada rencana tersendiri untuk menamatkan riwayatnya. Kalian….“ Setan Darah Pertama tidak sempat mengakhiri ucapannya. Saat itu Pranajaya sudah menyerbu. Sinar putih dari pedang bertabur ganas. Ketiga manusia itu cepat menghindar dan masing-masing mereka segera cabut senjata. Setan Darah Pertama mengeluarkan sepasang tombak bermata dua. Setan Darah Kedua mengeluarkan sepasang gada sedang Setan Darah Ketiga mengeluarkan sepasang golok. Kesemua senjata ini berwarna merah dan kesemuanya merupakan senjata-senjata mustika sakti !
Percaya akan kehebatan pedang Ekasaktinya, Pranajaya teruskan menyerang ketiga lawan itu.
Trang…. trang…. trang….!
Tiga kali pedang putih itu beradu dengan senjata-senjata lawan. Bunga api bertebaran dan Pranajaya terkesiap kaget! Senjata-senjata lawan mempunyai kehebatan yang luar biasa. Untung saja pedang Ekasakti dipegangnya erat-erat, kalau tidak dalam bentrokan tiga kali berturut-turut tadi itu pastilah senjatanya akan terlepas! Sementara itu Tiga Setan darah sudah tegak memencar. Satu lengkingan nyaring keluar dari tenggorokan Setan Darah Kedua. Maka, tiga manusia muka merah itu dengan serta merta menyerbu ke arah Pranajaya !
— == 0O0 == —
TIGA
PERTEMPURAN manusia tiga lawan satu itu, kecamukan enam senjata lawan satu pedang berlangsung penuh kehebatan dan mendebarkan. Sedikit saja seseorang membuat gerakan yang salah pastilah salah satu bagian tubuh mereka akan dimakan senjata.
Sinar merah jubah dan senjata-senjata Tiga Setan Darah bergulung-gulung membungkus tubuh dan senjata Pranajaya.
Berkali-kali pemuda ini nyaris kena tebasan golok atau tusukan tombak atau hantaman gada ketiga lawannya. Jika saja Pranajaya
tidak memiliki ilmu mengentengi tubuh yang sempurna serta kegesitan yang luar biasa, sudah sejak tadi-tadi mungkin dia akan mienjadi pecundang.
Prana berkelebat laksana bayang-bayang. Pedang putihnya membabat kian kemari dalam rangkaian jurus-jurus lihai yang dipelajarinya secara sempurna dari Empu Blorok. Sepuluh jurus telah berlalu. Kemudian lima jurus lagi dan Tiga Setan Darah masih belum sanggup membuktikan kehebatan nama baser mereka selama ini. Malah pada jurus keduapuluh satu, Setan Darah Ketiga berseru tertahan dan menyurut mundur!
Ternyata jubah merahnya robek besar disambar ujung pedang lawan! Masih untung kulit dadanya tidak kena diserempet ! “Bedebah!” rutuk iaki-laki itu. “Jangan harap kau bisa bernafas sampai tiga kali kejapan mata!” Dengan amarah yang meluap Setan Darah Ketiga memutar sepasang goloknya dalam jurus yang aneh dan menyerbu Pranajaya.
“lngat Setan Darah Ketiga!” teriak Setan Darah Pertama.
“Pemuda ini aku mau tangkap hidup-hidup!”
“Lebih bagus kalau dicincang lumat saja!” sahut Setan Darah Ketiga.
“Aku yang jadi pemimpin kalian!” teriak Setan Darah Pertama marah. “Kau harus ikut apa yang ku katakan!”
Setan Darah Ketiga menindas kemarahannya sedapat-dapatnya.
Menekan luapan amarah karena dia menyadari bahwa dia musti tunduk pada Setan Darah Pertama.
Pertempuran seru berkecamuk lagi. Agaknya kini Tiga Setan Darah telah mengeluarkan pula jurus-jurus ilmu silat mereka yang lihai dan banyak tipu-tipu liciknya. Lima jurus berlalu maka Pranajaya mulai pula terdesak.
Trang!
Pranajaya tak bisa mengelakkan peraduan senjatanya dengan senjata Setan Darah Pertama. Sebelum bunga api yang bergemerlap lenyap, sebelum murid Empu Blorok itu sempat menarik senjatanya maka sepasang gada dan golok Setan Darah lain-lainnya sudah datang menjepit pedang Ekasakti di tangan Pranajaya. Prana kerahkan tenaga dalamnya. Dengan sekuat tehaga dicobanya melepaskan pedang dari jepitan enam senjata lawan! Tapi sia-sia! Pedang Ekasakti meskipun pedang mustika namun tiada berdaya di jepit oleh enam senjata mustika lawan! Pedang itu laksana lengket. Prana keluar keringat dingin. Dia tahu, tak ada jalan lain baginya kecuali melepaskan pedangnya pada gagang pedang, menyerahkan bulat-bulat senjatanya ke tangan lawan!
Setan Darah Pertama tertawa mengekeh.
“Sekarang kau baru tahu siapa kami hah?!”
“Tikus buntung hendak bernyali besar beginilah jadinya!” ejek Setan Darah Ketiga.
Tiba tiba, tiada terduga dengan bergantungan pada gagang pedang yang dijepit lawan, tubuh Pranajaya melesat ke muka. Kaki kanannya menendang dan karena tidak menyangka, Setan Darah Pertama tidak keburu menghindar!
Setan Darah Pertama mengeluh tinggi.
Tubuhnya mencelat beberapa tombak, terguling di tanah. Dua tulang iganya telah patah dilanda tendangan Pranajaya! “Anjing buduk!” maki Setan Darah Kedua begitu melihat kawannya kena dihantam lawan. Tanpa menunggu lebih lama manusia ini segera hantamkan gagang gadanya yang di tangan kanan ke pangkal leher. Ini adalah satu totokan yang dahsyat. Karena tak keburu menghindar tak ampun lagi Pranajaya rebah ke tanah dalam keadaan tubuh kaku laksana patung!
Setan Darah Pertama melangkah tertatih-tatih ke hadapan Pranajaya.
“Bagaimana lukamu?” tanya Setan Darah Kedua.
“Bangsat ini telah mematahkan dua tulang igaku,” jawab Setan Darah Pertama setengah menggeram. “Detik ini juga dia akan terima balasannya!”
Habis berkata begitu Setan Darah Pertama lancarkan satu tendangan ke arah tulang rusuk Pranajaya. Pemuda ini menggelinding beberapa tombak jauhnya. Tiga tulang iganya patah! Meski tubuhnya tertotok tiada berdaya namun perasaan masih tetap ada dan mulutnya masih bisa mengeluarkan suara erangan kesakitan!
Setan Darah Pertama masih belum puas.
“Ini satu lagi!” katanya dan untuk kedua kalinya.kaki kanannya mengirimkan satu tendangan. Kali ini yang jadi sasaran adalah muka Pranajaya. Pemuda ini berusaha menahan jeritan yang hendak melesat dari tenggorokannya meski bibirnya pecah, dua buah giginya patah dan hidungnya mengucurkan darah kental panas !
Setan Darah Pertama memburu lagi. Ketika dia hendak menendang sekali lagi, Setan Dareh Kedua memegang bahunya. “Kali ini dia bisa mampus! Apa kau lupa akan rencanamu sendiri?!” Setan Darah Pertama menarik pulang kaki kanannya. Dirabanya sebentar tulang rusuknya yang patah kemudian dia berteriak, “Setan Darah Ketiga, ambil tali!”
Setan Darah Ketiga melemparkan seutas tali kepada laki-laki itu.
“Pemuda edan!” kata Setan Darah Pertama sambil belutut dihadapan Pranajaya yang saat itu megap-megap. “Sebentar lagi kau akan rasakan bagaimana enaknya meluncur di tanah! Kalau tubuhmu kuat kau akan hidup sampai ke Kotaraja. Tapi kalau tidak, kau akan mampus di tengah jalan!”
Habis berkata begitu Setan Darah Pertama segera mengikat pergelangan tangan kanan Pranajaya dengan tali. Ujung tali yang lain diikatkannya ke leher kudanya.
Pranajaya keluarkan keringat dingin. Dia tahu nasib apa yang bakal diterimanya! Pemuda ini berteriak, “Setan Darah keparat! Bunuh aku sekarang juga!”
Setan Darah Pertama tertawa.
“Kau memang akan mampus, kunyuk buntung!” jawab Setan
Darah Pertama. “Akan mampus, tapi dengan cara perlahan-lahan! Sepanjang jalan menuju ke ajalmu kau dapat saksikan keindahan pemandangan daerah sekitar sini! Bukankah enak mati cara begitu?!”
Setan Darah Pertama naik ke atas kudanya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu dan memandang berkeliling. “Mana pedangnya?!” “Aku sudah ambil!” jawab Setan Darah Ketiga. “Bagus!” Setan Darah pertama tepuk pinggul kuda merahnya dengan keras. Binatang itu meloncat ke muka siap untuk berlari kencang dan menyeret tubuh Pranajaya mulai dari liku jalan itu sampai ke Kotaraja.
Namun disaat itu dari muka kelihatan berkelebat sesosok bayangan putih disertai dengan suara tertawa lantang yang bernada mengejek.
“Kekejamanmu sangat keterlaluan Tiga Setan Darah!” kata pendatang baru ini dengan membentak. Tiga Setan Darah Pertama dan kedua kawannya dengan serta merta mengehentikan kuda masing-masing. Sepasang mata Tiga Setan Darah Pertama memandang ke muka dengan menyorot. Mulutnya terkatup rapat-rapat dan kedua rahangnya mengatup menonjol!
“Cindur Rampe!” hardik Setan Darah Pertama. “Setahuku kau ada tugas di sselatan yang harus kau jalankan! Silahkan berlalu dan jangan ikut campur urusan kami!”
Cindur Rampe, seorang resi golongan hitam yang juga menjadi kaki tangan pembantu Baginda. Kekejamannya tiada banyak beda dengan Tiga Setan Darah namun antara resi ini dengan ketiga Setan Dorah sejak lama terdapat perselisihan-secara diam-diam. Perselisihan ini sebenamya adalah akibat bersaing ingin menjilat Baginda. Dalam satu pertemuan pernah Cindur Rampe menantang Tiga Setan Darah. Hampir terjadi pertempuran hebat namun tokoh-tokoh istana lainnya berhasil mencegah mereka. Namun sejak itu pula diantara mereka semakin memuncak permusuhan, laksana api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meledak!
Cindur Rampe mengelus-elus janggutnya yang pendek macam janggut kambing. Sambil sunggingkan senyum mengejak dia berkata, “Tentu pemuda malang itu akan kau seret ke Kotaraja. Semua orang akan melihat kekejamanmu. Kau akan dapat nama dan kira-kira berapa puluh ringgit pula kau akan dapat upah dari Baginda?!” Setan Darah Kedua penasaran sekali. Dia majukan kudanya satu langkah.
“Soal kekejaman kau tidak lebih baik dari kami resi muka kambing!” sentak Setan Darah Kedua.
Cindur Rampe tertawa dingin.
“Cindur Rampe, kuharap segera berlalu. Aku muak melihat tampangmu!” menyambungi Setan Darah Ketiga.
Resi itu tertawa lagi. Lalu katanya, “Aku sendiri sudah sejak lama kepingin muntah melihat mukamu yang macam kepiting rebus!” Setan Darah Pertama kertakkan geraham. “Cindur Rampe, agaknya kau sengaja mencari-cari perselisihan terbuka! Mungkin masih belum puas dengan pertengkaran dalam pertemuan tempo hari?!”
“Ah… rupanya kau masih belum lupakan hal itu!” kata Cindur
Rampe. Dia melirik sebentar pada Pranajaya yang megap-megap hampir kehabisan nafas.
“Selama matahari masih terbit di timur, selama air sungai
Masih mengalir ke laut. Tiga Setan Darah tak pernah melupakan hal itu!” “Bagus sekali jika demikian!” menyahuti Cindur Rampe.
“Kuharap di lain kesempatan kita bisa menyelesaikannya!”
Setan Darah Pertama mengekeh. “Menentang kami sama dengan menentang angin topan! Menentang Tiga Setan Darah sama dengan menentang gunung karang! Jangan terlalu pongah dan buta resi muka kambing!”
“Nama kalian memang sudah kesohor, apalagi kebejatan dan kekejaman kalian! Tapi kalau cuma cecunguk-cecungkuk macammu, sepuluh orangpun aku akan layani!” Naiklah darah Tiga Setan Darah.
“Rupanya kau mau mampus sekarang juga, resi keparat!” bentak Setan Darah Kedua. Dia melompat ke muka dan kirimkan satu serangan tangan kosong!
Cindur Rampe melompati ke samping sambil tertawa. “Jangan terlalu kesusu monyet muka merah! Ini hari aku masih ada urusan. Di lain ketika aku tak akan sungkan-sungkan lagi untuk menerabas batang lehermu dan dua kambratmu itu! Ini kukembalikan seranganmu!”
Habis berkata begitu Cindur Rampe kebutkan lengan jubahnya.
Selarik angin panas mengebu ke arah Setan Darah Kedua. Pukulan yang dilepaskan Cindur Rampe adalah pukulan ireng weliung yang kehebatannya sudah dimaklumi oleh Tiga Setan Darah.
Karenanya Setan Darah Kedua melompat dua tombak ke atas.
“Wuss !”
Angin pukulan menghantam pohon kayu di tepi jalan. Kejap itu juga batang kayu itu hangus hitam sampai ke ranting-rantingnya! Terkejutlah Tiga Setan Darah. Rupa-rupanya resi Cindur Rampe betul-betul inginkan jiwa mereka! Setan Darah pertama dan ketiga segera melompat dari kuda masing-masing, siap untuk mengeroyok resi itu. Tapi Cindur Rampe sudah berkelebat cepat dan meninggalkan tempat itu sambil berseru, “Sampai nanti Tiga Setan Darah. Kuharap kalian suka bersabar menunggu saat kematian kalian!”
“Anjing buduk! Jangan lari!” teriak Setan Darah Kedua.
Tapi Cindur Rampe sudah lenyap dari pemandangan.
Setan Darah Pertama memaki dan menyumpah nyumpah. “Lain
hari kita tak perlu kasih hati pada si muka kambing itu!,” katanya. Dia melompat kembali ke atas kudanya diikuti oleh dua orang kawan-
kawannya. Ketika kuda Setan Darah Pertama bergerak, maka tubuh Pranajaya mulai terseret. Tubuh pemuda murid Empu Blorok ini akan terseret sepanjang perjalanan menuju Kotaraja. Bila Pranajaya bernasib baik, dia akan tetap hidup sampai di Kotaraja. Jika tidak nyawanya akan lepas di tengah jalan dan dia akan menemui kematian dalam keadaan yang mengerikan.
Sampai di manakah kekuatan tubuh manusia menahan siksaan yang kejam luar biasa itu?
— == 0O0 == —
EMPAT
KALI WELANGMANUK telah dua hari yang lalu mereka
seberangi. Lembah Manukwilis di mana terletak Gedung Biara
Pensuci Jagat telah jauh di belakang mereka. Kedua orang itu Berlari dalam kecepatan yang luar biasa. Kadangkala menyeberangi kali-kali kecil, kadangkala mendaki dan menuruni bukit dan saat itu keduanya barusan saja keluar dari sebuah rimba belantara.
Matahari telah sampai ke ubun-ubun mereka tatkala keduanya sampai di satu persimpangan jalan.
Pemuda rambut gondrong hentikan larinya. Orang yang disampingnya juga melakukan hal yang sama. Ketika pemuda itu membalikkan badannya maka sepasang mata merekapun saling bertemu.
Si pemuda mengukir senyum dibibirnya dan berkata,
“Agaknya kita terpaksa berpisah di sini, Sekar.” Si gadis berpakaian ringkas kuning tidak menjawab. Kedua matanya yang bening masih balas menatap pandangan si pemuda. Dan si pemuda segera bisa memaklumi. Dari sinar mata gadis itu diketahuinya bahwa perpisahan itu merupakan satu hal yang berat bagi si gadis.
Sambil tertawa si pemuda berkata, “Di lain ketika aku berharap kita bisa bertemu loagi, Sekar.” Dia menjura sedikit dan berkata lagi, “Jangan lupa sampaikan salam hormatku pada gurutnu Empu Tumapel….“
”Wiro..,” si gadis membuka mulut untuk pertama kalinya. Suaranya perlahan, setengah berbisik. ”Kau sendiri mau terus ke manakah?” tartyanya.
“Aku… ah… Manusia macamku ini pergi membawa kakinya saja. Mengembara tiada tentu tujuan.”
“Mengembara adalah satu hal yang kucita-citakan sejak aku berhasil menuntut balas kematian ibu bapak dan saudarasaudaraku,” kata Sekar pula.
“Tapi kau musti kembali ke tempat gurumu! Kau pernah bilang waktu di tepi sungai tempo hari. Ingat…”
Sekar ingat. Dalam perjalanan mereka meninggalkan Biara Pensuci Jagat suatu malam mereka berkemah di tepi sungai yang banyak sekali ikannya. Sambil menikmati ikan panggang, mereka bicara-bicara dan Sekar telah menceritakan tentang gurunya di Goa Blabak, tentang segala hal mengenai dirinya.
Malam sejuk di tepi sungai itu tak akan pernah dilupakan oleh Sekar. Semenjak hidup, semenjak turun ke dunia luar pada malam itulah dia benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah seorang gadis. Seorang gadis yang disaat itu untuk pertama kalinya merasakan betapa indahnya berada di samping seorang pemuda. Betapa romantisnya. Dan Sekar ingat sewaktu Wiro memegang dan meremas-remas jari tangannya. Waktu, Pendekar 212 itu memeluknya, merangkulnya erat-erat dan sewaktu pemuda itu melumas bibirnya dengan ciuman yang mesra, hangat menyentak-nyentakkan darahnya! Ingat pula bagaimana dia bergayut dan tak mau melepaskan tubuh si pemuda dan seperti orang mabuk anggur mereka melakukan apa yang mereka bisa lakukan. Semuanya itu kemudian berakhir tanpa penjelasan karena semua itu dimulai dengan kesadaran yang berapi-api!
“Aku bisa menunda kembali kepertapaan,” kata Sekar
“Keberatan kalau aku ikut sama-sama dengan kau….?” Wiro Sableng tertawa. “Tentu saja tidak,” kata Pendekar Kapak
Maut Naga Geni 212 ini meskipun hatinya tidak menyetujui hal itu. “Tapi kau musti ingat Sekar. Mengembara dalam dunia persilatan bukan berarti berjalan-jalan melihat-lihat pemandangan!
Pengembaraan di dunia persilatan adalah persoalan hidup atau mati!” “Aku toh juga orang persilatan, Wiro.” “Betul. Namun kini belum masanya kau memulai
pengembaraan. Yang penting kau musti kembali ke tempat gurumu dulu.”
Sekar menggeleng.
Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya.
Kemudian katanya, “Sekar, jangan jadi anak kecil. Salah-salah kita bisa bertengkar. Aku berjanji akan menyambangimu di Goa Blabak. Nah, sekarang kau tempuh jalan yang sebelah kanan dan aku yang sebelah kiri, yang menuju ke Kotaraja.”
“Aku ikut dengan kau ke Kotaraja,” berkata Sekar.
“Busyet!” kata Wiro Sableng dalam hati dan digaruknya lagi kepalanya. “Bisa berabe Sekar. Bisa berabe!,” katanya pada gadis itu. “Gadis secantikmu ini kalau masuk ke Kotaraja pasti semua mata laki-laki akan melotot! Kalau terjadi apa-apa dengan dirimu bagaimana…?!“
“Aku tidak takut,” kata gadis sembilan belas tahun itu. Wiro menghela nafas dalam dan angkat bahu. “Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu! Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan kau…”
“Kalau kita tidak berbuat kejahatan kenapa musti takut masuk ke Kotaraja?,” ujar si gadis. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi dia melangkah memasuki jalan sebalah kiri.
Wiro Sableng geleng-gelengkan kepalanya. Segera dia hendak berlalu dari persimpangan jalan itu menempuh jalan sebelah kanan. Tapi hatinya menjadi bimbang. Dipandangnya punggung Sekar. Gadis itu melangkah dengan langkah tetap bahkan kini mulai berlari. Wiro Sableng akhirnya membalikkan langkah dan berlari menyusul Sekar.
PENDEKAR 212 dan Sekar baru saja keluar dari sebuah kedai sehabis mengisi perut sewaktu di jalan dihadapan mereka menderu derap kaki tiga ekor kuda merah. Tiga penunggangnya laki-laki mengenakan jubah merah, berambut panjang merah dan bermuka merah. Yang membuat kedua orang ini terkejut bukanlah karena memandang muka-muka yang aneh serta lucu itu tapi adalah sewaktu menyaksikan bagaimana dibelakang kuda yang paling depan ikut terseret sesosok tubuh laki-laki bertangan buntung! Pakaian birunya hancur robek-robek. Kulitnya mengelupas, mukanya tiada dapat dikenali lagi. Keseluruhan tubuh manusia itu bergelimang darah dan debu. Tak dapat dipastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati! “Biadab!” desis Sekar sewaktu ketiga penunggang kuda itu berlalu. “Aku tak bisa membiarkan kekejaman itu, Wiro!” Sekar segera hendak melompat ke muka dan mengejar. Tapi Wiro Sableng cepat memegang lengan gadis ini.
“Jangan bodoh, Sekar!” katanya. “Kita tidak tahu siapa tiga manusia bermuka merah itu. Juga tidak kenal siapa itu laki-laki yang diseret. Mungkin laki-laki ini seorang jahat!”
“Aku tidak yakin, justru manusia-manusia muka merah itulah yang bertampang buas kejam!”
“Aku tahu, tapi jangan bertindak gegabah, Sekar. Ini Kotaraja!” “Persetan dengan Kotaraja!” tukas si gadis.
“Sudah tak usah ngomel. Mari kita ikuti mereka!” ujar Wiro pula. Keduanya segera meninggalkan tempat itu.
Tiga penunggang kuta itu memasuki sebuah gedung tua tak berapa jauh dari Istana. Laki-laki yang diseret dengan kuda tadi dibawa ke dalam. Kemudian gedung itupun sunyi senyap. “Kita masuk ke dalam Wiro,” bisik Sekar. “Kataku jangan gegabah,” kata Pendekar 212 dengan pelototkan mata. Di seberanginya jalan dan ditemuinya seorang pejalan kaki di seberang jalan itu. “Saudara kau lihat tiga penunggang kuda tadi?” tanya Wiro. Orang itu mengangguk. Bulu tengkuknya masih meremang mengingat apa yang disaksikannya tadi. “Siapa ketiga manusia itu?” tanya Wiro Sableng lagi.
“Mereka adalah Tiga Setan Darah.”
“Tiga Setan Darah…?” ujar Wiro. Pasti itu nama julukan mereka pikir Wiro. Dan dari nama julukan ini nyatalah bahwa memang mereka bukan manusia baik-baik!
Kemudian tanpa ditanya orang tadi berkata lagi. “Mereka adalah kaki tangan pembantu-pembantu Baginda. Manusia kejam luar biasa…!”
“Kenapa Baginda memelihara setan-setan macam mereka?!” tanya Wiro.
“Untuk menjaga keamanan Istana dan Kerajaan. Tapi Baginda
tidak tahu kebejatan pembantu-pembantunya itu…”
“Kenapa rakyat tidak mau kasih tahu?”
“Kalau mau mampus boleh saja!” jawab laki-laki itu. “Kau kenal siapa itu orang yang diseret dengan kuda?” Laki-laki itu menggeleng.
Wiro Sableng kembali menyeberang jalan menemui Sekar. “Kau bicara apa dengan dia?”
Wiro menerangkan dengan cepat lalu kedua orang ini segera hendak menyeberang memasuki halaman gedung tua tapi mereka segera berlindung cepat-cepat di balik sebatang pohon besar karena dari samping gedung ketiga penunggang kuda tadi kelihatan memacu kudanya masing-masing meninggalkan gedung! Begitu mereka lenyap di kejauhan, Wiro dan Sekar segera memasuki halaman gedung. Mereka menuju ke samping dan berhenti dihadapan sebuah pintu kayu.
Wiro memandang berkeliling. Suasana sepi sunyi. Tanpa raguragu Pendekar 212 ulurkan tangan mendorong pmtu kayu itu. Aneh sekali! Meski pintu itu terbuat dari kayu namun Wiro tak berhasil mendorongnya dengan sekuat tenaga luar! Setelah mengerahkan seperempat dari tenaga dalamnya baru pintu kayu itu berkereketan dan terbuka sedikit demi sedikit.
Begitu daun pintu kayu itu terbuka lebar maka tiba-tiba dari hadapan mereka berdesing lima buah senjata berbentuk anak panah berwarna merah!
“Sekar! Awas!” teriak Pendekar 212. Cepat-cepat pemuda ini menarik lengan si gadis ke samping.
Lima senjata rahasia berbentuk panah berdesing di atas kepala dan di muka hidung mereka. Dua dari panah merah itu menancap dibatang sebuah pohon. Sesaat kemudian batang pohon itu sampai ke cabang-cabang, ranting dan daun-daunnya menjadi merah! Nyatalah bahwa senjata-senjata ratiasia itu mengandung racun yang amat jahat! Paras Sekar berubah pucat sedang Pendekar 212 dengan leletkan lidah berkata pelahan, “Keparat betul! Tempat ini pasti penuh dengan senjata rahasia. Kita harus hati-hati Sekar.” Wiro menyuruh gadis itu berdiri lebih ke samping. Kemudian dengan kaki kirinya pendekar ini menendang pintu kayu itu sekuat tenaga. Pintu bobol hancur berantakan dan pada detik itu pula selusin senjata rahasia yang sama bentuknya dengan tadi melesat di. depan mereka. Beberapa diantaranya menancap lagi dibatang pohon yang sama!
Pendekar 212 menyeringai.
“Lihai juga,” katanya pelahan. “Sebaiknya kau tunggu di sini
Sekar…”
“Aku ikut bersamamu!” kata Sekar tegas.
“Di dalam gedung tua ini pasti lebih banyak bahaya. Jangan jadi orang tolol!”
Gadis berbaju kuning ini tidak ambil perduli ucapan si pemuda melainkan tanpa tedeng aling-aling terus masuk melewati pintu yang tadi telah ditendang bobol. Mau tak mau Wiro juga melangkah mengikuti.
Seperti suasana di luar, dibagian belakang gedung itupun diselimuti kesunyian. Keseluruhan gedung tidak terpelihara. Tembok hijau berlumut. Halaman ditumbuhi semak-semak dan rumput liar.
Dengan sikap berhati-hati kedua orang ini melangkah menuju ke tangga yang berhubungan dengan pintu belakang gedung. Wiro berjalan di depan. Ketika salah satu kakinya menginjak tanah di dekat anak tangga yang terbawah tanah itu dirasakannya mencekung aneh dan lembut. Wiro cepat tarik kakinya dan melangkah mundur! “Ada apa?” tanya Sekar dengan berbisik. Pendekar 212 tidak menjawab melainkan melangkah menghampiri sebuah pot bunga besar yang bunganya sudah mati karena tak pernah disiram. Pot bunga yang besar itu dilemparkannya ke tanah di kaki anak tangga yang tadi dipijaknya.
Pada detik itu juga terdengar satu ledakan. Tanah di kaki anak tangga bermuncratan ke atas. Anak tangga terbawah hancur berkeping-keping. Wiro meraih pinggang Sekar dan menjatuhkan diri ke tanah. Tubuh mereka kotor tersembur tanah dan kepingan batu tangga!
“Gedung setan apa ini?!” rutuk Wiro sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya. Dia berpaling pada Sekar dan berkata, “Aku sudah bilang kau tak usah ikut-ikutan ke Kotaraja. Kini kau lihat sendiri!”
“Tak usah bertengkar terus-terusan, Wiro” menyahuti murid
Empu Tumapel itu. “Kita harus cepat mencari laki-laki tangan buntung berbaju biru yang tadi dibawa ke sini!”
Wiro garuk-garuk kepalanya. Dia memandang ke pintu di bagian belakang gedung itu dan berpikir-pikir bahaya apa lagi yang bakal dihadangnya bila dia menaiki anak tangga dan membuka pintu itu! Dalam dia berpikir-pikir demikian tiba-tiba dilihatnya Sekar mengirimkan satu pukulan jarak jauh ke arah pintu belakang gedung.
Angin pukulan menderu dahsyat dan… Braak!
Pintu itu pecah berantakan.
Sekar dan Wiro menunggu. Tak ada terjadi apa-apa.
“Aku tak percaya kalau pintu itu tidak menyembunyikan rahasia maut!” kata Wiro Sableng. Dijangkaunya sebuah arca kecil yang sudah puntung di dekat tangga sebelah kanan. Arca itu kemudian digelindingkannya di atas lantai yang menuju ke pintu. Begitu arca mencapai pintu, lantai di muka pintu itu terbuka, arca lenyap jatuh ke dalam sebuah lobang dan lantai kembali menutup! “Gedung edan!” rutuk Wito Sableng. “Kau masih punya nyali untuk masuk kedalamnya?!”
“Mengapa tidak?!” ujar Sekar.
“Aku kagum dengan keberanianmu,” puji Wiro sejujurnya. “Bersialplah, kita melompat ke dalam lewat pintu itu. Kerahkan seluruh ilmu mengentengi tubuhmu. Lantai di dalam gedung itu bukan mustahil perangkap semua!”
Kedua orang ini bersiap-siap untuk menerobos pintu yang sudah bobol. Mendadak pada saat itu pula di halaman depan terdengar derap kaki kuda. Keduanya terkejut.
“Mereka kembali!” bisik Sekar. Gadis ini segera keluarkan senjatanya yaitu besi berantai yang ujungnya diganduli bola besi berduri. Inilah senjata “Rantai Petaka Bumi” yang dahsyat. Wiro berpikir cepat. Dia mendapat satu akal lalu menggamit dan berbisik pada Sekar, “Cepat lompat ke atas genteng!” Si gadis melotot.
“Apa kau tidak punya nyali menghadapi mereka? Manusiamanusia terkutuk semacam itu harus dilenyapkan dari muka bumi,
Wiro! Kalau kau takut pergilah sendiri ke loteng sana!”
Wiro menggerendeng.
“Kita belum tahu siapa yang datang itu! Kalau benar mereka, dari atas genteng kita bisa mengintai bagaimana mereka masuk ke dalam gedung!”
Sekar hendak mengatakan sesuatu. Tapi Wiro Sableng sudah membetot lengannya dan melompat ke atas genteng bersama-sama!
Keduanya menunggu. Suara kaki-kaki kuda berhenti sebentar, lalu terdengar lagi memasuki halaman samping.
“Bukan mereka,” desis Wiro dan Sekar memalingkan kepalanya ke halaman samping.
— == 0O0 == —
LIMA
YANG DATANG ternyata seorang penunggang kuda berkepala gundul. Sepasang matanya juling. Hidungnya sangat pesek, hampir sama rata dengan pipinya yang gembrot. Tangan dan kakinya sangat pendek sedang tubuhnya katai sekali. Yang lucunya manusia ini cuma memakai cawat, kulitnya hitam legam dan pada ketiak sebelah kirinya terkempit sebilah bambu berbentuk pikulan!
“Monyet terlepas dari mana ini?!” bisik Wiro Sableng.
“Dia bukan manusia sembarangan Wiro,” desis Sekar.
“Kau kenal dia?” tanya Wiro.
“Guruku pernah bilang manusia yang berciri-ciri macam dia.
Melihat pada senjata yang dikempitnya aku yakin dia mustilah Si Setan Pikulan!”
“Buset! Apa tidak ada gelaran yang lebih jelek dari Setan Pikulan itu?!” seringai Wiro.
Penunggang kuda yang datang itu memang Setan Pikulan. Nama sebenarnya Munding Sura. Dia hentikan kuda di depan lobang besar di muka tangga pintu belakang. Diperhatikannya lobang itu sebentar lalu dia memandang berkeliling. Diangguk-anggukannya kepalanya. Kemudian diperhatikannya pintu belakang yang hancur sambil mengusap-usap kepalanya yang botak.
“Tiga Setan Darah!” Setan Pikulan berteriak. “Apa kalian ada di dalam?!” Suara teriakan Setan Pikulan kerasnya bukan main,
menggetarkan seantero halaman belakang gedung tua itu, menggetarkan genteng di mana Wiro dan Sekar berada.
“Tenaga dalarnnya hebat sekali,” bisik Wiro pada Sekar.
“Ah, rupanya kalian tak ada di rumah!” terdengar Setan Pikulan berkata.
”Sayang sekali! Sayang sekali! Ada dua orang tamu dari jauh, tuan rumah tidak ada! Sayang sekali!”
Wiro dan Sekar sama terkejut dan saling berpandangan Mereka yakin dua orang tamu yang dimaksudkan oleh manusia kate itu pastilah diri mereka sendiri. Belum habis kejut kedua orang ini di bawah terdengar bentakan Setan Pikulan.
“Cecunguk-cecunguk yang di atas genteng, lekas turun! Mataku yang juling tak bisa ditipu! Ayo turun!”
Sekar segera bergerak hendak melompat turun. Tapi Wiro menarik bajunya kuningnya. “Biar aku yang turun,” kata murid Eyang Sinto Gendeng ini. Kemudian murid Eyang Sinto Gendeng ini dengan cepat melompat turun. Mata juling Si Setan Pikulan memperhatikan cara dan gerakan melompat si pemuda dan juga memperhatikan ketika sepasang kaki Wiro menginjak tanah. Telinganya yang tajam sama sekali tiada mendengar sedikit suarapun dari beradunya kaki dan tanah.
Wiro Sableng menjura sewajarnya dan dengan senyum ramah dia
berkata, “Kalau aku tak salah, bukankah saat ini aku berhadapan dengan orang gagah yang dijuluki Setan Pikulan?”
Setan Pikulan menyeringai. “Rupanya matamu tajam juga orang muda. Harap beritahu siapa kau.”
“Ah…, aku ini seperti yang kau katakan tadi, cuma cecunguk biasa saja…” jawab Wiro.
“Kenapa sembunyi di atas atap dan kenapa kawanmu cecunguk yang satu lagi itu tidak mau turun?!”
Wiro tertawa dan berseru, “Sekar, turunlah.” Sewaktu Sekar turun dan berdiri di samping Wiro Sableng maka menyeringailah Setan Pikulan.
“Ternyata seorang gadis cantik!” katanya. Dibasahinya bibirnya dengan ujung lidah sedang kedua matanya yang juling semakin juling karena memandang dekat-dekat pada paras Sekar yang cantik jelita. “Melihat kepada tindak tandukmu pastilah kalian datang ke sini bukan dengan maksud baik. Apa lagi penghuni rumah tidak ada.
Kalian tahu apa yang bakal dilakukan Tiga Setan Darah jika mereka mengetahui ada cecungkuk-cecunguk yang sembunyi dan membuat kerusuhan di rumahnya?”
“Harap jangan salah sangka Setan Pikulan. Kami ke sini sebetulnya mengejar seorang pencuri. Tapi dia lenyap entah ke mana…!” kata Wiro berdusta.
Setan Pikulan tertawa mengekeh.
“Sama aku tak usah bicara dusta! Lekas terangkan siapa kalian dan apa maksud kalian ke sini!! Kalian musti tahu bahwa Tiga Setan
Darah adalah kambratku dan aku berhak turun tangan menghukum kalian bila kalian ternyata bersalah!”
“Kalau kau kawannya Tiga Setan Darah, tentu kau juga seorang tokoh Istana!” ujar Wiro.
“Apa aku tokoh Istana atau bukan tak perlu tanya!.” sentak
Setan Pikulah. “Lekas jawab pertanyaanku tadi!”
“Kami cecunguk!” sahut Wiro. “Kau sendiri tadi sudah bilang!” Marahlah Setan Pikulan.
“Seharusnya kubetot putus lidahmu, pemuda hina dina!” hardik Setan Pikulan. “Tapi dengar… kalau kau mau tinggalkan gadis cantik ini buatku, aku tak mau bikin panjang urusan. Aku tak akan laporkan pada Tiga Setan Darah bahwa kalian telah mongobrak-abrik rumahnya ini…!”
Mendengar ini Sekar menjadi naik pitam.
“Biar aku betul-betul monyet sekalipun, aku tidak sudi menjadi mangsa bejatmu!”
Setan Pikulan tertawa.
Wiro berpikir sebentar lalu dengan ilmu menyusupkan suara dia berkata pada si gadis, “Sekar, aku ada akal. Kita tipu setan kate ini menunjukkan di mana laki-laki buntung itu disekap. Kau musti purapura marah…”
Pendekar 212 memandang pada Setan Pikulan lalu berkata,
“Aku akan tinggalkan gadis ini padamu. Dia memang tidak berguna.
Tapi harus ada imbalannya…!”
“Wiro! Apa kau sudah gila?!” teriak Sekar pura-pura marah dan melototkan mata.
Wiro tak ambil perduli. “Bagaimana?” tanyanya pada Setan Pikulan.
“Katakan maumu!.”
“Seorang kawanku telah dilarikan oleh Tiga Setan Darah dan disekap di gedung tua ini. Aku tak tahu di bagian mana. Gedung ini penuh senjata senjata rahasia dan perangkap-perangkap! Kalau kau mau menunjukkan di mana kawanku itu dan mengeluarkannya dari sini, gadis tak berguna ini kuserahkan padamu…!”
“Baik!” Setan Pikulan terima syarat itu. Untuk kesekian kalinya dibasahinya lagi bibirnya sebelah barah. Sementara itu Sekar memaki-maki Wiro Sableng tiada hentinya.
Setan Pikulan melompat dari kudanya. “Bagaimana aku yakin kalau kalian tidak menipuku?!” tanya manusia kate berkepala gundul ini.
“Kau terlalu curiga, Setan Pikulan! Kalau aku menipumu berarti aku tak bisa menyelamatkan kawanku yang disekap oleh Tiga Setan Darah.” jawab Wiro Sableng.
“Betul juga,” kata Setan Pikulan. “Tapi untuk benar-benar meyakinkan biar kulakukan ini dulu…”
Dan dengan satu gerakan cepat luar biasa Setan Pikulan menusukkan jari telunjuknya ke urat dipangkal leher Sekar. Saat itu juga tubuh si gadis menjadi kaku tegang tak bisa bergerak. Wiro memaki dalam hati.
“Ikut aku!” Setan Pikulan berkata. Lalu melesat memasuki pintu belakang yang tadi sudah didobrak dengan pukulan jarak jauh oleh Sekar.
“Ruangan dalam ini penuh dengan alat dan senjata rahasia. Perhatikan langkahku!” kata si kate kepala gundul. Dia melangkah enam tindak ke kanan. lalu menyusuri tepi dinding hingga akhirnya sampai dihadapan sebuah pintu berwarna hitam. Pada tepi pintu itu terdapat sebuah titik putih besar setengah kuku jari kelingking.
Dengan ujung jarinya Setan Pikulan menunjuk.
“Cepat masuk!” teriak Setan Pikulan.
Wiro Sableng melompat masuk ke dalam kamar itu. Begitu masuk begitu pintu di belakangnya menutup kembali. Manusia kate itu berpaling pada Wiro. “Kau lihat pintu dinding sana?” Wiro mengangguk.
“Kalau kau melangkah sepanjang lantai ini ke sana, kau akan kejeblos masuk ke dalam liang batu! Kita harus bergerak sepanjang tepi dinding sebelah kiri! Mari…”
Sambil menyusuri lantai di tepi dinding sebelah kiri Wiro Sableng bertanya, “Mengapa Tiga Setan Darah memasang demikian banyak alat dan senjata rahasia serta perangkap di gedung tua ini?!” “Itu tak perlu kau tanyakan. Bukan urusanmu!” sahut Setan Pikulan.
Setan Pikulan membuka pintu dihadapannya. Kamar kedua itu kosong lagi. Dan dinding sebelah muka mereka kelihatan sebuah pintu lain.
“Kali ini kita musti menyusuri tepi lantai di samping kanan,” kata
Setan Pikulan. Wiro mengikuti tanpa banyak bicara. Kamar ketiga, keempat dan kelima dalam gedung itu kosong semua.
“Mungkin sekali kawanmu itu disekap di ruang batu karang di bawah tanah!” kata Setan Pikulan.
“Apakah kau tahu tempat itu?” tanya Wiro Sableng.
Si kate merenung sejenak. “Ikuti aku,” katanya.
Mereka ke luar dari kamar nomer lima itu. Di kamar nomer enam mereka berhenti. Setan Pikulan meneliti lantai kamar dengan sepasang matanya yang juling. Kemudian dia mendangak ke atas. Pada langit-langit kamar kelihatan tergantung sebuah kawat yang ujungnya diganduli lampu minyak yang besar sekali. Setan Pikulan melompat ke atas dan menarik kawat itu satu kali. Aneh sekali tibatiba lantai di samping kanan ruangan membuka dan sebuah tangga batu kelihatan.
Keduanya melangkah ke tepi liang itu. Ruang di bawah sana agak gelap hanya diterangi oleh sebuah pelita. Samar-samar Wiro Sableng melihat sesosok tubuh menggeletak di lantai ruangan.
Pakaiannya tak kelihatan apa warnanya tapi tangan kirinya buntung.
“Itu kawanmu?” tanya Setan Pikulan.
“Betul.”
“Lekaslah turun, sebelum Tiga Setan Darah kembali ke sini kita musti tedah meninggalkan tempat ini!”
Tanpa pikir panjang Wiro Sableng segera menuruni anak tangga. Begitu dia menginjakkan kaki di lantai ruangan batu karang dia terkejut sewaktu di atas didengarnya suara tertawa bergelak Setan Pikulan.
“Manusia tolol geblek! Aku tahu kau mau menipu! Sekarang kau sendiri yang masuk perangkap! Kau akan mampus di ruang batu
karang itu! Mayatmu akan busuk!”
“Bedebah keparat!” teriak Wiro. Dia melompat kembali ke atas. Tapi secepat kilat Setan Pikulan melesat ke udara, menarik kawat gantungan lampu dan dengan serta merta lantai di ruangan itu tertutup kembali! Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 masuk perangkap sudah!
— == 0O0 == —
ENAM
SETAN PIKULAN melesat dari pintu menuju ke halaman belakang gedung. Ketika dia melangkah kehadapan Sekar, gadis ini yang tubuhnya masih kaku tegang karena ditotok segera bertanya,
“Mana kawanku?”
Munding Sura alias Setan Pikulan tertawa buruk. “Kalian kira aku ini kambing tolol yang bisa ditipu mentah-mentah?” ujarnya. Dia berdiri dekat-dekat dihadapan Sekar. Kepalanya cuma sampai kepinggang gadis itu. “Dengar gadis molek,” kata Setan Pilarlan seraya usap perut Sekar dengan tangan kirinya.
“Manusia kurang ajar!” maki Sekar. “Lepaskan totokanku, cepat!”
Setan Pikulan tertawa gelak-gelak.
“Gadis molek, siapa-siapa manusia yang berani menipuku pasti kukirim ke akherat! Kawanmu telah kujebloskan ke dalam ruang batu karang…!” Setan Pikulan tertawa lagi.
Sekar kaget bukan main mendengar keterangan ini. Dia tahu sendiri bahwa Wiro Sableng bukan pemuda sembarangan. Ilmu Silat dan kesaktiannya tinggi sekali. Dia bahkan telah menyaksikan kehebatan pemuda itu di Biara Pensuci Jagat sewaktu bertempur melawan Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga, tapi kenapa kini dia bisa terjebak dan masuk ke dalam perangkap ruang batu? Apakah ilmu Setan Pikulan jauh tebih tinggi dari Wiro? Atau mungkin manusia kate bermuka buruk ini telah membokong dan menipu Wiro secara pengecut?
“Terhadapmu gadis molek…,” berkata lagi si kate kepala gundul, dia berjingkat dan mengulurkan tangannya mengelus dagu Sekar. Gadis ini memaki habis-habisan. Setan Pikulan tertawa
bergelak. Dan akhirnya Sekar meludahi muka manusia buruk itu.
“Sompret kau!” bentak Setan Pikulan. Tapi dia tidak sebenarbenarnya marah. Dengan tertawa-tawa ditariknya ujung baju kuning Sekar dan disekanya mukanya yang disembur ludah itu. “Kalau kau tidak secantik ini pasti sudah kuremas hancur kau punya, muka! Kau kuampuni tapi musti ikut ketempatku! Untuk selanjutnya kau akan jadi perempuan peliharaanku!”
“Bedebah keparat. Lekas lepaskan totokanku kalau tidak kelak jiwamu tak akan kuampuni!” Setan Pikulan tertawa gelak-gelak. “Kau galak sekali. Aku mau lihat apakah di tempat tidur kau juga akan segalak ini…. He… he…he…?!”
Sekar memaki dan meludahi lagi muka laki-laki kate itu. Setan Pikulan tak menunggu lebih lama. Dilakukannya lagi satu totokan yang membuat mulut Sekar menjadi bungkam bisu tak bisa mengeluarkan suara lagi! Kemudian secepat kilat manusia kate itu meraih pinggang Sekar, melompat ke atas kudanya dan meninggalkan tempat itu.
SEMENTARA itu di ruang batu karang di bawah gedung kediaman Tiga Setan Darah….
Begitu Wiro Sableng melompat dan sampai di anak tangga teratas, lantai di atasnya tertutup dengan cepat! Pendekar ini memaki habis-habisan. Diterjangnya lantai di atas tangga itu dengan satu tendangan keras yang disertai aliran tenaga dalam. Jangarrkan bobol, berbekaspun tendangannya itu tidak!
Penasaran sekali Wiro Sableng alirkan separoh dari tenaga dalamnya ke kaki dan untuk kedua kalinya dia menendang lagi. Lantai karang yang merupakan langit-langit ruang batu itu keras dan atosnya bukan olah-olah. Tendangan Wiro Sableng hanya senggup membuat langit-langit itu tergetar sedikit saja!
“Sialan!” gerutu Pendekar 212.
Kini seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke kaki. Dengan bentakan dahsyat pendekar ini menendang ke atas. Ruang batu itu bergoncang! Tapi bagian yang ditendang tidak mengalami perobahan sedikitpun! Wiro menghela nafas dalam. Keringat dingin mengucur dikeningnya. Penuh penasaran pemuda ini salurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan sampai tangan itu tergetar. Kedua kakinya merenggang. Dalam keadaan seperti itu, bila dia berdiri di tanah pastilah kedua kakinya akan melesak sedalam lima atau sepuluh senti. Tapi di atas lantai karang yang atos itu, hal itu tidak terjadi. Perlahan-lahan jari-jari tangan pendekar 212 menekuk membentuk tinju.
“Ciaaat!”
Didahului dengan bentakan menggeledek itu Wiro Sableng pukulkan tangan kanannya ke atas. Jari-jari yang terkepal membuka. Satu gumpalan angin keras laksana batu besar bergulung-gulung dan melesat menghantam bagian atas ruangan batu didekat kepala tangga!
Inilah pukulan kunyuk melempar buah!
Ruang batu itu bergoncang dahsyat. Angin pukulan memantul kembali, memadamkan pelita yang terletak di lantai. Dan ruangan batu kurang itu dengan serta merta menjadi gelap gulita. Tangan di depan matapun tak kelihatan !
Wira Sableng menggerendeng, memaki diri sendiri, memaki akan ketololannya sendiri. Seharusnya dia memperhitungkan bahwa pukulannya itu tadi akan dapat memadamkan pelita di ruang batu itu. Dia berpikir-pikir untuk melepaskan pukan sinat matahari. Tapi Wiro khawatir kalau-kalau pukulannya itu juga tidak mempan dan akan membalik menghantam dirinya sendiri serta manusia yang menggeletak di ruangan itu!
Sejak masuk ke dalam ruang batu karang itu baru Wiro ingat pada laki-laki bertangan buntung yang tadi hendak ditolongnya. Wiro melangkah perlahan-lahan sampai akhirnya kedua kakinya menyentuh tubuh laki-laki itu. Dia berlutut. Digoyang-goyangnya tubuh laki-laki itu. Tiada suara. Tubuh itu basah oleh keringat dan gelimangan darah. Wiro meletakkan telapak tangan kanannya di dada laki-laki itu. Lama sekali baru dia berhasil merasakan degupan jantung yang sangat halus dan pelahan! Ternyata manusia itu masih hidup. Dengan cepat Wiro Sableng salurkan tenaga dalamnya melalui dada dan pergelangan tangan kanan laki-laki itu. Seperempat jam berlalu. Masih tak ada reaksi apa-apa. Mungkin manusia itu tak ada harapan lagi untuk diselamatkan jiwanya, pikir Wiro. Tubuhnya sudah keringatan. Mengerahkan tenaga dalam selama
seperempat jam tanpa terputus-putus merupakan hal yang sangat berat, kurang hati-hati salah-salah bisa membuat diri sendiri menjadi rusak di dalam!
Ketika sepeminuman teh lewat maka baru terasa laki-laki itu memberikan reaksi. Tubuhnya bergerak sedikit. Kemudian terdengar suara erangannya. Erangan yang hampir tak kedengaran. Wiro kerahkan lagi tenaga dalamnya sampai tubuhnya menjadi lemas. Dia tersandar kedinding dan mengatur jalan nafas serta darahnya.
Kemudian telinganya mendengar erangan laki-laki itu lebih keras. Erangan kesakitan yang mengeriken! “Di mana aku?” lapat-lapat Wiro mendengar laki-laki itu bertanya.
“Sobat, kau sudah siuman?”
“Kau siapa…?” desis laki-laki itu.
“Apa kau bisa membuka matamu?”
“Ya, sedikit. Tapi semua gelap sekali!”
“Ya, ruangan ini memang gelap. Ruang batu karang yang tak beda dengan liang kubur! Kita sama-sama bernasib sial!
Disekap di tempat terkutuk ini…”
“Kenapa kita bisa disekap di sini….. Siapa yang menjebloskan kita…?”
“Ya. Namaku Pranajaya…”
“Meski kau terkurung di sini, nasibmu sebenarnya masih untung Prana,” kata Wiro.
Pranajaya menghela nafas dalam.
“Kau kuat sekali. Kurasa jarang ada manusia yang sanggup bertahan dan masih hidup diseret dengsn kuda seperti kau.”
“Aku… aku diseret dengan kuda…?” tanya Prana. “Ya. Sudahlah, sebaiknya kau duduk bersila. Atur jalan nafas, aliran darah dan tenaga dalammu…”
”Tidak mungkin…,” desis Prana. “Seluruh tubuhku tidak punya tenaga sedikitpun. Tulang-tulangku serasa remuk!” “Kau begitu berbaring sajalah sementara aku mencari akal bagaimana kita bisa ke luar dari tempat terkutuk ini!” kata Pendekar 212.
“Kau masih belum menerangkan namamu,” ujar Pranajaya.
“Panggil aku Wiro…..“
“Kau juga seorang dari dunia persilatan?”
“Sudah, aku bilang berbaring sajalah,” potong Wiro. “Aku musti berpikir. Kita musti ke luar dari tempat celaka ini!” Pranajaya menutup mulutnya. Sekujur tubuhnya sakit tiada terkirakan. Sedikit demi sedikit dalam keadaan berbaring itu dicobanya mengatur jalan nafas, darah dan tenaga dalamnya. “Plaak!” Wiro memukul keningnya sendiri. Tangan kanannya mengeruk saku pakaiannya. Dari dalam saku ini diambilnya sebuah kantong kecil berisi beberapa buah pil. Diambilnya sebutir “Aku sampai lupa Prana, ngangakan mulutmu. Telan obat ini. Seperempat jam mungkin kau bisa lebih kuatan……”
Dalam gelap itu Pranajaya mengangakan mulutnya dan Wiro mencari-cari dengan tangannya mulut pemuda itu. Bila bertemu maka dimasukkannya pil itu ke dalam mulut Pranajaya.
Beberapa menit kemudian……
“Rasa sakitku agak berkurang…” kata Prana pelahan.
“Syukur……”
“Saudara Wiro bagaimana…”
Pranajaya tidak meneruskan pertanyaannya. Di dalam gelap itu dirasakannya Wiro berdiri. Kemudian tubuhnya didukung den dibawa ke salah satu sudut ruangan.
“Apa yang hendak kau lakukan?” tanya Pranajaya. Wiro tak menjawab. Dia melangkah ke tengah ruangan kembali. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya sebuah batu hitam yang bertuliskan angka 212 serta Kapak Maut Naga Geni 212. Senjata sakti ini memancarkan sinar yang menerangi ruang batu itu. Meski tidak cukup terang tapi Wiro dapat melihat di mana pelita yang tadi padam terletak. Mata kapak dan batu hitam diadu satu sama lain. Lidah api menyembur ke arah pelita dan pelita itupun menyala kembali. Ruang batu karang menjadi terang benderang. Kini kedua manusia itu baru bisa meneliti paras dan diri masing-masing. Paras Pranajaya mengerikan untuk dipandang. Kulit mukanya hampir keseluruhannya mengelupas, demikian juga kulit sekujur badannya. Salah satu telinganya hampir sumplung, hidung lecet.
Pakaian robek-robek. Kulit kepala ada yang mengelupas dan darah, keringat serta debu membungkus tubuh Pranajaya mulai dari ujung rambut sampai ke kaki!
Pendekar 212 kertakkan rahang menahan hatinya yang seperti terbakar melihat keadaan tubuh laki-laki bertangan buntung itu. Kesalahan apakah yang telah dibuatnya sampai disiksa demikian biadabnya? Wiro tak mau berpikir lebih lama. Saat itu yang musti dilakukan ialah mencari jalan ke luar.
Dengan Kapak Naga Geni 212 ditangan Wiro Sableng melangkah menuju ke tangan batu paling atass. Dia memandang pada Pranajaya dan berkata, “Kalau senjataku ini tiada sanggup menghancurkan langit-langit ruangan batu karang ini berarti kita akan mampus di sini sobat.”
Pranajaya tak berkata apa-apa. Hatinya kecut, dan sedingin es. Wiro mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kapak Naga Geni di putar-putar di atas kepala. Senjata itu mengeluarkan angin yang deras dan suara mengaung laksana deru ribuan tawon. Angin senjata membuat api pelita mati lagi.
Pada saat itu terdengar bentakan menggeledek dan di saat yang bersamaan pula terdengar suara “buumm!” Ruang batu bergoncang keras. Wiro terhuyung-huyung, tubuhnya dihujani oleh guguran dan puing-puing batu karang.
Pranajaya terpelantihp dan terhampar di lantai ruang betu. Ketika Wiro memandang ke atas dia berseru girang, “Prana, kita berhasil!”
Ternyata batu karang tebal yang atos keras yang menjadi atap ruang batu itu tiada sanggup menghadapi Kapak Naga Geni 212. Sekali Wiro menghantamkan senjata pemberian gurunya itu maka hancur leburlah atap batu karang. Lobang baser terbuka tepat di atas anak tangga paling atas. Pendekar 212 memasukkan kapaknya ke balik pinggang kemudian turun ke bawah kembali, mendukung tubuh Pranajaya dan mepinggalkan ruangan batu karang itu dengan cepat. Tapi sewaktu mereka sampai di halaman belakang, seorang penunggang kuda bermuka merah, berambut dan berjubah merah tahu-tahu muncul menghadang mereka. Setan Darah Pertama!
— == 0O0 == —
TUJUH
PADA WAKTU Setan Pikulan keluar dari pekarangan
gedung tua membawa lari Sekar, maka di ujung jalan di belakangnya tiga penunggang kuda muncul. Mereka bukan lain Tiga Setan Darah yang baru saja kembali dari luar Kotaraja.
“Hai, kalau aku tak salah lihat itu si kepala gundul Setan Pikulan!” seru Setan Darah Pertama.
“Betul!” menyahut Setan Darah Kedua. “Dia memboyong perempuan dan keluar dari rumah kita! Apa yang telah terjadi?!”
Tiga Setan Darah sama memacu kuda masing-masing lebih cepat namun Setan Pikulan sudah lenyap dari pemandangan mereka sewaktu ketiganya sampai di depan pintu halaman gedung tua.
“Kalian berdua kejar manusia itu,” perintah Setan Darah
Pertama. “Aku akan menyelidiki tempat kita. Pasti terjadi apaapa yang tak diingini!”
Setan Darah Kedua dan Ketiga segera meninggalkan tempat itu sedang Setan Darah Pertama dengan cepat memasuki halaman gedung kediamannya. Apa yang disangkakannya ternyata betul! Pintu samping ditemuinya melompong bobol. Belasan senjata rahasia berbentuk panah bertebaran di tanah dan beberapa lainnya menancap di batang pohon Setan Darah Pertama memaki dalam hati. “Apa ini si kate kepala gundul itu yang melakukannya?” manusia bermuka merah ini membathin. “Kalau betul kelak aku akan kasih pelajaran pada manusia
Keparat itu!” Dilewatinya pintu yang telah bobol itu dan ketika sampai di halaman belakang kekagetannya bertambah-tambah sewaktu menyaksikan tanah dari anak tangga sebelah bawah pintu belakang hancur berantakan sedang pintu belakang itu sendiri juga bobol pecah!
“Setan alas! Setan alas!” maki manusia muka merah itu. Dia memandang berkeliling dan merasa heran karena dia tidak melihat arca yang seharusnya berada di halaman itu!
Siapa yang melakukan ini semuanya? Apa yang sebenarnya
telah terjadi. Dan Setan Pikulan yang tadi dilihatnya ke luar dari pintu halaman, memboyong seorang perempuan?! Sudut mata Setan Darah Pertama menangkap satu gerakan. Cepat-cepat dia palingkan kepala. Sepasang mata Setan Darah Pertama melotot. Dihadapannya berdiri seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian putih-putih.
Dia tidak kenal dengan pemuda ini. Yang membuat Setan Darah
Pertama begitu terkejut ialah karena pemuda ini memanggul Pranajaya yang sebelumnya telah disekapnya dalam ruang batu karang!
Setan Darah Pertama berpikir cepat. Jika si pemuda asing ini adalah kawan Pranajaya dan menolong Prana keluar dari ruang batu karang, pastilah dia yang telah menghancurkan pintu samping dan pintu belakang gedung kediamannya. Dan di dalam gedung pasti pula dia telah membuat kerusakan yang lebih hebat lagi. Lantas, apa pul a hubungan S eta n Pikulan yang tadi dilihatnya ke luar dari halaman gedung dengan memboyong seorang perempuan?! Setan Darah Pertama jadi bingung sendiri! Matanya menatap tajam. Kalau betul pemuda belia ini yang telah membebaskan Pranajaya dari dalam ruang batu maka ini adalah hal yang sangat tak bisa dipercaya oleh Setan Darah Pertama.
Untuk masuk ke dalam gedung tua saja seseorang harus melalui rintangan-rintangan senjata rahasia yang bisa membawa maut! Kalaupun dia sanggup masuk ke dalam, belum tentu dia tahu rahasia bagaimana membuka pintu ruang batu karang. Mungkin dia mempergunakan ilmu kesaktian dan membobolkan pintu ruang batu? Selama bertahun-tahun tak ada satu kekuatanpun yang sanggup mendobrak pintu ruang batu karang itu. Apalagi manusia muda bertampang dogol seperti yang saat itu berdiri memanggul tubuh Pranajaya dihadapannya.
Di lain pihak Pendekar 212 Wiro Sableng memandang pula tepat-tepat kepada Setan Darah Pertama. Dia ingat manusia inilah yang telah menyeret Pranajaya tadi sepanjang jalan. Dia tenangtenang saja dan tidak perlu terkejut melihat si muka merah ini. Cuma yang diam-diam membuat dia khawatir ialah karena saat itu dia sama sekali tidak melihat Sekar! Tak ada dugaan lain selain bahwa gadis itu pasti sudah dilarikan oleh si kate Setan Pikulan! “Pemuda asing, siapa kau?!” bentak Setan Darah Pertama
dengan suara menggeledek. Sekaligus dia hendak menunjukkan bahwa dia bukan manusia sembarangan.
Wiro Sableng cengar cengir seenaknya.
“Jangan cengar cengir tak karuan! Cepat beritahu siapa kau dan mengapa nyalinu begitu besar membuat keonaran di sini?!” “Wiro….,” Pranajaya berbisik. “Manusia muka kepiting rebus ini adalah musuh besarku! Salah satu dari Tiga Setan Darah….” Wiro tertawa mendengar ucapan “kepiting rebus” itu. “Setan alas!” sentak Setan Darah Pertama. “Kau kira kau berhadapan dengan siapakah berani tertawa seenak perutmu?!”
“Masakah orang tertawa saja tidak boleh!” sahut Wiro Ssbleng. Darah Setan Darah Pertama naik ke kepala “Kalau kau masih bicara bertele, nyawamu akan kukirim menghadap setan neraka!” ancam Setan Darah Pertama dan tangan kanannya dinaikkan ke atas, siap untuk melancarkan satu pukulan tangan kosong! “Sabar… sabar sobat!” kata Wiro. “aku adalah kawan pemuda ini. Sebagai kawan, sepantasnya aku menolong bila dia mendapat kesukaran…. Bukan begitu Tiga Setan Darah?!”
“Hemm… manusia buruk macammu rupanya sudah tahu juga
berhadapan dengan siapa saat ini!” ujar Setan Darah Pertama. “Karena kau kawan pemuda itu, terpaksa kalian berdua kuseret kembali ke ruang batu karang!”
Habis berkata demikian Setan Darah Pertama lentingkan kelima jarinya ke muka. Lima larik sinar merah menyambar ke arah lima bagian tubuh Wiro Sableng! Inilah ilmu totokan jarak jauh bernama totokan lima jari yang sangat lihai sekali!
Pendekar 212 Wiro Sableng keluarkan suara bersiul. Sekali melompat ke samping, lima sinar totokan itu dapat dihindarkannya sekaligus!
Ini membuat Setan Darah Pertama menjadi gusar.
“Punya sedikit ilmu saja hendak diandalkan!” ejeknya. “Aku mau lihat sampai di mana kedikjayaanmu bocah konyol!.” Serentak dengan itu Setan Darah Pertama melompat dari kudanya. “Silahkan turunkan dulu kunyuk dibahumu itul” kata Setan Darah Pertama.
“Tiga Setan Darah, meski kau seorang bejat yang sebenarnya tidak pantas hidup di dunia ini, tapi aku tak punya permusuhan denganmu. Harap minggir beri jalan….!”
“Kentut bapak moyangmu!” teriak Setan Darah Pertama. “Lekas turunkan pemuda itu, dalam satu jurus nyawamu pasti akan minggat dari badan!”
Sebenarnya Wiro bukan tak mau baku hantam dengan manusia terkutuk ini, tapi karena dia mengkhawatirkan keselamatan Sekar dan musti mencari gadis itu maka sekali ini diusahakannya untuk menghindari pertempuran. Tapi agaknya si muka kepiting rebus tak memberi kesempatan terhadapnya. Dan ini membuat murid Eyang Sinto Gendeng itu mulai luntur pula kesabarannya. “Iblis muka merah!” bentak Wiro Sableng. “Untuk menghadapi kau kenapa musti susah-susah turunkan tubuh kawanku ini segala?”
Mendidihlah darah Setan Darah Pertama. Seumur hidupnya tak pernah dia mendapat hinaan demikian.
“Kalau begitu kalian akan mampus sama-sama!” teriaknya lantang.
Setan Darah Pertama kebutkan kedua lengan jubahnya. Dua angiri merah yang amat dahsyat menderu ke arah Wiro Sableng.
Dalam jarak dua tombak saja panasnya sudah memerihkan kulit. “Awas Wiro, pukulan itu beracun!” membisik Pranajaya. Lalu tambahnya “Manusia ini bukan sembarangan, ilmunya tinggi. Lebih baik kau sandarkan aku ke pohon sana….!”
“Ah, tak usah khawatir sobat..,” jawab Wiro. Satu tombak dua larikan sinar merah itu menyambar kearahnya dengan membentak nyaring Pendekar 212 berkelebat. Tubuhnya lenyap dari hadapan Setan Darah Pertama.
Kaget Setan Darah Pertama bukan main-main. Tak tahu dia gerakan kilat apa yang dipergunakan oleh si pemuda lawannya hingga lebih cepat dari kejapan mata pemuda itu sudah lenyap dari pemandangannya.
Cepat-cepat dia membalik. Wiro dan Prana dilihatnya sudah berada di pintu samping.
“Kau mau lari ke mana bedebah?!” bentak Setan Darah Pertama dan memburu dengan cepat seraya lancarkan satu jotosan jarak jauh yang hebat. Serangan ini membuat murid Eyang Sinto Gendeng melompat ke samping lalu membalik.
“Iblis muka merah, kali ini aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Kelak di lain hari kita bakal berhadapan kembali!”
“Cuma nyawamu yang bisa pergi dari sini keparat!” teriak
Setan Darah Pertama. Dia memburu lagi. Tapi langkahnya terhenti. Wiro telah melepaskan satu pukulan yang mendatangkan angin yang amat hebat, membuat pasir di halaman itu menggebu laksana kabut tebal menderu ke arah Setan Darah Pertama membuat pemandangannya tertutup. Ketika dia menerobos kabut pasir itu dengan cepat, Wiro Sableng dan Pranajaya sudah lenyap! Setan Darah Pertama menyumpah habis-habisan.
Orang-orang yang berada di tengah jalan cepat-cepat menghindar ke tepi sewaktu Setan Pikulan memacu kudanya dengan kecepatan yang luar biasa. Debu beterbangan di belakang diterpa oleh keempat kaki kuda tunggangan manusia bertubuh kate itu.
Seorang pejaian kaki berkata pada kawannye di tepi jalan. “Lihat, si kate kepala gundul itu membawa seorang perempuan lagi!”
“Ya, parasnya cantik sekali!” Sahut kawannya. Diangkatnya bahunya lala berkata lagi, “Manusia dajal itu rupa-rupanya tak pernah bosan dengan perempuan. Di gedungnya sudah belasan perempuan yang jadi peliharaannya! Kini satu lagi bakal menjadi korban kebejatan nafsunya. Kasihan perempuan itu…”
“Aku sangat menyesalkan Baginda. Beliau…” Laki-laki itu tak meneruskan kata-katanya karena di belakangnya terdengar derap kaki-kaki kuda. Keduanya berpaling.
“Ini lagi…,” kata laki-laki tadi pelahan. “Bergundal-bergundal
Baginda. Mereka tidak ada beda dengan Si Setan Pikulan!” Dua penunggang kuda itu berlalu dengan cepat. Mereka bukan lain dari Setan Darah Kedua dan Ketiga yang tengah mengejar Setan Pikulan!
Di sebuah gedung kecil di pinggiran Kotaraja, Munding Sura alias Setan Pikulan menghentikan kudanya.
“Ah, manisku. Kita sudah sampai!” katanya seraya mendukung Sekar dan melompat dari kudanya.
Di ruang dalam tiga orang perempuan muda yang cantik-cantik tengah duduk berbicara Mereka adalah sebagian dari peliharaanpeliharaan Setan Pikulan. Ketiganya memandang pada Setan Pikulan dan perempuan yang ada dalam dukungannya. Mereka tak berkata dan tak berbuat apa-apa selain hanya memandang. Dan di dalam hati masing-masing, mereka sudah tahu apa yang bakal dialami parempuan yang dibawa Setan Pikulan itu ketika mereka melihat laki-laki itu melangkah menuju ke kamar di ujung ruangan!
Kemudian pintu kamar itupun tertutuplah.
Di dalam kamar…….
Setan Pikulan menutupkan pintu dengan tumit kakinya.
Dengan tertawa mengekeh-ngekeh manusia ini membaringkan Sekar di atas tempat tidur. Kemudian dia melangkah ke meja dan meneguk tuak dari dalam sebuah kendi. Minuman keras ini dengan serta merta menghangati tubuh dan menambah gelora nafsu terkutuk Setan Pikulan. Dengan memegang kendi itu di tangan dia melangkah kembali ke tempat tidur dan duduk di samping Sekar.
“Ah, parasmu yang cantik basah oleh keringat dan debu. Biar aku bersihkan…. kata Setan Pikulan. Lalu dengan tangan kirinya diusapnya kening serta pipi Sekar. Gadis ini memaki dalam hati. Hanya itu, yang bisa dilakukannya. Dia tak bisa membuka mulut ataupun menggerakkan anggota badannya karena telah ditotok.
Cuma mimik mukanya yang menyatakan demikian.
Setan Pikulan meneguk tuaknya kembali.
“Eh, kau tentu haus” Setan Pikulan mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu dibukanya totokan pada tubuh Sekar. Gadis itu kini bisa bicara dan mendengar tapi tubuhnya tetap kaku tak bisa digerakkan.
“Ini, minumlah, kau tentu haus manisku!”
“Manusia biadab! Lepaskan totokanku! Keluarkan aku dari sini!” teriak Sekar.
“Kau masih saja galak,” desis Setan Pikulan dan mencubit dagu Sekar. “Ini minum!,” katanya. Bibir kendi didekatkannya ke bibir gadis itu. Sekar mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tapi kemudian dia mendapat akal. Dibukanya mulutnya sedikit. Tuak di dalam kendi itu diteguknya dua kali. Setan Pikulan tertawa gembira.
Tapi tiba-tiba !
Tuak yang sudah diteguk tadi tiba-tiba disemburkan kembali oleh Sekar dan karena tidak diduga sama sekali oleh Setan Pikulan, laki-laki ,ini tak sempat lagi menghindar! Dia berteriak kesakitan dan melemparkan kendi di tangannya ke dinding. Kendi pecah berantakan isinya membasahi lantai! Untung saja Sekar dalam
keadaan ditotok sehingga dia tak bisa mengalirkan darah dan tenaga dalamnya! Jika saja semburan tuak tadi disertai dengan aliran tenaga dalam niscaya hancur dan butalah mata Setan Pikulan. Namun demikian semburan tadi sudah cukup membuat matanya sakit sekali dan untuk beberapa saat lamanya tak bisa membuka kedua matanya itu!
Sambil mengeringi mukanya yang basah dan mengucakngucak kedua matanya Setan Pikulan memaki habis-habisan! “Gadis gila! Kalau kau tidak sekurang ajar itu terhadapku pasti
aku akan perlakukan kau baik-baik. Tapi kini kau akan rasakan sendiri !”
Setan Pikulan mengucak lagi kedua matanya. Pemandangannya sudah terang kini.
Kedua matanya yang juling memandang dengan berapi-api. Tiba-tiba dibungkukkannya kepalanya. Maka habislah seluruh tubuh Sekar diciuminya. Gadis itu menjerit tiada henti.
“Menjeritlah sampai lidahmu copot!” kata Setan P,kulan dengan tertawa mengekeh. Ciumannya datang lagi bertubi-tubi. Kemudian bukan hanya ciuman saja lagi. Sepasang tangan manusia kate ini membuat dua kali gerakan.
“Breet!”
“Breet!”
Pakaian kuning yang dikenakan Sekar robek besar. Dadanya tersingkap lebar!
“Dadamu bagus dan putih sekali!” seru Setan Pikulan seperti gila. Dan kemudian betul-betul macam orang gila muka dan bibirnya melumasi dada Sekar yang sampai saat itu masih menjerit-jerit. Sekar menjerit lagi lebih keras sewaktu sepasang tangan Setan Pikulan menggerayang meremasi dadanya !
“Braak !”
Pintu kamar terpentang lebar. Salah satu papannya pecah! Kaget Setan Pikulan bukan olah-olah! Sebelum dia berpaling, dari pintu sudah membentak satu suara .
“Munding Sura! Hentikan perbuatan kotormu itu!”
— == 0O0 == —
DELAPAN
BEGITU berpaling begitu Setan Pikulan alias Munding Sura hendak mendamprat marah. Tapi sewaktu melihat siapa yang berdiri dihadapannya dia hanya mengeluarkan suara menggerendeng. Di belakang laki-laki yang masuk ke dalam kamar itu masih ada seorang lainnya.
Setan Pikulan bangkit dari tempat tidur.
“Kalau tidak memandang kepada nama besar serta hubungan kita sesama tokoh-tokoh pembantu Baginda, pasti aku sudah tendang kau ke luar dari kamar ini Setan Darah Kedua!”
Setan Darah Kedua tertawa bergumam. Dia rangkapkan tangan di muka dada sementara kawannya melangkah ke sampingnya. Sepasang mata Setan Darah Kedua menatap tubuh yang tergeletak di atas tempat tidur. Hatinya terkesiap juga memandangi paras cantik dengan tubuh dalam keadaan setengah telanjang itu! Seperti Setan Pikulan, diapun seorang yang suka perempuan!
“Setan Darah, lekas katakan apa maksud kedatangan kalian !”
“Sewaktu memasuki ujung jalan kau kelihatan ke luar dari tempat kediaman kami membawa perempuan itu!” kata Setan Darah Kedua. Kepalanya digoyangkannya sedikit ke arah Sekar. “Ada perlu apa kau ke tempat kami dan siapa ini perempuan?!”
“Siapa ini perempuan bukan urusanmu!” jawab Setar Pikulan.
“Kalau kau memandang mukaku, aku juga matih mau memandang muka padamu, Setan Pikulan,” kata Setan Darah Kedua.
“Kuharap kau tak usah bicara kasar!” Setan Darah Kedua tertawa dingin.
Setan Darah Ketiga buka mulut, “Melihat caramu ke luar dari gedung kami dan melarikan perempuan ini jelas sudah kau membuat apa-apa yang tak diingini di tempat kami!” Setan Pikulan meludah ke lantai.
“Aku ke sana sebetulnya untuk menyambangi kalian…” “Itu satu kehormatan.” memotong Setan Darah Kedua dengan nada sinis.
“Kalian tidak ada. Pintu samping kutemui dalam keadaan hancur. Senjata-senjata rahasia bertancapan di pohon dan bertebaran di tanah. Halaman belakang kacau balau dan pintu belakang gedung kalian juga , kutemui dalam keadaan terpentang bobol….”
“Hemmm…,” gumam Setan Darah Ketiga. “Siapa yang melakukannya?!”
“Mana aku tahu!” sahut Setan Pikulan.
“Jangan dusta Munding Sura!” sentak Setan Darah
Kedua.’“Hanya beberapa orang saja yang tahu rahasia masuk ke gedung itu, diantaranya kau!”
“Jadi kau menuduh aku membuat kerusakan di gedung itu?” “Aku tanya siapa yang melakukan, bukan menuduh!” sahut Setan Darah Kedua ketus.
“Aku sudah bilang tidak tahu! Dan sekali tidak tahu, tetap tidak tahu. Sekarang silahkan angkat kaki dari sini!”
“Baik Munding Sura. Tapi ingat…” ujar Setan Darah Ketiga.
“Bila nanti terbukti kau berbuat…”
“Tak usah mengancam sompret!” maki Setan Pikulan. Setan Darah Ketiga melangkah maju. Setan Darah Kedua menarik lengan jubahnya dan berkata pada Setan Pikulan, “Sekarang memang baru cuma ancaman. Kelak kalau kami tahu bahwa kau betul-betul telah membuat keonaran di tempat kami, ancaman itu akan menjadi kenyataan, Munding!”
Munding Sura yang bergelar Setan Pikulan tertawa mencemooh!
“Dasar manusia-manusia tidak tahu diri!” katanya.
”Kalian tahu, sewaktu aku datang ke sana ada dua cecunguk yang sembunyi di atas genteng! Satu diantaranya gadis ini, yang lain seorang pemuda! Aku paksa mereka turun dan paksa agar memberi keterangan. Mereka menerangkan tengah mencari seorang kawan yang kalian seret ke tempat kalian! Mereka bermakpud membebaskannya! Aku pikir kalau manusia itu adalah musuhmu maka pasti yang dua lainnya adalah kambratnya juga. Si gadis, kutotok dan kawannya kutipu kujebloskan dalam ruang batu karang di dasar gedung! Kalian dengar semua itu?! Seharusnya kalian berterima kasih padaku dan bukan mengoceth tak karuan! Sekarang berlalu dari hadapanku sebelum kesabaran habis!”
Setan Darah Kedua menarik lengan baju kawannya. Keduanya sama– sama melangkah ke pintu. Tapi tiba-tiba Sekar berseru. “Setan Darah! Jangan kena ditipu oleh bangsat kepala botak ini!”
Tentu saja kedua Setan Darah itu sama hentikan langkah dan balikkan badan!
“Apa yang diterangkannya semua adalah dusta!”
“Heh, begitu…?!”
“Gadis edan apa mulutmu mau kupecahkan?!” bentak Setan
Pikulan. “Berani kau bicara lagi betul-betul kupecahkan mulutmu!” “Biarkan dia bicara, Munding Sura!” kata Setan Darah Kedua. “Tapi kau lepaskan dulu totokanku!” kata Sekar. “Aku akan terangkan apa yang telah diperbuatnya ditempatmu! Dan bukan itu saja, aku akan bersedia ikut dengan kalian!”
“Ah…,” Setan Darah Kedua mengusap-usapkan kedua telapak tangannya satu sama lain. “Satu usul yang baik! Memang kau telah pantas bersamaku daripada kambratku yeng kate buruk ini!” Marahlah Setan Pikulan.
“Saat ini aku tidak memandang nama besar atau mukamu lagi
Setan Darah keparat! Tidak perduli meski kita sama-sama orang
Istana!”
“Gadis itu sudah membuka kedok kedustaanmu!”
“Dia yang dusta! Bohong besar!”
“Dusta atau tidak tapi aku percaya omongannya. Dan aku dengar dia sendiri yang mau ikut bersamaku!” Setan Darah Kedua mengekeh.
Mulut Setan Pikulan komat kamit. “Boleh,” katanya. “Silahkan bawa gadis itu. Tapi begitu tanganmu menyentuh tubuhnya, kepalamu akan hancur lebih dulu!”
Setan Darah Kedua tertawa bergelak.
“Nama besar Setan Pikulan memang sudah lama kami dengar, Tapi hendak manantang Tiga Setan Darah yang kesohor sama saja seperti biduk kecil yang hendak melawan gelombang sebesar gunung!” Kini Setan Pikulan yang tertawa mangekah.
“Orang sombong memang terlalu sering lupa diri! Kita walau bagaimanapun masih sama sama manusia. Aku bukan biduk dan kalian bukan gunung! Bicara jangan ngaco!”
“Agaknya jalan kekerasan tak bisa dihindarkun, Setan Pikulan!” kata Setan Darah Ketiga sambil usut-usut lengan jubahnya. “`Kukira demikian, Lagi pula memang sudah sejak lama aku ingin membuktlkan sampai di mana kehebatan nama Tiga Setan Darah itu. Jangan-jangan cuma bangsa kroco bau terasi saja! Apalagi sekarang cuma ada dua orang!”
“Kita akan saksikan siapa yang kroco manusia buruk!” sahut
Setan Darah Kedua. Dia berpaling pada kawannya dan berkata, “Kau lepaskan totokan gadis itu, biar aku yang kasih pelajaran pada manusia jenis kacoak ini!”
Setan Darah Ketiga melompat ke arah tempat tidur. Dua jari tangannya siap untuk melepaskan totokan di tubuh Sekar, tapi dari samping Setan Pikulan tidak tinggal diam. Tubuhnya yang kate melasat ka muka satu tendangan yang dahsyat dilancarkannya ke arah tangan Setan Darah Ketiga. Tentu saja Setan Darah Ketiga tidak mau ambil risiko hancur tangannya. Cepat-cepat dia tarik pulang tangannya, menggeser kaki dan kebutkan lengan jubahnya sebelah kiri!
Selarik sinar merah menyambar ke arah selangkangan Setan Pikulan! Ini adalah satu serangan yang benar-benar mematikan! Tapi si kate kepala gundul bukan manusia kemarin. Dia membentak dan melompat ke atas. Dari atas dia kirimkan satu jotosan dan satu tendangan! Setan Darah Ketiga merunduk sementara sinar pukulannya tadi telah melanda dan menghancurkan tembok kamar!
Di ruang sebelah terdengar pekikan beberapa orang perempuan! Serangan gencar Setan Pikulan menjadi batal sewaktu dari samping Setan Darah Kedua tusukkan dua jari tangannya ke rusuk. Setan Pikulan yang tahu betul kehebatan dua jari itu cepat menghindar dan sekaligus dua tangannya dipukulkan ke muka! Setan Darah Kedua cepat-cepat buang diri ke samping sewaktu melihat dua gelombang angin hitam ke luar dari jotosan-jotosan lawannya.
“Ilmu pukulan sepasang tinju hitammu tiada berguna terhadapku manusia buruk!” ejek Setan Darah Kedua.
Sementara kawannya baku hantam dengan Setan Pikulan.
Setan Darah Ketiga pergunakan kesempatan untuk membebaskan Sekar dari totokan. Namun kali yang kedua inipun tidak berhasil karena saat itu Setan Pikulan sudah menyambar senjatanya yang ampuh yang menyebabkan dia sampai dijuluki Si Setan Pikulan dalam dunia persilatan. Senjatanya itu bukan lain ialah sebuah pikulan dari bambu! Meskipun dari bambu tapi karena merupakan senjata sskti maka kekuatannya lebih hebat dari baja! Setan Darah Ketiga cepat-cepat buang diri ke samping sewaktu ujung pikulan menusuk ke kepalanya. Setan Darah Kedua mengomel.
“Tolol!,” makinya, “lepaskan dia dengan totokan jarak jauh!” Habis berkata begitu Setan Darah Kedua segera keluarkan sanjatanya yaitu sepasang gada.
Dalam ilmu mengentengi tubuh dan tenaga dalam serta kegesitan bergerak Setan Pikulan tidak di bawah kedua Setan Darah itu, apalagi saat itu pikulan saktinya sudah berada di tangan. Namun menghadapi dua lawan yang berada dalam jarak terpisah di mana dia musti pula melindungi Sekar agar jangan sampai gadis itu berhasil dibebaskan lawan dari totokannya maka ini adalah satu hal yang cukup menyulitkan bagi Si Setan Pikulan! Setiap saat dia harus membagi serangan pada kedua lawan dan melindungi Sekar! Setan Pikulan putar senjatanya laksana titiran.Pikulan itu dimainkan dalam jurus-jurus silat toya. Angin deras dan suara mengaung memenuhi kamar itu. Namun senjata lawan yang dihadapi Setan Pikulan bukan pula senjata biasa! Bagaimanapun dia mempercepat gerakannya dan mendesak Setan Darah Kedua dengan hebat namun pada jurus kesembilan belas Setan Pikulan tak berhasil menghalangi Setan Darah Ketiga melepaskan satu pukulan tangan kosong jarak jauh yang membuat terlepasnya totokan di tubuh Sekar!
Begitu bebas secepat kilat gadis itu merapikan pakaiannya. “Saudari, kau menghindarlah ke sudut sana! Tunggu sampai kami membereskan monyet kontet ini!,” kata Setan Darah Kedua. Sekar merasa syukur bahwa hasutannya termakan oleh kedua
Setan Darah sehingga kini dia lepas dari totokan. Dia tahu baik Setan Pikulan maupun manusia-manusia bermuka dan berjubah merah itu tiada beda satu sama lain. Dia berpikir-pikir apakah akan masuk ke gelanggang pertempuran untuk turut mengeroyok Setan Pikulan yang telah membuat kekejian terhadapnya atau lebih baik menyingkir dulu dari situ sebelum timbul pula urusan baru dengan manusia-manusia iblis bermuka merah itu!
Si gadis mengambil keputusan yang terakhir. Apa lagi dia ingat bahwa sewaktu dibawa lari oleh Setan Pikulan dari gedung kediaman Tiga Setan Darah tadi, sahabatnya Wiro Sableng masih tertinggal di sana, dikurung dalam ruang batu karang. Maka gadis ini cepat-cepat melompat ke pintu. Namun apa lacur! Bersamaan dengan itu sesosok tubuh melompat pula dari luar dan cepat berhadap-hadapan dengan Sekar diambang pintu itu !
— == 0O0 == —
SEMBILAN
MANUSIA ini berambut gondrong, bermuka dan berjubah merah
parsis seperti yang dikenakan dua orang Setan Darah yang tengah bertempur di dalam kamar. Pasti tidak manusia ini adalah kawan dari dua Setan Darah lainnya itu pikir Sekar. Di lain pihak manusia yang berdiri diambang pintu yang memang Setan Darah Pertama adanya menduga keras bahwa Sekar adalah perempuan yang tadi terlihat dilarikan oleh Setan Pikulan dari gedungnya. Meskipun dia tertarik sekali akan kecantikan si gadis dihadapannya namun saat itu Setan Darah Pertama masih diliputi kemarahan yang meluap yaitu sesudah dia menyaksikan kerusakan-keruasakan di gedungnya serta dibikin seperti main-mairan sewaktu bertempur melawan Pendekar 212.
“Kalian tolol semua!” bantak Setan Darah Pertama sewaktu menyaksikan dua kawannya yang mengeroyok Setan Pikulan tapi mendapat tekanan-tekanan yang hebat bahkan sesungguhnya sudah mulai terdesak. “Menghadapi si kate keling ini saja tidak mampu!”
Di saat itu Setan Pikulan mengamuk dengan hebatnya. Senjatanya bersiur-siur. Dua ujung pikulan menyambar dan memapas, kadang-kadang menusuk ganas dalam jurus-jurus gencar yang penuh dengan tipu-tipu yang membahayakan keselamatan kedua Setan Darah.
Mendengar bentakan Setan Darah Pertama, Setan Darah Ketiga segera cabut sepasang goloknya. Pertempuran dalam kamar itu bertambah hebat. Tapi sepasang mata Setan Darah Pertama bisa melihat bahwa kedua kambratnya itu masih berada di bawah angin, Si kate kapala gundul berkelebat ganas hampir tak kelihatan. Pikulannya menderu-deru bahkan anginnya sampai mengibarngibarkan jubah yang dipakainya!
Tanpa tunggu lebih lama Setan Darah Pertama segera bergerak ke tengah ruangan. Kasempatan ini lekas dipergunakan olah Sekar untuk meninggalkan tempat itu. Tapi Setan Darah Pertama berseru.
“Hai gadis manis! Tunggu dulu! Kau mau ke mana?!”
Sakar tak menyahuti malah tancap gas larikan diri tapi satu sambaran angin menyapu kedua kakinya, membuat kaki gadis itu menjadi kaku tegang dan laksana dipakukan ke lantai tak dapat bergerak lagi!
Setan Darah Petema telah melepaskan totokan jarak jauh yang lihai sekali, Sekar sendiri tak tahu kalau dirinya akan diserang dari belakang begitu rupa maka kini dia terpaksa tegak di lantai tak berdaya! Dikerahkannya tenaga dalamnya ke kaki untuk membuyarkan totokan Setan Darah Pertama, tapi sia-sia belaka!
“Tahan dulu! Aku mau bicara!” Setan Darah Pertama berseru. Kedua orong kawannya segera melompat ke tepi kamar. Dengan pandangan berapi- api Setan Derah Pertama memanndang pada Setan Pikulan. “Munding Sura kaukah yang membuat keonaran di tempatku?!”
Munding Sura alias Setan Pikulan tertawa tawar. “Kau dan dua kambratmu ini sama saja menuduh seenaknya. Kau kira…..” “Setan Darah Pertama,” ujar Setan Darah Kedua. “Kita tak perlu banyak bicara dengan kunyuk hitam ini. Kami sudah tahu memang dia sengaja mencari urusan terhadap kita, Dia telah menyelundup ke tempat kita!”
Setan Pikulan tertawa lagi. “Tentu saja nyalimu tambah besar karena satu kambratmu telah datang, lagi ke sini,” katanya. “Sebelum terlambat apakah kalian masih mau teruskan urusan gila ini?!”
“Kunyuk hitam!” hardik Setan Darah Pertama. “Tiga Setan Darah tak pernah bikin urusan setengah-setengah! Kawan-kawan, bersiap membentuk barisan tiga bayangan siluman!.” Maka Tiga Setan Darahpun segera membentuk barisan yang sangat diandalkan mereka itu. Di lain pihak Setan Pikulan yang sudah memaklumi kehebatan ilmu silat lawan-lawannya itu segera pasang kuda-kuda baru. Dan sebelum barisan tiga bayangan siluman bergerak Setan Pikulan sudah berteriak-keras dan berkelebat bersama senjatanya!
Setan Darah Pertama bergeser ke samping mengelakkan sambaran senjata Setan Pikulan yang melanda ke arah pinggangnya. Manusia bermuka merah ini kemudian merunduk dengan cepat dan kirimkan serangan berantai ke arah kedua kaki lawan. Setan Darsh Ketiga melesat ke atas, menukik lagi dan laksana seekor .burung elang tiada hentinya melancarkan pukulan-pukulan maut ke kepala Setan Pikulan!
Barisan tiga bayangan siluman ini memang cukup terkenal dikalangan tokoh-tokoh Kotaraja. Setan Pikulan sendiri juga sudah tahu tapi baru kali ini menyaksikannya dan disaat itu dirinya pula yang menjadi bulan-bulanan! Namun Setan Pikulan bukan pula tokoh silat kemarin. Tubuhnya berkelebat laksana bayang-bayang, menerobos dan mengelak diantara hujan serangan lawan sedang senjatanya menderu kian kemari. Kegesitan ditambah dengan keampuhan jurus-jurus silat yang dimainkannya banyak sekali menolong Setan Pikulan sehingga meski dikeroyok tiga dalam sepuluh jurus dia masih bisa bertahan bahkan dua tiga kali berturut-turut membagi serangan pada ketiga lawannya. Lambat laun Tiga Setan Darah dibikin sibuk. Barisan tiga bayangan siluman tiada berarti lagi. Ketiganya kini mulai terdesak!
Setan Darah Pertama memaki dalam hati!
Untung saja pertempuran itu tidak terjadi di tempat terbuka, tidak disaksikan umum! Kalau saja orang luar tahu, pasti nama besar Tiga Setan Darat akan menjadi luntur!
Setan Darah Pertama keluarkan sepasang tombak bermata dua dari balik jubahnya. Melitat ini dua Setan Darah yang lain yang tadi sewaktu membentuk tiga bayangan siluman telah memasukkan senjata mereka, kini segera pula mengeluarkan senjata masing-masing kembali!
Setan Pikulan kertakkan rahang. Tiga pasang senjata di tangan musuh-musuhnya itu adalah senjata-senjata mustika sakti. Dia bersangsi apakah kini dia akan sanggup menghadapi manusiamanusia bermuka merah itu! Setan Pikulan coba memancing dengan ucapan agar musuhnya tidak bertempur secara mengeroyok. Maka dia pun berkata, “Nama Tiga Setan Darah memang tersohor! Tapi hari ini aku sendiri menyaksikan bahwa mereka cuma bangsa bunglonbunglon bernyali rendah bangsa pengecut kelas wahid! Tokoh-tokoh silat yang beraninya main keroyok!”
“Mengocehlah seenakmu manusia kontet! Sebentar lagi gadaku ini akan membuat otakmu bertaburan.” hardik Setan Darah Kedua serayra putar-putarkan gadanya.
“Setan Darah Pertama, tunjukkanlah bahwa kau bukan seorang
pengecut! Mari kita bertempur satu lawan satu sampai seribu jurus!” Setan Darah Pertama tertawa gelak-gelak. “Sampai seribu jurus katamu?! Tiga juruspun kau belum tentu bisa bertahan manusia kacoak!”
“Huh! Betapa memalukan kalau dunia persilatan mengetahui bahwa Tiga Setan Darah beraninya cuma main keroyok! Persis macam anjing-anjing kurap yang mengeroyok seekor kucing yang ditakutinya!” Marahlah Setan Darah Pertama mendengar cacian anjing kurap itu. Dia berikan isyarat pada dua kawannya. Serentak dengan itu ketiganya segera menyerbu Setan Pikulan. Enam senjata laksana taburan hujan menderu mencari sasaran ditubuh Setan Pikulan. Yang dikeroyok mempertahankan diri dengan sebat. Sepuluh jurus berlalu. Keringat telah membasahi tubuh Setan Pikulan yang cuma mengenakan cawat itu! Gerakan dan putaran pikulannya semakin sebat namun sesungguhnya daya pertahanan manusia ini jurus demi jurus semakin lemah. Beberapa kali ujung-ujung pikulannya beradu dengan salah satu senjata lawan membuat senjata itu kadang-kadang hampir terlepas dan genggamannya yang licin oleh keringat!
“Ha… ha… ha…! Sampai berapa lama lagikah kau akan sanggup bertahan Munding Sura?!” Mengejek Setan Darah Pertama. “Sampai batok kepalamu hancur oleh ujung senjataku ini!” sahut Setan Pikulan seraya tusukkan ujung pikulannya ke kepala lawan. Setan Darah Pertama sampokkan tombaknya yang ditangan kanan untuk menangkis tapi senjata lawan berputar cepat dan kini ujung yang lain menotok ke dadanya dengan sangat cepat! Setan Darah Pertama kertakkan rahang! Dia bersurut satu langkah dan dibantu oleh Setan Darah Kedua, keduanya menangkis serangan Setan Pikulan. Tiga senjata bentrokan satu sama lain mengeluarkan suara keras. Tiga tangan tergetar! Begitu senjatanya membentur senjata lawan, Setan Darah Pertama cepat pergunakan ujung tombaknya yang bermata dua untuk menjepit ujung pikulan. Dia berhasi! Segera tombak hendak diputarnya. Tapi Setan Pikulan tidak bodoh! Pikulan digerakannya dari atas ke bawah. Ujung yang lain menderu ke bawah perut Setan Darah Pertama. Di saat yang sama pula Setan Pikulan melompat ke atas karena kedua kakinya! Genap dua puluh jurus sudah! Setan Pikulan benar-benar sudah mandi keringat. Tiba-tiba dia menjerit keras. Senjatanya menyapu membuat satu lingkaran sedang dari balik cawatnya dikeluarkannya sejenis senjata rahasia berbentuk paku rebana!
“Awas paku rebana beracun!” teriak Setan Darah Pertama. Tiga Setan Darah masing-masing kebutkan lengan jubah mereka. Sinar merah yang keluar dari ujung lengan jubah itu membuat mental sembilan buah paku-paku rebana yang dilepaskan Setan Pikulan!
“Licik!” maki Setan Darah Pertama.
“Kalian kunyuk-kunyuk muka merah yang pengecut kelas wahid!” semprot Setan Pikulan. Dan kembali diputarnya senjatanya dengan sebat. Namun serangan-serangannya tiada berarti. Daya tahannya semakin kendur. Pada jurus ke duapuluh sembilan kedua ujung senjatanya sekaligus beradu dengan gada serta tombak lawan. Di detik itu pula sepasang golok Setan Darah Ketiga membabat dari atas ke bawah hendak menetak pangkal lehernya dari dua jurusan. Tak ada cara lain yang paling baik untuk menghindarkan diri dari pada menjatuhkan badan kebawah. Dan memang inilah yang dilakukan oleh si kate Munding Sura. Sambil jatuhkan diri manusia yang berjuluk Setan Pikulan ini kirimkan satu tendangan ke arah bawah perut Setan Darah Ketiga!
Setan Darah Ketiga keliwat yakin bahwa bacokan sepasang goloknya akan berhasil sehingga dia melupakan pertahanan dirinya sendiri! Kecepatan turun golok-golok itu tak dapat rnendahului kecepatan jatuhnya tubuh Setan Pikulan. Golok Setan Darah Ketiga beradu satu sarna lain sebaliknya tendangan Setan Pikulan cuma sedikit saja dapat dilaksanakannya.
“Buuk!”
Tendangan Setan Pikulan mendarat di pinggul kiri Setan Darah Ketiga. Manusia ini terpelanting beberapa tombak dan untuk beberapa lamanya tergelimpang di lantai kamar merintih kesakitan! Meski berhasil mengelakkan serangan gotok-golok maut tadi dan mernbuat Setan Darah Ketiga melingkar di lantai namun posisi Setan Pikulan sendiri di saat itu tidak menguntungkan sama sekali! Salah satu ujung pikulannya telah dijepit sepasang tombak bermata dua dan dalam keadaan tubuh masih membungkuk di lantai begitu rupa sukar bagi Setan Pikulan uratuk melepaskan jepitan senjata lawan atas senjatanya. Hanya ada dua keputusan yang harus diambil oleh Setan Pikulan. Melepaskan senjatanya atau memutar Pikulan itu sambil mengerahkan tenaga dalam!
Setan Pikulan merasa lebih baik memutar senjatanya sekalipun pikulan itu akan patah daripada menyerahkan senjata tersebut mentah-mentah ke tangan lawan!
Setan Pikulan gerakkan kedua tangannya !
“Kraak!”
Pikulannya benar-benar patah!
“Bedebah!” maki Setan Pikulan.
Salah satu dari patahan pikulan itu dihantamkannya ke arah Setan Darah Pertama tapi dapat dielakkan. Patahan yang kedua ditusukkannya ke muka Setan Darah Kedua, namun dia keliwat kesusu! Di saat melemparkan patahan senjata yang pertama kepada Setan Darah Pertama, Setan Pikulan tak dapat mengontrol posisinya, tak dapat melihat posisi lawan lainnya. Justru diwaktu dia menyodokkan patahan pikularn maka Setan Darah Kedua lebih cepat dari itu setan Darah Kedua hantamkan ujung gadanya ke dada Setan Pikulan.
“Buuuk!!”
“ Setan Pikulan mengeluh tinggi.
Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. tersandar ke dinding lalu melosoh duduk ke lantai, muntahkan darah segar! Mukanya menjadi pucat laksana kain kafan dan nafasnya megap-megap! Setan Darah Pertama tertawa terkekeh-kekeh. Perlahan-lahan dia melangkah mendekati Setan Pikulan.
“Ha… ha… Nyatanya memang kau cuma manusia jenis kacoak! Apakah saat ini kau masih sanggup memperlihatkan kehebatanmu huh!”
“Setan alas mampuslah!” teriak Setan Pikulan. Tangan kanannya memukul ke muka. Seberkas sinar hitam menyambar ke arah Setan Darah Pertama, membuat manusia muka merah ini memaki dan cepat-cepat menghindar ke samping. Setan Pikulan sendiri kembali muntahkan darah segar.
Dengan beringas Setan Darah Pertama angkat salah satu tombaknya tinggi-tinggi, siap untuk ditancapkan ke batok kepala Setan Pikulan!
“Tunggu dulu!,” Setan Darah Ketiga berseru.
Penasaran Setan Darah Pertama membentak
“Tunggu apa lagi, sompret!”
“Kematian yang begitu cepat terlalu bagus baginya, Setan Darah
Pertama!”
“Hem, kau punya rencana apa?!”
“Kau bisa merasakan dan membayangkan bagaimana seorang jago silat yang ditakuti cacat seumur hidup, tak bisa lagi memainkan silat dan ilmu kesaktiannya?! Cacat seumur hidup! Lebih mengertikan dari kematian sobat!”
“Cepat bilang terus terang rencanamu!” tukas Setan Darah Pertama penasaran.
Setan Darah Ketiga tertawa sedingin es. Dia melangkah ke hadapan Setan Pikulan yang tersandar di dinding antara sadar dan tiada.
“Inilah rencanaku Setan Darah Pertama!” seru Setan Darah Ketiga.
Serentak dengan itu sepasang goloknya berkelebat.
“Craas!”
Buntunglah kedua tangan Setan Pikulan. Dacah muncrat. Setan
Pikulan meraung keras lalu rubuh di lantai bermandikan darah! Setan Darah Ketiga tertawa panjang-panjang. Dia memandang pada kedua koleganya dan berkata, “Dia akan hidup terus! Tapi hidupnya akan dirongrong oleh rasa kenyerian! Dendam kesumat yang membara! Namun tak satu apapun yang akan bisa dilakukannyal
Karena dia cacat selama-lamanya!”
Meledaklah tawa Tiga Setan Darah itu.
Setan Darah Pertama menepuk-nepuk bahu Setan Darah Ketiga.
“Betul! Betul sekali katamu! Dia tidak marnpus, tapi hidupnya lebih mengerikan dari pada benar-benar mampus! Sekarang mari kita tinggalkan tempat sialan ini! Di luar ada seorartg gadis jelita menunggu kita. Kita bawa dia ke gedung dan suruh dia membuka bajunya satu demi satu! Kalau tidak mau kita yang tolong membukanya….!”
Suara tertawa ketiga manusia itu meledak lagi di dalam kamar itu! Ketiganya menuju ke pintu! Setan Darah Pertama tanpa banyak cerita segera menotok tubuh Sekar, sehingga tubuh gadis ini kaku tegang tak bisa bergerak tak bisa buka suara! Tiba-tiba Setan Darah Kedua hentikan langkah.
“Tunggu dulu”“, katanya. “Kita semua tahu dirumah ini Setan
Pikulan punya banyak, perempuan peliharaan! Cantik-cantik! Di mana mereka semua?!”
“Heh?!” Setan Darah Pertama yang memanggul tubuh Sekar kerenyitkan kening.
“Terserah kalau kau mau cari perempuan-perempuan itu Aku tetap yang ini!,” kata Setan Darah Pertama pula kemudian. Setan Darah Kedua memandang pada kambratnya yang seorang lagi. “Kau bagaimana?,” tanyanya. “Aku tetap tinggal bersamamu di sini,” jawab Setan Darah Ketiga.
Setan Darah Pertama tertawa. “Puaskan dirimu di sini sobatsobat, tapi jangan lupa untuk datang ke gedung kita. Kita masih ada tugas, mencari Pranajaya, anak si Wijaya keparat itu!”
Kedua Setan Darah anggukkan kepala. Begitu Setan Darah Pertama berlalu bersarna Sekar, mereka segera memeriksa kamarkamar di dalam rumah itu. Dalam kamar yang paling belakang akhirnya mereka menemui juga perempuan-perernpuan peliharaan Setan Pikulan. Semuanya rnasih muda-muda dan berparas rata-rata cantik, bertubuh rnontok molek! Kedua Setan Darah berdiri diambang pintu, memandag kepada rnereka dengan hidung kembang kempis dan mata bersinar-sinar. Perempuan-perempuan muda itu berjumlah empat orang semuanya. Mereka memandang dengan ketakutan pada manusia-manusia diambang pintu itu.
Setan Darah Kedua menyengir.
“Kalian tak usah takut pada kami. Kami jauh lebih baik daripada si kate kepala gundul itu!”
Setan Darat Ketiga yang sudah tak sabaran berbisik, “Masingmasing kita kebagian dua orang. Kau pilih yang mana…?” Setan Darah Kedua meneliti sebentar lalu menjawab, “Yang baju ungu dan baju biru itu….”
“Sompret kau pilih yang cantik semua!”° desis Setan Darah Ketiga. “Begini saja, kau boieh ambil si baju ungu dan salah seorang lainnya, aku si baju biru dan satu orang lainnya pula. Atau sebaliknya!”
“Baik,” Setan Darah Kedua mengangguk. Dia, melompat ke muka. Empat perempuan itu menjerit. Setan Darah Kedua segera merangkul perempusn baju ungu dan salah seorang kawannya sedang Setan Darah Ketiga menarik si baju biru bersrama kawannya yang keempat.
“Di sini saja, sobat?!” tanya Setan Darah Kedua
“Sinting kau! Kau pindah ke kamar sebelah sana!” Dengan tertawa-tawa Setan Darah Kedua memboyong dua orang perempuan cantik itu dan membawanya ke kamar sebelah!
— == 0O0 == —
SEPULUH
PENDEKAR 212 wiro sableng membawa Pranajaya keluar
Kotaraja sebelah tenggara. Dia berhenti di tepi sebuah telaga dan membaringkan tubuh pemuda itu di atas rerumputan. Dia sudah sejak lama siuman tapi keadaannya masih menyedihkan. Wiro memberikan sebutir pil lagi kepada pemuda itu kemudian menyandarkannya ke sebatang pohon. Dengan sehelai sapu tangan yang sudah dibasahkan dengan air telaga dibersihkannya seluruh luka-luka di tubuh Pranajaya.
Setengah jam kemudian disuruhnya pemuda itu mengatur jalan nafas serta darah. Ketika disuruhnya mengatur tenaga dalam Pranajaya masih tak mampu. Wiro Sableng berlutut di belakang pemuda itu. Kedua telapak tangannya ditempelkannya di punggung pemuda itu. Lalu perlahan-lahan Wiro mulai alirkan tenaga dalamnya. Lima menit kemudian.
“Coba kerahkan lagi,” kata Wiro.
Pranajaya kerahkan tenaga dalamnya, memusatkannya kepertengahan perut! Dia berhasil berseru gembira!
“Wiro Tenaga dalamku telah pulih!”
Murid Empu Blorok ini melompat ke udara berjundgir balik beberapa kali lalu turun kembali dengan kedua kaki lebih dahulu mencapai tanah!
“Gerakan dan ilmu mengentengi tubuhmu hebat sekali Prana,”puji Wiro. Pranajaya tersenyum jumawa. “Ini semua adalah berkat pertolonganmu. Kalau kau tidak ada pasti aku sudah mampus! Aku berhutang budi dan berhutang nyawa padamu!” Wiro Sableng bersiul.
“Hutang budi dan hutang nyawa itu sebetulnya tak pernah ada
di dunia ini, saudara Prana,” sahut Wiro Sableng. ”Kau tahu, budi baik itu Tuhan yang memasukannya ke dalam hati nurani kita. Dan nyawa itu Tuhan yang punya! Jadi kepada Tuhanlah kita semua berhutang!”
Pranajaya tertawa.
“Walau bagaimanapun aku tetap merasa berhutang besar sekali padamu. Kuharap Tuhan memanjangkan umurku dan bisa membalas semua pertolonganmu…“
Wiro Sableng geleng-gelengkan kepalanya. Ditepuknya bahu Prana dan berkata, “Di samping nasib baik dan pertolongan Tuhan, tentunya kau seorang tokoh silat yang sakti, Prana.”
“Ah, aku cuma manusia biasa saja. Pemuda gunung yang tak tahu apa-apa…!” jawab Pranajaya rendahkan diri.
Wiro tertawa. “Seorang pemuda gunung yang dogol pasti sudah mampus diseret dengan kuda! Kau tidak dan masih hidup!” Prana angkat bahu.
“Sekarang terangkan kenapa sampai kau mengalami nasib demikian,” kata Wiro Sableng pula.
“Aku dilepas oleh guruku untuk mencari Tiga Setan Darah. Mereka telah membunuh bapakku dan salah seorang dari mereka membacok buntung lengan kiriku ini! Di samping itu. Empu Blorok juga menugaskanku mencari senjata mustika miliknya yang dicuri oleh seorang sahabatnya bernama Bagaspati.”
“Senjata apa yang dicuri itu?” kepingin tahu Wiro.
“Sebuah cambuk bernama Cambuk Api Angin.”
“Namanya hebat, pasti itu senjata dahsyat sekali,” ujar Wiro. “Kau sudah tahu di mana itu si Bagaspati bercokol?” tanya Wiro kemudian.
Pranajaya mengangguk.
“Di Pulau Seribu Maut,” jawab pemuda tangan buntung itu. “Pulau Seribu Maut? Di mana itu? Aku tak pernah dengar!”
“Menurut guruku terletak di ujung timur Pulau Jawa…“ “Cukup jauh dari sini,” kata Wiro.
Prana mengangguk lagi. “Aku bernasib sial,” katanya. “Tiga Setan Darah ternyata sangat tinggi ilmunya dan belum apa-apa aku sudah kena disikat mereka. Tapi demi arwah ayah, sampai serahkan jiwapun aku tetap musti bisa membereskan ketiga bangsa itu!” Prana berdiri dari duduknya.
“Kau mau ke mana?!” tanya Wiro.
“Kembali ke Kotaraja untuk-mencari Tiga Setan Darah!” Wiro berdiri pula. “Dengan pakaian macam ini kau mau masuk ke Kotaraja?”
Prana memandang ke dirinya. Seluruh pakaian birunya sudah hancur robek-robek, kotor oleh darah dan debu. Pemuda ini menggigit bibir. Wiro tertawa.
“Aku ada satu stel persediaan pakaian,” katanya. Dari balik punggungnya Pendekar 212 mengeluarkan sebuntal pakaian. “Ini, pakailah,” Wiro melemparkan pakaian itu.
Prana menyambutnya. “Terima kasih,” kata pemuda ini lalu cepat-cepat berganti pakaian di balik semak belukar.
“Aku juga akan ke Kotaraja,” kata Wiro “Seorang sahabatku lenyap tak tentu entah ke mana. Aku musti cari dia!”
“Kalau begitu kita pergi sama-sama,” ujar Pranajaya. “Tiga Setan Darah musti mampus ditanganku!,” murid Empu Blorok ini kepalkan tinju tangan kanannya. “Salah seorang dari mereka telah merampas pedang warisan guruku! Mereka musti benar-benar mampus!” Wiro menepuk bahu Pranajaya. “Sudah sobat, mari kita berangkat!”
Kedua pendekar itu meninggalkan telaga. Dengan ilmu lari cepat masing-masing keduanya menuju kembali ke Kotaraja. Di saat itu matahari telah menggelincir ke ufuk barat. Diam-diam Pranajaya memperhatikan gerak dan cara lari Wiro Sableng. Pemuda ini bermata tajam dan berpikiran cerdas. Dia segera mengetahui kalau saat itu Wiro hanya mengeluarkan setengah bagian saja dari kecepatan ilmu larinya sedang dia sendiri sudah mempergunakan keseluruhan kecepatan ilmu lari warisan Empu Blorok! Jika Wiro mau pastilah dia akan ketinggalan jatuh di belakang. Diam-diam Pranajaya membathin siapa dan murid guru sakti dari manakah sesungguhnya Wiro? Empu Blorok pernah menerangkan tentang tokoh-tokoh silat ternama di rimba persilatan. Tapi tak pernah menyebut-nyebut seorang pendekar muda bernama Wiro. Dalam berpikir dan berlari itu akhirnya mereka telah sampai di pintu gerbang Kotaraja.
Wiro Sableng memperlambat larinya.
“Kulihat ada kelainan di pintu gerbang saat ini,” kata Wiro.
Pranajaya memperhatikan ke arah pintu gerbang. Apa yang diucapkan Wiro memang betul. Pada pintu gerbang Kotaraja kelihatan sepuluh orang pengawal, padahal sebelumnya cuma ada dua orang yang berdiri di situ.
“Aku mendapat firasat mereka hendak membuat urusan dengan kita..,” kata Pranajaya.
“Kita lihat saja. Jika betul tak usah ragu-ragu untuk memberi sedikit hajaran pada mareka, Prana!” Begitu sampai di pintu gerbang Kerajaan ke sepuluh pengawal pintu gerbang berjejer rapi, masing-masing memalangkan tombak. Salah seorang dari mereka maju membentak.
“Berhenti!”
Wiro Sableng dan Pranajaya hentikan lari masing-masing. Mereka memperhatikan, rata-rata tampang pengawal-pengawal itu bengis semua.
Yang tadi membentak berpaling pada salah seorang kawannya dan bertanya, “Apakah ini kunyuk-kunyuk yang tadi kau lihat melarikan diri dari Kotaraja?!”
Pengawal yang ditanya mengangguk. Meski sudah berganti pakaian namun pengawal itu masih dapat mengenali Pranajaya dan juga Wiro Sableng.
Pengawal yang tadi bertanya palingkan kepala kembali pada Wiro dan Prana. Dia segera hendak buka mulut berikan perintah namun Wiro Sableng dengan cengar cengir mendahului. “Pengawal, omongmu seenaknya saja! Kau kira kami ini apa pakai memaki kunyuk segala?! Coba kacakan mukamu di telapak kakiku ini dulu, baru nanti kau tahu apa kami yartg kunyuk atau kau yang monyet!”
Habis berkata begitu Wiro Sableng angkat tinggi-tinggi kaki kanannya dan diajukan tepat-tepat ke muka si pengawal yang tadi memaki. Tentu saja marah pengawal ini bukan alang kepalang! “Bangsat rendah! Kau lebih pantas mampus dari pada ditangkap hidup-hidup!” Pengawal ini secepat kilat tusukkan tombaknya kepada Wiro Sableng.
Pendekar 212 ganda tertawa. “Sompret betul!,” makinya kemudian. “Orang suruh berkaca malah menyerang! Ini makan kakiku!”
Hampir tak kelihatan bagaimana cepatnya gerakan kaki murid Eyang Sinto Gendeng itu, tahu-tahu tendangannya sudah mendarat didagu si pengawal!.Pengawal itu terpelanting jauh, tombaknya mental, mulutnya berdarah dan tubuhnya melingkar di muka pintu gerbang tanpa kabarkan diri!
Melihat ini sembilan pengawal lainnya segera menyebar mengurung!
“Bedebah laknat!,” kata salah seorang dari mereka, “lebih baik kalian serahkan diri. Kalau tidak nyawa kalian pasti tidak ketolongan!” “Siapa yang minta tolong soal nyawa padamu tikus pintu gerbang!” damprat Wiro.
“Ulurkan kedua tangan kalian!” perintah pengawal yang seorang itu sambil mengeluarkan segulung tali besar. “Kalian harus kami seret kehadapari Tiga Setan Darah!”
“Oh, jadi manusia-manusia muka kepiting rebus itu yang menyuruh kalian menghadang kami di sini?!” bentak Pranajaya.
“Tak usah banyak bacot! Ulurkan kedua tangan kalian!” Wiro Sableng, palingkan kepala pada Prana dan kedapkan matanya. Lalu pada pengawal itu dia berkata, “Kalau betul Tiga Setan Darah yang memerintahkan kalian untuk menangkap kami, kami tak bisa berbuat apa-apa selain serahkan diri…” Dan Pendekar 212 ulurkan kedua tangannya pada pengawal itu seraya berkata, “Tapi saudara, kawanku cuma punya satu tangan, apakah kau akan ikat juga dia….?!”
“Aku bilang tak usah banyak mulut!” sentak si pengawal. Tali yang ditangannya dengan cepat digulung dan mengikat kedua pergelangan tangan Wiro Sableng erat-erat.
Mendadak sepasang lengan yang sudah terikat itu bergerak. Terdengar satu pekikan. Tubuh si pengawal mental ke udara, terbanting ke atas atap pintu gerbang Kotaraja, mengeluh sebentar lalu merosot jatuh ke tanah dengan mengeluarkan suara bergedebuk!
Delapan pengawal bergerak cepat ke arah Wiro Sableng. Delapan tombak berkiblat, berkilau kuning dibawah sorotan sinar matahari sore!
Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa aneh. Kedua tangannya bergerak cepat tiada henti. Disekitarnya terdengar suara, “plak… plak… plak” dan hanya dalam tempo lebih dari sekejapan mata saja kedelapan pengawal itu sudah bertumpukan di tanah, pingsan dihantam tamparan Wiro Sableng!
Pranajaya, si murid Empu Blorok hampir, tak percaya melihat apa yang disaksikannya itu. Delapan orang sekaligus dibikin roboh pingsan dalam tempo demikian singkatnya! Benar-benar dia kagum sekali! Dia berdiri terlongong-longong!
“Sobat!,” Wiro menepuk bahunya. “Jangan jadi patung. Mari!
Kau tokh mau buru-buru ketemu dengan Tiga Setan Darah?!” Prana baru sadar. Tanpa banyak bicara segera dia berlari menyusul Wiro Sableng. Tiba-tiba Wiro hentikan larinya. “Kita bodoh,” katanya, “di Kotaraja ini kita tak boleh berlari. Semua orang tentu akan menujukan perhatiannya pada kita.”
Keduanya meneruskan perjalanan dengan melangkah cepat.
Mereka sampai dihadapan gedung tua kediaman Tiga Setan Darah. Dan di saat itu pula Wiro Sableng ingat sesuatu. Dia berpaling pada Pranajaya.
“Sobat, aku baru ingat. Kawanku itu pasti tidak berada di sini!
Waktu aku mendukungmu ke luar dari ruang batu, dia telah lenyap.
Musti si Setan Pukulan yang telah melarikannya! Keparat betul!”
“Kau tahu ke mana kira-kira kawanmu itu dilarikan?” tanya Prana. Wiro gelengkan kepala dan menggerendeng, “Aku akan cari keterangan,” katanya. “Sementara itu coba kau selidiki dulu gedung tua ini. Dalam waktu kurang sepeminum teh aku pasti kembali kesini!” Prana menyetujui usul Wiro.
“Hati-hati,” memperingatkan Wiro. “Gedung tua ini banyak jebakan dan senjata rahasianya!”
Pranajaya mengangguk lalu cepat-cepat memasuki halaman gedung kediaman Tiga Setan Darah. Di pintu samping yang sebelumnya telah didobrak Wiro, Pranajaya berhenti dan merenung sejenak. Kalau gedung tua itu banyak jebakan dan alat-alat rahasianya, maka menurut dia jalan yang seaman-amannya untuk masuk ke dalam gedung itu ialah lewat genteng! Maka tanpa pikir lebih jauh lagi, murid Empu Blorok ini dengan ilmu mengentengi tubuhnya yang cukup sempurna segera melompat ke atas atap gedung tua! Kedua kakinya menginjak genteng gedung tanpa menimbulkan suara sedikitpun!
“Setan Darah durjana! Rupanya kau bukan cuma tukang jagal
manusia tapi juga laknat terkutuk tukang rusak kehormatan perempuan!” Habis berteriak begitu Pranajaya menyerbu turun ke dalam.
Genteng pecah bertaburan, beberapa papan panglari patah!
— == 0O0 == —
SEBELAS
SEPERTI telah dituturkan Setan Darah Pertama dengan memboyong murid Empu Tumapel meninggalkan tempat kediaman Setan Pikulan. Manusia bermuka merah ini langsung membawa Sekar ke gedungnya, membaringkan gadis itu di lantai salah sebuah kamar. Gedung tua itu hampir tidak berperabotan bahkan satu tempat tidurpun tak terdapat di sana!
Saat itu Sekar masih berada dalam keadaan tertotok. Tak satupun yang dapat dibuat Sekar sewaktu dengan nafas kembang kempis dan nafsu menggelegak Setan Darah Pertama sambil menyeringai buruk membuka pakaian gadis itu satu demi satu! Gadis itu tertelentang di lantai kamar tanpa sehelai pakaianpun menutupi tubuhnya yang mulus itu kini. Senjata pemberian Empu Tumapel
“Rantai Petaka Bumi” yang ditemui Setan Darah Pertama melilit di pinggang Sekar, diletakkan Setan Darah Pertama di sudut kamar.
Setan Darah Pertama membasahi bibirnya dengan ujung lidah. Sepasang matanya laksana dikobari api, memandang tak berkedip pada tubuh Sekar yang menggeletak di lantai.
“Tubuh bagus… tubuh bagus! He… he… he… he….!” Setan Darah Pertama menyeringai. Kemudian tanpa menunggu lebih lama manusia bermuka merah ini membuka jubahnya. Jubah itu dilemparkannya ke sudut kamar! Sepasang tombak bermata dua dan pedang milik Pranajaya diletakkannya dekat kepala Sekar. Manusia ini baru saja berbaring dan menggelungi tubuh Sekar dengan kaki dan tangannya sewaktu laksana halilintar di siang hari bolong dia mendengar suara bentakan menggeledek dan bobolnya genteng di atas kamar itu!
“Setan Darah durjana! Rupanya kau bukan cuma tukang jagal manusia tapi juga laknat terkutuk tukang rusak kehormatan perempuan!”
Seperti seekor singa Setan Darah Pertama melompat dan
menyambar pedang Ekasakti di atas lantai. Berdiri bulu kuduk Pranajaya menyaksikan manusia yang berdiri tanpa pakaian dihadapannya itu! Berdiri bulu kuduk bukan karena ngeri tapi karena merasa sangat geramnya !
Di lain pihak Setan Darah Pertama tidak pula kurang geramnya. Ternyata manusia yang menerobos masuk lewat genteng kamar bukan lain Pranajaya, pemuda tangan buntung yang memang tengah dicari-carinya!
“Budak bedebah! Dicari-cari tidak ketemu, sekarang datang sendiri antarkan nyawa!”
“Iblis bejat!” balas membentak Pranajaya. “Bertiga dan mengeroyok kau memang unggul, tapi sekarang kita satu lawan satu!”
Setan Darah Pertama tertawa buruk! Diacungkannya pedang
Ekasakti yang ditangan kanannya. “Kau lihat pedang ini huh?! Senjata milikmu ini sendiri yang akan menebas kau punya batang leher!”
Habis berkata begitu Setan Darah Pertama menerjang ke muka. Tangannya bergerak, pedang menderu ke arah Pranajaya. Cepat-cepat si pemuda bertangan buntung melompat ke samping dan lepaskan pukulan angin sewu! Setan Darah Pertama yang tahu kehebatan ilmu pukulan tangan kosong ini buru-buru menyingkir dan menyambar jubah merahnya di sudut kamar! Kesempatan ini dipergunakan oleh Pranajaya untuk mengirimkan pukulan jotos sewu, satu ilmu pukulan yang diwarisinya dari Empu Blorok yang tak kalah hebatnya dengan ilmu pukulan angin sewu tadi! Angin keras pukulan Pranajaya membuat jubah Setan Darah Pertama mental sehingga pemiliknya tak berhasil mengambilnya! Dengan memaki terpaksa Setan Darah Pertama melompat lagi ke samping!
Sewaktu Pranajaya mengintip di atas genteng dan menginjakkan kaki di lantai kamar itu sekaligus dia mengetahui bahwa gadis yang menggeletak di lantai kamar berada dalam keadaan tertotok. Karenanya ketika Setan Darah Pertama melompat ke samping, pemuda ini cepatcepat pergunakan tangan kirinya untuk melepaskan totokan di tubuh Sekar!
Begitu tubuhnya lepas dari totokan begitu Sekar berteriak,
“Saudara awas!”
Pranajaya mendengar suara sambaran angin dibelakangnya. Secepat kilat pemuda ini jatuhkan diri ke muka. Pedang Ekasakti membabat setengah jengkal di atas bahu kanannya! Prana terus menggulingkan diri dan dalam gerakan yang sudah diperhitungkan pemuda ini dalam berguling berhasil menyambar sepasang tombak bermata dua milik Setan Darah Pertama!
Di lain pihak Sekar dengan sangat cepat segera mengenakan pakaiannya yang tadi sudah dipereteli Setan Darah Pertama. Dia merasa heran melihat pemuda bertangan buntung itu masih hidup malah dalam keadaan segar bugar. Apakah Wiro telah berhasil menolong pemuda ini? Tapi Wiro sendiri di mana sekarang?! Sekar tidak bisa berpikir lamalama. Begitu mengenakan pakaian, gadis ini segera mengambil Rantai Petaka Bumi miliknya yang diletakkan Setan Darah Pertama di sudut kamar!
Sementara itu si pemuda tangan buntung terdengar membentak, “Iblis muka merah!” Prana acungkan sepasang tombak bermata dua yang keduanya sekaligus digenggamnya di tangan kanan. “Kita samasama bersenjata sekarang! Mungkin senjata yang ditanganku ini yang akan lebih dulu mengambil nyawa pemiliknya sendiri!”
Setan Darah Pertama kertakkan geraham. Tubuhnya berkelebat. Pedang di tangan manusia ini menabur sinar putih. Jurus yang dikeluarkan Tiga Setan Darah hebatnya luar biasa sekali karena dalam saat itu juga Pranajaya segera terbungkus serangan-serangan pedang Ekasakti miliknya sendiri!
Pranajaya membentak keras. Gerakan murid Empu Blorok ini tak kalah sebat. Tubuhnya lenyap laksana bayang-bayang saja kini dan dua tombak bermata dua di tangannya menderu-deru. Dalam jurus pertama yang luar biasa hebatnya itu, senjata-senjata mereka beradu sampai empat kali berturut-turut dan memercikkan bunga api yang menyilaukan mata!
“Saudara! Kuharap kau suka mundur!” tiba-tiba Pranajaya mendengar seruan gadis yang tadi dilepaskannya totokannya. “Manusia iblis laknat terkutuk ini harus mampus ditanganku!” Pranajaya mengerling dan melihat Sekar berdiri sambil memutar-mutar sebuah senjata berbentuk rantai yang ujungnya diganduli bola besi berduri!
Tanpa perdulikan seruan si gadis Prana terus kirimkan serangan-serangan gencar terhadap Setan Darah Pertama. Dalam pertemuannya pertama kali di luar Kotaraja, Pranajaya memang tiada sanggup menghadapi Setan Darah Pertama, karena dia dikeroyok tiga. Namun,kali ini pertempuran jauh berbeda, satu lawan satu! Dan keluar biasaannya lagi ialah karena mereka bertempur dengan memegang senjata milik lawan masing-masing! “Saudara! Mundurlah!” seru Sekar tidak sabar sewaktu pertempuran gencar itu memasuki jurus ke tiga. Gadis ini sudah tak dapat menahan kesabaran den dendam kesumatnya terhadap Setan Darah Pertama, manusia yang telah menelanjangi dan hampir saja merusak kehormatannya!
“Tidak bisa saudari!” seru Pranajaya membalas. “Bangsat yang satu ini musti mampus ditanganku!”
“Nyawanya miliku!” teriak Sekar dan dia melompat ke muka sambil menyabetkan Rantai Petaka Bumi. Senjata itu menderu laksana angin topan, membuat kedua orang yang bertempur terpaksa sama melompat mundur !
Pranajaya penasaran sekali. Dia berpaling. “Saudari kuharap, kau jangan mencampuri urusan ini. Kau telah selamat, sebaiknya lekas-lekas berlalu tinggalkan tempat ini!”
“Berlalu?!” sahut Sekar ketus! “Sebelum kupecahkan kepala bangsat bermuka iblis ini aku tak akan tinggalkan tempat ini!” ”Aku tahu kebejatan yang telah dilakukannya yang membuat kau begitu inginkan jiwanya,” kata Pranajaya. “Tapi itu tak seberapa….”
“Tak seberapa katamu?!” sentak Sekar dengan mata melotot! “Manusia macam apa kau ini?! Perbuatan mesum terkutuk kau katakan hal yang tak seberapa!”
Sementara kedua orang itu berdebat, Setan Darah Pertama memutar otak. Dia cuma seorang diri di situ, menghadapi dua lawan yang sama-sama inginkan jiwanya. Meski kedua lawan itu kini saling bertengkar namun bukan tidak mustahil keduanya akan sama-sama menggempurnya bersirebut cepat mencabut jiwanya! Dalam pertempuran beberapa jurus tadi Setan Darah Pertama telah pula dapat mengukur kehebatan Pranajaya. Satu lawan satu memang sukar juga baginya untuk menghadapi pemuda tangan buntung itu ! Satu-satunya jalan yang paling baik bagi Setan Darah
Pertama saat itu ialah kabur dari situ dan kembali lagi bersama dua orang konco-konconya!
Tanpa pikir panjang manusia bermuka merah ini segera menyambar jubahnya dan melompat ke atas genteng! Tapi kejut Setan Darah Pertama bukan olah-olah sewaktu dari atas genteng dari mana Pranajaya menerobos tadi bersiur angin laksana badai, melanda ke arahnya membuat tubuhnya terhempas hampir jatuh duduk di lantai kamar jika dia tidak cepat melompat ke samping dan jungkir balik dua kali berturut-turut. Sebelum dia mendongak ke atas sepasang telinga Setan Darah Pertama mendengar suara tertawa gelak-gelak! Sesosok tubuh muncul di atas atap dan duduk di palang kayu!
“Dua muda mudi bertengkar rebutkan jiwa manusia busuk!
Si busuk cari kesempatan untuk larikan diri! Ha…. ha…. ha….ha!” Prana dan Sekar menengadah ke atas genteng dan kedua orang ini sama-sama berseru, “Wiro!”
Sekar terkejut sewaktu melihat Pranajaya kenal pada Wiro Sableng. Setan Darah Pertama memandang penuh amarah meluap ke atas genteng itu. Orang yang tertawa dan bicara serta duduk di atas itu bukan lain dari pemuda rambut gondrong yang sebelumnya telah membebaskan dan melarikan Pranajaya dari ruang batu karang yang kemudian bertempur sebentar dengan dia lalu larikan diri!
Sambil kenakan jubahnya dengan cepat Setan Darah Pertama yang sebenarnya sudah semakin menciut nyalinya melihat kemunculan lawan baru ini, membentak keras, “Bagus sekali! Semua musuh-musuhku sudah lengkap di sini! Silahkan turun pemuda sedeng!”
“Mulutmu terlalu besar! Apakah kambrat-kambratmu yang dua orang lainnya juga ada di sini heh?!”
“Tak usah banyak mulut! Jika punya nyali silahkan turun.
Kalau tidak lekas minggat dari sini!”
Mendengar ini Wiro Sableng tertawa gelak-gelak. Penasaran sekali Setan Darah Pertama berteriak memancing. “Kalau kau tak berani baku hantam di sini, aku masih bersedia melayanimu di halaman luar!”
“Bertempur di halaman luar lalu cari kesempatan untuk larikan diri lagi…?!” Wiro Sableng tertawa lagi gelak-gelak! Setan Darah Pertama mendamprat dalam hati karena pancingannya diketahui lawan. Agaknya dia tak punya kesempatan lain daripada harus menghadapi ketiga musuhmusuhnya itu atau sekurang-kurangnya salah seorang dari mereka!
Diam-diam Setan Darah Pertama salurkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua ujung tangannya. Tiba-tiba dia membentak garang! Satu tangan meninju ke atas, tangan yang lain menjentik ke arah Pranajaya dan Sekar! Selarik besar sinar merah yang sangat panas menderu ke arah Pendekar 212 yang duduk ongkang-ongkang di atas atap kamar sedang lima larikan kecil sinar merah yang merupakan totokan-totokan beracun menyambar laksana kilat ke arah Sekar dan Pranajaya. Sekar putar Rantai Petaka Bumi, Prana menghindar ke samping sambil kiblatkan sepasang tombak bermata dua milik Setan Darah Pertama!
Di atas genteng Wiro kelihatan gerakkan tangan kirinya.
Satu angin dingin menderu memapasi angin merah panas Setan Darah Pertama dan membuat buyar serangan manusia muka merah itu. Penuh beringas Setan Darah Pertama melompat ke atas dan menyerang dengan pedang Ekasakti milik Pranajaya! Kini Wiro Sableng gerakkan tangan kanannya. Gumpalan angin keras menyambar ke arah Setan Darah Pertama. Inilah pukulan kunyuk melempar buah yang tak asing lagi dari Pendekar 212. Meski cuma mempergunakan setengah bagian saja dari tenaga dalamnya dalam melancarkan pukulan ini, namun tak urung Setan Darah Pertama terkejut hebat dan cepatcepat menyingkir ke samping dan kembali turun ke lantai. Keringat dingin memercik di muka manusia yang berwarna merah itu. Nyalinya benar-benar menciut! Ilmu pukulan apakah yang dimiliki dan telah dilepaskan tadi oleh si pemuda di atas genteng itu yang demikian hebatnya sehingga dia tiada sanggup menerimanya?! “Setan muka merah, apakah kau betul-betul tidak tahu di mana dua kambratmu yang lain berada?!” tanya Wiro Sableng dari atas.
”Dimana mereka berada itu bukan urusanmu!” jawab Setan Darah Pertama keras sekedar untuk melenyapkan rasa bergidiknya.
Wiro tertawa.
“Rupanya kau sendiri kurang begitu tahu. Biar aku tunjukkan di mana mereka berada!,” kata Pendekar 212 pula. Kedua tangannya kelihatan ke luar dari lowongan genteng. Sesaat kemudian bila tangan itu bergerak turun maka dua sosok tubuh manusia berjubah merah laksana dua batang pisang melesat ke bawah, jatuh dengan keras di atas lantai kamar dihadapan Setan Darah Pertama !
Muka Setan Darah Pertama berubah pucat. Bulu kuduknya berdiri. Kedua kambratnya itu menggeletak di lantai dengan kepala pecah, darah dan otak bermuncratan !
Sewaktu meninggalkan Pranajaya tadi, Wiro berhasil mencari keterangan di mana letak tempat kediaman Setan Pikulan. Karena lebih mengawatirkan keselamatan Sekar maka Pendekar 212 memutuskan lebih baik saat itu saja dia langsung ke tempat si Setan Pikulan. Tapi apa yang ditemuinya di situ mengejutkannya. Setan Pikulan menggeletak di sebuah kamar! Kedua tangannya buntung putus. Manusia ini tiada bergerak-gerak tapi masih hidup megap-megap. Dalam berpikir-pikir apa yang telah terjadi dengan Setan Pikulan dan terus mencari di mana Sekar berada akhirnya dia mendobrak sebuah kamar dan menemui Setan
Darah Kedua tengah merusak kehormatan dua orang perempuan muda!
“Setan alas benar!” teriak Wiro. Hanya dalam dua jurus saja Setan Darah Pertama dibikin tak berdaya di makan totokan Wiro. Mula-mula manusia ini tak mau menerangkan di mana kawannya yang lain berada tapi setelah dipaksa akhirnya Wiro mengetahui juga dan mendapatkan Setan Darah Ketiga di kamar sebelah, juga tengah merusak kehormatan dua orang perempuan muda! Nasib Setan Darah Ketiga tidak beda dengan kawannya yang terdahulu. Satu jurus bertempur manusia ini segera kena ditotok oleh Wiro dan sekligus keduanya dibawa oleh Wiro ke gedung tua tempat kediaman Tiga Setan Darah. Kedatangannya di sana disambut oleh suasana yang tak terduga pula! Sekar dan Prana dilihatnya saling bertengkar sedang Setan Darah Pertama dalam keadaan telanjang bulat siap-siap hendak melarikan diri! Untuk beberapa lamanya muka Setan Darah Pertama masih memucat dan kedua lututnya goyah menyaksikan kematian dua orang koleganya itu di muka hidungnya sendiri.
Putus asa karena mengetahui tak ada jalan untuk lari serta kalap melihat kematian kawan-kawannya, maka Tiga Setan Darah Pertama kiblatkan pedang Ekasakti dan mengamuk menerabas Sekar serta Pranajaya!
Maka pertempuran seru segera terjadi.
“Sekar sebaiknya kau mundur saja!” Wiro berseru dari atas genteng.
“Tidak bisa Wiro. Bangsat ini hampir saja merusak kehormatanku!,” jawab Sekar seraya putar senjatanya dengan sebat.
“Aku mengerti. Tapi kau telah diselamatkan oleh Prana sedang
Prana mempunyai dendam kesumat belasan tahun terhadap bangsat itu!
Ayahnya dibunuh oleh Setan Darah Pertama itu!”
Akhirnya Sekar mengalah juga dan ke luar dari kalangan pertempuran. Keputusaan, kekalapan dan nyali yang telah melumer itulah yang bersarang di diri Setan Darah Pertama. Laksana banteng terluka manusia berjubah merah ini mengamuk hebat dan ganas sekali. Serangan-serangannya berbahaya dan penuh tipu-tipu licik. Namun itu semua tiada arti bagi Pranajaya yang menghadapi musuhnya itu dengan hati panas pula tapi kepala dingin penuh ketenangan !
Sembilan belas jurus berlalu cepat.
Wiro bersiul-siul seenaknya. “Pertempuran hebat!” seru pemuda dari gunung Gede itu. “Ayo Prana! Lawanmu sudah mulai kewalahan! Satu dua jurus di muka pasti senjata milik iblis yang ditanganmu itu akan merenggut nyawanya!”
Apa yang dikatakan Pendekar 212 menjadi kenyataan. Dalam jurus keduapuluh satu laksana seorang penari Pranajaya meliuk mengelakkan sambaran pedang Ekasakti yang dibabatkan Setan Darah
Pertama kepinggangnya. Pedang itu membalik lagi dengan ganasnya. Prana geser kedua kaki dan tusukkan sekaligus kedua tombak yang dalam genggamannya ke muka Setan Darah Pertama. Iblis bermuka merah ini rundukkan kepala! Tapi tusukan tadi cuma tipu belaka, karena begitu pedang lawan lewat dan tusukan tombaknya tersorong ke muka dengan serta merta Pranajaya gebukkan sepasang tombak itu ke kepala Setan Darah Pertama!
Setan Darah Pertama melompat ke samping! Tapi betapapun cepatnya dia tetap terlambat. Meski bisa selamatkan kepala namun dia tak sanggup menghindarkan bahunya dari hantaman senjata miliknya sendiri itu !
“Kraak!”
Tulang bahu Setan Darah Pertama yang sebelah kanan hancur remuk! Setan Darah Pertama melolong macam anjing! Tubuhnya miring dan terjerongkang ke lantai. Dalam keadaan seperti itu dia masih hendak menyapukan pedang di tangan kanannya ke kaki Prana, tapi senjata itu terlepas dari tangannya yang sudah tak ada daya kekuatan lagi!
Empat mata tombak ditekankan oleh Pranajaya ke batang leher Setan Darah Pertama. Tenggorokan manusia muka merah ini kelihatan turun naik. Muka nya mengerenyit dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.
“Setan Darah!,” desis Pranajaya. “Apa kau masih ingat saat-saat sewaktu kau membunuh ayahku dulu?! Apa kau masih ingat sewaktu tangan kiriku ini kau buntungkan dulu?!”
“Orang muda..,” ujar Setan Darah Pertama, “kasihani diriku yang buruk ini! Kalau kau ampunkan jiwaku, kelak aku akan berikan hadiah besar serta jabatan tinggi di Istana !”
Prana tertawa. Wiro Sableng mengekeh. “Jangan dengar mulut kentut iblis itu, Prana!” memperingatkan Wiro. Pranajaya mengangguk. “Manusia macam dia siapa yang mau percaya!,” menyahuti pemuda bertangan buntung itu. Prana lemparkan ke samping dua tombak milik Setan Darah Pertama dan membungkuk cepat mengambil pedangnya!
Setan Darah Pertama gerakkan tubuhnya sedikit tapi ujung pedang kini menggantikan empat mata tombak yang menekan batang lehernya !
“Apa yang dulu kau lakukan terhadap bapakku, kini akan kau rasakan sendiri, Setan Darah!”
“Craas!”
Setan Darah Pertama meraung setinggi langit. Pedang Ekasakti membabat buntung mengerikan! Setan Darah Pertama melejang-lejang!
Dia berteriak, “Bunuh aku! Bunuh saja segera !”
“Rupanya kunyuk muka merah itu tidak takut mampus, Prana!” ejek Wiro dari atas genteng.
“Ya, karena dia akan ketemu dengan setan-setan yang jadi kambrat-kambratnya di neraka!” sahut Pranajaya. Kemudian dengan tak ampun lagi pemuda itu tusukkan ujung pedangnya ke batang leher Setan Darah Pertama. Manusia ini mengeluarkan suara seperti ayam disembelih. Tubuhnya masih melejang-lejang beberapa lama kemudian diam tak bergerak-gerak lagi tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan tubuh!
“Sobat-sobat, urusan kita di sini sudah selesai. Mari segera tinggalkan tempat sialan ini!” seru Wiro Sableng.
Sekar dan Prana saling berpandangan sebentar, kemudian si gadis melompat ke atas genteng disusul oleh Pranajaya. Namun baru saja ketiga orang itu sampai di halaman luar, terkejutlah mereka. Kira-kira lima puluh orang prajurit Kerajaan telah mengurung tempat itu dan delapan manusia aneh berdiri memencar, memandang dengan pandangan yang menggidikkan ke arah mereka.
Salah seorang dari yang delapan ini berteriak. Suaranya melengking macam perempuan. “Tikus-tikus bermuka manusia!
Jangan harap kalian bisa berlalu hidup-hidup dari sini!”
— == 0O0 == —
DUA BELAS
MANUSIA yang berteriak itu adalah seorang laki-laki berkepala sangat besar dan botak tapi berbadan kecil dan pendek.
Namanya Gonggoseta. Pandangannya bengis dan membayangkan maut! Pranajaya, Sekar dan Wiro Sableng memandang berkeliling memperhatikan manusia-manusia itu satu demi satu.
“Celaka sobat,” bisik Pranajaya. “Mereka pastilah tokohtokoh silat kelas satu, orang-orangnya Istana!”
“Kita memang lagi sialan,” gerendeng Pendekar 212.
Sepasang matanya dengan tenang menyapu delapan sosok tubuh manusia-manusia aneh yang terpencar mengurung mereka. Orang kedua sesudah Gonggoseta ialah seorang kakek-kakek yang hanya mengenakan cawat dan keseluruhan tubuhnya mulai, dari kaki sampai ke muka dicoreng moreng dengan sejenis cat berbagai warna. Tampangnya mengerikan untuk dipandang. Namanya
Bagulpraksa tapi dia lebih dikenal dengan julukan Harimau Siluman. Manusia ketiga bernama Sangaji, bertubuh tinggi langsing kurus dan berjanggut biru. Di dunia persilatan dia dikenal dengan gelar Si Janggut Biru. Yang ke empat, yang berdiri di ujung kanan sendirian agak terpisah dari lain-lainnya ialah seorang neneknenek tua keriput bertelinga lebar. Telinganya yang lebar ini membuyut ke bawah dan kelihatan jadi tambah lebar karena diganduli oleh anting-anting aneh yang besar luar biasa dan berbentuk arit. Dia bukan lain tokoh silat Istana yang dikenal dengan nama julukan Si Telinga Arit Sakti.
Wiro sapukan pandangannya pada tokoh silat lain yang berada di sebelah kiri ini berdiri memencar empat orang lainnya. Yang pertama seorang laki-laki berjubah hitam tapi yang mukanya dicat putih sehingga tampangnya cukup menggidikkan untuk
dipandang! Jika tidak salah menduga, menurut keterangan yang pernah didengar Pendekar 212 maka manusia ini adalah Hantu
Hitam Muka Putih tokoh silat golongan hitam yang berhati sejahat iblis! Orang yang selanjutnya berdiri dengan tubuh terbungkukbungkuk. Sepuluh kuku-kuku jarinya panjang sekali dan berwarna hitam legam. Dialah Si Cakar Iblis tokoh silat yang merajai daerah selatan Jawa Timur!
Manusia ke tujuh adalah satu-satunya marusia yang dikenal oleh Pranajaya yaitu Cindur Rampe manusia yang muncul sewaktu dia hendak diseret oleh Tiga Setan Darah ke Kotaraja beberapa waktu yang lalu! Cindur Rampe seorang resi kejam yang juga memelihara janggut kambing berwarna putih.
Manusia terakhir ialah seorang laki-laki bermata picak dan berambut panjang macam perempuan, digulung di atas kepala! Namanya tidak satu orangpun yang tahu. Dia dikenal dengan julukan Si Picak Dari Utara.
Jelaslah bahwa ke delapan orang itu bukan manusiamanusia sembarangan. Ini segera diketahui oleh Wiro dan kawankawan. Bagi mereka yang delapan ini lebih berbahaya dari lima puluh prajurit-prajurit Kerajaan yang mengurung halaman gedung itu! Si kepala besar badan kecil. pendek Gonggoseta maju selangkah kehadapan kehadapan ketiga orang itu dan membuka mulut lagi, “Kalian semua musti mampus di sini! Kalian dengar tikus-tikus bermuka manusia?!”
Pendekar 212 Wiro Sableng memandang sebentar pada Sekar dan Pranajaya lalu kemba ia palingkan muka menghadapi Gonggoseta. Dan disaat itu Gonggoseta kembali membentak, “Kalian hanya diberi kesempatan untuk menerangkan nama masing-masing agar tidak mampus secara penasaran!”
Wiro Sableng mengulum senyum dan buka mulut dengan suara lunak, “Ah, rasa-rasanya kami yang disebutkan tikus-tikus bermuka manusia ini tidak mempunyai permusuhan dengan sobat-sobat semua.”
“Sompret!” semprot Gonggoseta. “Jangan sebut kami sobat-sobatmu!” Wiro garuk-garuk kepala lalu manggut-manggut. “Lantaran apakah yang membuat kalian semua ingin jiwa kami?! Kenalpun baru hari ini!” Gonggoseta tertawa melengking dan memandang pada kawan-kawannya. “Sobat-sobatku!” serunya, “kalian dengar omongan tikus gondrong itu?! Mereka tak ada permusuhan dengan kita! Tidak mengerti mengapa kita semua inginkan jiwa mereka! Cuah!” Gonggoseta meludah ke tanah! “Apa kalian masih belum tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!”
“Ah,” Wiro angkat bahu, “justru itu memang yang kami kepingin tahu!”
Gonggoseta kembali keluarkan tertawa melengking. “Aku Gonggoseta..,” dia terangkan nama lalu satu demi satu menyebutkan nama atau gelar tujuh orang kawannya. “Kami semua adalah tokoh-tokoh Istana, hulubalang-hulubalang Kerajaan!” Wiro Sableng manggut-manggut.
“Tidak disangka-sangka…,” ujar pendekar ini.
“Setan alas, apa yang tidak kau sangka!” sentak Gonggoseta sementara kambrat-kambratnya yang lain tetap menunggu dengan tenang.
“Tidak disangka-sangka kalau hari ini kami akan bertemu dengan tokoh-tokoh silat Istana! Dengan tokoh-tokoh yang berjulukan hebat semua! Sungguh satu kehormatan bagi kami!”
Gonggoseta tertawa melengking. Kawan-kawannya terdengar menggerendeng.
“Cuma kami belum tahu, urusan apakah yang membuat kalian semua inginkan jiwa kami?!” tanya Wiro.
“Tikus busuk! Jangan pura-pura tidak tahu! Kalian telah membunuh Setan Pikulan dan Tiga Setan Darah. Mereka adalah kawan-kawan kami!”
“Kalian salah sangka!” jawab Wiro cepat. “Kami tidak membunuh Setan Pikulan…”
“Jangan jual kentut!” hardik Gonggoseta.
Wiro Sableng tertawa, “Siapa yang jual kentut!” jawabnya.
“Kentut puteri yang paling cantikpun dijagat ini tak ada yang orang akan mau beli!”
Paras Gonggoseta dan tujuh kawannya menegang membesi. Ini adalah satu penghinaan! Mereka dipermain-mainkan! Di lain pihak Pranajaya menggigit bibir! Bagaimana Wiro masih bisa bergurau menghadapi bahaya macam begini?! Pemuda bertangan buntung ini sudah sejak tadi-tadi mengeluh dalam hati. Dia ingat pesan gurunya. Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat berilmu tinggi. Berurusan dengan mereka berarti mati! Prana melirik pada Sekar. Gadis baju kuning ini dilihatnya juga berada dalam ketegangan.
Gonggoseta maju lagi selangkah!
“Sret!”
Dari balik punggungnya manusia kepala besar ini cabut sebilah golok empat persegi panjang yang lebarnya satu setengah jengkal!
Senjata ini berkilauan ditimpa sinar matahari sore! “Sebut nama kalian masing-masing cepat! Atau kalian mampus penasaran!”
“Dengar Gonggoseta,” menyahuti Wiro Sableng. “Kami tidak dusta, kami sama sekali tidak membunuh Setan Pikulan.” “Jika bukan kalian lantas siapa?! Juga siapa yang membunuh Tiga Setan Darah di dalam sana?!” Wiro angkat bahu. “Mana kami tahu,” jawabnya Dia memandang ke langit di sebelah barat. “Gonggoseta, hari sudah sore. Matahari sebentar lagi mau tenggelam. Beri kami jalan. Sebaiknya kalian lekas mencari dan menyelidik siapa sebenarnya pembunuh kawan-kawanmu itu sebelum hari menjadi malam dan sebelum dia lari jauh…” Tubuh Si Cakar Iblis kelihatan semakin membungkuk ke muka. Dari mulutnya terdengar suara menggerendeng. Lalu katanya, “Gonggoseta, kuku-kuku jariku sudah tak sabar untuk cepat-cepat mengkermus manusia-manusia keparat ini! Kita semua sudah tahu bahwa mereka yang menamatkan riwayat Tiga Setan
Darah. Tunggu apa lagi?!”
Habis berkata begitu Si Cakar Iblis menggerendeng keras.
Kedua tangannya yang berkuku panjang menyambar ke muka Wiro Sableng! Cepat-cepat Pendekar 212 melompat ke samping! Wiro maklum, walau bagaimanapun kini pertempuran tak dapat dihindarkan. Tujuh orang tokoh-tokoh silat lainnya dilihatnya telah bergerak pula, masing-masing keluarkan senjata! Karenanya Pendekar 212 ini tidak sungkan-sungkan lagi! Tangan kiri menghantam ke muka ke arah Cakar Iblis sedang tangan kanan menyelinap mencabut Kapak Naga Geni 212 Sekar dan Prana tidak pula tinggal diam melainkan cabut Rantai Petaka Bumi dan Pedang Ekasakti!
Begitu serangannya luput, penuh penasaran Si Cakar Iblis balikkan badan dan kembali menyerang dengan jurus yang lebih hebat dari pertama tadi. Namun betapa kagetnya manusia ini sewaktu tubuhnya menjadi limbung disambar serangkum angin yang ke luar dari pukulan tangan kiri Wiro Sableng!
Dua diantara tokoh-tokoh silat Istana itu yakni Si Telinga Arit Sakti dan Hantu Hitam Muka Putih berseru kaget sewaktu melihat senjata yang digenggam Wiro Sableng.
“Kapak Naga Geni 212!” seru mereka hampir bersamaan. Yang lain-lainnya tersentak kaget! Mereka belum pernah melihat senjata yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu, cuma mendengar-dengar saja! Sungguh tak dapat dipercaya kalau hari ini mereka menyaksikan senjata mustika sakti itu berada dalam tangan seorang pemuda berambut gondrong bertampang dogol anak-anak!
Rasa heran tak percaya itu tidak berjalan lama dan berubah menjadi keterkejutan dan kemarahan yang amat sangat sewaktu Kapak Maut Naga Geni 212 berkiblat dan meminta korban pertama yaitu Si Picak Dari Utara! Si Picak Dari Utara menjerit keras dan tubuh dengan dada mandi darah dihantam kapak sakti itu laksana ratusan tawon mengaung, anginnya menderu-deru sedang dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar suara siulan yang diseling dengan suara tertawa aneh dan bentakan-bentakan! Bila siulan itu terdengar, bila suara tertawa aneh menyeling inilah satu pertempuran besar yang dahsyat! Tubuhnya sudah lenyap ditelan kecepatan geraknya dan ditelan bayang-bayang gerakan tujuh pengeroyoknya.
Sekar dan Pranajaya putar senjata masing-masing dan menghadapi tiga orang pengeroyok sementara Wiro yang berpunggung-punggungan dengan mereka menghadapi empat pengeroyok lainnya! Lima puluh prajurit Kerajaan mengurung dalam bentuk lingkaran. Mereka memang sudah diberitahu untuk mengambil posisi demikian dan tidak turut menyerang!
“Rapatkan serangan!” teriak Gonggoseta karena sampai lima jurus di muka tak satupun yang sanggup mereka lakukan untuk membobolkan pertahanan ketiga orang pendekar itu! Dalam jurus ketujuh Harimau Siluman mengurung persis macam harimau dan dari mulutnya mengepul asap tujuh warna yang mengerikan!
“Tutup jalan nafas!” teriak Wira memberi ingat. Sekar dan Pranajaya segera melakukan hal itu. Tapi Sekar terlambat. Hidungnya keburu menghendus hawa beracun asap tujuh warna itu. Tak ampun pemandangannya menjadi gelap dan tubuhnya melosoh gontai. Di saat itu Si Janggut Biru secepat kilat tusukkan tongkat besinya ke perut gadis itu
“Trang! “
Bunga api memercik!
Tusukan tongkat besi Si Janggut Biru terpapas ke samping karena dilanda badan pedang Ekasakti di tangan Pranajaya! Jurusjurus berikutnya semakin seru! Limapuluh prajurit hampir tak sanggup melihat dengan jelas gerakan-gerakan mereka yang bertempur itu saking cepatnya!
Harimau Siluman masih juga mengeluarkan asap beracunnya dari mulut. Penasaran sekali Wiro Sableng berteriak, “Harimau Siluman, silahkan makan asapmu sendiri!” Habis berkata begitu Wiro pukulkan tangan kirinya. Pukulan angin puyuh yang dikerahkan dengan setengah bagian tenaga dalam itu hebatnya bukan main. Asap tujuh warna yang dihembuskan Harimau Siluman menjadi buyar berantakan untuk kemudian menyerang pemiliknya sendiri! Harimau Siluman menggerung. Tubuhnya jatuh duduk di tanah, hidung dan mulut serta matanya mengeluarkan darah akibat diterpa racun asap tujuh warna. Manusia ini keluarkan. sebutir pil penawar racun, tapi sebelum pil itu sempat ditelannya, racun asap tujuh warna sudah merambas ke jantung dan paru-parunya. Tak ampun lagi Harimau Siluman menggeletak mati di tanah!
Di saat yang sama Wiro Sableng mendengar suara jeritan Pranajaya! Ketika dia menoleh dilihatnya pemuda itu terhuyunghuyung dengan tangan terluka parah dihantam senjata berbentuk arit di tangan Si Telinga Arit Sakti !
“Mampuslah!” teriak Telinga Arit Sakti. Aritnya menyambar ke leher Prana yang saat itu sudah tak bersenjata lagi karena tadi telah terlepas sewaktu lengannya dihantam ujung arit!
Prana jatuhkan diri. Dia selamat. Tapi sewaktu arit itu berkiblat membalik kembali, murid Empu Blorok ini tiada sanggup lagi menghindar.
Si Telinga Arit Sakti tertawa mengekeh.
“Wuss! “
Telinga Arit Sakti berseru kaget dan lompat tujuh tombak ke atas. Satu sinar putih telah melabrak ke arah tubuhnya. Panasnya bukan main dan menyilaukan mata. Belum lagi dia turun ke tanah disebelah sana sebelas orang prajurit Kerajaan terdengar menjerit dan rubuh ke tanah dengan tubuh hangus tiada nyawa!
“Pukulan Sinar Matahari!” teriak Si Telinga Arit Sakti. Mukanya masih pucat. Yang lain-lainnya juga mendadak sontak menjadi ngeri! “Pemuda keparat, apakah kau murldnya Si Sinto Gendeng?!” bentak Hantu Hitam Muka Putih !
“Tanya pada penjaga neraka!” jawab Pendekar 212. Sekali Kapak Naga Geni di tangannya berkelebat maka terdengarlah pekik Hantu Hitam Muka Putih! Kepalanya hampir terbelah dua.
Mukanya yang dicat putih kini menjadi merah ditelan noda darah!
Tubuhnya angsrok saat itu juga ke tanah !
Gonggoseta menerjang kalap. Golok empat seginya yang amat besar itu membabat empat kali berturut-turut! Sambil mengelak gesit Wiro berteriak, “Prana, bawa Sekar dari sini! Tunggu aku di tepi telaga di luar Kotaraja. Cepat!” “Tidak mungkin, Wiro…,” jawab Prana. “Aku tak sanggup melakukannya. Racun arit perempuan keparat itu telah menyesakkan nafas dan melemahkan sekujur badanku! Sekar sendiri entah masih hidup entah tidak…..”
Pendekar 212 kertakkan rahang. Dia melirik pada tubuh Sekar yang melingkar di tantah dan putar Kapak Naga Geninya untuk menerabas serangan tongkat Si Janggut Biru dan cakar maut Si Cakar Iblis! Meski cuma melirik sekilas namun mata Wiro Sableng yang tajam masih bisa memastikan bahwa Sekar saat itu masih bernafas, cuma keadaannya memang kritis akibat telah mencium asap beracun yang dihembuskan oleh Harimau Siluman. Dengan tangan kirinya Wiro cepat mengambil dua butir pil dari balik pakaian putihnya. “Prana!.” serunya. “Lekas telah pil ini dan berikan satu kepada Sekar.”
Melihat ini Gonggoseta segera berusaha untuk menghalang! Dua butir pil yang melesat ke arah Prana hendak ditendangnya dengan kaki kanan namun tangan kiri Wiro Sableng bergerak lebih cepat ke arah manusia pendek berkepala besar ini. Selarik sinar menyilaukan menyambar Gonggoseta!
“Pukulan sinar matahari!” seri Si Telinga Arit Sakti. “Gonggoseta, lekas lompat menghindar!” memperingatkan perempuan sakti ini.
Mendengar peringatan itu dan maklum akan kehebatan pukulan sinar matahari yang tadi sudah disaksikannya sendiri.
Gonggoseta cepat menghindar ke samping, namun terlambat! Kaki kanannya kurang lekas ditarik pulang! Terdengar lolongan Gonggoseta, Kaki kanannya itu melepuh hangus dan mengeluarkan asap sewaktu dilanda pukulan sinar matahari. Tubuhnya terpelanting tiga tombak. Dikerahkannya tenaga dalamnya, dikeluarkannya sejenis obat untuk menolak luka besar dan rangsangan racun yang menjalar dari kaki kanannya! Namun semua itu sia-sia. Tak satu kekuatan apapun agaknya yang sanggup mengobati kakinya yang hangus, tak ada satu obat penawarpun yang sanggup memusnahkan racun pukulan sinar matahari! Gonggoseta meraung-raung dan bergulingan di tanah, kemudian tubuhnya tak bergerak-gerak lagi tanda nyawanya lepas sudah!
Kehebatan pukulan sinar matahari yang dilepaskan Wiro tidak saja hanya meminta korban jiwanya Gonggoseta tapi juga seperti tadi, diseberang sana terdengar lagi pekik kematian enam orang prajurit yang tersambar pukulan sinar matahari! Keenamnya laksana daun-daun kering disambar angin keras, berpelantingan dan mati seketika itu juga!
Meski dalam keadaan tangan terluka parah, bahkan kalau tidak hati-hati tangannya sendiri bisa tersambar pukulan sinar matahari namun dengan susah payah akhirnya Pranajaya berhasil juga menyambut dua butir pil yang dilemparkan Wiro. Obat itu segera ditelannya dan yang satu lagi dimasukkannya dengan cepat ke dalam mulut Sekar.
Melihat kematian kawan mereka yang ke empat itu semakin meluaplah kemarahan dan dendam maut tokoh-tokoh silat lainnya yaitu Si Telinga Arit
Sakti, Cindur Rampe, Cakar Iblis serta Si Janggut Biru.
Keempatnya mengurung Wiro dengan rapat. Tongkat besi Si Janggut Biru laksana taburan hujan menderu-deru menyambar ke seluruh tubuh Pendekar 212. Kuku-kuku jari Si Cakar Iblis yang mengandung racun yang sangat dahsyat tiada hentinya mencari sasaran dibagianbagian tubuh Wiro yang berbahaya.
Arit ditangan Si Telinga Arit Sakti berkelebat cepat memapas kian kemari sedang Cindur Rampe tiada hentinya lepaskan pukulan ireng weliung yang mendatangkan angin dahsyat berwarna hitam dan beracun!
Dan bagaimana keempat tokoh-tokoh silat utama ini tidak menjadi dibikin tambah mengkal karena semua serangan maut mereka itu sampai sepuluh jurus di muka masih belum sanggup merubuhkan Pendekar 212. Jangankan merubuhkan, untuk melukai sedikit saja salah satu bagian tubuh murid Eyang Sinto Gendeng itupun mereka tiada sanggup! Dan lebih membuat mereka penasaran betul ialah karena dari mulut Pendekar 212 tiada hentinya ke luar suara siulan yang sekali-sekali diselingi oleh suara tertawa bernada mengejek!
Pil yang diberikan oleh Wiro Sableng kepada Prana memang mengandung khasiat yang luar biasa. Obat itu Eyang Sinto Gendeng sendiri yang meramunya. Pada waktu pertempuran dijurus ke sepuluh berkecamuk hebat-hebatnya maka Prana mulai merasakan keadaan tubuhnya puluh kembali. Lukanya tiada terasa sakit lagi dan darah yang mengucur berhenti. Ketika dia berpaling pada Sekar, dilihatnya gadis itu membuka kedua matanya dan menggerakkan kepala. Wiro.
“Prana, lekas tinggalkan tempat ini! Bawa Sekar!” berseru lagi Pranajaya mengambil pedang Ekasakti yang tercampak di tanah lalu berdiri. Apa yang dilakukannya bukanlah mengikuti ucapan Wiro melainkan terus menyerbu ke dalam kalangan pertempuran ! “Pemuda tolol!” damprat Wiro. “Disuruh selamatkan diri malah bertempur!”
Prana tidak berkata apa-apa melainkan terus babatkan pedangnya ke arah Cakar Iblis di sebelah kiri Wiro. Kalau sendiri tadi empat tokoh silat Istana itu tiada sanggup menghadapi Wiro maka ditambah dengan munculnya Pranajaya kini keempat tokoh silat itu menjadi terdesak total!
Tubuh keempatnya terbungkus sinar pedang dan sinar kapak dan agaknya pertahanan mereka itu tak akan berjalan lebih lama.
Dalam waktu singkat pasti sekurang-kurangnya salah seorang dari mereka akan menjadi korban lagi!
“Tahan! Hentikan pertempuran ini!” teriak Cindur Rampe seraya melompat ke luar dari kalangan. Sejak mulanya dia memang tak mau ikut-ikutan membela kematian Tiga Setan Darah karena antara dia dengan Tiga Setan Darah sendiri mempunyai perselisihan yang belum terselesaikan. Namun karena tak ingin dicap pengecut terpaksa juga Cindur Rampe pergi bersama yang lain-lainnya itu untuk membuat perhitungan dengan Wiro dan kawan-kawannya.
“Apa maumu Cindur Rampe?!” tanya Wiro dengan melintangkan kapak di muka dada sementara Sekar saat itu sudah berdiri di sampingnya dengan Rantai Petaka Bumi di tangan kanan.
“Antara kami dan kalian tak ada permusuhan. Karenanya tak perlu pertempuran gila ini diteruskan…!”
Wiro tertawa tawar. “Tadipun aku sudah bilang! Tapi kalian semua tidak mau dengar! Sayang empat orang kawan kalian sudah melayang jiwanya!” Cindur Rampe berpaling pada kawan-kawannya dan memberi isyarat untuk berlalu. Si Janggut Biru sudah hendak mengikuti Cindur Rampe tapi tak jadi kaena saat itu terdengar bentakan Si Telinga Arit Sakti.
“Cindur Rampe resi keparat! Apakah nyalimu sepengecut begini?!
Apa kau relakan begitu saja empat kawan kita menemui kematian ?!” Paras Cindur Rampe menjadi merah. “Perempuan edan!” balasnya membentak, “jangan bicara seenak perutmu! Kalau kau dan yang lain-lainnya mau meneruskan pertempuran ini, silahkan! Kalian mencari mampus!”
Cindur Rampe langkahkan kedua kakinya. “Kalau begitu biar kau yang mampus lebih dulu pengecut!” teriak Telinga Arit Sakti dan perempuan ini segera melabrak Cindur Rampe.
Kedua orang itupun terlibatlah dalam satu pertempuran seru.
Wiro tertawa mengekeh. Dia berpaling pada Prana dan Sekar, “Kawan-kawan mari kita tinggalkan tempat ini,” katanya. “Biar saja mereka baku hantam satu sama lain!”
“Kalian tak akan berlalu dari sini tikus-tikus keparat!”
Wiro putar kepala. Yang membentak adalah Si Cakar Iblis. Tubuhnya merunduk, kedua tangannya yang berkuku-kuku panjang diulurkan ke muka. Di sampingnya Si Janggut Biru berdiri dengan hati bimbang, apakah akan berlalu dari situ atau meneruskan lagi pertempuran.
Cakar Iblis menggerung dahsyat! Sepuluh kuku jari tangannya rnengeluarkan sinar hitam dan sedetik kemudian sepuluh sinar hitam itu mencurah ke arah Wiro. Pendekar 212 sabetkan Kapak Naga Geni ke muka. Sepuluh larikan sinar hitam buyar tapi di lain kejapan sepuluh kuku-kuku jari Si Cakar Iblis tahu-tahu sudah berada di depan muka Pendekar 212!
Wiro Sableng terkejut sekali dan menyurut kebelakang! Sepuluh
kuku hitam itu memburu laksana kilat! Dan terdengar kekeh Si Cakar Iblis, “Kau tak akan bisa selamatkan jiwamu dari jurus sepuluh ular berbisa berebut buah ini!” katanya.
Wiro memaki Dia melompat ke belakang tapi secepat lompatannya itu begitu pula cepatnya sepuluh kuku itu memburunya lagi !
“Mampuslah!”
Teriak Si Cakar Iblis dan kedua tangannya laksana kilat menggapai ke muka Pendekar 212.
Terdengar satu jeritan !
Pendekar 212 usap parasnya dan memperhatikan bagaimana Si Cakar Iblis berdiri terhuyung-huyung! Kedua lengannya terpapas buntung dilanda mata kapak di tangan Wiro dalam satu jurus serangan balasan yang amat luar biasa hebatnya !
“Manusia keparat… maki Si Cakar Iblis. Darah memancur dari kedua pergelangan tangannya. “Sekalipun kau menang, jiwamu tidak akan aman! Aku akan mampus dan akan jadi setan! Akan mencekik batang lehermu….”
“Sialan! Sudah mau mati masih omong besar!” damprat Wiro Sableng. Sekali kaki kanannya bergerak maka mentallah Si Cakar Iblis !
Wiro berpaling pada Si Janggut Biru.
“Bagaimana? Mau coba-coba rasanya mampus sobat?!” tanya Wiro pula.
Si Janggut Biru meludah ke tanah. Tanpa berkata apa-apa segera ditinggalkannya tempat itu.
Wiro memandang pada Si Telinga Arit Sakti yang tengah bertempur hebat dengan Cindur Rampe. “Bertempurlah terus sampai salah seorang dari kalian mampus!” seru Wiro. Lalu dengan cepat bersama Sekar dan Prana dia berlalu dari situ. Tak satu prajurit kerajaanpun yang berani dan bernyali menghalangi mereka !
Sementara itu Si Telinga Arit Sakti berteriak keras, “Cindur
Rampe! Hentikan pertempuran ini! Kita harus kejar ketiga bangsat itu!” Cindur Rampe melompat mundur.
“Aku masih mau hidup Arit Sakti!” kata Cindur Rampe pula. “Kalau kau mau mengejar mereka silahkan!” Cindur Rampe berkelebat meninggalkan tempat itu.
Si Telinga Arit Sakti memaki habis-habisan. Bila dia tinggal seorang diri dan menyaksikan lima mayat kawan-kawannya yang menggeletak mati di halaman gedung itu, diam-diam diapun merasa kecut dan menyadari bahwa seorang diri tak akan ada gunanya dia mengejar ketiga manusia itu. Akhirnya perempuan sakti ini berkelebat dan lenyap kejurusan timur!
— == 0O0 == —
TIGA BELAS
WAKTU mereka menghentikan lari masing-masing, ketiganya
telah berada jauh di luar Kotaraja. Mereka saling pandang dan Wiro membuka pembicaraan dengan senyum di bibir. “Sobat-sobat, ke mana kita sekarang?”
Sekar tidak memberikan jawaban.
Pranajaya memperhatikah paras gadis ini sebentar lalu berkata,
“Aku akan terus ke timur. Ke Pulau Seribu Maut, mencari Cambuk Api
Angin milik guruku yang telah dilarikan oleh Bagaspati!”
Wiro manggut-manggut. Dia merenung sejenak lalu berkata, “Pulau Seribu Maut, Cambuk Api Angin. Bagaspati.. nama-nama yang hebat. Perjalananmu ke ujung Jawa Timur pasti merupakan suatu hal yang menarik. Saudara Prana, kau keberatan bila aku ikut bersamamu….?”
Pranajaya berseru gembira. “Memang itu yang aku harapharapkan Wiro. Jalan jauh banyak dilihat, kawan seiring sukar didapat!” Wiro Sableng tertawa.
“Bagaimana dengan kau Sekar?” tanya murid Eyang Sinto Gendeng itu. Prana memandang lekat-lekat pada gadis itu. Di balik pandangannya itu tersembunyi suatu perasaan kecemasan. Dan perasaan itu semakin jelas kelihatan sewaktu Wiro berkata, “Kau musti kembali ke tempat gurumu….”
Tapi si gadis justru gelengkan kepala.
“Aku ikut bersamamu… bersama kalian…” kata Sekar.
Wiro Sableng kerenyitkan kening. “Pengalamanmu di Kotaraja kurasa cukup memberikan gambaran bagaimana penuhnya dunia ini dengan seribu satu macam bahaya dan kejahatan! Perjalanan ke Pulau
Seribu Maut pasti lebih berbahaya dari pengalamanmu di Kotaraja.”
“Apakah kau terlalu menganggap aku ini orang perempuan bangsa kurcaci yang takut segala macam bahaya?!” tukas Sekar.
Wiro berpaling pada Pranajaya yang sampai saat itu masih memandang pada Sekar. “Dia memang pintar omong!,” kata Wiro pula. “Adatnya keras. Mautnya dia musti maunya juga! Urusan laki-laki mau disamakan dengan urusan perempuan….”
“Sudah!” potong Sekar seraya membalikkan badan memunggungi kedua pemuda itu.
Wiro Sableng tertawa dan garuk-garuk kepalanya.
“Yang aku khawatirkan,” kata Pendekar 212 pula, “kalau-kalau gurumu kelak akan salah sangka dan menduga kami yang menjebloskan kau ke dalam persoalan rumit penuh bahaya ini!” “Soal guruku itu soalku dengan beliau. Yang penting sekarang kita sama-sama pergi ke Pulau Seribu Maut. Apa aku sebagai orang persilatan tidak boleh mencari pengalaman?”
“Tentu saja boleh” sahut Wiro sementara Pranajaya sampai saat itu tak sepatahpun membuka mulut selain memandang seperti tadi-tadi pada Sekar. “Tapi sekarang belum saatnya,” menyambungi Wiro. “Kau tak berhak melarangku Wiro. Siapapun tak berhak melarang ke mana aku mau pergi…!”
“Berabe! Berabe!” ujar Wiro Sableng. “Bagaimana Prana, kita ajak dia…?”
Pranajaya angkat bahu. “Terserah padamu, Wiro.”
Wiro Sableng tarik dan hembuskan nafas panjang. “Baik Sekar, kau boleh ikut bersama kami! Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa dengan kau dan kami tak sanggup menolongmu, jangan kelak menyesalkan kami berdua…!”
Maka tak lama kemudian ketiga orang itupun kelihatan berkelebat dan dengan mengeluarkan ilmu lari masing-masing mereka tinggalkan tempat itu dengan sangat cepat.
MALAM itu malam yang ketiga bagi rombongan yang terdiri dari tiga orang itu dalam perjalanan mereka menuju Pulau Seribu Maut di ujung timur pulau Jawa. Mereka berhenti di tepi sebuah anak sungai berair jernih. Langit bersih kebiruan. Bintang-bintang bertaburan dan bulan sabit memperindah suasana malam yang sejuk itu. Pranajaya memasukkan empat potong kayu kering ke dalam api unggun lalu melangkah perlahan ke tepi sungai. Di lihatnya gadis itu duduk di sebuah batu besar, tengah melamun seorang diri. Prana datang mendekat.
Untuk beberapa lamanya tidak satupun dari mereka yang bicara. Si pemuda memandang ke langit lepas. Dia mendapat bahan untuk membuka pembicaraan, “Bagus sbetul malam yang sekali ini.” Sekar memandang ke atas, memperhatikan bulan sabit dan bintang-bintang yang bertaburan lalu menganggukkan kepalanya.
“Wiro belum kembali?” tanya gadis itu. “Belum,” sahut Prana. Hatinya menciut. Sekar lebih banyak memperhatikan seorang lain yang tak ada di situ daripada kehadiran dirinya di sampingnya di atas batu itu. Dan Prana sendiri tidak tahu ke mana pula Wiro pergi. Dua malam yang lalupun pemuda itu selalu pergi tanpa memberi tahu ke mana.
Seakan-akan kepergiannya itu merupakan hal yang disengaja. Pranajaya berdehem beberapa kali untuk menghilangkan sekatan yang menyesakkan lehernya. Dipandanginya paras jelita Sekar dari samping. Betapa indahnya paras itu dipandang dibawah naungan malam yang disinari bulan sabit dan bintang gumintang. “Kau masih belum memberikan jawaban apa-apa atas ucapanku malam pertama yang lalu, Sekar…,” berkata Pranajaya. Suaranya sekali ini tiada bernada ditelan sendiri oleh gema gemetar suaranya itu.
Sekar memandang ke hulu sungai lalu menundukkan kepalanya.
“Apakah tak akan pernah ada balasan?” tanya Pranajaya.
Si gadis memandang lagi ke hulu sungai lalu membuka mulut,
“Dalam perjalanan ini bukan persoalan cinta yang musti dipikirkan
Prana…“
Suara Sekar pelahan, hampir seperti berbisik namun begitu mengiang telinga Pranajaya kedengarannya Paras pemuda ini membeku merah. Ditundukkannya kepalanya.
“Kurasa bukan disitu sesungguhnya dasar jawabanmu, Sekar,” ujar pemuda itu pula
“Lalu….?”
“Kau mencintai dia…?” tanya Prana seberani mungkin.
“Dia siapa?”
“Tak usah berpura-pura….”
Sekar memandang pemuda itu sebentar. “Maksudmu Wiro?” tanyanya.
Si pemuda anggukkan kepala.
Sekar tertawa.
“Suara tertawamu aneh, Sekar,” bisik Pranajaya. “Seolah-olah membenarkan pertanyaanku tadi.” Sekar diam.
“Aku memang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Wiro….”
“Kau tak usah cemburu Prana”
“Terus terang saja dalam persoalan ini aku cemburu padanya. Aku iri,” kata Pranajaya dengan hati laki-laki. “Tapi kecemburuan dan iri hatiku itu tidak menyebabkan aku menjadi buta atau lupa diri atau mempunyai maksud yang buruk-buruk terhadap kalian berdua. Aku cemburu dan iri pada Wiro, tapi aku menghormati dan menghargainya sebagai seorang sahabat. Sebagai seorang manusia kepada siapa aku berhutang budi serta nyawa. Bahkan lebih dari itu aku mengganggap
Wiro bukan orang lain, tapi sudah sebagai saudara kandung sendiri….” Sekar masih diam dan Pranajaya meneruskan ucapan-ucapannya. “Aku menyadari kenyataan Sekar. Kenyataan bahwa aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dia. Ilmunya tinggi, parasnya gagah dan jasmaninya tidak mempunyai cacat apa-apa. Yang lebih utama dia adalah seorang laki-laki berhati jantan, luhur dan kudus….. Jika kau mau berterus terang Sekar, aku tak akan membuka-buka lagi persoalan ini. Aku akan lebih bahagia dan bangga jika kalian bisa hidup berdua dan berbahagia….”
“Antara aku dan Wiro tak ada hubungan apa-apa, Prana,” memotong Sekar. “Tak sepantasnya kau bicara sampai sejauh itu.” Pranajaya memandang ke langit di atasnya. Diperhatikannya bulan sabit dan dia berkata . “Mungkin, tapi kau tak bisa menipu dirimu sendiri! Sekar. Kau tak bisa mendustai kata hatimu. Kau mencintai dia…..”
Sekar tundukkan kepalanya memperhatikan jari-jari kakinya yang mungil bagus.
“Aku tak ingin membicarakan persoalan ini lebih lanjut Prana.” “Jadi tak ada jawaban darimu? Tak ada jawaban berarti suatu penolakan Sekar…”
Sepi menyeling. Pranajaya menunggu sampai beberapa lamanya. Dipandanginya paras Sekar seketika. Dan bila tak ada juga jawaban dari gadis itu maka Prana memutar tubuh dan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Sekar memalingkan kepalanya. Di pandanginya tubuh yang berjalan itu, dipandanginya kaki yang melangkah itu, dipandanginya kepala yang tertunduk itu dan dipandanginya tangan kiri yang buntung itu. Hati gadis ini memukul-mukul. Suaranya serak parau sewaktu mulutnya mernanggil, “Prana…”
Panggilan itu laksana satu kekuatan gaib yang membuat kedua kaki Pranajaya berhenti melangkah dan tubuhnya berhenti berjalan. Si pemuda palingkan kepala. Diantara keputus-asaan yang menyelimuti wajahnya di malam sejuk itu kelihatan sekelumit pengharapan. Dan matanya memandang sayu pada si gadis, menunggu ucapan selanjutnya.
“Prana…..”
“Ya, Sekar…”
“Bersediakan kau menunda pembicaraanmu ini sampai berakhirnya tugasmu di Pulau Seribu Maut nanti…?”
Si pemuda.merenung sejenak. Lalu jawabnya, “Aku bersedia Sekar meski aku tahu mungkin tak ada harapan sama~sekali bagiku….”
“Mungkin yang orang duga tak selalu mungkin pada kenyataan,
Prana,” kata Sekar.“
Pranajaya murid Empu Blorok coba merenungkan ucapan gadis itu. Kemudian sekelumit senyum tersungging dibibirnya. “Kuharapkan saja demikian, Sekar,” kata Prana. Lalu ditinggalkannya tempat itu.
— == 0O0 == —
EMPAT BELAS
DI PAGI HARI yang kesembilan ketiga orang itu kelihatan
berdiri di tepi pantai di ujung, timur pulau Jawa. Di laut kelihatan gugusan pulau-pulau. Ada yang berkelompok-kelompok, ada yang terpisah menyendiri. Perahu-perahu nelayan kelihatan di manamana. Angin dari laut bertiup, melambai-lambaikan rambut serta pakaian mereka.
Pranajaya menunjuk ke sebuah teluk sempit dan berkata, “Di situ ada perkampungan nelayan. Kita bisa mencari keterangan di mana letak Pulau Seribu Maut dan sekalipun menyewa perahu serta membeli perbekalan.”
Wiro mengangguk. Ketiganya segera menuju ke perkampungan itu. Seorang nelayan tua mereka temui tengah memperbaiki jala di teluk itu.
Prana menyalaminya lalu bertanya, “Bapak, yang manakah di antara pulau-pulau di tengah laut sana yang bernama Pulau Seribu Maut?” Pertahan-lahan nelayan tua, itu mengangkat kepalanya dan membuka topi pandannya. Dipandanginya Pranajaya, lalu Wiro dan Sekar.
“Kau bertanyakan Pulau Seribu Maut nak?” ujar nelayan tua ini.
Prana mengangguk.
“Kalau tak tahu jelasnya kira-kira saja,” berkata Wiro.
Si nelayan hela nafas dalam.
“Umurku enam puluh tahun nak. Dan hari inilah baru kudengar ada seorang yang bertanya di mana letak Pulau Seribu
Maut,” Nelayan itu hela nafas dalam sekali lagi. “Apakah kalian hendak menuju ke sana?” “Betul” sahut Prana.
Mata yang sudah agak mengabur di mana umur dari nelayan tua itu memperhatikan ketiga manusia itu dengan lebih teliti. “Kalian tentunya orang-orang dunia persilatan. Tidak heran kalau kalian bernyali menanyakan letak pulau itu. Urusan apakah gerangan yang membawa kalian begitu berniat meriuju ke snna?”
“Ah tak ada apa-apa, pak. Cuma kepingin tahu saja,” jawab Prana. Si nelayan tertawa. “Kepingin tahu dan menemui kematian di sana…? Nak, dengar… hanya manusia-manusaa yang mau lekaslekas mati saja yang berhajat pergi ke Pulau Seribu Maut….” “Namanya memang menyeramkan,” kata Wiro sambil usapusap dagu. “Tapi sebetulnya ada kehebatan apakah di sana sampai pulau itu demikian ditakuti orang-orang?”“
“Ah, kalian bukan orang-orang sini. Kalian tidak tahu, Nak…. di situ bersarang gerombolan bajak laut yang dipimpin oleh seorang bernama Bagaspati. Setiap perahu atau kapal yang lewat diselat Madura ini pasti dirampok, manusia-manusianya dibunuhi. Kampungku inipun tak urung menjadi korban kejahatan Bagaspati dan anak buahnya. Perempuanperempuan kami diambil dan dibawa ke Pulau Seribu Maut. Satu kali seminggu kami musti menyiapkan dan memberikan bahan-bahan makanan kepada mereka. Kami tak bisa berbuat apa-apa nak. Kalau melawan berarti mati…..” “Kenapa tidak pindah ke kampung lain?” tanya Sekar. “Lebih berabe lagi!” jawab si nelayan. “Kalau kami berani pergi dari sini, semua penghuni kampung dari yang kecil sampai tua macamku ini akan dibunuh! Begitu Bagaspati mengancam…”
“Pernah berhadapan muka dengan manusia Bagaspati itu?” tanya Prana.
“Pernah dan pernah ditampar. Tiga hari aku tak bisa
meninggalkan tempat tidur karena masih pening di landa tamparannya.“ Wiro Sableng mengulum senyum. Diperhatikannya beberapa buah perahu yang berada di tepi pantai itu.
“Perahu-perahu bapak?” tanya Wiro.
Si nelayan mengangguk.
“Bisa kami sewa sebuah?”
“Untuk pergi ke Pulau Seribu Maut?!.”
“Ya.”
Nelayan tua geleng-gelengkan kepalanya.
”Aku memang sudah tua dan hampir masuk liang kubur. Tapi walau bagaimanapun aku tak mau cari urusan yang bisa mempercepat kematianku! Tak ada satu orangpun yang akan mau menyewakan perahunya ke Pulau Seribu Maut. Tak ada satu pemilik perahupun yang akan mengantarkan kalian ke sana. Pulau Seribu Maut adalah pulau kematian!”
“Kalau begitu bapak terangkan saja letaknya.“
“Tidak bisa nak… tidak bisa…” Si nelayan lalu cepat-cepat meninggalkan ketiga orang itu. Yang ditinggalkan saling berpandangan lalu pergi ke pusat kampung. Dan sebagaimana yang dikatakan nelayan tua tadi, tak ada seorang pemilik perahupun yang mau menyewakan perahunya, apalagi mengantar mereka ke Pulau Seribu Maut. Juga ketiganya tak berhasil mencari keterangan di mana kira-kira letak pulau angker tersebut.
“Penduduk di sini sialan semua!” gerutu Wiro Sableng. “Pada mati ketakutan! Kurasa mencari dan pergi ke tempat seorang puteri cantik tidak sesukar ini! Cuma mencari Kepala bajak saja begini susah!
Geblek!”
“Kita tak bisa salahkan penduduk Wiro,” ujar Prana.
“Kalau begini kita terpaksa bikin perahu sendiri atau rakit!” kata Wiro mengalih pembicaraan.
Prana mengangguk. “Rakit kurasa lebih baik daripada perahu.
Ombak di selat ini cukup besar…”
Menjelang tengah hari maka di tengah laut lepas di selat Madura itu kelihatanlah sebuah rakit yang laksana “terbang” memecah gelombang air laut, melaju dalam kecepatan yang luar biasa, semakin lama semakin jauh dari pantai !
Beberapa nelayan yang perahu mereka kebetulan dilewati oleh rakit itu tersentak kaget. Mereka hampir-hampir tak dapat mempercayai pandangan mata mereka. Apakah mereka telah mengimpi di siang bolong yang panas terik itu atau telah melihat jin-jin laut gentayangan di depan mereka?!
Betapakan tidak! Tiga orang mereka lihat berada di atas rakit itu. Satu diantaranya gadis cantik jelita. Meski ombak tidak besar tapi untuk mengarungi lautan dalam kecepatan yang demikian rupa dan dengan sebuah rakit pula benar-benar mustahil, benar-benar tak bisa mereka percaya! Dan yang lebih tidak dapat mereka percayai ialah karena dua orang pemuda yang ada di atas rakit itu mempergunakan tangan-tangan mereka sebagai pendayung yang membuat rakit tersebut laksana terbang!
“Jangan-jangan jin-jin laut yang kita lihat ini, Warana,” kata seorang nelayan pada kawannya yang berada dalam sebuah perahu jauh dimuka rakit itu. Dia dan kawannya sama-sama mengusap mata berkali-kali.
“Hai, lihat! Mereka menuju ke sini!” seru Warana.
“Celaka kita! Kayuh yang cepat Warana sebelum jin-jin laut itu datang mencekik kita!”
Warana dan kawannya segera menyambar pendayung. Tapi belum lagi kedua kayu pandayung mereka mencelup ke dalam air laut, rakit yang berisi tiga manusia itu sudah berhenti dihadapan mereka! Paras kedua nelayan itu pucat pasi. Meski yang mereka lihat adalah benar-benar manusia, namun rasa tak percaya tetap membuat mereka menyangka bawa tiga manusia di atas rakit itu adalah jin-jin laut yang datang menganggu mereka!
“Saudara, yang manakah Pulau Seribu Maut?” bertanya laki-laki muda yang bertangan buntung. Baik Warana maupun nelayan yang satu lagi hanya terduduk bermuka pucat dalam perahu mereka tanpa bisa membuka mutut.
Wiro memandang keheranan, juga Sekar.
“Hai, apa kalian tak dengar orang bertanya?!” seru Wiro Sableng.
Warana membuka mulut tapi tak ada suara yang ke luar.
“Kalian seperti orang yang ketakutan!” ujar Wiro.
Prana juga melihat bayangan ketakutan itu pada wajah kedua nelayan tersebut. Dia tak tahu apa sebabnya dan dia tak mau perduli.
Dia bertanya lagi . “Di mana letak Pulau Seribu Maut ?!” “Saudara-saudara… apa kalian… kalian…” Warana tak berani meneruskan ucapannya. Ketika dilihatnya kawannya mencelupkan pendayung segera dilakukannya hal yang sama. Perahu mereka segera bergerak tapi kemudian terhenti dengan tiba-tiba. Kedua nelayan itu pergunakan seluruh tenaga untuk mendayung namun tetap saja perahunya hanya mengapung dan sedikitpun tak bisa bergerak. Ternyata Wiro Sableng telah memegang ujung belakang perahu mereka dan semakin menjadi-jadilah takut kedua orang itu. Mereka berteriak-teriak dan lari sana lari sini dalam perahu mereka. Ikan-ikan yang berhasil mereka tangkap berhamburan kembali ke dalam laut! “Nelayan-nelayan geblek! Apa kalian sudah gila semua teriakteriak tak karuan?!” bentak Wiro.
“Tolong! Tolong …. !” teriak Warana. Kawannya meniru berteriak macam itu pula.
“Saudara-saudara kami bukan rampok atau bajak!” seru Pranajaya.
Wiro garuk-garuk kepalanya dan melangkah kehadapan
Warana. “Keblinger betul! Orang tanya Pulau Seribu Maut kenapa jadi teriak-teriak minta tolong ?!”
“Tolong jin laut! Tolong… !”
Wiro, Prana dan Sekar saling berpandangan. Sekar kemudian berbisik pada Prana, “Keduanya menyangka kita jin laut…!” Wiro Sableng menjambak rambut Warana dan menepuk-nepuk pipi nelayan ini. “Kau kira kami ini bukannya manusia apa?! Sompret! Kami manusia-manusia macam kau saudara! Ayo jawab kenapa kalian teriak-teriak dan di mana letak Pulau Seribu Maut?!”
Dijambak demikian rupa Warana semakin memperkeras teriakannya. “Manusia tak berguna pergilah!” sentak Wiro Sableng seraya melepaskan jambakannya. Begitu dilepas begitu Warana sambar pendayung dan bersama kawannya mengayuh cepat meninggalkan rakit itu. Meledaklah tertawa ketiga orang itu sewaktu Sekar berkata, “Tentu saja, mana mereka mau percaya bahwa kita adalah manusiamanusia seperti mereka. Tak ada orang yang berakit di laut dan dengan kecepat laksana angin!”
Wiro seka kedua matanya yang basah oleh air mata karena tertawa itu. Dia memandang berkeliling dan tarik nafas dalam.
“Agaknya tak ada satu manusiapun yang bisa kasih keterangan di mana letak Pulau itu…” kata Wiro.
“Kita musti cari sampai dapat!” Prana kertakkan rahang. Wiro memandang pada Sekar. Gadis itu dilihatnya memandang ke arah utara tanpa berkesip.
“Apa yang kau perhatikan?” tanya Wiro.
Sekar tak menjawab dan dia masih memandang kejurusan utara itu. Wira putar kepala mengikuti pandangan Sekar. Jauh di tengah laut lepas di lihatnya dua buah pulau yang besarnya dipemandangan mata mereka cuma sebesar ujung jari kelingking saja.
“Bagaimana kalau kita arahkan rakit kita ke sana?”mengusulkan Sekar. Wiro dan Prana saling pandang dan sama menyetujui. Dan rakit itupun menggebulah di atas air laut yang muncrat di belah bagian muka rakit. Detik demi detik kedua pulau itu semakin dekat juga.
“Salah satu dari pulau-pulau itu banyak elang elang lautnya Wiro,” kata Prana.
Wiro Sableng memandang pada pulau yang sebelah kanan. Di atas pulau itu memang keiihatan banyak beterbangan burung-burung. “Itu bukan burung elang, Prana. Tapi gagak hitam pemakan mayat!” seru Wiro tiba-tiba ketika, matanya yang tajam dapat mengenal burung-burung itu. Prana pelototkan mata.
“Sekar, putar kemudi ke arah pulau itu!” kata Prana. Dan sesaat kemudian rakit itupun meluncur berputar ke arah pulau yang sebelah kanan. Semakin dekat semakin jelas keadaan pulau itu. Beberapa buah perahu besar dan kapal kelihatan berada di sekitar teluk yang sempit.
“Hai benda apa itu?!” mendadak sontak Sekar berseru. Wiro dan Prana berpaling ke arah yang ditunjuk Sekar. Sebuah benda hitam yang sangat besar.meluncur pesat ke arah mereka.
“Ikan raksasa!” seru Sekar pula.
Wiro Sableng memandang tak berkesip. Benda hitam besar itu memang seperti kepala seekor ikan. Tapi bukan ikan betul-betul. Wiro masih coba meneliti dengan seksama ketika tiba-tiba sekali benda itu lenyap dari permukaan air.
“Aku merasa tidak enak,” desis Prana.
“Kita musti waspada,” kata Wiro.
Baru saja dia habis berkata begini tahu-tahu benda hitam yang luar biasa besarnya itu sudah muncul dihadapan rakit mereka. Bagian tengahnya laksana seekor buaya raksasa membuka dan “plup” sekaligus menelan rakit serta ketiga penumpangnya! “Celaka!” seru Prana. Tapi suaranya lenyap ditelan katupan yang menutup.
Wiro mernukul lengan tinjunya kian ke mari. Terdengar suara bergetar tapi aapa yang dipukulnya itu sama sekali tidak hancur !
“Gila, apa-apa ini!” teriak Pendekar 212.
Dia tak bisa melihat Sekar ataupun Prana. Ruang di mana mereka terkurung sangat gelap bahkan tangan di depan matapun tidak kelihatan.
Pendekar 212 keluarkan Kapak Naga Geni dan batu hitam untuk membuat penerangan. Namun sebelum tangannya menyentuh senjata sakti itu tiba-tiba terdengar suara mendesis. Sekejap kelihatan sinar biru. Prana dan Sekar berseru lalu terdengar suara jatuhnya tubuh kedua orang itu !
Sinar biru Ienyap. Wiro yakin itu adalah hawa beracun yang telah disemprotkan ke dalam ruangan gelap itu. Kepalanya terasa pusing dan pemandangannya tak karuan. Dia seperti melihat ribuan bintang begemerlap, seperti melihat tali-tali yang melingkar-lingkar berkilauan dan menusuk-nusuk ke arah matanya. Pendekar 212 segera kerahkan tenaga dalam dan tutup semua inderanya. Satu menit kemudian dia berhasil menolak hawa beracun itu lalu dengan cepat keluarkan dua butir pil dan dengan merangkak dia berhasil mencari tubuh Sekar dan Prana lalu memasukkan pil anti racun ke dalam mulut keduanya.
Mendadak terdengar suara berkereketan dan ruangan itu di mana
Wiro berada seperti dihamparkan. Kemudian sebuah pintu terbuka. Pendekar 212 segera jatuhkan diri diantara tubuh Prana dan Sekar. Saat itu keduanya sudah mulai sadar. Wiro segera membisiki, “Berbuatlah pura-pura pingsan terus! Jangan lakukan apa-apa sebelum kuberitanda!” Terdengar lagi suara berkereketan kemudian tubuh mereka terasa menggelindung dan jatuh di atas pasir yang panas dihangati oleh sinar matahari. Perlahan-lahan Wiro Sableng buka ke dua matanya.
Saat itu terdengar suara seseorang tertawa bergelak. “Surengwilis! Jadi inikah manusia-manusianya yang katamu kasak kusuk cari keterangan tentang pulau kita?!”
“Betul pemimpin!” terdengar jawaban seseorang.
Wiro Sableng membuka matanya lebih lebaran.
Dan dihadapannya, beberapa tombak jauhnya dilihatnya antara belasan manusia-manusia berbadan tegap, berdiri seorang laki-laki yang luar biasa tinggi dan besar badannya. Menurut taksiran Wiro manusia ini mungkin lebih dua meter tingginya! Tampangnya beringas buas dan amat menyeramkan, ditutupi oleh berewok yang lebat dan berangasan! Sepasang matanya besar dan merah. Hidung juga besar tapi picak. Dia mengenakan jubah hitam bergaris-garis putih. Di pingggangnya tergantung sebilah pedang panjang. Yang menarik perhatian Wiro ialah tengkorak kepala manusia yang menjadi kalung dan tergantung di leher laki-laki ini.
“Hem…,” si tinggi besar berkalung tengkorak manusia itu menggumam. Dia memandeng berkeliling, “Apa ada diantara kalian yang kenal pada mereka?!”
Tak ada suara jawaban.
“Kalau begitu mereka adalah manusia-manusia tidak berguna!” ujar si tinggi besar. “Penggal kepala kedua laki-laki itu! Yang perempuan biarkan hidup! Dia cukup bagus untuk disuruh menari telanjang malam ini dan tidur bersamaku!”
Beberapa kaki kelihatan melangkah kehadapan ketiga orang itu.
Wiro berbisik pada kedua-kawannya, “Sekarang, sobat-sobat!” Maka ketiga manusia yang berpura-pura pingsan itu segera melompat dari tanah di mana mereka menggeletak !
— == 0O0 == —
LIMA BELAS
KEJUT semua orang yang ada di situ bukan kepalang!
Tapi anehnya si tinggi kekar malah keluarkan suara tertawa mengekeh.
“Ha . . . ha! Kalian kira mataku bisa ditipu huh?!”
Sadarlah Wiro dan kawan-kawannya bahwa ucapan si tinggi kekar memerintahkan anak-anak buahnya untuk memenggal kepala mereka adalah pancingan belaka. Pendekar 212 menggerendeng dalam hati. “Sebelum kalian mati kuharap kalian mau kasih keterangan,” berkata si tinggi besar yang berjubah hitam bergaris-garis putih. Tangan kanannya ditekankan ke ujung gagang pedang. “Ada keperluan apa kau mencari tempat ini?!”
“Apakah ini Pulau Seribu Maut?!,” balas menanya Pranajaya.
Si tinggi kekar tertawa lagi. “Kalian memang sudah berada di
Pulau yang kalian cari! Pulau di mana kalian akan melepas nyawa
masing-masing?”
Tersiraplah darah Prana dan Sekar. Pendekar 212 tetap tenang-tenang saja. Prana memandang lekat-lekat pada si tinggi kekar. “Aku mencari manusia bernama Bagaspati. Apakah kau orangnya!”
“Setan alas! Kowe berani sebut nama pemimpin kami seenak perutmu! Terima mampus!”
Satu hardikan datang dari samping dan satu sambaran angin menderu ke arah leher Prana. Pemuda ini cepat-pepat menyingkir ke samping. Ujung sebilah kelewang menderu di muka hidungnya !
“Tahan!” seru laki-laki bertubuh tinggi kekar. Orang yang tadi menyerang dengan kelewang bersurut mundur. Si tinggi kekar pelototkan mata pada Pranajaya. “Manusia tangan buntung!,” katanya, “aku memang Bagaspati! Menyebut namaku berarti mati! Tapi kau masih punya waktu untuk memberi keterangan ada keperluan apa kau dan kawan-kawanmu mencari pulau kami!”
“Kedatanganku atas tugas guruku!”
“Hem…. aku sudah duga bahwa kau dan kawan-kawanmu manusia-manusia dari dunia persilatan! Terangkan apa tugasmu dan siapa gurumu!” ujar si tinggi besar Bagaspati.
“Aku diperintahkan untuk mengambil Cambuk Api Angin yang telah kau curi dari guruku!” Bagaimanapun Bagaspati menekan rasa terkejutnya namun pada air mukanya jelas kelihatan perubahan.
“Apakah kau muridnya Empu Blorok?!” tanyanya membentak.
Prana anggukkan kepala. “Mana cambuk itu?! Lekas serahkan padaku!” Meledaklah tertawa bekakan Bagaspati. Tanah yang dipijak bergetar saking hebatnya suara tertawa yang disertai tenaga dalam itu. “Nyalimu sungguh besar tangan buntung!,” kata Bagaspati seraya melangkah kehadapan Prana.
“Sreet !”
Tiba-tiba Bagaspati cabut pedang panjangnya. Senjata ini berwarna hitam legam bersinar yang menggidikkan. Dia hentikan langkahnya dua tombak dihadapan Prana lalu membentak, “Lekas sebut kau punya nama! Aku tak biasa membunuh manusia dunia persilatan tanpa tahu namanya!”
Sebagai jawaban Pranajaya cabut pula pedang Ekasaktinya.
Sinar putih berkilau ke luar dari senjata mustika itu.
“Aku datang hanya untuk mengambil Cambuk Api Angin. Kalau kau menghadapinya dengap kekerasan tak ada jalan lain daripada menabas batang lehermu!”
“Bedebah sontoloyo!” teriak Bagaspati marah. Pedang hitamnya berkelebat ganas, menderu ke arah tubuh Pranajaya, sekaligus merupakan tiga buah serangan berantai yang dahsyat !
Murid Empu Blorok tidak tinggal diam. Prana segera kiblatkan senjatanya. Pedang putih dan pedang hitam beradu mengeluarkan suara keras dan memercikkan bunga api !
Terdengar seruan Prana.
Pedang Ekasakti terlepas dan mental dari tangannya. Sekejap kemudian senjata itu sudah berada di tangan kiri Bagaspati!
“Ha… ha…. ha…. Gurumu keliwat sembrono manusia tangan buntung! Murid masih berilmu cetek disuruh mencari Bagaspati!” Bagaspati angkat tangan kanannya tinggi-tinggi. “Sebut namamu cepat!” perintahnya. Pedang hitam ditangan kanan sementara itu perlahanlahan mulai turun, siap diletakkan ke kepala Pranajaya.
“Bagaspati,” terdengar satu suara dari samping, “Sebelum kau bunuh kawanku ini, harap beri kesempatan padaku untuk bicara…..!” Bagaspati palingkan kepala dengan penuh kegusaran. “Rambut gondrong, kau bakal terima mampus sesudah kematian kawanmu ini!” Pendekar 212 Wiro Sableng tersenyum.
“Kami datang secara damai untuk meminta kembali pedang yang telah kau pinjam dari Empu Blorok. Apakah pantas seorang bernama besar sepertimu menyambut kedatangan kami dengan perlakuan seperti ini?” “Pemuda geblek! Pulau ini adalah Pulau Seribu Maut! Kematian bisa terjadi setiap detik! Siapa yang menyebut nama Bagaspati dengan kurang ajar berarti mati!” kata Bagaspati dengan membentak marah dan muka merah.
“Ah …. kau masih saja sebut-sebut perkara mati dan mampus,” menukasi Pendekar 212 sambil cengar cengir seenaknya. “Kawanku sudah bilang bahwa kami datang ke sini untuk minta kembali Cambuk Api Angin. Soal mati atau mampus bisa diurus kemudian kalau kau sudah serahkan cambuk itu padanya! Malah-malah kini kau rampas pedang kawanku!”
“Pemimpin! Yang satu ini biar aku yang bereskan!” satu manusia
bertubuh tegap maju dengan kapak besar ditangan kanan. Namanya Surengwilis. Dialah yang telah mengetahui kedatangan Prana dan kawan-kawan yang kemudian melaporkan pada Bagaspati.
Bagaspati anggukan kepala. “Lekas bereskan dia, Sureng!” “Sobat kalau kau punya senjata silahkan keluarkan. Aku tak begitu senang membunuh manusia bertangan kosong!” bentak Surengwilis yang saat itu sudah berdiri dihadapan Wiro Sableng. Wiro Sableng garuk kepala. “Aku tak ada senjata. Bisa pinjam pedang hitammu, Bagaspati?!”
Tentu saja kemarahan Bagaspati si kepala bajak laut menjadi naik ke kepala. “Sureng! Lekas bunuh manusia keparat itu!” teriaknya. Kapak di tangan Surengwilis menderu laksana topan.
Detik senjata itu berkiblat, detik itu pulalah terdengar jeritan
Surengwilis. Tubuhnya mencelat mental beberapa tombak dan kapak yang tadi dipegangnya tahu-tahu sudah berada di tangan Wiro Sableng! Semua mata melotot besar seperti tak percaya melihat kejadian itu. Di ujung sana Surengwilis mencoba bangun dari tanah. Dia berdiri gontai seketika sambil memegangi dadanya. Mulutnya membuka seperti hendak mengatakan sesuatu tapi yang ke luar dari mulut itu bukan suara melainkan darah kental dan segar. Sesaat kemudian tubuh Surengwilis melosoh pingsan ke tanah!
“Anak-anak tangkap hidup-hidup keparat ini!” perintah Bagaspati penuh kemarahan. Habis berkata begitu dia segera menyerang Prana dengan pedang di tangan. Satu tusukkan cepat dikirimkannya kepada Prana. Ketika si pemuda bersurut ke samping kanan Bagaspati membabat dengan pedang Ekasakti yang ditangan kirinya. Namun saat itu satu senjata aneh berkelebat ke arah kepalanya, membuat Bagaspati cepat-cepat urungkan serangan. Ketika dia berpaling senjata aneh itu membalik lagi dan menderu ke perutnya !
Yang menyerang pemimpin bajak ini bukan lain Sekar dengan senjata Rantai Petaka Bumi. Kegusaran dan kemarahan Bagaspati tiada terkirakan. Dia membentak keras dan sekaligus tebar serangan pada Prana dan Sekar!
Sewaktu Bagaspati memerintahkan anak-anak buahnya
menangkap Pendekar 212 maka lima manusia bertubuh katai maju ke muka. Masing-masing mereka memegang sebuah jala hitam. Satu diantara kelimanya berteriak memberi komando maka lima pasang tangan bergerak dan lima buah jala hitam menebar mulai dari kaki sampai ke kepala Wiro Sableng.
Pendekar 212 gerakkan kedua tangannya sekaligus! Angin deras memapasi lima buah jala itu tapi anehnya jala-jala itu tiada sanggup dibikin mental oleh pukulan dahsyat sang pendekar! Dengan kecepatan luar biasa salah satu dari jala mernjerat tangan Wiro Sableng. Murid Eyang Sinto Gendeng ini betot tangannya untuk menarik jala dan si katai yang memegangnya namun tahu-tahu jala itu bergerak cepat dan kini menjirat sampai ke bahu! Dikejap yang sama jala kedua menjirat kaki kiri Wiro Sableng. Jala ketiga melibat pinggang, jala ke empat membungkus kepala sampai ke dada, jala ke lima melingkar di betis kaki kanan.
Terdengar lagi teriakan salah satu dari lima manusia katai itu dan semua mereka menggerakkan tangan masing-masing. Maka sekali tarik saja tubuh Pendekar 212 tergelimpang dan bergulingan di tanah.
Seluruh tubuh mulai dari kaki sampai ke kepala terjerat jala! Pendekar
212 kerahkan tenaga dalam ke ujung dua tangannya. Tapi kejut Wiro Sableng tidak terkirakan sewaktu. menghadapi kenyataan bahwa dia tak sanggup merobek atau membobolkan jala itu dengan sepeuluh jari-jari tangannya Wiro lipat gandakan tenaga dalamnya. Tetap sia-sia belaka!
Malah libatan jala semakin ketat.
Tubuh Wiro terhempas ke sebuah pohon. Lima manusia katai anak buah Bagaspati segera mengurungnya. Masing-masing mereka siap membungkuk untuk menotok tubuh Pendekar 212.
Wiro pejamkan mata. Mulutnya komat kamit. Pada saat sepuluh ujung jari hendak melanda menotok badannya maka terdengarlah bentakan yang luar biasa kerasnya.
“Ciaat !”
Dua larik sinar putih yang panas dan sangat menyilaukan menderu! Lima manusia katai mencelat dan meraung. Ketika tubuh mereka terhempas ke tanah kelihatanlah bagaimana pakaian dan kulit mereka melepuh hangus dan hitam. Kelimanya tiada berkutik lagi tanda tak satupun saat itu dari manusia-manusia katai ini yang masih bernafas! Wiro telah lepaskan dua pukulan sinar matahari sekaligus ! Melihat Lima Jala Sakti, demikian nama kelima manusia katai itu menemui kematian maka seluruh anak buah Bagaspati segera menggempur Pendekar 212. Di lain pihak Bagaspati sendiri saat itu tengah mendesak hebat Pranajaya yang bertangan kosong dan Sekar yang bersenjatakan Rantai Petaka Bumi. Paling lama kedua muda mudi ini hanya akan sanggup bertahan sebanyak lima jurus! Pendekar 212 memandang berkeliling. Kira-kira enam puluh orang anak buah Bagaspati yang memegang berbagai macam senjata mengurungnya sangat rapat. Wiro tak dapat menduga sampai di mana kehebatan ilmu silat bajak-bajak laut ini. Jika mereka cuma mengandalkan ilmu silat luaran, jumlah mereka terlalu banyak untuk mengeroyok satu orang musuh. Salah-salah mereka bisa baku hantam membunuh kawan sendiri. Dengan pandangan tenang, Pendekar 212 menyapu muka-muka bajak laut yang semakin maju dan memperketat pengurungan.
“Kalian mau main keroyok?!” kertas Wiro. “Boleh!” kedua telapak tangan dipentang ke muka. “Tapi sebelum kalian mulai, aku masih satu peringatan pada kalian! Jika kalian semua berjanji mau hidup menjadi orang baik-baik, menghentikan kerja sebagai bajak laut, niscaya aku ampuni jiwa kalian!”
Seorang bajak berbadan tegap yang cuma memakai celana dan berbadan penuh bulu meludah ke tanah!
“Jangan mengigau pemuda keparat!” semprotnya. “Tubuhmu akan tercincang lumat!”
Wiro Sableng tertawa dan keluarkan siulan dari sela bibirnya. “Pulau ini Pulau Seribu Maut! Berat kalian yang keras-keras kepala akan mati dalam seribu cara! Majulah!”
Si dada berbulu memandang berkeliling. “Kawan-kawan! Mari berebut pahala menghabiskan nyawa busuk manusia edan ini!” Habis berkata begitu dia keluarkan suara melengking hebat dan enam puluh manusia laksana lingkaran air bah datang menyerang ! Wiro membentak dahsyat. Pulau itu serasa bergoncang, liangliang telinga laksana ditusuk! Meskipun hati tergetar namun keenam puluh bajak itu terus juga menyerang! Puluhan senjata berserabutan! “Manusia-manusia tolol! Pergilah!” teriak Wiro Sableng. Kedua tangannya diputar di atas kepala, demikian cepatnya laksana titiran. Dari kedua telapak tangan Pendekar 212 menderu-deru angin dahsyat. Pasir beterbangan, daun-daun pepohonan luruh gugur! Sembilan belas bajak laut yang paling muka merasakan tubuh mereka seperti ditahan oleh dinding keras yang tak dapat dilihat mata. Kejut mereka bukan main. Dan belum lagi habis kejut itu Wiro tiba-tiba membentak sekali lagi! Kesembilan belas orang bajak laut itu berpelantingan laksana daun kering disapu angin!
Pukulan yang dikeluarkan Pendekar 212 tadi adalah pukulan angin puyuh! Bajak-bajak yang lain dengan kalap melompat ke muka dan babatkan senjata masing-masing. Wiro Sableng membentak lagi. Dan belasan bajak kembali terpelanting! Suasana menjadi kacau balau kini. Mereka berteriak-teriak tapi tak berani maju ke muka sekalipun saat itu Wiro sudah hentikan pukulan angin puyuhnya!
“Kenapa pada teriak-teriak macam monyet terbakar ekor?!” tanya Wiro mengejek. “Ayo majulahl Bukankah kalian mau mencincang aku?!”
Mendadak Pendekar 212 mendengar suara beradunya senjata dan suara seruan Sekar. Sewaktu dipalingkannya kepalanya, Wiro masih sempat melihat bagaimana pedang hitam ditangan Bagaspati berhasil memapas putus Rantai Petaka Besi yang menjadi senjata Sekar. Pedang hitam itu kemudian laksana kilat membabat ke perut si gadis. Sekar tak punya kesempatan mengelak karena saat itu perhatiannya telah terpukau oleh putusnya senjatanya serta rasa sakit yang menjalari lengan kanannya akibat beradu senjata tadi! Pranajaya yang melihat bahaya itu dengan kalap dan dengan tangan kosong lepaskan pukulan angin sewu ke arah Bagaspati. Tapi tiada guna. Babatan pedang Bagaspati datang terlalu cepat dan Bagaspati sendiri masih sempat putar pedang Ekasakti di tangan kirinya untuk melindungi dirinya dari pukulan angin sewu itu! Satu jari lagi pedang hitam di tangan kanan Bagaspati akan merobek perut dan membusaikan usus Sekar maka dari samping menderu selarik sinar putuh yang dahsyat! Demikian dahsyatnya sehingga Bagaspati terpaksa tarik pulang tangan kanannya dan melompat ke belakang beberapa tombak !
“Wuss !”
Pukulan sinar matahari menggebu di depan hidung pemimpin bajak laut itu! Mata Bagaspati kelihatan tambah besar dan tambah merah tapi air mukanya pucat pasi! Dia sadar terlambat sedikit saja dia melompat tadi pastilah dia akan konyol dilanda sinar putih pukulan lawan! Kemarahan Bagaspati tiada terkirakan. Lebih-lebih melihat belasan anak buahnya bergeletakan pingsan di mana-mana dan yang masih hidup berdiri dengan muka pucat di tempat masing-masing, sama sekali tidak menyerang atau mengeroyok Wiro Sableng ! “Keparat! Kenapa kalian melongo semua?! Lekas bereskan setan alas yang satu ini!” Anggota-anggota bajak laut itu bimbang seketika. Namun karena ngeri pada kemarahan serta hukuman yang kelak bakal mereka terima dari pimpinan merta, dua puluh orang diantaranya segera maju dan serentak menyerang.
“Manusia tolol! Kalian minta mampus saja!” teriak Wiro. Dengan serta merta dia pukulkan tangan kirinya. Sinar putih untuk kesekian kalinya menderu. Dan pukulan sinar matahari yang sekali ini meminta korban enam belas jiwa bajak-bajak laut itu. Pekik maut terdengar di mana-mana !
“Siapa yang mau mampus dan ikut perintah Bagaspati silahkan maju!” teriak Wiro. Tak satu anggota bajakpun yang bergerak di tempatnya. Jangankan bergerak, berdiripun lutut mereka sudah goyah! Sementara Bagaspati berpikir-pikir pukulan apakah yang telah dilepaskan Wiro Sableng, maka si pendekar dari Gunung Gede ini palingkan kepalanya pada pemimpin bajak laut itu.
“Bagaspati, jika kau berjanji akan mengembalikan Cambuk Api Angin, dan berjanji membubarkan gerombolan bajak yang- kau pimpin selama ini lalu kembali jadi manusia baik-baik, masih belum terlambat bagimu untuk kuberi ampun!”
Bagaspati tertawa mengejek. “Kepongahanmu setinggi gunung!” jawabnya. “Meski ilmumu setinggi langit seluas lautan, Bagaspati tak akan sudi menyerah padamu kecuali kalau kau yang terlebih dulu serahkan jiwa padaku!”
Wiro Sableng bersiul dan tertawa gelak-gelak. “Kau bisa juga bersyair Bagaspati. Kalau betul-betul hatimu sekeras batu tidak mempunyai kesadaran, kelak kau terpaksa bersyair di neraka!
Silahkan mulai!”
“Cabut senjatamu setan alas!” bentak Bagaspati. “Ini senjataku Bagaspati!” Wiro acungkan kedua tangannya.
“Kalau begitu aku akan mampus penasaran!” Bagaspati lemparkan pedang Ekasakti yang di tangan kirinya. Pedang mustika milik Prana itu menderu laksana kilat ke arahnya. Wiro miringkan kepalanya sedikit. Pedang putih lewat di sampingnya dan menancap di batang pohon kelapa! Prana cepat mengambilnya.
“Wiro, biar aku yang bikin perhitungan dengan manusia ini!” “Ah, kau tak usah mengotori tangan dengan darah manusia maling ini, Prana,” kata Wiro pula dengan suara keras lantang. Prana sadar bahwa Wiro telah menolongnya dari satu kedudukan yang merugikan. Dia tahu bahwa dia tak bakal sanggup menghadapi Bagaspati. Dengan berkata demikian Wiro bukan saja telah menolongnya tapi sekaligus membuat dia tidak kehilangan muka sama sekali !
“Ayo seranglah!” teriak Wiro ketika Bagaspati masih dilihatnya berdiri tak bergerak.
“Kau terlalu cepat-cepat ingin mati rupanya setan alas!” desis Bagaspati. Tubuhnya membungkuk ke muka. Kedua kakinya melesak ke dalam tanah sampai dua dim. Ini satu tanda bahwa dia tengah kerahkan tenaga dalam dan siap untuk melancarkan serangan yang dahsyat!
Didahului dengan teriakan macam serigala melolong di malam buta maka Bagaspati melesat ke muka. Dua tendangan dahsyat menderu ke arah perut dan kepala Pendekar 212 sedang pedang hitam membuat satu jurus yang mengandung lima serangan berantai !
“Ciaat! “
Wiro lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Meski pukulan ini berhasil membuat tendangan lawan batal namun pukulan itu sendiri kemudian dibikin buyar oleh sambaran angin pedang Bagaspati! Penasaran sekali Wiro dalam jurus kedua membuka serangan dengan jurus membuka jendela memanah rembulan. Lengan kanan dipukulkan melintang dari atas ke bawah sedang tangan kiri meluncur ke atas dalam gerakan vang cepat laksana kilat sukar dilihat mata dan terdengarlah seruan tertahan Bagaspati! Betapakan tidak. Detik itu juga dirasakannya pedang hitamnya telah terlepas dari tangan, ditarik oleh satu betotan yang dahsyat! Dan bila dia memandang ke depan dilihatnya senjata itu sudah berada di tangan Wiro Sableng !
“Ha…. ha, bagaimana Bagaspati?! Akan kita lanjutkan pertempuran ini?!”
Muka Bagaspati mengelam merah.
“Setan alas. Kau datang ke sini untuk mencari Cambuk Api
Angin bukan?! Baik! Aku akan keluarkan senjata itu. Tapi bukan untuk diberikan padamu huh! Tapi untuk bikin kau mati konyol!” Bagaspati selinapkan tangan ke dalam jubahnya. Sesaat kemudian maka ditangannya tergenggam sebuah cambuk berhulu gading, berwarna merah.
Bagaspati mengekeh. “Ini ambillah!” Cambuk Api Angin di tangan Bagaspati berkelebat mengeluarkan angin laksana topan dan semburan lidah api yang luar biasa panasnya!
“Prana! Sekar Lekas menyingkir!” teriak Wiro seraya buang diri ke samping beberapa tombak!
Cambuk Api angin menderu dahsyat menghantam pohon kelapa di belakang Wiro. Pohon kelapa ini terbabat putus dan baik putusan yang mental di udara maupun yang masih tinggal tertanam di tanah, semuanya hangus ditelan api!
Diam-diam Pendekar 212 leletkan lidah. Di saat itu pula Cambuk Api Angin menderu kembali. Wiro kiblatkan pedang hitam milik Bagaspati. Sementara itu dia melihat bagaimana anak-anak buah Bagaspati yang ada menyingkir sejauh mungkin! Pedang hitam dan cambuk Api Angin saling bentrokan! Api menyembur! Wiro berseru kaget dan cepat-cepat lepaskan pedang hitam di tangannya! Pedang itu berubah menjadi merah, terbakar api Cambuk sakti !
“Keparat!,” maki Wiro dalam hati. “Hebat sekali Cambuk Api
Angin itu!”
Cambuk Api Angin datang bergulung-gulung. Suaranya seperti petir susul menyusul! Pendekar 212 menjadi sibuk! Melompat kian kemari dengan cepat, jungkir balik di udara dan berguling di tanah! Semua itu untuk hindarkan diri dari serangan Cambuk Api Angin yang ganas!
Pranajaya sendiri tiada menduga Cambuk Api Angin demikian hebatnya. Diam-diam pemuda ini merasa khawatir apakah Wiro akan sanggup bertahan sampai lima jurus di muka Pakaian Wiro dilihatnya sudah kotor dan robek-robek. Rambutnya yang gondrong acakacakan, mukanya berselemotan tanah! Dan cambuk sakti itu masih juga menderu-deru, mengejar ke mana Wiro berkelebat! Dua jurus di muka Pendekar 212 benar-benar dibikin sibuk sekali malah terdesak hebat dan dipaksa bertahan mati-matian!
Di dalam ketegangan pertempuran yang menyesakkan dada itu
tiba-tiba terdengarlah gelak tertawa yang aneh dan suara siulan menggidikkan tak menentu iramanya! Dalam kejap itu pula sinar putih, kelihatan menabur angin yang memerihkan kulit menderu sedang suara seperti ratusan tawon terdengar datang dari segala jurusan dan tubuh Wiro Sableng sendiri lenyap dari pemandangan! Bagaspati putar Cambuk Api Angin lebih cepat. Dentuman macam suara petir terdengar tiada henti. Angin laksana topan menggebu dan lidah api hampir setiap saat menyembur ganas! Namun kini gerakan-gerakan yang dibuat Cambuk sakti itu tidak leluasa seperti tadi lagi. Cambuk Api Angin tertahan dalam telikungan putih sinar Kapak Naga Geni 212 ditangan Wiro Sableng ! Bagaimanapun Bagaspati rubah jurus-jurus silat dan percepat permainan cambuknya tetap saja dia merasa semakin kepepet.
“Terima jurus naga sabatkan ekor ini Bagaspati!” seru Wiro. Bagaspati hanya mendengar suara Wiro saja. Serangan Wiro yang bernama jurus naga sabatkan ekor itu sama sekali tidak sanggup dilihatnya karena cepatnya !
Dan tahu-tahu…
“Craas!”
Lalu terdengar lolongan Bagaspati.
Cambuk Api Angin terlepas dari tangan kanannya. Tangan kanan itu sendiri tercampak ke tanah, buntung dibabat Kapak Maut Naga Geni 212 sampai sebatas bahu !
Darah menyembur kental dan merah. Bagaspati macam orang gila menjerit-jerit dan lari sana lari sini, seradak seruduk macam orang celeng! Racun Kapak Naga Geni mulai menjalari pembuluh-pembuluh darahnya. Ketika pemandangannya berkunang dan lututnya goyah tak ampun lagi pemimpin bajak ini melosoh ke tanah, berguling-guling dan menjerit-jerit tiada henti!
Semua anak buahnya memandang dengan penuh ngeri !
“Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Bagaspati karena tidak sanggup merasakan sakit yang menggerogoti dirinya akibat serangan racun yang sudah menyusup ke seluruh tubuhnya! Bagaspati masih terus berteriak dan berguling-guling sampai beberapa saat di muka namun kemudian ketika nyawanya lepas, maka tubuh itupun menggeletak tak berkutik lagi! Bagaspati mati dengan tubuh menelentang mulut berbusah dan mata melotot ke langit! Sungguh menggidikkan memandang tampangnya! Pendekar 212 tarik nafas dalam. Sekali tiup saja maka lenyaplah noda darah pada mata Kapak Naga Geni 212. Dia melangkah dan mengambil Cambuk Api Angin. “Senjata hebat,” katanya sambil geleng kepala. Lalu Cambuk Api Angin itu diberikannya pada Pranajaya.
“Terima kasih Wiro” kata Prana dengan penuh gembira tapi juga haru.
Di saat itu Wiro Sableng sudah melangkah kehadapan anggota-anggota bajak yang masih hidup. Jumlah mereka tak lebih dari tiga puluh lima orang kini.
“Kalian semua sudah lihat sendiri betapa mengerikan kematian itu!” seru Wiro dengan suara lantang. “Kuharap ini menjadi pelajaran yang baik! Berjanjilah bahwa kalian mau meninggalkan pulau ini, berhenti jadi bajak laut dan hidup sebagai manusia baik-baik. Banyak pekerjaan baik seperti jadi nelayan, petani atau berdagang! Dan atas janji kalian itu kami bertiga akan ampunkan nyawa kalian!”
Hening sejenak. Salah seorang anggota bajak tiba-tiba jatuhkan diri berlutut. Kawan-kawannya juga kemudian menyusul berlutut.
Wiro garuk-garuk kepala. “Buset! Orang suruh berjanji kenapa pada berlutut? Memangnya aku ini Tuhan disembahsembah! Bangun semua!” teriak Wiro.
Semua anggota banjak itu cepat bangkit berdiri. Pada paras mereka kelihatan rasa tunduk dan kesadaran serta niat untuk kembali hidup sebagai orang baik-baik.
“Tampang-tampang kalian aku kenal semua! Ingat! Kalau kelak ada diantara kalian yang masih kutemui hidup dalam jalan jahat, kalian tahu hukuman apa yang bakal kalian terima!” Wiro berpaling pada kedua kawannya. “Sudah saatnya kita tinggalkan tempat ini kawan-kawan.” Prana dan Sekar mengangguk.
Ketika ketiganya hendak berlalu salah seorang bekas anggota bajak berseru, “Tunggu !” “Ada apa?!” tanya Wiro.
“Di pulau ini ada satu gudang besar berisi timbunan barang
dan uang. Apa yang akan kami lakukan dengan benda-benda itu?!” “Busyet kenapa jadi tolol?! Kalian bagi-bagi saja sama rata dan jadikan modal buat hidup baik-baik!” sahut Wiro. Seorang bekas anak buah Bagaspati lainnya berkata, “Kami tidak keberatan memberikan separoh dari harta dan uang itu pada kalian bertiga!”
Pendekar 212 berpaling pada. kedua kawannya lalu tersenyum. “Terima kasih sobat! Kami datang ke sini bukan buat cari harta atau uang, tapi Cambuk Api Angin. Senjata itu telah kami temui dan kami musti pergi!”
Ketika rakit mereka diseret ke tepi pantai, bekas-bekas anak buah Bagaspati itu menawarkan akan mengantarkan mereka ke pantai Jawa tapi mereka menolak.
“Rakit ini cukup baik dan lebih cepat jalannya,” jawab Wiro. Dan betapa anehnya bagi bekas anak-anak buah Bagaspati itu sewaktu menyaksikan rakit tersebut meluncur dalam kecepatan luar biasa, padahal tenaga penggeraknya hanya tangan-tangan Wiro dan Prana yang dibuat sebagai pengganti dayung!
PANTAI Jawa telah berada dihadapan mereka dan tak lama kemudian, diwaktu sang surya mulai kemerahan warnanya di ufuk barat maka sampailah mereka di ujung timur Pulau Jawa. “Kita telah sampai sobat-sobatku!” seru Wiro. Dia yang pertama sekali melompat ke daratan. ”Dan ini adalah saat perpisahan kita.” Prana dan Sekar sama-sama terkejut. Wiro sebaliknya tertawa. “Tugasmu telah selesai bukan, Prana? Cambuk Api Angin sudah berhasil ditemui….”
“Tapi Wiro…..”
Ucapan Prana ini dipotong oleh Wiro. “Di lain hari kelak kita pasti akan jumpa lagi sahabat-sahabat. Ada satu hal yang ingin kukatakan pada kalian.”
Wiro memandang Sekar dan Prana berganti-ganti dengan senyum-senyum.
“Kalian ingat malam bulan sabit waktu kita berhenti di tepi anak sungai dulu itu?”
Prana dan Wiro saling panda mengingat-ingat dan begitu ingat masing-masing mereka sama memandang pada Wiro.
“Maaf saja, aku mencuri dengar apa yang percakapkan saat itu….” Paras Sekar dan Prana menjadi merah dengan serta merta. Keduanya sama tundukkan kepala. Mereka ingat malam di tepi sungai waktu mereka membicarakan soal cinta itu.
Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin
“Sobat-sobatku, kalian boleh saja buat seribu janji. Tapi kalian pertama-tama musti kembali ke tempat guru kalian! Urusan jodoh guru kalian musti diberi tahu….” Paras kedua orang itu semakin memerah.
Wiro tertawa bergelak.
“Nah sobat-sobatku, setamat tinggal. Kudoakan agar kalian bahagia.”
“Wiro tunggu dulu!” seru Prana dan Sekar hampir bersamaan. Namun tubuh Pendekar 212 s u d a h berkelebat. Prana merasakan tepukan pada bahunya sedang Sekar merasa cuilan pada dagunya! Sewaktu memandang berkeliling. Wiro Sableng sudah tiada lagi!
“Aku tak akan melupakan dia.“ desis Prana.
“Kelak bila aku punya anak laki-laki, aku akan namakan dia
Wiro.”
Prana putar kepalanya. Pandangannya bertemu dengan pandangan Sekar. Meski cuma pandang memandang, tapi semua itu menimbulkan satu kekuatan gaib yang membuat mereka saling melangkah m e n dekat untuk kemudian saling berpeluk. Laut, langit dan matahari sore menjadi saksi betapa mesranya pelukan itu.

TAMAT

Wiro Sableng
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin
Salam 212
SEMUA HAK KARYA CIPTA CERITA INI ADALAH MILIK
ALMARHUM BASTIAN TITO
Diketik ulang oleh Kailani Sekali
Hanya untuk para pendekar semua pecinta Wiro Sableng